Lokananta Meresmikan Situs Web dan Meluncurkan Buku

Belakangan ramai kembali menjadi lokasi penggandaan kaset bagi rilisan-rilisan independen

Oleh
Lokananta di Surakarta, Jawa Tengah. Wendi Putranto

Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) Cabang Surakarta "Lokananta" bekerja sama dengan Lokananta Project secara resmi meluncurkan perpustakaan digital arsip musik dan buku LOKANANTA. Acara ini diselenggarakan pada akhir pekan lalu di kantor Lokananta yang terletak di Jalan Ahmad Yani 39, Kerten, Surakarta, Jawa Tengah.

Turut memeriahkan acara yang diadakan di taman tengah yang berhadapan langsung dengan ruang arsip dan museum mini ini adalah Merah Bercerita, dengan vokalis Fajar Merah anak penyair Wiji Thukul, Teori, Punctum Remotum, dan Sabarbar.

Peluncuran ini secara simbolis ditandai dengan penyerahan tutorial pengelolaan perpustakaan digital dan buku oleh perwakilan Lokananta Project, Yerikho Naektua, kepada Humas Perum PNRI Cabang Surakarta "Lokananta", Titik Sugiyanti.

Peluncuran perpustakaan digital dan buku ini merupakan bagian kerjasama Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) Cabang Surakarta "Lokananta"dengan Lokananta Project , wadah para penulis, fotografer dan desainer muda untuk mengenalkan Lokananta sebagai wadah arsip musik Indonesia kepada publik. Proyek kerjasama ini sendiri mendapatkan dukungan pendanaan dari Djarum Foundation.

Saat ini perpustakaan digital yang sudah dapat diakses publik sejak Februari 2016 telah mengunggah sebanyak 60 album rilisan Lokananta sejak 1956. Beberapa di antaranya adalah lagu "Indonesia Raya" versi instrumental dengan lirik tiga stanza. Lagu "Indonesia Raya" ini beberapa waktu lalu sempet memicu perhatian saat politisi Roy Suryo mengklaim telah menemukannya terlebih dahulu di Universitas Leiden, Belanda.

Juga album The Fourth Asian Games, Souvenir From Indonesia. Salah satu lagu dalam album yang menjadi buah tangan atlet-atlet yang berlaga di ajang Asian Games tahun 1962 di Jakarta ini adalah "Rasa Sajange". Lagu ini sempat membuat hubungan bilateral Indonesia dengan Malaysia menghangat pada 2007 silam setelah klaim kepemilikan oleh negara tetangga tersebut.

Sedangkan buku LOKANANTA merupakan hasil riset tiga penulis yakni Dzulfikri Putra Malawi, Fakhri Zakaria (salah satu penulis artikel Lokananta: Menyelamatkan Musik Indonesia yang dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia), dan Syaura Qotrunadha, mengenai kiprah Lokananta dalam lima tahun terakhir serta upaya berbagai pihak untuk merevitalisasi label rekaman dan studio pemerintah ini dalam perkembangan industri musik nasional.

Buku ini akan dicetak sebanyak 500 eksemplar dan didistribusikan di lima kota yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, dan Surabaya. "Kami berharap anak-anak muda Solo bisa terpacu untuk berpartisipasi aktif dalam pengembangan Lokananta," jelas Syaura Qotrunadha selaku Project Manager Lokananta Project.

Ditemui secara terpisah, Kepala Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) Cabang Surakarta "Lokananta". Miftah C. Zubir berharap peluncuran ini dapat membuat Lokananta dapat lebih dikenal dan dijangkau oleh publik. "Kami melihat banyak yang menaruh perhatian pada sejarah dan koleksi lagu Lokananta namun seringkali kesulitan karena keterbatasan informasi dan lokasi kami yang berada di Surakarta," terangnya.

Sejak solois Glenn Fredly menginisiasi gerakan Sahabat Lokananta pada 2012 lalu, perhatian publik mulai meningkat. Anak-anak muda Solo dan sekitar mulai mendatangi Lokananta, mulai dari sekadar kunjungan sampai penjajakan untuk lokasi kegiatan. Imbasnya adalah kenaikan pendapatan.

