Jejak Pesta Analog Indische Party

Band pembangkit rock & roll '60-an asal Jakarta ini mengenang proses kreatif album studio terbaru mereka bersama produser David Tarigan

Oleh
Ki-ka: vokalis Japra Shadiq, drummer Tika Pramesti, bassist Jakobus Dimas, gitaris Andre 'Kubil' Idris. John Navid

Dharmo Soedirman, pemain keyboards unit ska Jakarta, Sentimental Moods, sedang duduk di bangku pelataran Joglo Beer, Kemang, pada suatu malam pada Desember 2016. Dalam keadaan minim penerangan, mimik wajah Dharmo yang sangat ramah terpapar oleh cahaya layar ponsel pintar yang sedang ia mainkan, di mana kepulan asap rokok yang dihisapnya mengisi ruang pandangnya. Dharmo yang kerap dipanggil dengan nama Masmo, dijadwalkan bakal tampil bersama Indische Party pada malam itu. Tugasnya hanya satu, mendukung band pembangkit rock & roll '60-an asal Jakarta tersebut untuk merayakan rilisnya album kedua mereka berjudul Analog.

"Awalnya Masmo latihan sama Sentimental Moods di studio ini," kata vokalis Japra Shadiq pada pekan kedua Januari 2017, mencoba mengenang pertemuan pertama Indische Party dengan Masmo di studio musik bernama Atlantis. Studio yang berukuran lebih kurang 2x3 meter tersebut merupakan bagian dari rumah pribadi gitaris Kubil Idris di kawasan Tebet Barat, Jakarta Selatan. Studionya terletak di lantai satu, bersebelahan dengan ruang tengah rumah Kubil yang salah satu sisi temboknya memajang sampul album Energy (2006) dari The Upstairs dengan ukuran yang lumayan besar. Wajar saja jika Kubil hendak menghiasi rumahnya dengan pernak pernik The Upstairs. Selain karena dirinya adalah gitaris utama sekaligus salah seorang pendiri band new wave tersebut, lantai dua rumahnya merupakan tempat kelahiran The Upstairs lima belas tahun yang lalu.

Ruang tengah rumah Kubil sepertinya menjadi area utama para personel Indische Party bertukar pikiran tentang banyak hal khususnya tentang musik. Saat Rolling Stone Indonesia tiba, sang tuan rumah bersama pemain bass Jakobus "Kobus" Dimas tengah bersandar di sofa ruangan tersebut sambil menikmati rokok mereka. Sekitar setengah meter di depannya, terdapat televisi yang sedang menyiarkan program Regular Show dari saluran Cartoon Network. Akan tetapi Kubil, Kobus, dan manajer Indische Party, Ben Mukti, lebih fokus membicarakan tentang beberapa pilihan referensi penata rekaman di Jakarta; Kobus bersama band lainnya, Karon N Roll, kebetulan sedang mempersiapkan materi album baru. "Lagi panas banget di luar," kata drummer Tika Pramesti yang paling terakhir muncul di ruang tengah. Semua orang di dalam ruangan tersebut sepakat cuaca Jakarta sore itu memang sedang tidak bersahabat. Kami pun memutuskan untuk masuk ke dalam studio yang dilengkapi dengan pendingin ruangan.

Indische Party latihan di studio Atlantis pada 2011. (Foto: Matahari Mahardhika)

Studio Atlantis tidak hanya mempertemukan Indische Party dengan Masmo, namun juga menjadi saksi utama mereka saat menyiapkan materi album pendek On Vacation (direkam di Abbey Road Studios, London, pada akhir 2015) bersama David Tarigan. "Harusnya Masmo tuh yang berangkat, tapi dia bentrok sama jadwal manggung bareng Leonardo [& Impeccable Six]," kata Japra yang sore itu sedang mengidap flu – ia duduk di belakang set drum, sedikit lebih jauh dari tempat kami berkumpul sebagai upaya menghindari penularan penyakit.

Akan tetapi skenario David menggantikan tugas Masmo pun nyatanya kandas di tempat. Ini disebabkan oleh rasa kagumnya terhadap status legendaris Studio Abbey Road di mana malah menghasilkan tingkat grogi yang cukup tinggi. "Sampai di sana nggak sanggup dia. Nangis," kata Kubil yang disambut oleh tawa para personel Indische Party lainnya. "Pianonya "Lady Madonna" (lagu The Beatles, 1968) tuh, dielus-elus sama dia. Sedih gitu," tambah Kobus. Tetapi bukan berarti akhirnya David tidak melakukan apa-apa selama di Inggris karena dirinya juga mengemban tugas sebagai produser, perantara utama para personel Indische Party dengan penata rekaman peraih nominasi Grammy, Alan O"Connell. "Kehadiran David sangat menolong," puji Kobus.

