Kembalinya U2 ke 'The Joshua Tree'

Setelah kemenangan Donald Trump, band ini memutuskan untuk menghidupkan kembali mahakarya pertamanya dengan tur besar

Oleh
U2 Dok. U2/Anton Corbijn

Pada musim panas lalu, U2 menghadapi masa depan yang kurang jelas. Mereka memperpendek rangkaian Innocence + Experience Tour yang sangat sukses supaya bisa mengerjakan album berikutnya, Songs of Experience, yang sudah hampir selesai. Namun akhirnya mereka memutuskan bahwa materi yang telah direkam kurang relevan dengan kekacauan dari peristiwa-peristiwa aktual, mulai dari kemenangan Donald Trump hingga pemisahan Inggris dari Uni Eropa. “Kami sadar bahwa album ini butuh ditahan sejenak agar bisa benar-benar berpikir,” kata The Edge sang gitaris. “Dunia sudah berubah, dan kami butuh kesempatan ini untuk mempertimbangkan segalanya.”

U2 malah memutuskan untuk merayakan ulang tahun ke-30 The Joshua Tree–album dari tahun 1987 yang mengangkat mereka dari artis tingkat arena menjadi band terbesar di dunia, dengan lagu-lagu hit seperti “Where the Streets Have No Name” dan “With or Without You”–dengan tur stadion besar. The Joshua Tree adalah album pertama U2 yang sarat pengaruh musik dan politik Amerika, menghujat dukungan pemerintah Ronald Reagan terhadap pengeboman negara-negara Amerika Tengah (“Bullet the Blue Sky”), dan kebisuan terhadap pembantaian massal oleh pemerintah Cile (“Mothers of the Disappeared”). “Itu masa-masa sulit dan gelap, dan rasanya seperti kami kembali ke era itu,” kata The Edge. “Kami tak pernah mengambil kesempatan untuk merayakan masa lalu karena kami selalu melihat ke depan. Tapi kami merasa bahwa ini momen istimewa, dan ini album yang istimewa.” Dalam wawancara yang dimuat di situs U2, Bono menambahkan, “Ini seperti opera….saya sudah sering menyanyikan sebagian dari lagu-lagu ini, tapi belum pernah semuanya….pasti akan jadi malam yang hebat.”

Tur The Joshua Tree di 2017 akan dimulai di Vancouver pada bulan Mei, sebelum berlanjut di Amerika Serikat dan Eropa. Tiketnya terjual lebih dari satu juta lembar dalam sehari, dan konser-konser ekstra langsung ditambahkan di Los Angeles, Chicago, dan East Rutherford, New Jersey. Tur itu juga akan mencakupi penampilan pertama U2 di salah satu festival besar di A.S., yakni Bonnaroo di Manchester, Tennessee, dan mereka akan menjadi bintang utama bersama artis-artis populer masa kini seperti The Weeknd dan Chance the Rapper. “Di awal karier kami banyak bermain di festival,” kata The Edge. “Saya selalu mengingatnya dengan senang. Ada semacam aspek pertarungan gladiator di festival, yang selalu membuat kita sigap dalam arti positif.”

Tur ini juga menandai pertama kalinya U2 membawakan sebuah album secara utuh di panggung, sebuah format yang belum lama ini digunakan Bruce Springsteen dalam tur The River (tur paling sukses di tahun lalu dengan penghasilan kotor 268 juta dollar AS). U2 mungkin akan memakai pendekatan berbeda dan tidak memainkan lagu-lagunya sesuai urutan di album. “Kami mungkin tak akan memulai dengan lagu pertama, ‘Where the Streets Have No Name’,” kata The Edge. “Kami mungkin perlu membangun untuk menuju momen itu.” Bassist Adam Clayton menambahkan, “Kami mungkin akan mengelompokkan beberapa lagunya dengan yang serupa secara tema dari album-album lain. Kami akan bereksperimen hingga terasa pas.”

