RIP Chuck Berry: Hail! Hail! Mr. Rock & Roll

“Jika Anda berusaha memberi nama lain bagi rock & roll, mungkin Anda akan menyebutnya ‘Chuck Berry’” – John Lennon

Oleh
Chuck Berry pada tahun 1957. Universal Attractions

Raja rock & roll yang sesungguhnya, Chuck Berry, wafat dengan tenang di usia 90 tahun pada Sabtu (18/3) lalu di kediamannya di Wentzville, Missouri, AS. Hingga kini penyebab kematiannya masih belum diketahui, namun diduga karena sakit dan menua. Untuk mengenangnya, Rolling Stone memuat kembali artikel berikut ini yang diterbitkan pada 2006 dalam rangka merayakan ulang tahun Chuck Berry ke-80 tahun pada saat itu.

* * *

"Jika Anda berusaha memberi nama lain bagi rock & roll, mungkin Anda akan menyebutnya "Chuck Berry"" – John Lennon​

Almarhum gembong The Beatles, John Lennon, memang tidak berlebihan saat mengatakan hal di atas. Ia dan bandnya mengawali langkah pertama karier emas mereka dengan meng-cover lagu-lagu milik Chuck Berry. Begitu pula dengan yang lainnya. The Rolling Stones, The Beach Boys, Bob Dylan, Eric Clapton, MC5, The Yardbirds, David Bowie, Jimi Hendrix, AC/DC, Judas Priest, The Ramones, The Sex Pistols, Bruce Springsteen hingga Iron Maiden. Bahkan Raja Rock "N" Roll Kulit Putih, Elvis Presley juga meng-cover tak hanya satu atau dua lagu, namun delapan lagu sekaligus! Daftar artis peng-cover lagu Chuck Berry ini niscaya takkan pernah habis. Untuk lagu "Johnny B. Goode" saja tercatat sudah 400 artis di seluruh dunia meng-covernya. Jelas hampir semua artis memujanya.

Chuck Berry di tahun 1993 sempat diundang khusus untuk tampil pada pesta pelantikan Presiden Amerika Serikat yang sekaligus penggemar beratnya, Bill Clinton. Ia adalah salah satu musisi rock pertama yang dilantik masuk ke museum bergengsi, Rock & Roll Hall of Fame pada saat pembukaannya di tahun 1986 di Cleveland, Amerika Serikat. Dua tahun sebelumnya ia dianugerahi Grammy Award untuk kategori paling prestisius, Lifetime Achievement Award. Entah seabrek penghargaan apa lagi yang pernah disandangnya hingga kini sebagai seorang legenda rock "n" roll.

Jika band-band sekarang berkaca pada The Rolling Stones yang sudah sejompo itu masih menggelar tur keliling dunia, maka seharusnya mereka juga wajib tahu bahwa di usianya yang menginjak 80 tahun bulan ini, Chuck Berry juga masih eksis dan tetap rock "n" roll! Bisa jadi banyak orang lupa bahwa Berry sebenarnya still alive, well and kickin". A truly inspiring living legend!

The grandfather of rock "n" roll minimal sebulan sekali setiap Rabu menggelar konser di bar kecil bernama Blueberry Hill yang terletak di tanah kelahirannya di St. Louis, Missouri, Amerika Serikat. Terakhir pada 13 September 2006 lalu ia masih membawakan hits-nya seperti "Johnny B. Goode," "Maybellene," "School Days," "Roll Over Beethoven" hingga "Sweet Little Sixteen." Ia juga masih sanggup mempertontonkan aksi duck walking-nya yang legendaris di sana. Sebuah aksi yang kemudian dipopulerkan kembali oleh dewa gitar berseragam sekolah, Angus Young dari AC/DC.

Lima tahun sebelumnya, Oktober 2001, Chuck Berry yang oleh salah seorang pemujanya, Keith Richards, sempat dibilang, "terkadang brengsek dan lebih memusingkan daripada Jagger," ternyata masih membuat kontroversi di pesta ulang tahunnya yang ke-75. Kehebohan ini sempat ditulis Mark Jacobson untuk Rolling Stone di edisi awal Desember 2001.
Ceritanya, malam itu seusai konser di Georgia, Amerika Serikat, 2.500 penonton telah menyalakan lilin dan bernyanyi "Happy Birthday" bagi pencipta rock "n" roll ini. Sebuah kue ulang tahun raksasa juga telah disiapkan pihak panitia.

