Phoenix Bicara Menemukan Kebahagiaan di Tengah Kekacauan via Album Baru, ‘Ti Amo’

Vokalis Thomas Mars menjelaskan bagaimana grup synth-pop tersebut membuat album yang terpengaruh disko Italia nan segar, di mana sisi asli Prancis mereka sedang terjerumus ke dalam kekacauan

Oleh
Phoenix. Facebook/Phoenix

"Membuat musik selalu menjadi hal yang menyenangkan dan kami bahagia melakukannya, dan akan selalu seperti itu," kata pentolan Phoenix, Thomas Mars, tentang merekam album Ti Amo, album terbaru band tersebut, di mana sisi Prancis mereka sedang mengalami kekacauan. "Anda melihat hal-hal berkembang dan berubah di sekitar Anda, dan kemudian ada sesuatu yang gelap, tapi entah mengapa Anda ingat bahwa ada nilai dan kualitas yang menjaga pikiran Anda. Itu tidak berarti terputus dan apolitis; hanya saja itu tampak menggembirakan dan bukan berarti itu sebuah penyangkalan [dari apa yang terjadi]."

Grup synth-pop itu mulai mengerjakan album tersebut pada September 2014, dan satu tahun setelahnya, terdapat serangan teroris di Bataclan, di mana beberapa personel Phoenix sedang berada di teater Paris untuk melakukan rekaman. Pada akhirnya, mereka membuat rekaman yang menggembirakan dengan lirik yang ringan, terkadang bercanda tentang cinta, penuh atmosfer synthesizer dan pengaruh ketukan drum disko Italia. Judul-judul yang melenting bahkan berisikan bait "I Don"t like it as it is, a disaster scenario/So don"t look at what you did, this melted gelato" sebelum Mars bernyanyi, "I Love You" dalam bahasa Inggris, Italia, Perancis, dan Spanyol. Sang vokalis mengatakan bahwa lagu tersebut tidak dimaksudkan sebagai pelarian, namun apa yang tidak dia katakan secara gamblang sebenarnya adalah sebuah tindakan yang menggambarkan keadaan dunia.

"Pada awalnya kami terkejut itu merupakan sesuatu yang ringan, menyenangkan, hedonistik," kata Mars kepada Rolling Stone, berbicara dengan bahasa Inggris yang tidak sempurna. "Ini adalah sesuatu yang terlepas dari apa yang sedang terjadi."

Meski begitu, ia merasa tidak nyaman membahas album tersebut dalam konteks kejadian terkini. "Sulit untuk membicarakan hal ini tanpa menciptakan lingkungan yang mengundang empati," katanya di wawancara bersama kami. "Kami tidak pernah benar-benar ingin membicarakan politik atau memuat politik di sesuatu yang kami lakukan," katanya, "namun pada suatu saat kami mempertanyakan sebuah fakta bahwa kami masih melakukan hal ini sementara ada hal-hal yang lebih penting sedang terjadi tepat di luar studio."

Sifat musik yang bagus, menurut pendapatnya, adalah cara untuk "memaksakan takdir Anda." "Ini seperti menulis dengan cara yang sama ketika Anda mengalami patah hati," katanya. "Anda menciptakan dunia baru yang sebenarnya bukan apa yang sedang dialami dunia. Anda menciptakan sesuatu yang lain yang merupakan kemungkinan, sebuah bahan bakar untuk penciptaan."

Selain itu, mereka tidak pernah menduga-duga untuk melakukan pendekatan musik yang lebih fantastik. "Kami memeluknya, karena rasanya itu seperti barang kami sendiri," kata Mars. "Jika kami mencoba melakukan hal lain, itu bukan diri kami sebenarnya."

