Deugalih Luncurkan Video Musik untuk Lagu "Tanahku Tidak Dijual"

Berkolaborasi dengan dua seniman pantomim tanah air, yakni Wanggi Hoed dan Fado Amiha

Oleh

Penyanyi dan pencipta lagu folk Galih Su, lebih dikenal dengan nama Deugalih, telah meluncurkan video musik "Tanahku Tidak Dijual" pada Jumat (25/8) lalu melalui kanal YouTube miliknya. Perilisan ini menyusul video musik "Di Kampungku" yang disebarkan lewat kanal YouTube kepunyaan Omuniuum pada April, beberapa pekan sebelum album perdana Tanahku Tidak Dijual beredar.

Untuk video musik "Tanahku Tidak Dijual", Deugalih berkolaborasi dengan dua seniman pantomim tanah air yakni Wanggi Hoed dan Fado Amiha. Potongan-potongan adegan dan tarian yang terdapat dalam video musik merupakan dokumentasi Wanggi Hoed dengan juru kamera Elwandi Sebastian di Tambang Pasir Transmigrasi dan Sungai Sei Gohon, Batu Banana, Bukti Tangkiling, Palangka Raya.

"Apa adanya saja. Saya ketemu Wanggi dan bertanya 'Punya video tentang kegiatannya nggak?' Saya suka orang-orang seperti Wanggi, nggak berhenti untuk bisa bersuara terus-menerus tentang hak asasi lewat pantomim," ujar Deugalih, yang juga memiliki band Deugalih & Folks, kepada Rolling Stone. "Kebetulan Wanggi ada dan cocok dengan 'Tanahku Tidak Dijual'. Jadi saya tinggal edit video dari dia saja."

Kolaborasi dalam bentuk video musik ini berbicara soal keganjilan-keganjilan yang lekat dengan kedua seniman tersebut. Baik Deugalih maupun Wanggi Hoed selama ini dikenal akan konsistensinya dalam menyuarakan isu kemanusiaan, salah satunya adalah permasalahan sengketa tanah negeri.

Tarian Wanggi dan rekannya, Fado, dalam video musik 3 menit 35 detik ini berupaya menggambarkan kondisi pengerukan tanah di suatu wilayah. Beberapa gambar bahkan gamblang menunjukkan bagaimana pengerukan tanah untuk dijual dapat melenyapkan elemen air hingga hanya tersisa genangan.

Ketika berbicara kepada Rolling Stone lewat sambungan telepon, Wanggi menceritakan bahwa video dokumentasinya dimaksudkan menjadi film pendek namun karena satu dan lain hal hanya bernasib sebagai berkas yang sebelumnya tak ingin dipublikasikan.

Mengenai kolaborasinya dengan Deugalih, Wanggi yang juga dikenal sebagai salah satu pelopor Aksi Kamisan di Bandung mengenang: "Saya ketemu Galih dan bercerita tentang isu-isu kemanusian. Lalu kepikiran kalau dokumentasi yang saya punya ini cocok dengan lirik lagu 'Tanahku Tidak Dijual'. Kemudian saya kasih videonya ke Galih dan teman-teman."

Selain berbicara soal perampasan tanah dari era kolonial hinggan masa kini, lagu ini diakui Deugalih juga menceritakan hal yang mudah dilihat ketika baru saja membuka pintu keluar rumah. "Mal, mini market, hilangnya ruang publik, warung kecil, tempat berbagi informasi, trotoar, jalan tol, dan lain sebagainya," tutur Deugalih mengenai tema lagu "Tanahku Tidak Dijual". "Dan banyak dari hilangnya tanah di Indonesia, uniknya banyak dikuasai para pemilik media layar kaca. Mereka juga punya usaha tambang sekaligus jadi tokoh politik."

Dalam video musiknya, tampak dua seniman pantomim yang menari di atas tumpukan tanah, pasir, dan beberapa kali di sekitar sumber air yang mulai surut. Penonton diperlihatkan beberapa gerakan yang menyerupai aktivitas berdoa, lalu ada adegan di mana Wanggi membawa sebuah tumbuhan mati tak berdaun untuk kemudian ditanam di tanah kering. Setelahnya, ia berguling di atas tanah seakan mempertahankannya dari perampasan; seiring Deugalih bernyanyi: "Segala penjuru-penjuru/Tanahku/Di segala penjuru-penjuru/Tidak dijual."

Deugalih sendiri bertindak sebagai penyunting video dibantu oleh Andry "Joe" Novaliano, juga tercatat sebagai personel Terapi Urine, yang ditunjuk mengurus tata suara.

Untuk penggarapan lagu "Tanahku Tidak Dijual", Deugalih mengajak beberapa rekannya seperti bassist Galant Yurdian dari Deugalih & Folks dan gitaris Ali Dwi Julianto dari band grunge asal Jatinangor, Align. Lagu ini menampilkan upaya Deugalih dalam menciptakan lagu yang lebih ringan dan tradisional, oleh karena itulah terdengar bunyi alat musik sadatana.

"Lagu-lagu dalam album solo beda dengan materi untuk Deugalih & Folks. Butuh yang agak bodoh main melodi, yang skill-nya hampir sama dengan saya: jelek," candanya mengenai bantuan melodi dari Ali pada lagu "Tanahku Tidak Dijual".

Deugalih kini sibuk mengajar di sebuah sekolah Yogyakarta dan belum mempersiapkan tur sebagai pendukung album Tanahku Tidak Dijual. Namun ia mengungkapkan rencananya untuk menggarap video musik lain yang selaras dengan tema lagu demi penyampaian pesan yang tersimpan di dalamnya. (rn)

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Film 'Turah' Dipilih untuk Mewakili Indonesia pada Oscars 2018
  2. Konferensi Musik Indonesia, Archipelago Festival, Siap Diselenggarakan Oktober Mendatang
  3. .Feast Resmi Merilis Album Penuh Perdana Bertajuk 'Multiverses'
  4. Proyek Musik Elektronik Putra Bungsu Addie MS, Mantra Vutura, Rilis Album Mini
  5. Sam Smith Dokumentasikan Perpisahan Romantis dalam Video ‘Too Good at Goodbyes’

Add a Comment