Celakanya, orang yang ditunggu-tunggu ternyata tidak kunjung menampakkan batang hidungnya lagi. Panggung tetap kosong hingga lagu tersebut berkali-kali dinyanyikan. Padahal beberapa menit sebelumnya Berry selama lima puluh lima menit sanggup menggeber hits klasik miliknya hampir non-stop. Belakangan diketahui legenda yang ditunggu-tunggu itu ternyata melarikan diri naik mobil golf menuju kendaraan yang akan mengantarnya pulang ke rumah.

"Sebenarnya Anda cukup berdiri saja di atas panggung dan tersenyum," ujar manajer venue kepada Chuck Berry di malam sebelumnya, seperti dikutip dari Jacobson.

"Apa? Berdiri dan tersenyum?" balas Berry. "Tidak, tidak. Itu bukan karakter saya sama sekali."

"Tapi Pak Berry," kata manajer itu lagi, "kami tak pernah meminta Anda untuk melakukan sesuatu yang bukan karakter Anda."

"Lalu apa? Sekarang Anda mau mengajari saya agar memiliki karakter?" jawab Berry dengan nada suara meninggi. Manajer itu pun menciut.

Esoknya, ketika Berry bergegas menuju mobilnya, manajer venue itu memberanikan diri untuk bertanya satu hal lagi. Kali ini Walikota Peachtree, Ketua Pengadilan Tinggi Georgia dan salah seorang anak mantan Presiden Jimmy Carter yang semuanya merupakan penggemar berat Chuck Berry bermaksud untuk bertemu dengannya, sekadar meet and greet dengan idola.

"Meet and what?" ujar Chuck. "Maaf, tapi tidak lah. Saya tidak punya waktu. Bilang saja ke mereka kalau saya sedang merenungi usia senja dan hingga kini belum menemukan penangkalnya!"

Itulah salah satu karakter khas Chuck Berry. Jika tak ada pembicaraan sebelumnya tentang pertemuan dengan orang-orang penting seusai konser, entah itu walikota, hakim agung atau bahkan anak presiden sekalipun, jangan harap ia bakal melayaninya. Siapa mau melawan? Orang ini pencipta rock "n" roll! Tentu dengan kapasitas sebesar itu arogansi dalam bersikap adalah lumrah saja.

Kontroversi merupakan nama tengah Chuck Berry. Di tahun 1990, Berry yang berusia 64 tahun sempat dituntut class action oleh 59 wanita yang menuduh dirinya telah meletakkan kamera tersembunyi di toilet perempuan di dua restoran miliknya, Berry Park dan The Southern Air di Wentzville, St. Louis. Penulis biografi Berry, Bruce Pegg, memperkirakan biaya "berdamai" yang dikeluarkan Chuck Berry untuk kasus tersebut berkisar 1,2 juta dollar AS, ini belum termasuk biaya persidangannya pula.

Chuck Berry saat ditahan polisi Chicago pada tahun 1959. (Chicago Police Dept.)

Bahkan sebelum Chuck Berry lulus SMA dan menjadi pahlawan rock "n" roll, ia sudah berhadapan dengan pihak yang berwajib. Di usianya yang ke-18 ia sempat dijebloskan ke penjara remaja dekat Missouri selama tiga tahun akibat percobaan perampokan mobil yang dilakukan bersama dua orang kawannya. Di buku otobiografi miliknya yang berjudul Chuck Berry: The Autobiography, ia menceritakan tentang mobilnya yang rusak di pinggir jalan tol setelah berkeliling hingga Kansas City.

Takut tidak dapat pulang ke rumah, Berry lantas menyetop sebuah mobil yang tengah lewat. Ketika berada di dalam mobil ia menarik senjata dari balik mantelnya dan menodongkan ke pemilik mobil seraya mengusirnya keluar. