Catatan Kaki dan Contohnya

Posted on

Catatan kaki merupakan salah satu ciri dari sebuah karya tulis ilmiah. Ia memberikan bukti bahwa karya tulis tersebut dibangun bukan dari khayalan dan perkiraan, melainkan di atas sebuah dasar atau dalil.

Penulisan catatan kaki dalam sebuah karya tulis ilmiah harus menggunakan kaidah tertentu. Kaidah ini bersifat universal dalam lingkungan ilmiah sehingga orang dari  negara manapun dan latar budaya apapun akan memahaminya dengan mudah.

Artikel ini akan membahas segala hal tentang catatan kaki secara lengkap. Mulai dari pengertian catatan kaki, tujuan, fungsi, dan cara penulisan.

Agar pembaca dapat memahami secara utuh, akan diberikan pula 33 contoh catatan kaki yang baik dan benarsesuai  dengan kaidah.

Sebagai tambahan, pembaca dapat mengikuti cara menulis catatan kaki secara otomatis menggunakan Microsoft Word. Panduan akan disusun secara langkah demi langkah yang dapat langsung diikuti dengan praktis.

Pengertian Catatan Kaki

Pengertian-Catatan-Kaki

Istilah catatan kaki diambil dari terjemahan bahasa Inggris, yaitu footnote. Menurut Wikipedia, pengertian catatan kaki adalah daftar keterangan khusus yang ditulis di bagian bawah halaman atau akhir bab/sub-bab karya ilmiah. Istilah dari  wikipedia ini masih masih sangat umum dan agak beririsan dengan catatan akhir (endnote).

Pengertian catatan kaki menurut KBBI lebih spesifik lagi. Definisi catatan kaki adalah keterangan yang dicantumkan di margin bawah halaman buku untuk menambah rujukan uraian dari naskah pokok. Keterangan ini umumnya ditulis dalam huruf yang lebih kecil dibanding dengan huruf pada naskah utama/pokok.

Dalam buku “Pengantar Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi” oleh Siti Mutmainnah, M.Pd., pengertian catatan kaki adalah sebagai berikut.

Catatan pada bagian bawah halaman teks yang menyatakan sumber kutipan, pendapat, atau keterangan penyusunan mengenai hal yang diuraikan dalam teks.

Dari pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa cataan kaki tidak harus selalu dalam bentuk buku rujukan, tapi juga berbentuk keterangan tambahan.

Tujuan Penulisan Catatan Kaki

Tujuan-Penulisan-Catatan-Kaki

Penulisan catatan kaki dalam sebuah karya tulis ilmiah memiliki beberapa tujuan. Adapun tujuan penulisan catatan kaki adalah untuk:

  1. Menunjukkan dasar alasan dan dalil pembuktian dari mana argumen dalam karya ilmiah tersebut disusun.
  2. Membantu pembaca menelusuri sumber-sumber yang dijadikan rujukan dengan lebih cepat dan mudah.
  3. Menghindari plagiasi dalam bentuk apapun.
  4. Menyatakan utang budi dan memberikan apresiasi kepada pengarang yang pendapatnya dikutip dalam karya ilmiah.
  5. Menyampaikan keterangan tambahan dan memperkuat penjelasan. Keterangan tambahan ini dapat berupa intisari, keterangan penjelas yang bersifat insidental, perbaikan, atau pandangan yang bertentangan dengan teks utama.
  6. Menunjukkan keterkaitan bagian tersebut dengan bagian lain dalam teks yang sama, baik di halaman sebelum atau sesudahnya.

Fungsi Catatan Kaki

Dari  tujuan-tujuan catatan kaki yang telah diuraikan di atas, kita dapat menarik kesimpulan tentang fungsi catatan kaki, yaitu sebagai:

  1. Bukti otentik keilmiahan sebuah karya tulis.
  2. Daftar rujukan yang dapat ditelusuri dengan mudah dan cepat.
  3. Bentuk apresiasi dan penghargaan kepada para pengarang yang menjadi rujukan.
  4. Salah satu alat mencegah atau menghindari plagiasi dalam dunia keilmuan.
  5. Daftar keterangan tambahan atau penjelas agar pembaca lebih memahami sebuah gagasan, tapi tidak keluar dari bahasan utama teks tersebut.
  6. Pengingat dan petunjuk untuk mengorganisasikan informasi ke dalam pikiran pembaca.

