Fazerdaze

Ekspor tersegar Selandia Baru bicara soal label rekamannya yang legendaris hingga perasaan berasal dari daerah yang sama dengan Lorde

Oleh
Amelia Murray, pemilik proyek musik Fazerdaze. Reno Nismara

Amelia Murray merasa sedikit tegang. Tanggal 21 Oktober lalu adalah jadwal tur terakhir Fazerdaze—proyek musik yang dibidaninya—dan segalanya seperti berkumpul menjadi satu. "Keluarga saya berasal dari Jakarta, Rossi Musik adalah venue terbesar di sepanjang tur, dan tiketnya terjual habis. Sinting," ujarnya.

Fazerdaze asal Selandia Baru bisa konser di Jakarta atas inisiatif tiga kolektif, yaitu Studiorama, Six Thirty Recordings, dan Noisewhore; memanfaatkan momentum tur Murray dkk. ke Jepang dan Asia Tenggara yang berlangsung sepuluh hari.

Sebelum mengambil hati muda-mudi dunia, Fazerdaze lebih dulu mencuri perhatian Flying Nun Records selaku label rekaman independen legendaris yang didirikan di Christchurch, Selandia Baru pada 1981. Kini video musiknya untuk single "Lucky Girl" telah ditonton lebih dari 3,5 juta kali lewat YouTube.

Bagaimana kisah Anda bisa menjadi artis Flying Nun Records?
Selandia Baru adalah negara kecil yang penduduknya saling kenal. Suatu saat saya mengetahui bahwa salah satu teman saya kenal dengan pemilik Flying Nun. Saya dapat alamat surelnya dan mengirim pesan, "Kalian butuh anak magang?" Ternyata saya diterima. Selagi bekerja di sana, saya merilis album mini secara diam-diam tapi pada akhirnya mereka menemukannya. Mereka bilang, "Album mini ini keren. Boleh kirim materi Anda berikutnya ke kami terlebih dahulu sebelum disebarkan?" Saya menuruti permintaan tersebut dan mereka menyukainya.

Anda memulai semuanya dari kamar, menulis musik dan sebagainya. Apa yang mendorong Anda untuk keluar dan mendistribusikan musik Fazerdaze?
Mungkin permintaan publik terhadap album itu. Saya menggandakan album itu sendiri, memberikannya sendiri ke orang-orang. Awalnya saya membuat lima puluh kopi, lalu ludes dalam hitungan hari. Kemudian saya membuat dua ratus kopi, habisnya cepat juga. Butuh waktu lama bagi saya untuk memproduksi album itu lagi, saya tidak bisa benar-benar mengikuti pertumbuhannya. Saya tiba pada pemikiran kalau saya tidak bisa memaksimalkan kesuksesan. Terlalu banyak kesempatan. Saya terlalu banyak mengurus hal-hal administrasi dan tidak punya waktu untuk membuat musik. Jadi waktu itu saya berpikir: "Kalau saya merilis sesuatu lagi nanti, saya harus punya manajer dan label rekaman." Awalnya saya menolak ide tersebut karena bakal aneh bila saya merekam sebuah album di kamar bersemangatkan DIY namun terhubung dengan industri. Jadi saya berupaya mencari jalan tengahnya.

Sejauh ini Anda suka berada di label rekaman dan memiliki manajer?
Saya sangat berhati-hati dalam bekerja dengan siapa. Saya ingin mereka memahami apa yang saya lakukan, menghormati apa yang saya lakukan, dan tidak mencoba mengubah saya. Mereka tahu saya datang dari latar belakang DIY. Saya tidak akan melakukan sesuatu seperti modelling atau menaruh muka saya pada papan reklame. Mereka menghormati bahwa itu bukan saya. Jadi sangat membantu untuk berada di label rekaman dan memiliki manajer. Saya bisa datang ke Indonesia dan tampil di konser besar seperti ini, yang tak mungkin bisa saya lakukan sendirian.

Morningside diambil dari nama daerah pinggiran kota Auckland yang Anda tinggali. Kini Anda seperti membawa daerah tersebut ke seluruh dunia, membagikannya ke para penonton konser Fazerdaze.
Wow, tidak pernah terpikir seperti itu sebelumnya bagi saya. Keren sekali. Rasanya seperti membawa buku harian dan mempersilakan banyak orang untuk membacanya. Album ini sangat Auckland bagi saya, tentang pengalaman saya sebagai penduduk Auckland. Ketika mendengarkannya, langsung terbayang apartemen tempat saya menulis lagu-lagu itu. Jadi memberi judul dari sebuah daerah pinggiran Auckland merupakan hal penting bagi saya; sekaligus memberi tahu orang-orang bahwa di sanalah album ini dibuat. Ini bukan album internasional yang besar. Ini dibuat di kamar saya, di Morningside.

Anda artis pertama yang pernah dihasilkan Morningside?
Bukan, sudah ada Lorde. Dia merekam album pertamanya, Pure Heroine, di Morningside. Belum lama ini saya tahu kalau ia merekamnya di jalan yang sama dengan tempat tinggal saya. Saya belum pernah berjumpa dengannya, padahal saya ingin sekali. Saya suka karya-karyanya.

Anda memiliki kedekatan dengan Indonesia, ada darah Indonesia di dalam tubuh Anda. Kapan terakhir kali Anda ke sini sebelumnya?
Saya pergi ke Bali tahun lalu dalam rangka pernikahan sepupu. Namun saya terakhir kali ke Jakarta sepuluh tahun lalu bersama Ibu.

Apa perbedaan yang Anda rasakan dari Jakarta sekarang dan sepuluh tahun lalu?
Saya pikir saya lebih siap dengan medannya sekarang. Saya mengalami gegar budaya saat ke sini pada usia 14 tahun. Saya terkejut melihat banyak orang berkeliaran, membeli makanan di pinggir jalan, pada tengah malam. Sangat berbeda dengan Auckland, tapi saya sangat suka ada di sini.

Apakah tinggal di Auckland membuat Anda merasa tertekan?
Ya, karena segalanya mahal di sana. Gaji yang kami dapat tidak sebanding dengan biaya sewa tempat tinggal. Saya membuat album ini dengan penuh perjuangan karena saya sambil bekerja untuk dua atau tiga tempat. Saya sempat berpikir, "Kenapa saya malah membuat musik? Saya perlu bayar tagihan. Seharusnya saya bekerja korporat saja." Jadi album ini banyak berbicara soal pergulatan tersebut. Kini, karena jadwal tur yang padat, saya berhenti bekerja—menjaga toko musik serta mengajar gitar—dan kurang lebih menjadi musisi penuh waktu.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. 10 Destinasi Wisata Musik Legendaris di Inggris
  2. Mundur dari Payung Teduh, Is: “Saya Enggak Egois”
  3. 6 Musisi Yang Juga Ilustrator
  4. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  5. Kelompok Penerbang Roket Gelar Konser Istimewa di Gedung Kesenian Jakarta

Add a Comment