Akhirnya mereka menciptakan apa yang disebut sang vokalis sebagai bahasa Phoenix sendiri, dunia yang terpengaruh oleh "pandangan terdistorsi" mereka sendiri tentang disko Italia dari tahun '70-an. "Tuttifrutti" dan single unggulan "J-Boy" mengandung ketukan ringan, dan sepanjang album, kelompok tersebut membawa suara synthesizer ke permukaan, di mana Mars melayang di antara Inggris dan Italia. Ia menyebut pengaruh Italia di Phoenix terjadi begitu saja – "Terkadang sebuah lagu akan bergumul, dan saya tidak tahu mengapa, tapi sering terjadi di Italia" – meskipun dia mengatakan bahwa bandnya mendengarkan banyak musik Italia dan ayah dari saudaranya di band, gitaris Laurent Brancowitz dan Chritian Mazzalai, berasal dari Italia. "Itu mungkin penjelasannya, tapi saya tidak yakin mengapa terdengar seperti itu," kata Mars.

Satu hal yang ia yakini bahwa interpretasi Phoenix akan disko Italia tidak terlalu jauh dari aslinya, secara estetika. "Kami menggunakan Italia sebagai prisma, dengan cara yang sama seperti disko Italia menyalin disko Amerika, tapi sedikit saja," katanya sambil tertawa. "Itu sangat menawan."

Mars menambahkan bahwa mengambil inspirasi dari disko Italia bukan berarti menggunakan cara "winky" yang ironis. "Itu murni," katanya. "Itu tidak dimaksudkan untuk menjadi autentik, orisinal dan menjadi penghormatan. Ini dimaksudkan untuk membuatnya menjadi versi Prancis."

"Kami selalu menemukan pesona dalam visi yang menyimpang," lanjutnya. "Kami tidak ingin membuat ulang versi Italia yang akurat, dengan cara yang sama seperti kami seorang Prancis yang bernyanyi dengan bahasa Inggris. Terkadang saat kami bermain di Prancis, orang Prancis mengira kami ingin menyalin musik Amerika. Tapi intinya adalah untuk menjaga kesalahan itu, jadi itu diciptakan berbeda, dengan bahasanya sendiri. Kami menggunakan bahasa Inggris dengan otak Prancis, jadi saya berharap untuk menyimpan kesalahan dan ungkapan yang canggung, ritmenya dibuat aneh dan aksennya tidak ditunjukkan."

Sekarang albumnya telah dirilis, Phoenix akan memperkenalkannya ke kawasan Amerika Utara di tur konser AS yang terbatas dan mengelilingi dunia dengan produksi yang besar, dengan kaca yang besar di atas panggung dan pencahayaan yang muncul dari kaki-kaki para personelnya, tidak dengan pencahayaan yang biasanya. "saya bangga bagaimana kami menghabiskan dana untuk produksi," kata Mars." Itu masuk akal dan berarti. Itu menambahkan dimensi tambahan untuk lagu-lagunya," kata Mars. "Banyak konser lain yang menampilkan sedikit instrumen dan lebih banyak kembang api, ini adalah hal yang klise. Jadi kami membawa instrumen kami dengan semacam hiasan, fantasi dan aura, dengan cara seperti Kraftwerk. Itu tidak akan mengurangi kekuatan dari instrumen-instrumen tersebut."

Ia berharap pada pertunjukan Phoenix selanjutnya, yang akan menampilkan lagu-lagu Ti Amo, akan menjadi pengalaman yang luar biasa bagi para penonton konser. "Ini harus menjadi tatanan yang spektakuler yang hampir terlalu ambisius untuk menjadi kenyataan, sesuatu di ambang keruntuhan," kata Mars dengan sungguh-sungguh. "Kami tidak yakin apa itu mungkin, tapi setidaknya mereka akan melihat sesuatu yang berhasil dan sesuatu yang akan runtuh di depan mata mereka."

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  2. Narasi Musik Metal Indonesia di Kancah Dunia
  3. Killing Me Inside Kolaborasi dengan Aiu eks-Garasi, Rilis Single Baru “Fractured”
  4. Harry Styles: Superstar Pop Dunia
  5. 10 Film Indonesia Terbaik 2016

Add a Comment