In Memoriam: Orkestra Rakyat Idris Sardi

Hari ini, tadi pagi, sekitar pukul 8, saya mendapat BBM dari Sys NS yang mengabarkan bahwa maestro musik Indonesia, Idris Sardi, telah meninggal dunia pada pukul 07:20 WIB di Rumah Sakit Meilia Cibubur. Idris Sardi, penggesek biola, pianis, bassist, komposer, arranger dan aktor yang dilahirkan pada 7 Juni 1938, berpulang dalam usia 75 tahun.

Oleh
Hari ini, tadi pagi, sekitar pukul 8, saya mendapat BBM dari Sys NS yang mengabarkan bahwa maestro musik Indonesia, Idris Sardi, telah meninggal dunia pada pukul 07:20 WIB di Rumah Sakit Meilia Cibubur. Idris Sardi, penggesek biola, pianis, bassist, komposer, arranger dan aktor yang dilahirkan pada 7 Juni 1938, berpulang dalam usia 75 tahun.

Saya merasakan penyesalan yang teramat mendalam, karena beberapa waktu lalu selalu tidak sempat mengunjungi almarhum yang tengah terbaring sakit di kediamannya di kawasan Beji, Depok. Terakhir saya mendengar Idris Sardi masuk Rumah Sakit Meilia Cibubur.

Setahun ini Idris Sardi telah beberapa kali masuk dan keluar rumah sakit. Saya terakhir kali bersua dengan Idris Sardi pada Jumat, 30 Agustus 2013, saat menghadiri Pameran Gitar Lukis "Dawai Dawai Budjana" milik gitaris Dewa Budjana yang berlangsung di Museum Nasional Jakarta. Karena tempat pameran yang ramai saya hanya sempat ngobrol sebentar dengan Idris Sardi.

Saya juga masih ingat ketika Idris Sardi melalui putri sulungnya, Santi, mengundang saya untuk hadir dalam peluncuran buku biografinya yang disusun Fadli Zon, Perjalanan Musik Maestro Indris Sardi yang berlangsung di Ballroom Kartika Chandra pada Selasa, 23 Oktober 2012.

"Ada beberapa tulisan Anda yang dimasukkan ke dalam buku biografi saya tuh," ucap Idris Sardi lirih.

Idris Sardi memang sosok lelaki yang tegas dan lugas. Namun sesungguhnya Idris yang telah tampil bersama orkes simfoni dalam usia dini adalah sosok humoris yang bisa diajak ngobrol apa saja.

Enam tahun silam saya bermaksud untuk mewawancarai Idris Sardi untuk keperluan penulisan buku saya, 100 Tahun Musik Indonesia dan Jejak Musik Anak Pegangsaan.
Mulanya saya menghubungi Santi Sardi. Lalu Santi mengatur pertemuan dengan Idris Sardi yang lebih suka dipanggil Mas Idris Sardi. Jadwal dan tempat pertemuan lalu dirancang oleh Santi Sardi.

Mas Idris Sardi seperti biasa tepat waktu. Dia ditemani puterinya Santi Sardi, penyanyi dan aktris cilik era 70-an. Saya datang bersama dedengkot pemusik Pegangsaan, Keenan Nasution. Kami bertemu di Cinere Mall pukul 13:00 WIB pada Kamis, 6 November 2008.

Mas Idris Sardi siang itu mengenakan "seragam" kebesarannya: sarung, serta membawa setumpuk album foto masa silam di antaranya foto saat bersama Orkes Simphony-nya tampil di TVRI pada 1976 mengiringi kelompok vokal Saka Suara yang terdiri atas Chrisye, Keenan Nasution, Berlian Hutauruk, Rugun Hutauruk dan Bornok Hutauruk.

Lantas mas Idris Sardi memperlihatkan foto-foto lainnya yaitu saat di studio bersama pemusik Orkestra Jepang dan Orkestra Australia tengah menggarap musik latar bagi film-film layar lebar Indonesia.

"Saya sejak tahun 1969……luar biasa sibuk. Mondar mandir antara main musik rekaman, musik untuk film dan orkes simfoni. Pipi saya jadi kempot he he.. Di Pesawat pun saya gunakan untuk bikin partitur…..Anda bayangkan itu," kata Idris Sardi penuh semangat.