"Pianonya "Lady Madonna" tuh, dielus-elus sama dia. Sedih gitu," ujar Kobus mengenang suasana di Abbey Road

Album pendek On Vacation akhirnya dirilis pada Januari 2016. Namun sebenarnya kerja sama antara Indische Party dengan David sebagai produser sudah terjalin sekitar satu tahun sebelumnya demi mengerjakan album Analog. "Dulu awal mulanya saat kami manggung di ulang tahun Demajors, David nyeletuk mulu tuh di atas balkon, "A, setun, a" (mas, Stones, mas. Sebuah sautan lawas untuk meminta band membawakan lagu dari The Rolling Stones - Red). Kelihatan kalau David suka sama musik kami juga. Terus setelah beberapa kali ketemu, pas mau rekaman gue deketin aja David. Gue kompor-komporin [dia] mau apa nggak jadi produser," kenang Japra.

Suasana rekaman album pendek On Vacation di Abbey Road Studios. (Foto: Arya Rinaldo)

Ketika David dihubungi terpisah lewat saluran telepon (ia sedang merayakan ulang tahun bos Demajors, David Karto, di kantornya), David mengungkapkan alasan di balik ketersediannya menerima tawaran menjadi produser album Analog. "Sebenarnya gue nggak pernah menganggap diri gue sebagai produser atau bagaimana. Karena sistemnya bukan, "OK, elo, gue hired untuk jadi produser." Lebih seperti kerja bareng. Semua berawal dari pertemanan saja. Dan gue juga suka musiknya, jadi nyambung juga." Terang David. "Gue hanya menerjemahkan apa keinginan mereka. Kita sama-sama tahu apa yang kita tuju."

"David itu seniman. Maunya dia, ya maunya dia," kata Japra menggambarkan etos kerja David sebagai produser. "BM (banyak mau - Red) memang, tapi harus kami turuti kalau nggak ngapain kami pakai produser. Jadinya kami memang lebih nge-push diri kami sendiri untuk mengikuti BM-nya dia. Dan hasilnya memuaskan." Baik di dalam proses kreatif ataupun rekaman, para personel Indische Party memang tidak pernah merasa ada intervensi dari sang produser yang mengganggu musik mereka. "David itu punya indra ketujuh," canda Kubil. "Jadi dia tahu caranya agar hasilnya seperti apa. Kayaknya banyak ilham-ilham yang masuk ke dia, jadi bisa menggali [potensi] anak-anak. Dia nggak pernah yang, "nanti begini, nanti begitu". Ngobrol aja, tiba-tiba kita mengerti dan keluar sendiri permainannya."

Suasana rekaman album Analog bersama David Tarigan. (foto: Japra Shadiq)

Indische Party yang berdiri sejak 2011 silam – keempat personelnya merupakan mahasiswa-mahasiswi lulusan Institut Kesenian Jakarta – merilis album debut yang berjudul sama dengan nama band pada 2013. Lewat karya-karya seperti "Hey Girl", "Sepeda", dan "No More", Indische Party berhasil memperkenalkan dengan baik identitas musik mereka kepada kancah musik independen Jakarta. Namun di dalam proses penggarapannya, album debut Indische Party nyatanya tidak mendapat perhatian yang mendalam dari para personel khususnya di bagian teknis rekaman. "Kalau album pertama kayak, "rekaman, yuk!" nggak mikirin alatnya seperti apa, prosesnya seperti apa, dan dulu juga nggak ada yang mengarahkan kami," kenang Kobus.

Berangkat dari pengalaman rekaman album pertama, Indische Party pun memutuskan untuk menggarap album keduanya dengan upaya yang lebih matang. Tidak saja melibatkan produser David dan additional keyboardist Masmo, Analog juga melibatkan Jimi Multhazam (The Upstairs, Morfem) yang berkontribusi menulis lirik "Terkapar Sudah", Indra Perkasa (Tomorrow People Ensemble) yang mengarahkan departemen string di "Ingin Dekatmu", Pandu Fuzztoni (Morfem), Agus "Giox" Purnomo (Superglad), dan Gigih "Kiting" Suryoprayogo (The Adams) yang bertindak sebagai penata rekaman, hingga John Navid (White Shoes & The Couples Company) yang turut mengerjakan konsep sampul album Analog dan mengisi bagian Glockinspiel di lagu "(Babe) You Got A Hold On Me Somehow" – Japra mengaku isian dari John belum mendapat persetujuan dari David sebagai produser. "kalau gue nunggu dia mikir dulu, pasti bakal lama. Udah ah pura-pura nggak tahu aja," katanya sambil tertawa.

