Selasa, 06/09/2011 17:58 WIB

Kill the DJ Tegur Pemerintah Lewat Lagu Negara dalam Keadaan Bahaya

Awalnya direncanakan untuk dirilis pada album solo yang baru akan dirilis akhir tahun ini.
Oleh: Reno Nismara
Share :   
image
Kill the DJ (Foto: MoRiza)
Jakarta - “Saya, Marzuki Mohamad a.k.a. Kill the DJ, founder Jogja Hiphop Foundation dengan segala kerendahan hati akan merilis sebuah single berjudul ‘Negara Dalam Keadaan Bahaya’ yang dapat diunduh gratis,” tulis rapper merangkap produser merangkap sutradara merangkap artis visual merangkap aktivis tersebut melalui press release yang diterima Rolling Stone Indonesia.

Marzuki, akrab dipanggil Zuki atau Juki bagi orang-orang yang kesulitan menyebut huruf Z, lalu menjelaskan bahwa “Negara Dalam Keadaan Bahaya” merupakan semacam surat yang ditulisnya sebagai rakyat Indonesia untuk para penyelenggara negara agar benar-benar menjalankan amanat yang telah diberikan.

Sebagai tester, simak bait pembuka lagu tersebut yang inspirasi kutipannya dari John F. Kennedy :

Jangan bertanya
Apa yang negara berikan kepadamu
Tapi kenapa
Tidak memberikan apa-apa dari dulu


Tema sosial politik pada single tersebut sebenarnya meneruskan sejumlah lagu yang pernah dirilis sebelumnya oleh Zuki, seperti “Cicak Nguntal Boyo”, “Busung Lapar di Lumbung Padi”, dan yang paling dikenal banyak orang “Jogja Istimewa”. Lagu-lagu tersebut diakui Zuki sengaja diciptakan guna mendukung sebuah gerakan. Bahkan, “Jogja Istimewa” telah menjadi lagu tema berbagai macam gerakan penduduk Yogyakarta.

Pemicu ditulisnya lagu-lagu tersebut diakui Zuki berawal dari lelahnya dan hilangnya selera mengoceh soal berbagai wacana dan isu besar melalui jejaring sosial seperti Twitter, di mana Zuki juga memiliki akun pribadi dengan nama pengguna @killthedj. Melalui “Negara Dalam Keadaan Bahaya”, ia kembali mengambil perannya sebagai seniman, yaitu berbicara dengan karya.

Namun, ketika ditanya melalui surat elektronik soal penggunaan musiknya sebagai alat propaganda, Zuki menjawab panjang lebar, “Dari sudut pandang etimologi, propaganda tidak mementingkan obyektifitas, yang penting bagaimana sebuah ide tersebar seluas-luasnya dan mempengaruhi publik. Pada zaman di mana semua orang bebas mengungkapkan sumpah serapah di media sosial sekarang ini, kita harus bisa membedakan antara kritik, nyinyir, atau sekedar gambaran realitas. Semuanya diukur berdasarkan tujuan dan tanggung jawabnya.”

“Saya ragu apakah saya bisa disebut sebagai propagandis, tapi saya tidak pernah menyebut sendiri predikat itu. Kedekatan saya dengan seni tradisional mengajarkan bentuk kesenian yang tidak lepas dari konteks sosialnya, seperti peran ketoprak dan ludruk di zaman penjajahan, ia bisa berbentuk kritik atau penyemangat, tapi juga sangat obyektif dan mewakili ide masyarakatnya,” lanjutnya sekaligus menjawab jika ia pernah menganggap dirinya sebagai seorang propagandis.

Zuki juga membeberkan bahwa sebenarnya lagu “Negara Dalam Keadaan Bahaya” telah disiapkan untuk sebuah album solo yang rencananya akan dirilis akhir tahun ini, sebelum kembali sibuk dengan jadwal padat untuk berbagai proyek dan tur ke luar negeri bersama Jogja Hiphop Foundation tahun depan. Namun dengan berbagai pertimbangan, ia ingin segera merilis “Negara Dalam Keadaan Bahaya” terlebih dahulu.

“Ini sudah menjadi resiko cara saya berkarya, karena hampir semua inspirasi diambil dari situasi sosial di lingkungan sekitar saya,” tutup Zuki.

Single "Negara Dalam Keadaan Bahaya" dapat diunduh mulai besok di situs ini.

(RS/RS)

Hasil Rating Pembaca:  icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
Form Rating

Rating :

icon_star_full   icon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full  

Share:

Komentar terkini (0 Komentar)
1

Kirim komentar anda:

Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
logo_detikhot 
Rabu, 26 Nopember 2014 13:25 WIB

Erwin Gutawa, Maestro Panggung yang Tak Mau Lupa Sejarah

Erwin Gutawa, Maestro Panggung yang Tak Mau Lupa Sejarah
Industri musik Indonesia diisi oleh banyak konduktor hebat yang tentunya membawa tinta emas di kamus musik Tanah Air...
 
Selasa, 25/11/2014 18:33 WIB

Film Silat 'Pendekar Tongkat Emas' Tayang di Bioskop Mulai 18 Desember Mendatang

Memakan waktu dua tahun mulai dari riset hingga penyelesaian pasca-produksi, film silat berjudul Pendekar ...
 
 

Incoming

Rabu, 05/11/2014 21:26 WIB

Incoming: Aljabar, Unjuk Gigi Unit Hip Hop Jazz Semarang

Kancah hiphop Semarang barangkali terbilang miskin rilisan, begitu pula jazz. Kehadiran Aljabar berada pada dua kanal yang..

Music Biz

Senin, 24/11/2014 19:58 WIB

CEO Mundur, Masa Depan Vevo Terancam

Vevo dikabarkan tengah bermasalah. Rencana mereka untuk menjual perusahaan dengan harga 1 miliar AS gagal walaupun Yahoo,..

Q & A

Selasa, 18/11/2014 18:12 WIB

Q&A: Tonstartssbandht

Album Smiley Smile dari The Beach Boys boleh saja disambut dengan kebingungan publik saat pertama kali dirilis pada September..