Daya ingat Idris Sardi masih tajam. Idris Sardi yang wajahnya tak pernah berubah itu kemudian bercerita bahwa di tahun 70-an selain dikenal sebagai Idris Sardi, dia juga lebih dikenal sebagai Idris Simfoni.

Mas Idris Sardi juga bercerita tentang bagaimana dia berupaya agar Orkes Simfoni itu bisa memasyarakat.

"Anda ingat nggak? di tahun 70-an ada acara musik klasik yang ditampilkan di TVRI menampilkan Orkes Simfoni NHK Jepang yang memainkan repertoar klasik seperti Mozart, Schubert, Beethoven dan lain-lain. Acara ini disponsori oleh Astra International. Tapi tahu nggak, begitu acara ini ditayangkan….. kebanyakan penonton langsung mematikan TV. Mereka nggak ngerti. Mereka merasa musik klasik berat. Jadi momok. Dan ini perlu waktu untuk ke arah itu," cerita Idris Sardi perihal musik klasik di Indonesia.

"Lalu saat itu saya ditantang oleh Drs. Sumadi selaku Dirjen RTF untuk tiap bulan menampilkan orkestra di TVRI. Saya pun mengajukan konsep ……Tahu tidak apa konsepnya? Saya ingin mengedukasi penonton….. tidak serta merta langsung musik klasik yang kelotokan. Caranya? Saya membongkar lagu-lagu daerah, lagu-lagu perjuangan, keroncong hingga lagu-lagu Barat yang lagi ngetop kayak 'Feeling'-nya Morris Albert. Itu saya sajikan dengan orkestra. Sudah barang tentu dengan arransemen yang disesuaikan. Responnya ternyata baik. Ketika saya memainkan 'Walang Kekek' dan 'Es Lilin', penonton terbawa dan terhanyut, karena mereka kenal dengan lagu-lagu ini," tukas Idris Sardi.

Jadi, kata Idris, konsep saya adalah menghidangkan makanan gado-gado dengan menggunakan piring, garpu, sendok dan serbet, tidak beralaskan daun pisang. Itu tamsil kata Idris Sardi. Namun Idris toh banyak menuai kritik dari kritikus musik. "Saya ingat bener Franki Raden hingga Suka Hardjana mengecam saya. Bahwa orkes simfoni ya…..musik klasik. Dan menurut saya anggapan itu keliru besar," ujar Idris Sardi. Karena akhirnya memang terbukti bahwa musik pop bahkan rock pun juga tetap afdol berbalut orkestra.

Dan saat itu Idris Sardi pun dekat dengan anak muda. "Saya sempat membagi ilmu dengan 10 pemusik muda yaitu tentang teori Harmoni Musik. Belajarnya di beranda rumah Keenan Nasution di Pegangsaan.Mereka adalah Keenan, Addie MS, Raidy Noor, Marusya Nainggolan, Candra Darusman, Ikang Fawzy, Yockie, Riza Arshad," tukas Idris Sardi.

Yockie pun ikut melibatkan Idri Sardi dan Orkes Simfoninya dalam acara "Musik Saya Adalah Saya" di Balai Sidang Senayan, Jakarta pada 1979. Di paruh 80-an Idris Sardi dan orkestranya bahkan tampil bersama sederet grup rock seperti SAS hingga Giant Step termasuk Sylvia Saartje. Jauh sebelum Erwin Gutawa menampilkan "Rockestra" pada tahun 2000 di Jakarta Convention Center.

Idris Sardi dari era ke era memang selalu tampil dengan berderet pemusik yang jauh lebih muda usia dari dirinya. Pada 2005 Idris Sardi ikut menyumbangkan gesekan biolanya yang khas dalam lagu "Masih Tetap Tersenyum" yang terdapat pada album Padi.

Pada 2012 Idris Sardi ikut mendukung penampilan Peterpan tanpa Ariel dalam album bertajuk "Suara Lainnya" dan "Konser Tanpa Nama".

Jika membolak-balik sejarah musik populer Indonesia dari era akhir 50an hingga sekarang ini, maka tak syak lagi sosok Idris Sardi selalu ada.

Selamat jalan, Mas Idris!


Editor's Pick

Add a Comment