Perbedaan Footnote, Endnote, dan Bodynote

Perbedaan-Footnote-Endnote-dan-Bodynote

Dalam penulisan karya ilmiah, baik berupa makalah, skripsi, tesis, atau disertasi, ada 3 cara untuk mencantumkan rujukan. Cara-cara tersebut adalah dengan catatan kaki (footnote), catatan akhir (endnote), dan catatan tubuh (bodynote).

Perbedaan ketiga cara pencantuman rujukan tersebut sebagai  berikut.

  1. Footnote atau catatan kaki diletakkan di margin halaman bawah karya ilmiah. Penulisan rujukan mengikuti kaidah yang akan dicontohkan di dalam bab selanjutnya artikel ini.
  2. Endnote atau catatan akhir diletakkan di bagian akhir karya ilmiah. Teknik penulisan rujukan sama dengan penulisan catatan kaki (footnote).
  3. Bodynote atau catatan tubuh diletakkan di dalam teks utama karya ilmiah tersebut. Teknik penulisan yaitu ditulis dengan urutan “Nama penulis (Tahun terbit: Halaman)”

Dalam beberapa rujukan ketiga cara tersebut dimasukkan ke dalam kategori jenis catatan kaki. Namun, pada artikel ini, mereka dikategorikan secara terpisah. Lebih lanjut, artikel ini akan berfokus pada penulisan footnote atau catatan kaki.

Perbedaan Catatan Kaki dan Daftar Pustaka

Perbedaan-Catatan-Kaki-dan-Daftar-Pustaka

Banyak penulis yang melakukan kesalahan dalam penulisan catatan kaki dan daftar pustaka. Seringkali dalam berbagai kesempatan, kedua hal tersebut dilakukan secara terbalik.

Kedua hal tersebut memang memiliki kesamaan. Persamaan catatan kaki dan daftar pustaka adalah sama-sama memberikan rujukan dan sebagai bukti bahwa teks tersebut bernilai ilmiah. Namun, keduanya tentu memiliki perbedaan.

Untuk lebih memahami, berikut ini perbedaan antara catatan kaki dan daftar pustaka.

  1. Daftar Pustaka atau Kepustakaan merupakan daftar bacaan yang menjadi sumber rujukan. Sedangkan catatan kaki tidak hanya berisi daftar bacaan, tapi juga dapat berupa keterangan tambahan.
  2. Catatan kaki menampilkan data yang lebih lengkap sampai ke nomor halaman. Sedangkan daftar pustaka hanya mencantumkan sampai ke judul kepustakaan saja, baik dalam bentuk buku atau makalah.
  3. Pemisahan poin utama dalam catatan kaki menggunakan tanda koma, sedangkan dalam daftar pustaka menggunakan tanda titik.
  4. Nama pengarang dalam daftar pustaka ditempatkan secara terbalik, nama belakang (marga), baru nama depan. Sedangkan dalam catatan kaki, nama marga diletakkan di belakang seperti biasa.
  5. Daftar pustaka diletakkan di akhir makalah dan disusun dalam bentuk bullet berdasarkan abjad. Sedangkan catatan kaki disusun sesuai kebutuhan pemberian penjelasan.

Untuk lebih memahami perbedaan catatan kaki dan daftar pustaka, perhatikan 2 contoh sederhana berikut.

Contoh penulisan catatan kaki.

1) Anwar Sani, Manajemen Zakat Berbasis Masjid, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010), hlm. 123.

2) Ahmad Tafsir, Tasawuf: Jalan Menuju Tuhan, (Tasikmalaya: Latifah Press, 1995), hlm. 75 – 78.

