Mafia Kind: Persekutuan Dua Generasi

Mengenai kolaborasi lintas generasi dan pertukaran inspirasi antara Rock N Roll Mafia dan Elephant Kind

Oleh
Formasi kolaborasi Rock N Roll Mafia dan Mafia Kind. Demajors

"Secara umum, gue berani bilang iya," ungkap gitaris tambahan Rock N Roll Mafia, Jonathan "Jones" Mono, merespons opini generik yang mengatakan bahwa seseorang di usia kepala tiga tidak akan lagi mendengar musik baru. "Salah satu alasan gue nongkrong sama Rock N Roll Mafia, kami sama-sama mau membuktikan kalau itu salah."

Pada Maret 2017, Jones bersama Rock N Roll Mafia sedang menunggu giliran tampil di pelataran Monumen Mandala, Makassar. Tidak lama kemudian muncul empat pemuda yang bergabung di area belakang panggung. Mereka adalah Elephant Kind, kuartet yang siap berkolaborasi dengan Rock N Roll Mafia pada malam itu. Persekutuan ini mereka beri nama Mafia Kind, terbentuk dari dua generasi berbeda yang saling bertukar inspirasi.

Rock N Roll Mafia adalah salah satu pionir di kancah musik elektronik Indonesia. Mereka sudah terbentuk sejak tahun 2000 dan merilis album perdana RNRM dua tahun setelahnya. Band ini diperkuat oleh dua pondasi utama yaitu Hendra Jaya Putra (programmer/synthesizer) dan Ekky Darmawan (vokalis/gitaris). "Rock N Roll Mafia sudah menjadi bagian dari gue, ini rumah untuk gue. Sudah seperti keluarga besar," kata Ekky.

Hendra lalu menambahkan, "Elo mau cari gue ya di sini. Semuanya sudah asyik masing-masing, kerja masing-masing, tapi pulangnya ke sini lagi. Sudah seperti rumah saja."

Formasi awal Rock N Roll Mafia era 2000. (Foto: Ripple Magazine)

Ekky dan Hendra mengemban banyak pengalaman bersama Rock N Roll Mafia selama lebih kurang tujuh belas tahun. Keduanya telah merasakan banyak perubahan dalam kancah musik independen tanah air. "Dulu orang-orang dan pergerakan band di dalamnya lebih menyatu, geraknya sama-sama. Kalau sekarang, mungkin karena ada Internet, band maju sendiri-sendiri," ungkap Ekky.

"Sebenarnya pergerakannya sudah lebih bagus, lebih mengapresiasi," kata Hendra melanjutkan komentar kerabatnya. "Cuma kami memang masih jalan di tempat, jadinya untuk sekarang kami memang kurang berbaur sama yang baru-baru. Gue merasa begitu. Kalau ada kesempatan sekali lagi untuk kolaborasi dengan band muda, pasti kami sikat lagi."

Rock N Roll Mafia melepas album penuh kedua, Outbox, pada 2007. Album ini memuat beberapa nomor kenamaan mereka seperti "Zsa Zsa Zsu" dan "Translove". Departemen vokal untuk album Outbox dibantu oleh Kanya Satwika yang harus mundur dari band setelah dua tahun bergabung. Sepanjang karier Rock N Roll Mafia berjalan, banyak musisi yang terlibat di dalamnya seperti Sidik Kurnia (gitar), Tommi Herlambang (synthesizer), M. Rama Adibrata (drum), Sani Harjasyah (drum), Ujang "Gebeg" Rahmat (drum), hingga Bueno Jurnalis (bas). Tiga nama yang terakhir disebutkan masih memperkuat Rock N Roll Mafia sampai sekarang.

Formasi Rock N Roll Mafia 2017. (Foto: Davy Linggar)

Pada 2012 mereka melepas album penuh ketiga bertajuk Prodigal, menyusul album pendek Play yang dirilis satu tahun sebelumnya. Dalam album ini Rock N Roll Mafia melibatkan sederet bintang tamu seperti musisi muda berbakat Kafin Sulthan Reviera, Ade Paloh dari Sore, dan band pop kenamaan Maliq & D"Essentials. Terhitung sejak album ini Rock N Roll Mafia tidak lagi berada di bawah naungan label rekaman FFWD Records, melainkan dengan Organic Records.

"Rilisnya setiap lima tahun ya? Album pertama di 2002, album kedua di 2007, album ketiga di 2012. Sekarang di 2017 harusnya rilis yang baru," ungkap Hendra sambil tertawa. Saat ditanya apa yang membuat Rock N Roll Mafia belum juga melepas album terbaru, Bueno coba menjawab: "Sekarang lebih ke kesibukan masing-masing. Sudah umur, standarlah [tertawa]."

