Movie Review: Bukaan 8

Oleh
Lala Karmela dan Chicco Jerikho berperan sebagai suami istri yang menanti kelahiran anak pertama. Visinema Pictures

Meleburkan komedi dengan drama keluarga

Kelahiran anak pertama memang selalu ditunggu oleh pasangan suami istri, keluarga, juga kerabat. Ini adalah momen pengesahan seorang laki-laki menjadi bapak dan perempuan menjadi ibu. Kelahiran anak tentunya juga mendatangkan tanggung jawab lebih. Dengan konsep cerita ini, sutradara Angga Dwimas Sasongko mencoba hal baru dengan membuat film komedi berjudul Bukaan 8 yang dibintangi Chicco Jerikho dan Lala Karmela sebagai tokoh kunci.

Bukaan 8 menceritakan kisah pasangan suami istri yang segera dikaruniai anak pertama. Pasangan tersebut adalah Alam (Chicco Jerikho) dan Mia (Lala Karmela). Kisahnya dimulai saat Mia akan melahirkan. Alam menginginkan Mia melahirkan di rumah sakit terbaik. Namun sialnya, uang yang disiapkan Alam untuk biaya persalinan ternyata tidak cukup karena paket promo persalinan sudah berakhir.

Selain Alam dan Mia, keluarga kedua pasangan ini juga turut meramaikan kisah sebagai pemain pendukung seperti Abah (Tyo Pakusadewo) dan Ambu (Sarah Sechan) yang merupakan orang tua Mia. Kedua tokoh ini jadi bumbu utama untuk urusan komedi, berbanding terbalik dengan Emi (Dayu Wijanto) selaku ibunda Alam yang menjadi tokoh bijak dalam setiap persoalan yang menimpa putranya.

Penulis naskah Salman Aristo berhasil memaparkan dengan jelas dan tuntas tentang ide menarik soal kelahiran anak pertama. Persoalannya mengenai tanggung jawab seorang bapak terhadap keluarga. Dalam hal ini, Alam bersusah payah memberikan yang terbaik demi membayar biaya persalinan. Di tengah usahanya, Alam seringkali dihadapkan pada kenyataan yang berbenturan dengan prinsip hidupnya.

Kisah perjuangan seorang bapak ini terasa pas dengan nuansa komedi cerdas. Penokohan setiap karakternya pun memikat, misalnya bagaimana tokoh Ambu yang bawel seribu bahasa dengan dialek khas Sunda atau tokoh Abah, seorang bapak penyayang yang rela melakukan "gencatan senjata" dengan menantunya. Begitu juga dengan Alam, pengguna aktif media sosial sekaligus pria idealis yang rela melakukan apa saja demi sang istri, dan Mia sebagai perempuan tangguh dan percaya penuh kepada suaminya.

Pujian layak diberikan kepada sutradara Angga Dwimas Sasongko yang berhasil menghidupkan naskah dengan baik serta mampu membangun tokoh-tokoh dengan apik. Ia dapat memvisualisasikan komedi dengan didukung dialog berisi dan penggunaan elemen media sosial yang tidak berlebihan. Elemen media sosial dalam film ini berusaha menjembatani realitas film dengan dunia nyata tempat kita berada.

Memerankan pasangan suami istri, Chicco Jerikho dan Lala Karmela mampu bermain lugas tanpa canggung. Meski baru dua kali membintangi film layar lebar, Lala Karmela mampu bermain lepas walau gerak-geriknya terbatas hanya di atas kasur. Begitu juga akting Sarah Sechan yang patut diapresiasi. Ia tampil optimal sehingga berhasil membuat penonton tertawa. Dayu Wijanto memerankan tokoh Emi yang bijak dengan kadar tepat tanpa kesan menggurui. Terakhir akting Tyo Pakusadewo yang tak perlu diragukan lagi, silakan saksikan sendiri.

Namun ada satu adegan ganjil yang memberi kesan bahwa melakukan sesuatu itu mudah dan bisa dipelajari dalam waktu singkat. Untuk urusan pemilihan soundtrack, ada penggunaan lagu yang sudah beredar lama sehingga bisa membatasi imajinasi penonton untuk merasakan suasana baru dalam film. Namun hal ini bukan persoalan besar dibanding keberhasilannya dalam membangun nuansa hangat dan bahagia.

Film ini bisa menjadi tontonan menarik bagi pasangan suami istri yang sedang menunggu kelahiran anak pertamanya atau siapapun yang ingin terhibur hatinya. Unsur komedi dan drama seputar keluarga menjadi kesatuan yang padu dan utuh pada Bukaan 8.

Editor's Pick

Add a Comment