Dua contoh catatan kaki tersebut jika diubah menjadi contoh penulisan daftar pustaka akan menjadi seperti berikut.

  1. Sani, Anwar. 2010. Manajemen Zakat Berbasis Masjid. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  2. Tafsir, Ahmad, Dr. 1995. Tasawuf: Jalan Menuju Tuhan. Tasikmalaya: Latifah Press.

Cara Menulis Catatan Kaki yang Baik dan Benar

Cara-Menulis-Catatan-Kaki

Cara penulisan catatan kaki dapat dibagi ke dalam 2 bagian besar. Bagian pertama adalah cara penulisan catatan kaki yang benar sesuai dengan kaidah ilmiah. Sedangkan bagian kedua adalah cara penulisan catatan kaki yang baik menggunakan aplikasi pengolah kata.

Cara Penulisan Catatan Kaki  yang Benar

Cara menulis catatan kaki yang benar berfokus pada penulisan footnote tersebut agar sesuai dengan kaidah ilmiah yang berlaku universal. Tujuannya agar siapapun, dari manapun, berlatar budaya apapun, tetap dapat memahami maksudnya.

Untuk itu, penulisan footnote tersebut harus mengikuti  ketentuan berikut.

  1. Penulisan catatan kaki mencantumkan unsur: nama pengarang, judul buku/makalah, identitas penerbitan (kota, penerbit, tahun terbit), dan halaman rujukan.
  2. Nama pengarang ditulis sesuai aslinya tanpa menggunakan gelar (akademik ataupun non-akademik).
  3. Pengarang dengan jumlah 1 – 3 orang, ditulis semua nama mereka dengan lengkap. Sedangkan pengarang dengan jumlah 4 orang atau lebih, cukup ditulis nama pertama dan ditambahkan dengan dkk (dan kawan-kawan).
  4. Judul buku ditulis dengan huruf italic atau cetak miring. Jika menggunakan mesin ketik biasa (bukan komputer), maka diberi garis bawah.
  5. Jika rujukan bukan berbentuk buku tetapi makalah, maka judul ditulis dalam tanda petik dua (“ … “) dan tanpa cetak miring atau garis bawah.
  6. Identitas penerbitan ditulis dalam tanda kurung “( … )” dengan urutan kota terbit, penerbit, dan tahun terbit. Antara kota terbit dan penerbit dipisahkan oleh tanda titik dua (:). Sedangkan antara penerbit dan tahun terbit dipisahkan oleh tanda koma (,).
  7. Penulisan halaman diawali dengan akronim “hlm.” Atau “h.” lalu dikuti dengan nomor halaman. Jika halaman rujukan memiliki interval, maka diikuti dengan tanda pisah atau garis sambung ( – ).
  8. Setiap unsur catatan kaki dipisahkan oleh tanda koma lalu penulisannya diakhiri dengan tanda titik.

Contoh penulisan catatan kaki  untuk 2 – 3 orang.

  1. Andi Ahmad, Ahmad Suhandi, Media Pembelajaran Interaktif, (Jakarta: Kompas Media, 2012), hlm. 7.
  2. Lega Siarnagama, Rizki Ramadan, dan Khairul Amri, Pembelajaran Bahasa Arab Terpadu, (Indramayu: IAI Press, 2019), hlm. 192.

Contoh penulisan catatan kaki untuk 4 orang atau lebih.

  1. Wiwin Indarti, dkk, Buku Ajar Geografi, (Jakarta: Airlangga, 2015), hlm. 57 – 59.

Cara Penulisan Catatan Kaki yang Baik

Cara menulis catatan kaki yang baik berfokus pada penulisan footnote tersebut agar lebih enak dilihat dan lebih mudah dibaca. Tujuannya agar pembaca lebih mudah mencari dan menemukan letak rujukan atau keterangan. Oleh karena itu, penerapannya lebih bersifat teknis dan berhubungan dengan aplikasi pengolah kata.

