Live Review: Konser Local Heroes Indonesia (Yogyakarta)

Oleh
Shaggydog saat konser di Local Heroes Indonesia di Stadion Kridosono, Yogayakarta. Ivan Makhsara

Ketika empat pahlawan musik asal Yogyakarta berbagi panggung stadion

Hujan deras mendadak mengguyur Yogyakarta di Sabtu (27/8) sore lalu. Kontan lapangan Stadion Kridosono tempat akan berlangsungnya pergelaran perdana Local Heroes Indonesia berubah menjadi lautan lumpur, meski begitu masyarakat Yogyakarta tak menyurutkan niatnya untuk menonton putra-putra kebanggaannya beraksi. Ketiga band terbesar di Yogyakarta dan bahkan Indonesia akan tampil di malam hari, mereka adalah Sheila On 7, Endank Soekamti, dan Shaggydog.

Doggies, Kamtis Family, dan Sheila Gank dipersatukan malam itu, berbagi kebahagiaan meski harus rela berkotor ria. Selama empat jam acara, ketiga fanbase band yang paling banyak massanya ini secara tertib bergantian memuja idolanya. Ketika band lain yang tampil pun mereka turut menghormati dengan larut dalam keakraban.

Hujan yang sudah mulai berhenti menjelang jadwal acara dimulai, membuat banyak orang yang tadinya malu-malu merapat ke panggung mulai merangsek perlahan. Shaggydog yang didaulat menjadi pembuka langsung menghajar dengan salah satu single energik "Kembali Berdansa". Irama ska yang memompa semangat dengan tepat membakar penonton. Meski belum terlalu ramai, setiap orang yang hadir dibuat bergoyang, ada yang sedikit jaim, tapi lebih banyak yang menggila.

Sadar penonton mulai terbangun, Shaggydog lanjut menghajar dengan dua lagu yang tak kalah dinamis, "Rudy Story" dan "Doggy Doggy" digeber. Bukannya meneruskan atmosfir yang kadung dibangun, para personil menyingkir dari panggung dan hanya menyisakan Heru Wahyono, vokalis dan Lilik Sugiyarto, keyboardist. Cahaya panggung dibuat redup, lagu terbaru "Putra Nusantara" dibawakan. Lagu tentang kelas menengah ini terasa syahdu dibawakan dengan minimalis.

Setelah sempat mereda, tensi kembali naik dengan lagu "Rock Da Mic" yang juga datang dari album baru. Sampai akhir Shaggydog menghibur lewat lagu-lagu yang telah familiar dan selalu membuat penonton berdendang bahagia seperti "Jalan Jalan", "Ditato", "Honey", dan tentu saja anthem kebesaran "Sayidan".

Sejak beberapa lagu terakhir Shaggydog, teriakan memanggil Endank Soekamti makin keras. Kamtis Family seakan tak sabar menonton idolanya beraksi. Penggemar yang berasal dari berbagai daerah ini memang dikenal militan.

Beberapa menit tersita di atas panggung dihabiskan oleh MC yang berusaha melucu, tapi candaan mereka akhirnya kalah dengan gimmick yang dibawa Endank Soekamti. Layar video yang tadinya hanya menampilkan visualisasi ketika band manggung, tiba tiba diisi dengan sosok Batman yang di-sulihsuara-kan sehingga bisa berbahasa Indonesia. Batman Indonesia ini kemudian memanggil Endank Soekamti yang hadir dengan kostum bertemakan pahlawan.

Erix menjadi Gatot Koco, sedangkan Dory menjadi Ontorejo. Kostum yang merupakan perpaduan superhero Amerika dan sentuhan tradisional ini dirancang khusus untuk Local Heroes Indonesia. Dengan kekuatan penuh, lagu "Audisi", "Luar Biasa", "Semoga Kau Di Neraka", dan "Soekamti Day" dimainkan bergantian. Kemudian mendadak para personel keluar dari panggung, Batman Indonesia kembali mengisi panggung, di video diceritakan kalau dia sedang mencari jagoan internasional di Indonesia. Dia pun bertemu dengan Gatot Koco yang diperankan Erix, saat ditanya apa kekuatannya, Erix menjawab "Kalau Gatot Kaca kan otot besi, nah kalau Gatot Koco kon*** besi." Penonton tergelak dibuatnya.

Keisengan berkonsep yang telah menjadi signature Endank Soekamti diteruskan, bukan hanya dalam video yang terus diputar di sela-sela penampilan. Tapi juga dalam bentuk interaksi kepada para penggemar, Erix tak perlu banyak bicara, tapi sanggup mengajak penonton untuk bernyanyi bersama. Malahan di barikade paling depan bisa disaksikan muda mudi yang fasih bernyanyi, sampai ke lagu-lagu yang lumayan baru. Menutup pertunjukan, lagu "Terima Kasih" dinyanyikan dengan beberapa Kamtis yang beruntung diajak ke atas panggung.

Sehabis dipuaskan oleh band ska dan band punk, kini tiba waktunya pahlawan terbesar yang dipunyai Yogya mengambil alih. Sheila On 7, yang bisa keluar dari jerat yang mengikat teman-teman seangkatan dan kini menikmati sukses sebagai band independen naik panggung sekitar jam 10 malam. Duta, Eross, Adam, dan Brian membawakan "Pejantan Tangguh", lagu dari masa kejayaan yang masih menyenangkan untuk didengar.

Sebelum naik panggung, santer terdengar gosip tentang Sheila On 7, ketika konferensi pers hanya Adam yang bersedia hadir. Meski begitu, sebagai band yang telah lebih dari dua dekade malang melintang, penampilan panggung mereka tak mengecewakan. Dengan bantuan dua keyboardist, penonton diajak bernyanyi bersama dari awal sampai akhir. Lagu-lagu yang sudah familier seperti "Seberapa Pantas", "Betapa", "Bila Kau Tak Disampingku", sampai "Pemuja Rahasia" menyenangkan Sheila Gank maupun penonton lainnya.

Duta sempat bercerita kalau sedari dulu dia senang bisa main di Stadion Kridosono, ceritanya lalu disambung oleh Eross yang mengungkapkan kisah masa muda Sheila On 7, di mana mereka sering menonton band-band yang mereka sukai di stadion ini. "Mungkin suatu hari nanti, ada dari kalian yang bisa berada di panggung ini," tutupnya penuh harapan. Tentunya butuh perjalanan panjang agar bisa mencapai apa yang telah mereka raih, dan dengan tulus mereka berterima kasih atas segala dukungan masyarakat Yogya.

Memasuki paruh kedua pertunjukan, Sheila On 7 makin panas, lagu "JAP" dibawakan dengan aransemen berbeda, meskipun jujur saja versi aslinya lebih menarik, tapi versi panggung tetap mengajak bernyanyi bersama. Berturut kemudian, "Hari Bersamanya" dibawakan dan dilanjutkan dengan medley lagu-lagu hits lama untuk menyenangkan penonton yang lebih senior. Sampai larut malam, bukan hanya pembeli tiket yang berbahagia, awak media yang meliput dan polisi yang menjaga pun turut larut dalam kesenangan.

Pukul sebelas malam konser pun berakhir. Meski sempat terkena kendala, Local Heroes Indonesia berjalan lancar. Dengan konsentrasi massa yang besar, warga Yogyakarta juga berhasil menjaga ketertiban. Senyum sumringah menyisa di muka dan ingatan sentosa mengiringi kepulangan setiap orang ke rumah. Melelahkan untuk sesuatu yang positif jelas kemujuran yang indah.

Sampai jumpa lagi, Yogya.

Editor's Pick

Add a Comment