Selasa, 08/02/2011 18:19 WIB

Mini Launching Album Baru Superglad di Terusik Traxkustik

Oleh: Soleh Solihun
Share :   
image
Jakarta -

 

Album ke-empat ini, dirilis demi mengobati kekecewaan terhadap hasil album sebelumnya.

Bassis Giox, gitaris/vokalis Luk’s, drummer Akbar dan gitaris Dadi bertelanjang dada di Score! Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Minggu 22 November 2009 pukul setengah delapan malam itu. Di dada mereka yang tak bidang itu, terdapat tulisan “Never Die.” Sedangkan di punggung mereka, masing-masing dicoret satu huruf berukuran besar, yang jika mereka berbaris akan terbaca HERO. Itu adalah sebutan untuk penggemar Superglad, dan malam itu mereka mengadakan soft launching album terbaru mereka yang diberi judul Never Die #4 dalam event Terusik Traxkustik yang digelar rutin setiap bulan oleh 101,4 Trax FM Jakarta di mana Luk’s alias Buluk juga menjadi penyiar.

Jarak dari album ke-tiga dengan album ke-empat ini relatif dekat, hanya tujuh bulan. Buluk mengatakan ini terjadi karena mereka tak puas dengan album Flamboyan, dan ingin segera mengeluarkan karya yang bisa mengobati kekecewaannya. “Elo bilang kan, Superglad butuh produser, nah di sini, gue ngajak Pay jadi bintang tamu, ada produser!” kata Buluk sambil tersenyum. “Lagu ‘Hey Nona’, asalnya kenceng, tapi kata Pay suruh dipelanin. Dia kan kupingnya bagus buat jualan.” Buluk menambahkan.

Sebelum penampilan Superglad, tiga band tampil: Monkey To Millionaire, Holy City Rollers, dan The Adams. Best Event versi Rolling Stone’s Editor’s Choice Awards 2009 ini dipadati pengunjung, yang semakin meriah ketika Superglad tampil—seorang Hero malah membawa bendera kecil bertuliskan Superglad.

“Eh ada Charly, apa kabar Charly?” kata Buluk seraya melambaikan tangannya ke arah belakang. Penonton tertawa. “Eh Andika juga ada,” katanya lagi. Dan penonton pun tertawa lagi.

“Lagu berikut ini, inspirasinya dari band-band yang banyak di tv itu. Ada yang asalnya tukang rujak, terus bisa beliin rumah buat orangtuanya. Ya gua ikut seneng mereka bisa begitu, tapi musiknya jelek!” kata Buluk, yang otomatis mengundang tepukan tangan dari penonton. “Berani-beraninya mereka nyanyi padalah suaranya jelek! Di lagu ini, gua ngajak Bagong SHORE buat nyanyi bareng.”

Dan lagu “Brani Braninya” pun dibawakan Superglad. Lagunya bercerita soal rasa kesal kepada mereka yang itu-itu saja ada di televisi. Mereka yang “bernyanyi nyanyikan lagu murah di negeri ini,” mereka yang “berkarya yang tak satupun membuat kami bangga.”

Selain di lagu itu, Superglad menyindir band-band pop yang itu-itu saja tampil di televisi, di lagu “Senda Gurau.” Buluk membuat lirik yang merupakan gabungan nama-nama band pop seperti Radja, Wali, Hijau Daun, Kangen Band, hingga ST 12. Di album ini, Superglad terasa seperti yang menikmati musiknya. Mereka bersenang-senang. “Kami kembali nakal, kayak di album pertama,” kata Buluk sebelum naik ke atas panggung.

Tak hanya di lirik lagu, sampul album yang menampilkan foto para personel Superglad seperti bertelanjang hanya ditutupi kain koran disebut Buluk sebagai bukti bahwa mereka kembali menunjukkan sisi nakal di album ini. Selain dengan Bagong vokalis SHORE, malam itu Superglad mengajak Eet Sjharanie untuk tampil. “Waktu gue telepon Mas Eet buat ngisi di album ini, dan dia bilang oke, gua seneng banget. Gitaris legendaris mau ngisi di album Superglad!” kata Buluk yang tak henti mengumbar senyum.

Eet bermain gitar di lagu “Diktaktor” yang jika disimak dari orasi Buluk sebelum lagu itu dibawakan, sepertinya temanya kurang lebih juga terinspirasi dari dominasi band pop di industri musik. Hanya yang lebih disorot di lagu itu, adalah pihak perusahaan rekaman yang mengatur band. “Untungnya, 601 Records nggak mengatur-atur kami! Terima kasih 601 Records!” kata Buluk. 601 Records, menurut Buluk, adalah perusahaan rekaman baru, yang masih merupakan anak perusahaan Musica Studio’s, seperti halnya Trinity Optima.

“Diktak...Diktak..Diktaktor!” Buluk mengomando penonton untuk berteriak. Sementara itu, suara gitar Eet meraung-raung. Dan Eet Sjahranie menunjukkan kepada penonton betapa lincahnya jari jemarinya menari di atas fret. Bagusnya, kali ini Eet menunjukkan itu, tanpa bando tanduk di kepalanya.

 


(rlt/rlt)

Hasil Rating Pembaca:  icon_star_officon_star_officon_star_officon_star_officon_star_off
Form Rating

Rating :

icon_star_full   icon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full  

Share:

Komentar terkini (0 Komentar)
1

Kirim komentar anda:

Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
logo_detikhot 
Minggu, 27 Juli 2014 11:01 WIB

Luhan 'EXO' Rampungkan Syuting Film Perdana di Tiongkok

 Luhan 'EXO' Rampungkan Syuting Film Perdana di Tiongkok
Di sela-sela kesibukannya dengan konser 'The Lost Planet', Luhan 'EXO' masih menyempatkan diri untuk syuting film...
 
Jumat, 25/07/2014 22:08 WIB

Gitar Hingga Sedan Milik Elvis Presley Akan Dilelang

Sebuah gitar Martin D-28, sedan Cadillac Seville 1976 serta naskah pribadi film pertama Elvis Presley, Love .....
 
 

Incoming

Rabu, 16/07/2014 19:30 WIB

Incoming: RABU: Duo Folk Mistik Pengantar Nuansa Bergidik

Orang-orang menyebut musik mereka mistis dan misterius. Ditambah dengan menggunakan foto taburan kembang ziarah sebagai sampul..

Music Biz

Rabu, 18/06/2014 19:59 WIB

YouTube Akan Hapus Video-video Musik Label Independen?

Situs berbagi video, YouTube dikabarkan akan menghapus video-video musisi yang berasal dari label independen menyusul sengketa..

Q & A

Senin, 21/07/2014 18:10 WIB

Exclusive Q&A: Anton Newcombe (The Brian Jonestown Massacre)

“Keep music evil,” itulah semboyan yang lantang diserukan oleh Anton Newcombe selaku aktor intelektual grup..