Berikut ini adalah cara penulisan catatan kaki yang baik yang dapat diterapkan ke berbagai macam aplikasi pengolah kata.

  1. Catatan kaki ditulis di bagian bawah, berjarak 14 karakter dari margin kiri, dan 4 spasi dari teks utama.
  2. Penomoran wajib digunakan dalam catatan kaki agar memudahkan penelusuran.
  3. Penulisan catatan kaki menggunakan font yang lebih kecil dari teks utama (biasanya ukuran 10 px).
  4. Jika catatan kaki lebih dari 1, maka jarak satu dengan lainnya sama dengan besar spasi teks utama.
  5. Catatan kaki yang panjang lebih sampai ke halaman selanjutnya, lebih baik disatukan. Caranya dengan memindahkan sebagian teks utama yang mengandung catatan kaki tersebut. Lebih baik memotong teks utama daripada memotong catatan kaki.
  6. Jika catatan kaki tersebut banyak merujuk pada sumber yang sama, maka digunakan penulisan singkat berupa ibid, op.cit, dan loc.cit. (Akan dibahas dalam bab selanjutnya.)

Cara Menulis Catatan Kaki secara Otomatis dengan Microsoft Word

Cara-Menulis-Catatan-Kaki

Saat ini, menulis catatan kaki yang benar sangat mudah dilakukan, yaitu dengan memanfaatkan fasilitas yang disediakan aplikasi pengolah kata. Dalam artikel ini, akan diberikan cara menulis catatan kaki secara mudah dan otomatis dengan pengolah kata Microsoft Word.

  1. Buka file naskah/makalah dengan Microsoft Word.
  2. Letakkan kursor pada bagian yang akan diberikan keterangan catatan kaki.
  3. Klik tab menu “Reference” di bagian atas, pilih “Insert Footnote”. Secara otomatis kursor akan berpindah ke bawah dan membuat garis batas catatan kaki sekaligus dengan penomoran.
  4. Ketikkan sumber rujukan pada catatan kaki tersebut. Pastikan panduan cara penulisan catatan kaki yang benar di sub-bab atas sudah diikuti.
  5. Gunakan langkah yang sama untuk menulis catatan kaki lainnya, penomoran akan otomatis muncul.

Untuk lebih jelasnya, lihat panduan video cara menulis catatan kaki menggunakan Microsoft Word berikut.

Maksud Penulisan Ibid, Loc. Cit., dan Op. Cit. dalam Catatan Kaki

Cara-Menulis-Catatan-Kaki

Dalam penulisan catatan kaki, dikenal bentuk ibid, op. Cit., dan loc. Cit. Bentuk-bentuk tersebut dibuat untuk mempersingkat penulisan catatan kaki, terutama jika harus diketik secara manual.

Sejak ditemukannya komputer dan mudahnya melakukan salin-tempel (copy-paste), beberapa universitas mulai meninggalkan bentuk ini. Terutama bagi mahasiswa tingkat sarjana dengan tujuan agar terbiasa menulis catatan kaki.

Meski begitu, bukan berarti ini tidak perlu dipahami, karena masih banyak universitas yang menggunakan bentuk tersebut, terutama tingkat pasca sarjana. Berikut ini adalah maksud dari penulisan ibid, op. Cit., dan loc. Cit. tersebut dalam catatan kaki.

Ibid

Merupakan kependekan dari Ibidum yang berarti tempat yang sama dengan di atas. Ibid digunakan jika rujukan yang sama digunakan secara berurutan.

Ketentuan penggunaan Ibid sebagai berikut.

  1. Digunakan jika catatan kaki tersebut mengambil rujukan yang tepat sama dengan di atasnya, dan tidak diselingi rujukan lain.
  2. Ditulis menggunakan italic (cetak miring), diawali huruf kapital, dan diakhiri tanda titik ( . ).
  3. Jika sumber rujukan sama, tapi berada pada bab atau halaman yang berbeda, maka urutan penulisan: ibid, koma, halaman, titik.

Contoh catatan kaki menggunakan ibid.

