Fariz RM & Dian Pramana Poetra: Koalisi Musik Pop Kreatif

Tiga puluh empat tahun silam, tepatnya Juni 1980, muncul album bertajuk Sakura  (Akurama Record) dari seorang pemusik pendatang baru dalam industri musik Indonesia: Fariz RM.

Oleh
Tiga puluh empat tahun silam, tepatnya Juni 1980, muncul album bertajuk Sakura (Akurama Record) dari seorang pemusik pendatang baru dalam industri musik Indonesia: Fariz RM.

Anak muda ini telah dikenal sebagai drummer Badai Band. Ikut menyumbangkan permainan drumnya di album fenomenal Badai Pasti Berlalu (1977), menjadi finalis Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1977 bersama SMA III Vokal Grup, serta menyumbangkan lagu ciptaannya "Cakrawala Senja" di album solo debut Keenan Nasution, Di Batas Angan Angan (Gelora Seni Record, 1978).

Menariknya, album Sakura milik Fariz RM memiliki nuansa musik yang berbeda dengan Badai Pasti Berlalu maupun album Keenan Nasution. Fariz RM dengan kemampuan memainkan banyak instrumen musik ini malah cenderung menjejalkan musik bernuansa R&B, funk serta sedikit rasa jazz dengan aksentuasi pada rhythm section berbumbu sinkopasi. Eklektika musik semacam ini dalam industri musik dan radio kerap dikategorikan sebagai Adult Contemporary Music. Sajian musik ala Fariz RM ini lalu direspons anak muda kalangan menengah keatas.

Di tahun yang sama, Dian Pramana Poetra berhasil mengukir prestasi sebagai finalis Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1980 lewat lagu bertajuk Pengabdian yang dinyanyikannya bersama Bourest Vokal Grup. Pada 1982, Dian Pramana Poetra merilis album solo debut bertajuk Indonesia Jazz Vocal (Jackson Record and Tapes).

Musik yang ditampilkan merupakan perpaduan antara jazz, pop dan R&B. Lagu-lagu yang disebar oleh Fariz RM dan Dian Pramana Poetra memang berhasil memikat penyimaknya yang berasal dari kalangan pelajar maupun mahasiswa dengan status sosial menengah ke atas.

Sejak 1977, album Badai Pasti Berlalu dan LCLR Prambors Rasisonia 1977 dengan hit "Lilin Lilin Kecil" yang dinyanyikan Chrisye sempat menyeruakkan paradigma baru dalam konstalasi musik popular Indonesia yang saat itu didominasi band-band ala Koes Plus maupun penyanyi-penyanyi solo seperti Bob Tutupoli, Arie Koesmiran, Eddy Silitonga hingga Hetty Koes Endang. Lagu-lagu pop yang dipelopori Chrisye dan kawan-kawan dengan pola penulisan lirik yang lebih variatif dan tata musik yang lebih kaya serta elegan oleh media saat itu kerap ditulis sebagai musik gedongan.

Fariz RM dan Dian Pramana Poetra adalah generasi berikutnya dari musik pop yang diistilahkan sebagai musik gedongan tersebut. Pada paruh era 80-an, industri musik Indonesia kian marak, musik pop dengan gaya mendayu-dayu kian marak. Munculnya label Lolypop Record yang diprakarsai Rinto Harahap pada 1975 kini ditambah lagi dengan kehadiran label JK Records yang memiliki arah musik yang sama: musik mendayu-dayu yang dibawakan sederet penyanyi wanita berparas cantik kemayu seperti Dian Piesesha, Meriam Bellina, Heidy Diana, Lydia Natalia, Nindy Ellise dan banyak lagi.

Disisi lain, musik populer yang dihasilkan Guruh Sukarno Putra, Eros Djarot, Chrisye, Keenan Nasution, Chaseiro, Candra Darusman, Junaedi Salat, Harry Sabar, Louis Hutauruk, Vina Panduwinata termasuk Fariz RM dan Dian Pramana Poetra juga memiliki penggemar yang tak sedikit.

Seno M. Hardjo, seorang wartawan dari majalah remaja Nona, secara personal ternyata menggemari karya-karya musik dari sederet pemusik yang saya sebut terakhir tadi. Seno merasa perlu untuk mengkategorikan lagi jenis musik pop yang beredar di kalangan masyarakat. Maka muncul istilah "Pop Kreatif" dari benak Seno M. Hardjo yang kemudian didukung pula oleh Bens Leo, wartawan dari majalah Gadis, untuk mengkategorikan musik atau lagu yang disajikan Guruh Sukarno Putra, Eros Djarot, Chrisye, Keenan Nasution, Harry Sabar, Junaedi Salat, Debby Nasution serta Fariz RM dan Dian Pramana Poetra.