John Navid saat melakukan rekaman lagu "(Babe) You Got Hold On Me Somehow". (Foto: Matahari Mahardhika)

Alat-alat musik yang digunakan saat proses rekaman pun dipersiapkan khusus agar sedekat mungkin bisa menyelami suasana musik era '60-an. Kobus menggunakan bas Aria Hollow Body tahun '70-an kepunyaan Ricky Surya Virgana (White Shoes & The Couples Company). Kemudian Tika menggunakan drum set hasil kerja sama dengan Harry"s Drum Craft, juga drum set Premier tahun 1968 milik Demajors yang dibeli dari presenter dan penyanyi Jamie Aditya. "Dari crash sampai simbal itu suaranya beda. Memang harus dikulik, sampai mas Harry bantu tuning. Japra sama David juga ngasih banyak referensi biar dapet era '60-annya," jelas Tika. "Bahkan waktu itu [ketika] take drum aja, sempat sudah selesai tapi si David minta ulang lagi di beberapa lagu. Berarti semua lagu nggak harus sama kan sound-nya. Seperti lagu "Serigala", ya beda dengan "Evil Town"," tambahnya. Sedangkan di departemen gitar, Kubil tetap mempercayai Gibson Les Paul tahun 1977 miliknya yang di proses rekaman kali ini diperkuat oleh Fender Stage 100 DSP Head.

"Yang paling penting sih bukan teknisnya, tapi soul dari permainannya," kata Kubil yang disambut senyum oleh tiga kerabatnya. "Kayak Kobus kan memang dia permainannya sudah seperti itu, ya sudah ketika permainannya ketemu dengan sound yang pas ya pasti jadi. Kayak si Tika [saat] main di lagu "Serigala", [sempat energinya] terlalu kencang nih, terus dicoba mainnya sedikit santai. Gue nggak tahu tuh dia inspirasinya datang dari mana, ternyata [ketika mainnya lebih santai] jadi lebih cocok dengan sound-nya."

Perkembangan signifkan di dalam tubuh Indische Party tidak hanya terjadi dari sisi teknis rekamannya saja, namun juga sisi musikalitasnya yang kali ini lebih banyak dipersenjatai oleh lirik bahasa Indonesia. Dari total sepuluh lagu di album Analog, terdapat lima lagu dengan lirik bahasa Indonesia yang masing-masing berjudul "Terkapar Sudah", "Ingin Dekatmu" (Dinyanyikan oleh Tika – di konser peluncuran album Analog ia mempersembahkan lagu ini untuk mendiang ayahnya), "Khilaf" (dinilai oleh Jimi sebagai lagu yang "nakal" dan "genit"), "Paula Abdul", dan "Serigala" (lagu pertama yang disukai oleh David ketika Japra memperdengarkan beberapa demo Indische Party kepadanya).

Untuk judul yang terakhir disebutkan, lagu tersebut diproyeksikan sebagai single pertama dari album Analog. Namun uniknya lagu yang berdurasi tidak sampai tiga menit ini merupakan satu-satunya materi di dalam album Analog yang memiliki nuansa surf-rock. "Justru karena paling beda," kata Japra menjelaskan alasan dibalik pemilihan "Serigala" sebagai single pertama. "Dari album pertama, di On Vacation, sampai di album kedua ini tidak ada karya Indische Party yang se-surf ini. Lagunya kuat banget, upbeat, dibawakan di atas panggung juga enak," katanya lagi menjelaskan.

Japra memang sudah mengantongi sebuah visi di mana suatu saat nanti ia bersama tiga kerabatnya di Indische Party bakal menciptakan karya-karya segar yang memiliki nuansa jauh berbeda dari materi-materi sebelumnya. "Ada potensi ke arah sana. Bisa kemana-mana selama kami masih mempunyai passion untuk terus bereksplorasi. Tapi gue rasa benang merahnya tetap masih ada. Toh di album kedua juga sebenarnya sudah ada perkembangan musik dari album pertama," ungkap Japra. Saat ditanya sudah sejauh apa perkembangan musik Indische Party setelah berkarya selama lima tahun, Kubil menggambarkan dengan ekspresi datarnya yang khas, "kalau dari langit ketujuh, sudah sampai di langit ketiga kali ya," ucapannya kembali menghasilkan gelak tawa dari para kerabatnya.