"Sama kurang total," kata Hendra memotong. "Jalan untuk totalnya belum dibukain." Sedangkan Ekky menimpali, "Ini seperti memasang alarm bangun tidur, tapi tetap nggak bangun-bangun [tertawa]. Padahal udah niat banget."

Pada kenyataannya Rock N Roll Mafia tidak benar-benar istirahat di tempat. Setelah sempat memperkenalkan single "Body Won"t Stop" (berkolaborasi dengan Kafin Sulthan Reviera dan Ykha Amelz) pada 2015, tenaga mereka nyatanya berhasil terpancing kembali berkat proyek kolaborasi Mafia Kind ini.

"Sebagai orang yang satu kakinya berada di luar, kolaborasi ini sesuatu yang bagus banget bagi Rock N Roll Mafia, sahabat-sahabat musik gue," ungkap Mono. "Saat mood untuk bikin album belum benar-benar kembali, proses dalam kolaborasi ini--ketemu dengan Elephant Kind--membuat mereka bertiga (Ekky, Hendra, Bueno) menjadi bangkit lagi. Band ini nilainya masih besar, dan kali ini kelihatan di wajah-wajahnya bahwa mereka ingin melanjutkan bandnya lagi."

"Harus butuh semangat, memang beda semangat anak umur 20-an sama anak umur 35 tahun," kata Hendra mengacu kepada dirinya sendiri dan personel Rock N Roll Mafia yang lain. "Gue sudah umur segini pasti memikirkan keluarga dan macam-macam. Semangatnya jadi berbeda. Kemarin-kemarin semangat itu sempat hilang di Rock N Roll Mafia. Tapi ketika ketemu Elephant Kind yang semangatnya sama seperti kami dulu, kami juga jadi semangat lagi."

Elephant Kind yang berdiri sejak 2013 beranggotakan vokalis/gitaris Bam Mastro, gitaris Dewa Pratama, drummer Bayu Adisapoetra, dan pemain bass tambahan Kevin Septanto sebagai pengisi kekosongan posisi yang ditinggalkan oleh bassist John Paul Patton (kini sibuk bersama Kelompok Penerbang Roket). Mereka merilis dua album mini yang masing-masing berjudul Scenarios: A Short Film by Elephant Kind pada 2014 dan Promenades: A Short Film by Elephant Kind pada 2015.

Kemudian pada 2016, Elephant Kind untuk pertama kalinya merilis album penuh paling jujur dan ambisius yang diberi judul City J. Album ini memuat dua belas lagu yang bercerita tentang pengalaman-pengalaman pribadi di baliknya. "Menurut gue chemistry kami sudah terbentuk di album City J," kata Bam. "Sedangkan album-album sebelumnya kayak belum kenal, jadi banyak komprominya, banyak nggak enaknya. Walaupun sebenarnya materi City J itu sudah ada sejak album pertama keluar."

Sampul album City J yang dirilis pada 2016. (Foto: Frisson Entertainment)

Elephant Kind mengaku sudah merencanakan perjalanan tiga albumnya sejak pertama kali berdiri. Pada album Scenarios mereka sengaja menganut gaya 'kasar' Arcade Fire era album Funeral. Lalu album Promenades mulai berkembang dengan sentuhan yang sedikit lebih tertata. Kemudian album City J menjadi karya dengan perhatian yang paling dalam di segala aspek. "Kami tahu bahwa materi musik seperti kami nggak mungkin diputar di radio. Tapi bagaimana caranya ketika mendengarkan lagu di radio dengan mendengarkan lagu Elephant Kind, masih ada kesamaannya," jelas Bam perihal karakter suara dari City J.

Bam yang juga bertugas sebagai penulis lirik menumpahkan isi kepalanya demi bisa bercerita di semua lagu. Nomor pembuka "Beat the Ordinary" adalah curahan hatinya, kemudian "Keep It Running" bercerita tentang motivasi. "The New Dog" merupakan pengalaman Bam kembali ke Jakarta dan bertemu dengan personel lain Elephant Kind, sedangkan "Feel It" merupakan gagasan yang ia punya tentang tujuan hidup. "Scenarios dan Promenades juga ada skripnya, tapi di City J gue benar-benar mengarahkan Elephant Kind ke posisi di mana bisa bercerita yang tidak metafora," katanya.

Dewa menambahkan, coba membantu: "Jatuhnya surealis, realis tapi nggak berlebihan. Seperti misalnya melihat ladang bunga yang berwarna-warni, kelihatannya memang surreal tapi benar-benar ada seperti itu."

"Banyak orang yang berpikir kami mirip dengan banyak band, di mana menurut gue pemikiran seperti itu wajar-wajar saja," kata Bam lagi. "Tapi justru yang berpengaruh banget dalam pembuatan album ini adalah kalau gue lagi jujur banget sama diri gue sendiri, di mana saat gue sedang mengunjungi kembali album-album lama Kendrik Lamar dan Kanye West. Ketika gue membuat Scenarios, gue benar-benar sedang jatuh cinta sama album-album itu. Dari situ gue ingin sesuatu yang real, walaupun cara penyampaiannya surreal."