1) Vikram Rasyid, Pengantar Ilmu Manajemen, (Jakarta: Pustaka Presindo, 2010), hlm. 10.

2) Ibid.

3) Ibid, hlm. 35 – 37.

Ibid pada catatan kaki di atas berarti menggunakan buku yang sama dari Vikram Rasyid yang berjudul “Pengantar Ilmu Manajemen”.

Loc. Cit.

Merupakan kependekan dari  Loco Citato, yang berarti lokasi yang sama dengan yang telah dikutip atau disebutkan. Penggunaan loc. Cit. dalam catatan kaki memiliki ketentuan sebagai berikut.

  1. Digunakan jika sumber rujukan sudah pernah disebutkan, tetapi telah diselingi dengan rujukan lain sebelumnya.
  2. Cit. digunakan hanya jika halaman yang dirujuk adalah sama, sehingga tidak perlu menuliskan nomor halaman saat menggunakannya.
  3. Ditulis menggunakan italic (cetak miring), diawali huruf kapital, dan setiap suku katanya diakhiri tanda titik ( . ).
  4. Teknis penulisannya: “Nama marga/keluarga, Loc. Cit.”.
  5. Jika pengarang memiliki beberapa buku yang juga pernah dirujuk, maka teknis penulisan: “Nama marga, Judul Buku, Loc. Cit.”

Contoh penggunaan Loc. Cit. dalam catatan kaki sebagai berikut.

1) Abdul Muis, Perang Siasat Matematika Praktis, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2012), hlm. 46.

2) Abdul Muis, Matematika itu Mudah, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2015), hlm. 66.

3) Marthen Langitan, Logika Matematika, (Jakarta: Edukasi Press, 2014), hlm 37 – 40.

4) Muis, Perang Siasat Matematika Praktis, Loc. Cit.

5) Langitan, Loc. Cit.

Maksud penggunaan Loc. Cit. pada nomor 4 di atas berarti merujuk pada buku Abdul Muis berjudul Perang Siasat Matematika Praktis halaman 46. Sedangkan contoh Loc. Cit. dalam catatan kaki nomor 5 berarti memiliki rujukan yang sama dengan catatan kaki nomor 3.

Op. Cit.

Merupakan kependekan dari  Opere Citato, yang berarti pada karya yang sama dengan yang telah dikutip atau disebutkan. Penggunaan op. Cit. pada catatan kaki mengikuti ketentuan sebagai berikut.

  1. Digunakan jika sumber rujukan sudah pernah disebutkan, telah diselingi dengan rujukan lain sebelumnya, namun pada halaman yang berbeda.
  2. Cit. digunakan jika halaman yang dirujuk adalah berbeda, sehingga perlu menuliskan nomor halaman saat menggunakannya.
  3. Ditulis menggunakan italic (cetak miring), diawali huruf kapital, dan setiap suku katanya diakhiri tanda titik ( . ).
  4. Teknis penulisannya: “Nama marga/keluarga, Cit.”.
  5. Jika pengarang memiliki beberapa buku yang juga pernah dirujuk, maka teknis penulisan: “Nama marga, Judul Buku, Op. Cit.”

Contoh penulisan op. Cit. dalam catatan kaki sebagai berikut.

1) Abdul Muis, Perang Siasat Matematika Praktis, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2012), hlm. 64.

2) Abdul Muis, Matematika itu Mudah, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2015), hlm. 99.

3) Marthen Langitan, Logika Matematika, (Jakarta: Edukasi Press, 2014), hlm 88 – 89.

4) Muis, Logika Matematika, Op. Cit., hlm. 134.

5) Langitan, Op. Cit., hlm. 112.

Contoh Catatan Kaki

Contoh-Catatan-Kaki

Di era informasi yang berkembang cepat sekarang ini, sumber rujukan atau kutipan dapat berasal dari mana saja, baik cetak atau digital.