Langkah besar yang diambil oleh Indische Party demi menggarap album Analog, tentu menghasilkan tanggung jawab yang besar juga untuk para personelnya dapat membuktikan perkembangan musik mereka di atas panggung. Tika sedikit demi sedikit tengah membangun drum set sendiri agar suara drum yang dihasilkan di atas panggung dapat selaras dengan suara rekamannya. Tidak hanya memodifikasi alat "tempur", bagi para personel Indische Party memaksimalkan energi di setiap penampilan juga menjadi salah satu perhatian yang cukup penting. "Kami sudah kenyang juga manggung kadang sepi kadang ramai. Tapi ternyata itu tergantung dari kami, kadang-kadang kami juga tidak konsisten. Jadi kalau sekarang ketika kami lebih berenergi, penontonnya juga akan lebih berenergi," ucap Japra.

"Mungkin penonton juga ngerasanya gitu kali, ya?" Potong Kobus yang coba menggunakan sudut pandang lain. "Gue rasa penonton Indische Party lebih suka nonton kami manggung dibandingkan mendengarkan rekamannya. Kayak si Steve [Barnabas Nahumury], vokalis Karon N Roll, dia pernah bilang ke gue, "gue lebih suka live-nya deh dibanding di rekamannya." kata Kobus. Kemudian Kubil pun mencoba menyimpulkan, "kalau gue bilang musik Indische Party bikin orang-orang senang. Dalam artian tuh ketika kami main, energinya masuk ke mereka dan itu bakal menjadi seru suasananya. Meskipun musik rock & roll '60-an nggak banyak anak muda yang suka, ya sebenarnya itu selera. Tapi gue yakin sih ketika kami manggung, [lalu] album ini sudah menyebar, orang-orang sudah pada tahu atau ada yang nggak tahu tapi ikut nonton, sound kami bagus, pasti itu pada goyang semua. Jadi begitu, musiknya universal."

"Kalau gue bilang musik Indische Party bikin orang-orang senang. Dalam artian ketika kami main, energinya masuk ke mereka dan itu bakal menjadi seru suasananya," jelas Kubil

Di tengah penampilan saat meluncurkan album Analog – acara ini dibuka oleh dua band yaitu Sisitipsi dan Bangkutaman, para personel Indische Party sedang bersantai di atas panggung menunggu string section yang tengah bersiap untuk ikut membawakan lagu "Ingin Dekatmu". "Nggak ada yang punya rokok nih?" ucap Japra lewat microphone-nya kepada siapapun yang hadir di Joglo Beer, Kemang. Malam itu memang tidak terlihat lagi ada batas antara siapa yang tampil di atas panggung dan siapa yang menikmatinya. Baik Indische Party maupun penonton terasa begitu alami dalam bertukar energi, nyanyian, candaan, umpatan, hingga botol minuman beralkohol yang salah satunya diberi nama yang unik, Jas Jus Bogor. Sebagai band yang memainkan kembali kentalnya musik rock & roll '60-an di lima dekade setelahnya, pemandangan panggung Indische Party seperti ini terlihat begitu menyegarkan.

Aksi penuh energi Indische Party saat peluncuran album Analog. (Foto: Joen Ginting)

"Kalau mau dibilang mereka adalah salah satu bagian dari musik zaman sekarang, bisa juga. Karena zaman sekarang kan band-bandnya sudah bebas saja mau main musik macam apa. Kalau mau dibilang berhasil atau nggak membangkitkan musik '60-an, gue nggak tahu ya. Tapi selalu ada saja band-band yang rekamannya bagus tapi ketika live tidak berapi-api. Sedangkan Indische Party bisa melakukan keduanya," puji produser David.

Segala upaya demi menggarap album Analog secara tidak langsung berhasil memancing agresi keempat personel untuk bereksplorasi lebih dalam terhadap musik mereka. Dan itu membuat jejak perjalanan musik Indische Party kedepannya menjadi patut untuk disimak. (wnz)

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  2. Mundur dari Payung Teduh, Is: “Saya Enggak Egois”
  3. Perpaduan Gairah Musik dan Skateboard di Volcom: Road to Cakrawala
  4. Yatra, Sebuah Perjalanan ke Nepal Sebelum Bencana
  5. Payung Teduh Memperkenalkan Single Terbaru, "Di Atas Meja"

Add a Comment