Bagi para penggemar berat, konser itu akan menjadi kesempatan untuk mendengar lagu-lagu langka seperti “Exit” dan “Trip Through Your Wires”, yang belum pernah mereka bawakan sejak tahun 1980-an. “Red Hill Mining Town”– balada menyentuh tentang mogok kerja National Union of Mineworkers di Inggris pada 1984, yang sempat direncanakan menjadi single pertama album itu–bahkan belum pernah dimainkan di panggung. “Lagu itu terdepak karena bertempo sedang,” kata Clayton. “Kini saya rasa kami bisa menemukan cara untuk mengatasinya.”

Willie Williams, direktur konser band itu yang telah merancang panggungnya sejak 1982, mengaku bahwa produksi tur ini akan jauh lebih sederhana dibanding tur stadion terakhir U2, 360 Tour di 2009-2011, yang menampilkan panggung mirip pesawat angkasa dan merupakan salah satu panggung terbesar dalam sejarah konser. “Ini menjadi jalan keluar untuk mengikuti jejak US 360,” kata Williams. “Itu benar-benar konser stadion yang paling maksimal.” Williams mengambil inspirasi dari produksi tur yang primitif di 1987 dan juga menambahkan ide-ide baru, termasuk panggung kecil berbentuk pohon. “Ekspektasi jauh lebih tinggi dibanding 30 tahun lalu,” katanya. “Tapi akan ada beberapa hal yang mengingatkan kepada masa itu.”

Tak terelakkan bahwa tur ini akan mengundang kritik bahwa U2 sedang mencari keuntungan dari nostalgia. Mendengar kata itu membuat Clayton geram. “Kami tidak tertarik dengan itu,” katanya, sambil menyebut tur ini sebagai “titik awal mengenai dampak dari 30 tahun terakhir terhadap kita semua”. Ia menambahkan bahwa konser-konser itu adalah kesempatan untuk memperbaiki masa sulit dalam sejarah U2: “Tur asli The Joshua Tree seharusnya adalah kesempatan yang sungguh menggembirakan. Namun sebenarnya kami cukup kesulitan membawakan lagu-lagu itu di bawah tekanan berkembang dari band tingkat arena menjadi band tingkat stadion. Saya sendiri tidak terlalu menikmati masa itu.”

Setelah turnya selesai pada Agustus mendatang, U2 berencana meneruskan penggarapan Songs of Experience dan akhirnya melanjutkan Innocence + Experience Tour, yang belum pernah diadakan di luar kota-kota besar. Konser itu menampilkan repertoar yang mengutamakan lagu-lagu baru, serta panggung revolusioner yang akan menampilkan U2 di balik dinding berupa layar-layar video. “Kami merasa bahwa tur itu belum selesai,” kata The Edge. “Kami ingin menuntaskannya. Itulah asumsi kami saat ini, tapi keadaan bisa berubah dan belum ada yang dipastikan.”

U2 masih berupaya mencari posisi dalam budaya populer setelah proses pengedaran yang mengecewakan untuk album Songs of Innocence (2014), yang dikritik karena tiba-tiba muncul di semua iPhone, terlepas pemiliknya ingin atau tidak. “Bisa dibilang kami berenang melawan arus,” kata Clayton, yang menambahkan bahwa ia yakin U2 dapat melawan tren musik saat ini. Mereka menekankan bahwa kilas balik ke masa lalu ini hanya bersifat sementara, dan mereka tak sabar untuk kembali ke musik baru. “Kami semua merasa bahwa Songs of Experience perlu beredar sebelum akhir tahun ini,” kata Clayton. “Bisa dibilang bahwa pengalaman memainkan konser-konser The Joshua Tree pasti akan membawa dampak terhadap bentuk album itu saat kami selesai menggarapnya.”

Salah satu tantangan terbesar adalah mencari cara yang tepat untuk mengedarkan albumnya. “Untuk saat ini rencana saya adalah saya dan Bono akan menyelinap ke rumah semua orang dan menyelipkan CD ke bawah bantal mereka,” kata The Edge sambil tertawa. “Sayangnya, ide ini kurang didukung anggota band yang lain.”

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Mundur dari Payung Teduh, Is: “Saya Enggak Egois”
  2. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  3. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak
  4. Inilah Para Pemenang AMI Awards 2017
  5. 17 Lagu Indonesia Bertema Kebangsaan Terbaik

Add a Comment