Sumber cetak dapat berasal dari jurnal cetak, karya ilmiah akademis (skripsi, tesis, disertasi, seminar), buku, berita (koran/surat kabar, majalah, tabloid). Sumber digital dapat berasal dari jurnal online, e-book, dan website. Pastikan merujuk pada sumber yang terpercaya.

Urutan kekuatan sumber rujukan dalam karya ilmiah mengikuti urutan berikut.

  1. Jurnal (online – offline)
  2. Seminar dan lokakarya
  3. Karya ilmiah akademis (skripsi, disertasi, tesis).
  4. Buku (cetak – digital)
  5. Surat kabar dan majalah (online – offline)
  6. Website

Untuk lebih jelasnya memahami penulisan catatan kaki dari masing-masing sumber, berikut disajikan contoh catatan kaki dari semuanya.

Contoh Catatan Kaki Dari Buku

Contoh-Catatan-Kaki-Buku

Kaidah penulisan catatan kaki dari buku banyak dibahas di bab-bab sebelumnya (silakan dibaca ulang bila  perlu). Berikut ini akan disajikan contoh praktis yang dapat langsung diikuti.

  1. Siti Mutmainah, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, (Malang: Literasi Nusantara Abdai, 2019), hlm. 94.
  2. Tamim Ansary, Sejarah Dunia versi Islam, Yuliani Liputo, (Jakarta: Penerbit Liputo, 2015), hlm. 506. (Buku terjemahan asing.)
  3. Wisnu Santoso dan Heru Sriandi, Bahasa dan Sastra Indonesia, (Jakarta: Airlangga, 2013), hlm. 87 – 88.
  4. Lega Siarnagama, Rizki Ramadan, dan Khairul Amri, Pembelajaran Bahasa Arab Terpadu, (Indramayu: IAI Press, 2019), hlm. 192.
  5. Wiwin Indarti, dkk, Buku Ajar Geografi, (Jakarta: Airlangga, 2015), hlm. 57 – 59.
  6. Richard R Bootzin, dkk, Psychology Today: An Introduction, Seventh Edition, (New York: McGraw Hill Inc, 1991), hlm. 497.

Contoh Catatan Kaki Dari Jurnal Online dan Offline

Contoh-Catatan-Kaki-Jurnal

Jurnal memiliki nilai kekuatan rujukan tertinggi berdasarkan skor keilmiahan maupun waktu kebaruannya. Karena itu, ia lebih disukai dalam dunia akademis sebagai bahan rujukan.

Berbeda dengan jurnal cetak, jurnal online memiliki catatan khusus atau ketentuan tambahan. Ketentuannya yaitu perlu mencantumkan alamat tautan tempat jurnal tersebut dibaca atau diunduh.

Format penulisan jurnal mengikuti ketentuan berikut:

Nama, “Judul Makalah/Artikel”, Nama Jurnal, Edisi dan Volume, Tahun Terbit, halaman.

Contoh catatan kaki dari jurnal dapat dilihat di bawah ini.

  1. Ahmad Arifin, “Peran Perempuan dalam Konstruksi Sosial”, Journal of Indonesian Islam, Edisi 21, Februari 2018, hlm. 33.
  2. Gunawan Wicaksana, “Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak”, Studia Islamika, Edisi 44, Juni 2019, hlm. 15 – 16.
  3. Candra Guna, “Penerapan Sains dalam Permainan Anak Masyarakat Jawa”, Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, Edisi 25, Maret 2018, hlm. 44.
  4. Refrinaldi, “Penggemukan Sapi Lokal dengan Silase”, Tropical Animal Science Journal, Volume 112, Januari 2018, hlm. 30. (Diunduh dari laman http://journal.ipb.ac.id/index.php/tasj pada 14 Januari 2018.)
  5. Niken Larasati, “Einstein’s Relativity at Photovoltaic Effect”, Journal of Mathematical and Fundamental Sciences, Volume 66, September 2019, p. 55. (Visited on http://journals.itb.ac.id/index.php/jmfs at 10 November 2019.)
  6. Febriyansyah, “Efek Terapi Air terhadap Fisiologi Pasien Diabetes Mellitus Tipe II”, Acta Medica Indonesiana, Edisi 135, Juni 2009, hlm 77. (Dikunjungi pada 30 Agustus 2009 di laman http://www.actamedindones.org/)

Contoh Catatan Kaki Dari Seminar dan Lokakarya

Contoh-Catatan-Kaki-Seminar-dan-Lokakarya

Seminar dan lokakarya memiliki keunggulan dalam tingkat kebaruan. Perbedaannya, seminar lebih bersifat teoritis, sedangkan lokakarya cenderung menekankan pada keunggulan praktis.

