White Shoes and the Couples Company, Goodnight Electric Tampil di Konser Amal untuk Tino Saroengallo

Produser, aktor, pekerja film terkemuka ini menderita sakit kanker kandung kemih

Oleh
Tino Saroengallo. Facebook/Tino.Saroengallo

Produser, aktor, pekerja film Tino Saroengallo dikabarkan sedang berjuang untuk kesembuhan dari penyakit yang dideritanya. Para pekerja seni yang merupakan sahabat beliau berinisatif untuk memberikan dukungan dengan membuat konser amal serta melakukan penggalangan dana secara daring.

Kabar ini pertama kali tersebar melalui situs urun dana KitaBisa.com. "Saat ini Sahabat, Rekan Kerja, Crew, Pekerja Film/ Iklan, Bpk Tino Saroengallo sedang menjalani kemoterapi di Singapura karena Kanker Kandung Kemih," demikian tertulis di situs KitaBisa.com.

Hingga berita ini diturunkan, dana hasil donasi berbagai pihak yang telah terkumpul sebesar Rp 25.877.567 dari target Rp 250 juta. Untuk melakukan donasi silakan klik di sini.

Selain menggalang dana secara daring, para sahabat beliau yang tergabung dalam Film Art & Celebration (FILARTC) juga akan mengadakan konser amal dengan nama FILARTC FOR TINO yang rencananya akan diadakan pada Minggu (31/7) mendatang. Acara berlangsung mulai pukul tiga sore hingga delapan malam di Gudang Sarinah Ekosistem, Jl. Pancoran Timur II No. 4, Jakarta Selatan.

Para pengisi acara tersebut adalah White Shoes & the Couples Company, Goodnight Electric, Ari Reda, TOR, Oscar Lolang, Kadri Jimmo, Windy & Ciko, Estu & Friends. Bakal tampil menjadi pemandu acara adalah Arie Dagienkz, Tora Sudiro, Darius Sinathrya, Ringgo Agus Rahman, Adjis DOAIBU, Betha Sutanto. Donasi untuk menyaksikan acara ini sebesar Rp 50 ribu.

 

Aline Jusria, panitia dari FILARTC FOR TINO saat diwawancara oleh Rolling Stone mengatakan, “Inisiatif acara ini datang dari teman-teman dan sahabat beliau. Kalau untuk target, kami tidak menargetkan kapan dana harus terkumpul. Pengennya acara seperti ini dibuat berkala, jadi tidak hanya berhenti di acara besok saja. Kebetulan banyak teman-teman Mas Tino yang berencana akan membuat acara penggalangan dana lagi di waktu yang berbeda dengan komunitas yang berbeda pula. Kita estafet. Jadi ini tidak berhenti sampai di sini. Karena pertemanan beliau yang cukup luas.”

Tino Saroengallo memulai karier sebagai wartawan, kemudian melanjutkan sebagai manajer produksi maupun penulis bagi program televisi di sebuah stasiun televisi swasta. Setelahnya, dia memfokuskan diri pada pengerjaan film cerita. Dia menjadi manajer produksi untuk beberapa film internasional seperti The Fall (2006), Eat Pray Love (2010) hingga Blackhat (2015).

Sementara sebagai produser, film dokumenter yang dia produksi Student Movement in Indonesia: They Forced Them To Be Violent (2002) pernah memenangkan Film Pendek Terbaik dalam Asia Pacific Film Festival ke-47 dan Piala Citra untuk kategori Film Dokumenter Terbaik dalam Festival Film Indonesia di Jakarta pada 2004.

Editor's Pick

Add a Comment