CD Review: Maliq & D'Essentials - 'Senandung Senandika'

Oleh

Kembali merenung kehidupan di album yang lebih pop dibanding 'Musik Pop'

Mungkin tak sedikit penggemar lama Maliq & D’Essentials yang terbiasa dengan lagu-lagu cinta ringan seperti “Untitled” dan “Pilihanku” bingung bagaimana harus menyikapi Musik Pop,  sebuah album tentang siklus kehidupan dengan solo synth tiga setengah menit oleh Indra Lesmana sebagai klimaks. Pada Senandung Senandika, sekstet asal Jakarta ini mampir ke teritori lebih familier: “Manusia” mengandalkan irama yang sudah menjadi ciri khas mereka di lagu-lagu seperti “Dia”, sedangkan “Kapur” dilengkapi saksofon yang akan membahagiakan mereka yang masih mengira Maliq & D’Essentials adalah band jazz.

Namun sebagaimana pantasnya musisi di album ketujuh, masih ada banyak hal baru yang dapat ditemukan. Lagu pembuka “Sayap” menampilkan synth bass terdistorsi, sebelum perkusi menggema menandakan percepatan tempo yang mendadak, sementara “Musim Bunga” memadukan melodi vokal, alunan string quartet dan efek kicauan burung ke dalam mahakarya pop yang menggunakan pergantian musim sebagai metafora untuk jatuh cinta. Topik lirik pun merambah ke wilayah baru, seperti “Idola” yang dipersembahkan untuk orang tua dan menampilkan vokal terbaik dalam karier rekaman Angga Puradiredja, serta “Maya” yang membicarakan krisis identitas akibat media sosial dengan iringan nyanyian kasidah ibu-ibu, dentuman disko dan solo gitar yang absurd. Bahkan keriangan “Senang” menjadi topeng bagi lirik tentang menyadari kefanaan hidup.

Singkat kata, masa-masa “duduk terdiam menunggu untuk tahu namamu” sudah tergantikan oleh “semua yang fana, demi masa kita hanyalah manusia”. Yang masih terobsesi dengan album-album awal Maliq & D’Essentials mungkin akan enggan untuk merangkul album baru ini, tapi sungguh disayangkan jika siapa pun tidak mendekat dan mendengar karya salah satu band pop Indonesia terbaik ini.

Editor's Pick

Add a Comment