City J meraup banyak pujian sebagai salah satu album terbaik 2016. Perkembangan signifikan yang terjadi di tubuh Elephant Kind lewat album ini membuat pergerakan mereka tidak lagi sama. "Awalnya gue takut karena dulu orang-orang sudah terpaku dengan gaya kami yang tropical dan membawakan musik seperti 'Oh Well' dan 'With Grace'," terang Bayu. "Tapi setelah albumnya keluar, orang-orang yang ketemu gue selalu bilang kalau ini adalah kenaikan kelas bagi Elephant Kind."

Ketika beraksi di atas panggung, masing-masing personel Elephant Kind sengaja menambah kebutuhan aransemen agar dapat mendekati kualitas yang sesuai dengan rekaman City J. "Dulu set drum gue biasa saja; snare, tom, dan floor," ungkap Bayu. "Sekarang jadi dilengkapi beberapa alat tambahan sesuai kebutuhan."

Dewa menambahkan, "Dulu awalnya gue lebih mengejar kualitas suara gitar, belum kepikiran untuk mengembangkan synthesizer. Dan lewat kolaborasi dengan Rock N Roll Mafia ini gue jadi mempelajari sistem teknis live mereka, di mana si Elephant Kind ingin seperti itu juga."

Tidak hanya memetik ilmu teknis, kolaborasi ini juga membukakan mata para personel Elephant Kind dari sisi luar musiknya. "Pengalaman yang gue dapat adalah bahwa kolaborasi itu nggak gampang," kata Bam sambil tertawa. "Nggak bisa cuma berkolaborasi saja. Kami harus tahu bahwa kolaborasi ini tujuannya untuk apa."

Sedangkan Bayu mendapat banyak ilmu tentang tata manajemen dari tim balik layar Rock N Roll Mafia. "Ternyata benar, tak kenal maka tak sayang. Gue kira karena Rock N Roll Mafia senior, sudah lama di scene, sudah kenal banyak orang, terus bakal menganggap kami bocah baru. Ternyata 180 derajat kebalikannya, mereka malah seru berbagi banyak pengalaman."

Ritual doa bersama tim Rock N Roll Mafia dan Elephant Kind. (Foto: Sancoyo Purnomo)

Kolaborasi Mafia Kind tidak terbentuk sebagai aksi panggung semata. Mereka telah menyelesaikan dua lagu baru yang diciptakan dan diproduseri oleh satu personel dari masing-masing band. Bam yang ditunjuk sebagai produser dari pihak Elephant Kind sudah menciptakan dasar lagunya sejak awal 2017 ketika pertama kali mengetahui adanya proyek kolaborasi ini.

"Gue tidak mencoba untuk melepas dari musik City J, gue hanya mencoba untuk natural," kata Bam mengenai penggarapan lagu baru saat ditemui di Streight Studio, Jakarta pada pertengahan Agustus lalu. "Tapi ternyata hasilnya malah pop banget. Gue sempat mencoba untuk memperbaikinya, tapi tetap nggak menjadi apa pun. Terus gue bikin baru lagi dalam waktu tiga hari, malah langsung jadi. Mungkin karena sudah deadline juga," tambahnya sambil tertawa.

Sedangkan Hendra yang bertugas sebagai produser dari pihak Rock N Roll Mafia menggarap pondasi lagunya setelah kedua band sudah sempat menjalani tur konser bersama. "Kami (Rock N Roll Mafia dan Elephant Kind) pernah kumpul bersama setelah latihan. Di situ kami berhasil membuat satu materi. Tapi setelah gue mendengarkannya kembali ternyata lagunya kurang semangat, kurang ramai untuk ukuran lagu kolaborasi," ungkap Hendra yang duduk di sebelah Bam sore itu.

"Akhirnya gue sengaja bikin satu lagu lagi. Ada juga beberapa lagu dari kerjaan gue yang ditolak sama klien, tapi gue suka," katanya seraya tertawa. "Dari situ gue coba mengembangkannya dan anak-anak jauh lebih suka."

Metode kedua band dalam menciptakan masing-masing satu lagu dasar diakui menjadi kunci di balik kelancaran kolaborasi ini. "Kami tahu bahwa kolaborasi ini tidak mudah. Kami juga mendengar hal yang sama dari band-band lain yang melakukannya. Kami tidak mendapat waktu yang banyak untuk mempersiapkan ini, jadi kami mencari cara yang paling efisien," kata Bam yang langsung disetujui oleh Hendra.