Logika Seno M. Hardjo berbicara bahwa musik-musik mereka ini terasa memiliki aura kreatif mulai dari pemilihan melodi, akord dan tata aransemen hingga thesaurus kata yang dipilih saat menuliskan lirik. Tegasnya, "Pop Kreatif" ini adalah istilah untuk membedakannya dengan musik pop mendayu-dayu atau seperti yang diistilahkan Harmoko saat itu: Pop Cengeng.

Tiga puluh tahun setelah merebaknya istilah "Pop Kreatif" yang kermudian menjadi polemik di berbagai media, Seno M. Hardjo bersama label yang didirikannya pada paruh era 90-an lalu membuat sebuah album bertajuk Fariz RM & Dian PP: In Collaboration With, yang isinya adalah sederet lagu-lagu karya dua ikon musik pop 80-an itu yang ditafsir ulang oleh sederet artis musik masa kini.

Album ini bisa kita sebut sebagai sebuah napak tilas atau sebuah rekonstruksi dari fenomena musik pop kreatif yang merebak di era 80-an dengan mengajak artis-artis musik seperti Glenn Fredly, Sammy Simorangkir, Sandhy Sondoro, Fatin, Maliq & D"Essentials, 3 Composer, Ecoutez, Sore dan masih banyak lagi yang lain.

Album ini mungkin lebih tepat disebut sebuah koalisi musik populer dari 3 angkatan pemusik Indonesia, mulai dari Fariz RM dan Dian PP yang mewakili artis musik 80-an serta para penyanyi penafsir yang berasal dari era 90-an hingga 2000-an.

Seno M. Hardjo sendiri sebetulnya telah menggagas proyek besar ini sejak tahun 2000. Saat itu Seno yang rajin mengeluarkan rilisan back catalogue Fariz RM dan Dian PP, berniat untuk membuat album Tribute To Fariz RM. Gagasan cemerlang itu akhirnya berhenti karena mengalami banyak kendala.

Empat belas tahun berselang barulah gagasan itu bersemi lagi. Seno M. Hardjo bersama labelnya Target Pop akhirnya menyatukan karya-karya monumental Fariz RM dan Dian PP dalam sebuah album tribute yang sarat warna. Seno pun menuturkan perihal keinginannya membuat album yang memiliki semangat apresiasi ini: "Intinya, buat saya daur ulang bukan sekadar mengulang karena nostalgia atau romantisme belaka. Tapi lebih merupakan kreativitas yang bersinergi. Detilnya, album ini mencoba bertujuan untuk menjadi pustaka musik kontemporer dan futuristik Indonesia. Selain misi visi utama, ingin melestarikan karya komposer legenda di negeri ini."

Di album kolaborasi ini antara lain menyertakan Sandhy Sondoro penyanyi beraksen soul klasik yang kental berduet bersama Fariz RM dengan aransemen yang digarap Yudis Dwikorana.

Menariknya, "Barcelona" yang dirilis pada 1987 dengan susupan gitar flamenco, hadir berbeda di tangan Maliq & D"Essentials. Juga "Nada Kasih" yang awalnya menyatukan surat Fariz RM dan Neno Warisman "Sebuah Obsesi" kini menghadirkan duet Angel Pieters.

Dian PP, setelah menguat dengan gaya jazz vokal, pada 1986 atas ajakan Yockie Suryoprayogo melejitkan hit "Kau Seputih Melati" yang kini ditafsir ulang oleh Sammy Simorangkir. Ecoutez pun memberi sentuhan lain dari lagu "Diantara Kata" yang dinyanyikan Fariz RM pada album Panggung Perak (Akurama Record 1981).

Bahkan lagu "Jawab Nurani" karya Fariz RM dan Jundi Karjadi dari album Hotel San Vicente dari Transs (Akurama Record, 1981) dinterpretasikan secara bebas oleh Sore. Lagu bernuansa disko ini jadi berubah perangai dalam harmoni vokal yang rapat serta aransemen yang terasa lebih kaya.

Gagasan album ini memang bukanlah sesuatu yang baru, namun upaya menautkan lintas generasi musik dan lintas genre ini merupakan upaya untuk mengapresiasi sekaligus melestarikan karya-karya musik yang pernah mencapai kejayaan dalam sebuah era musik.

Menurut produser album Seno M. Hardjo, karya lagu daur ulang adalah tantangan untuk mengusung sesuatu yang inovatif. "Tak muluk, mengingat kehadiran album kolaborasi ini berada di tengah dialektika kontra produktif industri rekaman yang kini memang sedang carut marut," imbuhnya lagi.


Editor's Pick

Add a Comment