Jagwar Ma: Album Baru, Vakum Budaya, dan Festival Musik Favorit

Menjadi salah satu pengisi acara yang paling ditunggu pada Laneway Singapura 2017

Oleh
Jagwar Ma Facebook Jagwar Ma

Now we’re back to the start,” lantun Gabriel Winterfield, vokalis sekaligus gitaris Jagwar Ma, membuka single bandnya yang berjudul “Give Me A Reason”. Ia seperti mengungkapkan kondisi yang sedang dijalaninya bersama gitaris dan pemain synthesizer Jono Ma: memulai kembali proses rekaman album, menindaklanjuti album perdana Howllin’ rilisan empat tahun silam yang dipuji kritikus hingga mega-bintang rock Noel Gallagher (“Album ini lebih penting dari reuni Oasis,” katanya waktu itu).

“Kami menulis ‘Give Me A Reason’ di Sydney, tempat yang sama saat kami mulai mengumpulkan lagu untuk Howlin’ bertahun-tahun lalu. Jadi kami telah kembali ke awal mula pembuatan album, siklusnya telah menemukan jalan kembali ke permulaan,” ungkap Jono dari tempat tinggalnya di London saat dikontak Rolling Stone lewat sambungan telepon.

“Give Me A Reason” tercantum pada album terbaru Jagwar Ma bertajuk Every Now & Then yang sudah diedarkan Oktober 2016 lalu. Album ini menyajikan upaya mereka dalam bermain lebih elektronik—acid house, jika mau lebih spesifik—dan mengurangi penggunaan gitar. Jono menyatakan, “Senang rasanya bisa merilis musik baru. Ada kepuasan tersendiri ketika saya mendengar hasil akhirnya, sudah melalui mixing dan mastering, dalam piringan hitam cetakan uji coba.”

Sejumlah lagu dalam Every Now & Then sudah dibawakan di atas panggung sejak awal tahun 2016, ketika Jagwar Ma diajak oleh rekan senegaranya, Tame Impala, sebagai aksi pembuka di sepanjang jadwal tur Eropa. Saat itu, pengerjaan album sudah mencapai setengah jalan dan mereka berkenan melakukan tes terhadap lagu-lagu seperti “Loose Ends”, “Ordinary”, “Give Me A Reason”, dan “O B 1” di hadapan penonton. Begitu tur rampung, Jono dan Gabe kembali ke studio dan melakukan beberapa perubahan kepada lagu berdasarkan rasa saat membawakannya secara langsung.

Jagwar Ma mengerjakan mayoritas album di La Breche; sebuah pedesaan di Prancis yang sangat terisolasi dan bahkan tidak memiliki sinyal telepon dan koneksi wi-fi. Di sana, mereka membangun studio musik pribadi yang sudah digunakan sejak penggarapan Howlin’. “Hanya ada lapangan, hutan, dan ladang jagung di La Breche. Kami tidak perlu ke mana-mana karena memang tidak ada apa-apa. Rasanya seperti berada di vakum budaya, Anda tidak akan tahu apa yang sedang terjadi di belahan dunia lain,” terang Jono.

Namun pada suatu momen pengerjaan album, Jono dan Gabe ingin mengetahui bagaimana sekumpulan materi baru ini terasa dan terdengar di antara kesibukan kota. Itulah mengapa mereka memindahkan penggarapan album ke London untuk proses pasca-produksi; mereka punya “ruangan kecil kedap suara berisi synthesizer dan speaker” yang dinamakan Le Bunker.

Jono mengutarakan, “Di London, Anda seperti langsung terhubung dengan zeitgeist. Anda sangat sadar dengan kondisi sekitar, sangat sadar dengan waktu, sangat sadar dengan musik-musik yang baru dirilis karena toko musik ada di mana-mana. Jadi dengan melanjutkan pengerjaan album di sini, kami bisa mendapat gambaran di mana album ini berada secara kultural dengan belahan dunia lain.”

Mungkin itulah sebabnya Every Now & Then terdengar subtil dan besar sekaligus; ada perpaduan kerendahan hati pedesaan serta keinginan untuk maju di kota besar. Ini membuat lagu-lagu mereka cocok diputar di berbagai medan, dari kelab malam bawah tanah hingga festival musik skala besar. St.  Jerome’s Laneway Festival 2017 menjadi tujuan Jagwar Ma berikutnya. Jono mengakui, “Laneway adalah salah satu festival musik favorit kami di seluruh dunia.”

Sebelum tampil di kota-kota Australia, Jagwar Ma akan terlebih dulu beraksi pada Laneway cabang Singapura, Sabtu (21/1) mendatang di The Meadow, Gardens by the Bay. Mereka sebetulnya sudah pernah tercatat sebagai pengisi acara Laneway Singapura 2014, namun diumumkan batal pada hari H karena cedera dadakan yang menimpa Gabe. Alhasil Jono terpaksa tampil sendirian dalam format DJ set.

“Kami sangat frustrasi waktu itu, namun cedera yang dialami Gabe tidak bisa dihindari. Saya tetap bersenang-senang menjadi DJ, tetapi DJ set memiliki rasa yang sangat berbeda dibanding pentas dalam format band. Jadi penampilan Jagwar Ma nanti akan fantastis,” pungkas Jono.

Meski begitu, bila semua berjalan sesuai rencana, aksi Jagwar Ma pada Laneway Singapura 2017 nanti akan menjadi yang kedua bagi mereka di Negeri Singa dalam format band; menyusul tugas sebagai pembuka The Flaming Lips pada 1 Desember 2014.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Superman is Dead Tolak Permintaan Presiden Jokowi untuk Memakai Lagu Mereka
  2. Shaggydog, FSTVLST, Jalu TP Siap Tampil di RadioShow Yogyakarta
  3. Komentar Jujur Efek Rumah Kaca tentang Kepemimpinan Presiden Jokowi
  4. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  5. HURT’EM, Menggerinda Hingga Tingkat Paling Ekstrem

Add a Comment