Keterangan tambahan dalam menulis catatan kaki dari seminar atau lokakarya harus mencantumkan waktu pelaksanaan acara tersebut. Adapan format penulisannya mengikuti struktur berikut.

Nama penyusun, “Judul Makalah/Artikel”, (lokasi dan waktu seminar/lokakarya), halaman.

Contoh Catatan Kaki dari Seminar dan Lokakarya dapat dilihat di contoh berikut.

  1. Mulyadi, “Menggagas Pendidikan Islam dalam Perspektif Sirah Nabi”, (dipresentasikan dalam Seminar: Pendidikan Se*s untuk Remaja, Indramayu, 10 Oktober 2014), hlm. 18.
  2. Sigid Setyo, “Applied Hypnotism for Learning and Education”, (paper presented at Workshop: Smart Teacher for Excellent Student 2020, Jakarta, Juli 2018), page 7 – 10.
  3. Gugun Gunawan, “Peran Keluarga dan Lingkungan Tetangga dalam Pencegahan Kekerasan Se*sual: Studi Kasus 10 Pelecehan Se*sual Terberat 2017”, (makalah dipresentasikan dalam Seminar: Indonesia Kuat dari Rumah, Jakarta, Januari 2018), hlm. 5 – 6.

Contoh Catatan Kaki Dari Skripsi, Tesis, Disertasi

Contoh-Catatan-Kaki-Skripsi-dan-Tesis

Skripsi, Tesis dan Disertasi merupakan karya yang terjamin 99% keilmiahannya karena telah melalui proses dan pengujian yang sistematis. Meski dalam skor kebaruan kalah oleh jurnal, tapi karya akhir mahasiswa sarjana atau pasca sarjana tersebut tetap memiliki nilai lebih.

Keterangan tambahan dalam menulis catatan kaki dari karya ilmiah akademis tersebut harus mencantumkan jenis karyanya. Selain itu, jika karya tersebut dapat diakses secara online, harus mencantumkan alamat laman akses tersebut.

Adapun format penulisan catatan kaki dari skripsi, tesis, atau disertasi mengikuti struktur berikut.

Nama penyusun, jenis karya ilmiah: “Judul karya ilmiah”, (kota terbit: perguruan tinggi tempat terbit, tahun terbit), halaman.

Contoh catatan kaki dari skripsi, tesis, atau disertasi dapat dilihat pada contoh di bawah ini.

  1. Ita Rosita, Skripsi: “Kajian Pustaka: Analisis Tingkat Keterbacaan pada Buku Ajar Bahasa Indonesia Kelas VI dari Penerbit Erlangga”, (Indramayu: IAI Alazis, 2018), hlm. 30.
  2. Mohammad Thoriq, Skripsi: “Penerapan Sistem Informasi untuk UMKM bidang Food and Beverages di Karawang dan Sekitarnya”, (Karawang: Universitas Singa Perbangsa, 2014), hlm. 4 – 5.
  3. Dian Sastrowardoyo, Skripsi: “Kompleks Industri Kecantikan: Sebuah Kritik Sosio Filosofis”, (Depok: Universitas Indonesia, 2007), hlm. 25.
  4. Gamal Tamrin, Tesis: “Penerapan Metode Diskusi dan Bedah Film dalam Pembelajaran IPS kelas 11 SMA Tunjungan”, (Bandung: UPI, 2014), hlm. 67.
  5. Susilo Bambang Yudhoyono, Disertasi: “Pembangunan Pertanian dan Pedesaan Sebagai Upaya Mengatasi Kemiskinan dan Pengangguran: Analisis Kebijakan Ekonomi dan Fiskal”, (Bogor: IPB, 2004), hlm. 44 – 45.

