Sukabumi Eundeur 2017

Oleh
Sebuah pesta rakyat metalhead bertajuk Sukabumi Eundeur 2017 diadakan di Lapang Manunggal Kodim 0607, Sukabumi pada Minggu (30/7). Bani Hakiki

Pesta musik cadas tahunan terbesar di Sukabumi

Sukabumi Eundeur kembali digelar di Lapangan Manunggal Kodim 0607, Sukabumi, Jawa Barat, pada Minggu (30/7) lalu. Sekitar 6000 pasang kaki metalhead menggetarkan lokasi, membuat nama acara komunitas bawah tanah Sukabumi ini menjadi harfiah (eundeur berarti bergetar dalam bahasa Sunda).

Dimulai setelah tengah hari, pergelaran ke-13 sejak pertama kali diadakan pada tahun 2000 ini dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama berakhir saat break Azhar dilanjutkan dengan sesi kedua hingga acara berakhir. Sesi pertama yang diramaikan oleh After Death, Crazy Bottom, Aral Subha, Bloody Underwear, The Cruel, band tuan rumah Angel of Death, dan unit cadas berbahasa Sunda Undergod cukup meriah, terbukti dari pangunjung yang makin ke sini semakin bertambah, walaupun penampilan tujuh band harus dimampatkan hanya dalam waktu sekitar dua jam.

Sesi kedua dibuka dengan penampilan Taring. Walaupun setnya sempat dipotong karena keterbatasan waktu, melalui penampilan yang ditutup dengan "Kata-Kata Belum Binasah" ini, mereka berhasil membuat para metalhead yang tadinya terpencar saat istirahat membuat circle pit.

Hardy (vokal) mengapresiasi perkembangan pesta musik keras Sukabumi ini dari tahun ke tahun. "Audiensnya makin bertambah. Itu yang paling utama. Yang kedua untuk kami player, spek (spesifikasi) alat dan fasilitas backstage-nya sudah mulai-mulai membaik," ujarnya saat ditemui setelah penampilan, walaupun menyayangkan adanya pemotongan waktu set. "Saya sebetulnya paling kurang setuju, enggak ada konfirmasi, terus main potong lagu, sedangkan tadi panitianya sudah berani saya ambil taruhan. Kalau kami lebih dari 30 menit saya bayar sama dia (dan sebaliknya). Tapi, enggak apa-apa lah. Setelah ini masih banyak teman-teman yang main."

Gelegar yang ditimbulkan Taring tak segera hilang karena dilanjutkan unit slamming guttural metal asal kota kembang, Turbidity. Hujan yang mulai turun di tengah penampilan mereka tidak membuat mosh pit lantas kosong.

Hujan yang terus turun tidak menyurutkan niat para metalhead untuk menyaksikan Down for Life yang tampil selanjutnya. Band ini dibantu tenaga lokal, vokalis Blackramstein, Firman. Hit seperti "Pesta Partai Barbar" dan "Pasukan Babi Neraka" ramaikan penampilan mereka saat itu.

Addy Gembel memimpin Forgotten menggantikan Down for Life di atas panggung sesudahnya. Mereka membawakan lagu lama mereka "Tiga Angka Enam" dan "Tuhan Telah Mati" dalam kesempatan ini. " Tumbal Postkolonial" dari album mereka yang rencananya yang akan dirilis pertengahan Agustus, Kaliyuga pun tak lupa dimainkan. "Kami mohon dukungan dan doa untuk album baru yang semoga bisa rilis bulan depan," kata Addy kepada pengunjung sebelum lagu tersebut dimainkan.

Beberapa saat setelah azan Maghrib, giliran band asli Sukabumi, Repton memanaskan rumah sendiri. Band death metal dengan ciri khas penutup muka ini membawakan "Pendusta," "Biadab," "Terbunuh," "Dibungkam," dan "Gila Hormat" untuk menghibur para pengunjung yang tidak lagi diguyur hujan. "(Acara) ini bisa mendorong band Sukabumi untuk berkarya karena cuma butuh satu rilisan fisik untuk bisa main di sini," ujar sang vokalis, Rivana saat ditemui di belakang panggung usai penampilan mereka.

Repton turun, para metalhead wanita mulai maju dan naik ke bahu pengunjung lain, bersiap menunggu growl melengking ala Anggi yang mengisi vokal di Revenge the Fate. Pada kesempatan kali ini, mereka membawakan cover "Bulls on Parade" dari Rage Against the Machine.

Akhirnya, giliran yang ditunggu-tunggu datang juga, Burgerkill! "Air Mata Api" dibawakan sebagai pembuka dilanjutkan dengan lagu-lagu yang biasa mereka mainkan, "Shadow of Sorrow," "Penjara Batin" dan "Under the Scars."

Momen tidak terlupakan hadir saat "Tiga Titik Hitam" dimainkan. "Udah kayak Ariel (Noah) belum?" tanya Vicky (vokal) kepada penonton sembari memegang gitar akustik. Lagu ini dibawakan sebagai momen mengenang sebelas tahun wafatnya vokalis sebelumnya, Ivan Scumbag. Suasana lagu yang berawal dari lembutnya vokal diiringi gitar akustik Vicky berlanjut dengan iringan gebukan drum dan distorsi membuat pengunjung di depan bisa-bisanya menangis sambil tetap menggila.

Musik boleh beranjak dari metal, tapi pengunjung belum boleh berhenti saling terpental. Scimmiaska hadir dengan kuartet brass, instrumen wajib ska menemani suara vokal Givani Gumilang. Badan mungilnya yang tidak mau diam, menari, meloncat, dan berputar bukan hanya membawa penonton ikut bergoyang tapi bahkan membuat fotografer sulit memotretnya. Pembukaan yang sesuai untuk penampil setelahnya.

Penutup kali ini dipersembahkan oleh Rosemary. Keiginan penonton yang masih ingin berdansa karena Scimmiaska sebelumnya terpenuhi berkat unit skatepunk asal Bandung ini. Segera, para metalhead di depan tergantikan oleh para W. A. R. S., walaupun sebagian dari mereka merupakan orang yang sama. Ink (vokal/gitar) dengan leluasa menguasai panggung hingga ke riser drum yang lebih tinggi di belakang karena dua set drum yang sebelumnya disediakan sudah dibereskan, keuntungan bagi penampil terakhir. Lagu andalan mereka selama bertahun-tahun, "Punk Rock Show" tetap dijadikan penutup setelah sebelumnya memainkan potongan dari "Super Girl."

Jumlah penonton hingga 6000 orang diakui panitia sebagai tanda paling suksesnya acara ini dibanding seri-seri sebelumnya Sukabumi Eundeur. "Dimulai tahun 2000. Dulunya hanya perayaan tujuh belasan lah istilahnya. Pemuda desa berkumpul membuat acara," kata project manager, Vallerian, menceritakan bagaimana Sukabumi Eundeur terbentuk. "Selanjutnya, kami rencananya ingin membawa band internasional ke sini."

Editor's Pick

Add a Comment