Tentang Bunga Citra Lestari

Mengenal lebih dalam sang penyanyi dan pemain film yang kembali produktif: empat film dan lima single dalam satu tahun

Oleh
Sampul majalah Rolling Stone Indonesia edisi 138 Oktober 2016. Bayu Adhitya

Ada opini hampir serupa yang saya temui berkali-kali di media sosial: dalam beberapa tahun terakhir film-film Indonesia diperankan oleh orang yang itu-itu saja. Kita tahu nama-nama populer itu, antara lain Reza Rahadian, Tara Basro, Chelsea Islan, Chicco Jerikho, dan Bunga Citra Lestari. Ada yang bilang mereka pilihan logis produser; punya jejak rekam panjang dan bagus dan merupakan favorit penonton. Salah satu faktor kenapa seolah-olah yang main film itu-itu saja juga ada hubungannya dengan jadwal tayang. Seorang aktor bisa terlihat "main film" tanpa henti karena jadwal tayang yang kebetulan beruntun, terlepas dari jadwal syutingnya.

Kalau 2013 sampai 2014 seperti menjadi tahunnya Reza dan 2015 adalah giliran Chicco dan Chelsea, di tahun ini Bunga Citra Lestari tampil di empat film (hampir) secara berturut-turut. Mulai dari sekitar pertengahan tahun lalu ada My Stupid Boss, kemudian Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea, disambung dengan 3 Srikandi, dan yang masih akan tayang yaitu Mooncake Story. Bunga sebagai penyanyi juga merilis lima single. Dua di antaranya adalah soundtrack film yang dibintanginya, "Aku Bisa Apa" untuk Jilbab Traveler dan "Tundukkan Dunia" untuk 3 Srikandi. Menurut Bunga, semua itu tidak direncanakan alias berupa kebetulan. Kebetulan pula bahwa keempat filmnya tersebut datang setelah ia istirahat cukup lama dari dunia film, tak lama setelah ia sukses besar dengan film Habibie & Ainun (2012).

Habibie & Ainun merupakan salah satu film Indonesia yang paling fenomenal. Masa tayangnya tercatat lebih dari empat bulan, suatu rekor mengingat ada film-film yang bahkan tidak sampai satu minggu dipertunjukkan di bioskop. Pada masanya pula film ini mengumpulkan lebih dari 4,5 juta penonton, menjadi film nomor tiga terlaris sepanjang masa di Indonesia. Sensasi Habibie & Ainun juga jadi semakin panjang dengan banyaknya penghargaan yang diraih, antara lain Penghargaan Akademi Film Indonesia 2013 sebagai Film Terlaris, Pemeran Utama Pria Terbaik (Reza Rahadian) dan Skenario Terbaik (Gina S. Noer dan Ifan Ismail) dalam Festival Film Indonesia 2013, juga lagu soundtrack "Cinta Sejati" yang menang banyak di berbagai acara penghargaan berdasarkan pilihan publik maupun di Anugerah Musik Indonesia Awards.

Menariknya, Habibie & Ainun juga didahului dengan masa vakum Bunga yang cukup panjang. Dua tahun setelah melahirkan anak pada 2010, Bunga kembali ke dunia hiburan dengan bermain film kemudian melepas album The Best of BCL. Penghargaan bertubi-tubi yang datang pada dirinya, termasuk yang bergengsi seperti AMI Awards, sempat membuatnya gamang. Dalam wawancara dengan Rolling Stone pada 2013, Bunga berucap, "Yang aku rasakan adalah takut. Dalam arti, ini sepertinya momen aku, tapi sampai kapan? Will I get this again later? Apa lagi yang harus aku bikin habis ini?"

Tiga tahun kemudian saya bertanya soal itu. Kali ini ia berujar tidak lagi merasa takut. "Memang sempat seperti merasakan I"ve got everything, and it scared me," kata Bunga. "Terus mendapatkan penghargaan itu sebenarnya yang bikin takut, seperti menempatkan kita di posisi tertentu sampai jadi takut untuk bikin karya lagi." Lalu ia memilih untuk bersikap santai. Katanya, "Sekarang saya lebih bersikap nothing to lose, saya ingin berbuat sesuatu saja. Hasilnya bisa meledak atau tidak diserahkan ke orang yang mendengarkan atau menonton."

Sebagai pemain film dan penyanyi, Bunga mestinya ada di tempat yang lumayan "aman". Karier sepanjang 14 tahun mengisyaratkan ada sesuatu yang menarik pada dirinya. Ada daya pikat, kerja keras, bakat, dan campur tangan keberuntungan yang menjadikan namanya bukan selewat saja di layar. Mungkin yang juga membuat kariernya berumur panjang adalah karena ia paham di mana posisi dirinya di dunia hiburan Indonesia. Dengan sadar ia melibatkan diri dalam arus yang populer dan komersial. Lagu-lagunya gampang diterima seperti juga film-filmnya. Komersial tak berarti kacangan atau murahan, seperti halnya Bunga bukan pemain film atau penyanyi yang jelek. Suaranya yang bening dan empuk seperti ditakdirkan untuk lagu-lagu balada, tapi ia juga bisa terang memancar di lagu-lagu yang lebih dinamis seperti "Pernah Muda" dan "Mungkin Suatu Hari". Saat sebagai Rania (di Jilbab Traveler) ia mulai tertarik pada Hyuen Geun (Morgan Oey), cukup matanya yang bersinar untuk membuat penonton mengerti perasaannya pelan-pelan berubah. Di My Stupid Boss, Bunga mendapat ujian baru dalam bentuk film komedi. Ia dituntut untuk mengeluarkan berbagai gestur yang cenderung komik sekaligus alami untuk mengimbangi perlakuan atasannya yang absurd, sesuatu yang tidak mudah.

"Saya nggak melihat menjadi komersial dan ada di mainstream itu salah. Saya tahu kapabilitas saya. Saya pun suka penyanyi-penyanyi yang mainstream. Memang jiwa saya di situ, mau gimana lagi," katanya sambil tertawa. Dalam pertemuan kami saat itu, di tengah pemotretan yang berlangsung sampai dekat tengah malam, bukan hanya sekali itu saya merasa tergerak akan kejujurannya. Ada cerita soal perubahan dirinya setelah menikah sampai ambruk sakit akibat mengejar peringkat satu saat SMP.

Untuk kisah selengkapnya silakan baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 138 Oktober 2016.

Editor's Pick

Add a Comment