"Setelah semuanya berjalan ternyata memang mengalir begitu saja," kata Ekky menambahkan. "Dulu kami berpikir pasti ego masing-masing susah ketemu titik tengahnya. Mungkin akan menjadi sulit kalau bikin lagunya langsung ketika pertama kali kami bertemu."

Mayoritas aransemen kedua lagu direkam di studio milik Hendra bernama Jungle Audio Post Studio. Lagu garapan Hendra berjudul "Thrill Pills" menjadi yang pertama direkam pada satu pekan sebelum bulan Ramadhan 2017. Kemudian lagu buatan Bam bertajuk "Us VS." direkam pertengahan bulan Ramadhan. Kedua prosesnya berjalan begitu spontan, ide-ide menarik dari para personel akan dibangun bersama di atas dasar lagu yang sudah disediakan.

Hasilnya kedua lagu memiliki warna yang begitu berseberangan. "Thrill Pills" mengusung suasana ceria layaknya perayaan akan hangatnya kehidupan berkeluarga di rumah. "Bicara umur lagi kali ya?," kata Ekky sang penulis lirik sambil tertawa. "Bisa dibilang gue hanya ingin menikmati apa yang kami lakukan bersama-sama sejauh ini. Jadi liriknya mencoba menggambarkan rasa bahagia kami saat menjalani tur kolaborasi ini."

Sedangkan untuk nomor "Us VS.", Bam menyampaikan pesan-pesan di balik liriknya dengan cara yang lebih berapi-api, bagaikan kaum muda yang enggan tunduk dalam misi menaklukkan dunia. "Ini menjadi salah satu alasan kami memiliki dasar lagu masing-masing," kata Bam. "Karena akan menjadi sulit kalau gue masuk di bagian liriknya Ekky. Walaupun ada sedikit lirik yang gue nyanyikan di lagu itu di mana gue mencoba sebisa mungkin satu frekuensi sama mereka. State of Mind orang-orang pasti berbeda, gue nggak di tahap sebahagia mereka. Umur gue masih di pertengahan 20, masih di tahap yang berapi-api."

Demi menyuarakan pesan lagu "US VS.", Elephant Kind mengajak rapper muda asal Jakarta yang tengah menjadi bahan perbincangan, Ramengvrl. Saat pertama kali menggarap lagu tersebut, Bam sudah membayangkan adanya keterlibatan suara perempuan dan Ramengvrl dirasa tepat untuk mengisi dan menulis lirik bagian ini.

"Ramengvrl adalah rapper Indonesia yang sedang gue ikuti perkembangannya. Saat gue mendengarkan lagu dia, 'I"m Da Man', menurut gue sangat distinctive, berbeda, dan berani. Gue bukan bermakud seksis, tapi untuk [musisi] cewek tidak banyak yang melakukan itu," puji Bam. "Gue juga ingin berkontribusi membangun perkembangan rap dan hip hop Indonesia yang sangat gue suka."

Rencananya "Thrill Pills" dan "Us VS." bakal dirilis pada awal September mendatang. Namun sebelum itu Rock N Roll Mafia dan Elephant Kind sudah mendapat kesempatan untuk menampilkannya pertama kali di perhelatan We the Fest 2017. Kedua band tampak begitu menikmati dalam membawakan hasil karya terbaru mereka di atas panggung. Penonton di hadapan mereka juga terlihat merasakan hal yang serupa. Ini bagaikan sebuah pertanda bahwa Rock N Roll Mafia dan Elephant Kind telah memasuki tahap kolaborasi yang solid.

Ramengvrl menyanyikan lagu "US VS." bersama Rock N Roll Mafia dan Elephant Kind. (Foto: Sancoyo Purnomo)

Saat ditanya apakah kolaborasi ini memungkinkan untuk terus berlanjut, Bayu memaparkan: "Sebenarnya sudah banyak acara yang ingin mengundang kolaborasi ini, tapi kami terpaksa tolak karena kolaborasi ini berjalan di bawah kontrak." Bam sendiri mengutarakan bahwa kedua band akan tetap menjalin hubungan meski di luar urusan kolaborasi ini.

"Kalau chemistry sudah terbentuk, pasti sangat ada kemungkinan," ungkap Bueno secara terpisah. Hal senada juga disampaikan oleh Ekky yang menyimpulkan, "Ya, seperti apa yang dibilang Mono sebelumnya, gue mencoba terus nongkrong sama orang-orang yang punya semangat tinggi. Dan itu gue lakukan sampai sekarang." (rn)

Dua vokalis-gitaris Ekky Darmawan dan Bam Mastro. (Foto: Sancoyo Purnomo)

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Mundur dari Payung Teduh, Is: “Saya Enggak Egois”
  2. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  3. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak
  4. Inilah Para Pemenang AMI Awards 2017
  5. Perpaduan Gairah Musik dan Skateboard di Volcom: Road to Cakrawala

Add a Comment