Contoh Catatan Kaki Dari Koran, Surat Kabar, Majalah, Dan Tabloid

Contoh-Catatan-Kaki-Koran-dan-Tabloid

Meski sama-sama sebagai sumber berita, perujukan dari koran/surat kabar dengan majalah/tabloid agak berbeda. Ini karena surat kabar terbit secara harian, sedangkan majalah/tabloid memiliki rentang waktu tertentu.

Catatan kaki dari koran harian perlu mencantumkan nama harian dan waktu terbitnya. Sedangkan catatan kaki dari majalah atau tabloid mengikuti struktur yang sama dengan penulisan jurnal. (Karena jurnal juga merupakan majalah yang memiliki interval terbit, hanya saja tingkat keilmiahannya relatif lebih tinggi.)

Adapun struktur penulisan catatan kaki dari surat kabar atau  koran mengikuti format berikut.

Nama penulis, “Judul tulisan”, (Nama koran/harian, tanggal terbit), halaman.

Contoh catatan kaki dari koran atau surat kabar dapat dilihat di bawah ini.

  1. Setyo Waluyo, “Bank Syariah dan Konvensional, Apa Bedanya?”, (Media Islam Indonesia, 1 April 2019), hlm. 12.
  2. Siswoko, “Tebang Pilih Pemberantasan Kasus Korupsi”, (Pos Desa, 2 Juni 2019), hlm. 14.

Contoh catatan kaki dari majalah atau tabloid dapat dilihat di bawah ini.

  1. Erna Prayoga, “Presiden dalam Pusaran Hoax”, Times Indonesia, Vol. 4 No. 3, 2019, hlm. 5.
  2. Rizal Rusdi, “Benarkah Utang Indonesia Aman? Analisis Profil Utang Indonesia”, Tunai, Edisi 25, April 2019, hlm. 6 – 7.

Contoh Catatan Kaki dari Internet

Contoh-Catatan-Kaki-Internet

Saat ini sumber berita, baik surat kabar dan majalah, tidak hanya dalam bentuk cetak. Justru mereka lebih banyak yang berbentuk digital atau online. Sumber berita dalam bentuk online membutuhkan tambahan keterangan tautan dan waktu akses agar lebih absah.

Berikut ini contoh catatan kaki yang diambil dari sumber berita/informasi di internet.

  1. I Wayan Purnomo, “Anjing Diteliti, Manusia Disebut”, Tempo, 30 November 2019. (Diakses pada 7 Desember 2019 di laman https://majalah.tempo.co/read/158905/anjing-diteliti-manusia-disebut/)
  2. Wanti Mutiara, Maria Komariah, dan Karwati, “Gambaran Perilaku Se*sual dengan Orientasi Heterose*sual Mahasiswa Kos Jatinangor-Sumedang”, (Bandung: UNPAD, 2009), hlm. 5 – 6. (Diakses pada 14 November 2019 di tautan http://pustaka.unpad.ac.id/wp_content/uploads/ 2010/05/gambaran_perilaku_se*sual_pada_ mahasiswa_kos_di_kec_jatinangor.pdf)

Penutup dan Kesimpulan

Catatan kaki merupakan unsur penting dalam dunia ilmiah, baik bagi perujuk, yang dirujuk, maupun karya ilmiah itu sendiri. Oleh karena itu, cara menulis catatan kaki yang baik dan benar wajib dipelajari. Salah satunya dari menganalisa contoh-contoh catatan kaki dari beragam sumber.


Buat kamu yang ingin belajar banyak hal materi pelajaran lengkap, kami sarankan juga untuk mencoba mengakses situs ruangguru.co.id untuk latihan belajar disana

 

Baca juga:

Content Protection by DMCA.com