Momen pelaksanaan Record Store Day dan Casette Store Day pada 2014 menjadi titik tolak penting berdenyut kembalinya Lokananta. Permintaan duplikasi kaset oleh band-band independen mengalir deras setelah para pelakunya mendapati Lokananta mampu melayani duplikasi kaset dalam jumlah terbatas. "Sampai bulan Oktober ini rata-rata permintaan duplikasi mencapai 3500 keping per bulan," ujar Miftah. Bulan-bulan puncak permintaan adalah saat pelaksanaan Record Store Day dan Casette Store Day pada April dan Oktober.

Sementara untuk kegiatan produksi album rekaman saat ini belum kembali dilakukan. Sejauh ini Lokananta hanya melakukan re-issue katalog-katalog lama dalam bentuk kaset dan CD. Meski permintaanya saat ini jauh menurun dibanding sepuluh tahun silam, namun pangsa pasarnya masih tetap ada. "Rata-rata pembelinya mereka yang sudah sepuh (tua). Yang paling dicari album-album keroncong, karawitan, dan langgam. Kalau di daerah Jawa Timur yang paling banyak album murottal Al-Qur"an," rinci Titik Sugiyanti. Ia menambahkan Lokananta mempunyai agen di Semarang, Purwokerto, dan Surabaya untuk jalur distribusi ke konsumen selain melayani penjualan langsung di toko.

Saat ini Lokananta tengah menggodok skema optimalisasi pendapatan melalui sewa studio. Studio seluas 14 x 31 meter persegi itu dipuji oleh beberapa musisi senior seperti Waldjinah memiliki akustik ruangan yang mumpuni. Tarif sewa studio untuk kegiatan rekaman sebesar Rp 850 ribu, termasuk fasilitas standar untuk rekaman. Glenn Fredly, Pandai Besi, White Shoes and The Couples Company, Shaggydog, hingga The Hydrant tercatat pernah menggunakan studio yang diresmikan pada 1985 oleh Menteri Penerangan Harmoko tersebut.

Menurut Miftah pihaknya sudah merencanakan untuk memperbaiki fasilitas pendukung rekaman yang dinilai sudah menua. "Kami sedang menyiapkan skema kerjasama dengan produsen alat musik dan instrumen rekaman untuk sponsorship dan endorsement," jelasnya. Dirinya menambahkan, Lokananta juga akan melengkapi fasilitas akomodasi seperti ruang transit yang layak untuk musisi dan kru pendukung.

Langkah lain, Lokananta bersama Badan Ekonomi Kreatif dan Irama Nusantara tengah menyiapkan Rumah Musik Indonesia sebagai wahana edukasi publik akan akar musik Indonesia. Bentuknya berupa direktori digital dan museum musik. "Situs direktori akan berisi lagu-lagu koleksi Lokananta, Irama Nusantara, dan tidak menutup kemungkinan dari label-label rekaman seluruh Indonesia," jelas Miftah. Sedangkan museum musik direncanakan akan berlokasi di Lokananta. "Untuk skema pendanaannya sedang dibahas oleh Bekraf dengan BUMN terkait."

Menurut Miftah saat ini pihak-pihak yang terkait tengah mengumpulkan materi kelengkapan sembari membereskan hal-hal yang terkait dengan aspek hak kekayaan intelektual. "Proyek ini juga akan menggandeng kolektor dan komunitas yang selama ini concern dengan pengarsipan musik Indonesia," pungkas Miftah.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Payung Teduh Memperkenalkan Single Terbaru, "Di Atas Meja"
  2. Live Review: Mocca x Payung Teduh
  3. JRX, Frau, Iksan Skuter Bakal Tampil di Acara Solidaritas Korban Penggusuran Kulon Progo
  4. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  5. Live Review: Elephant Kind X Rock N Roll Mafia

Add a Comment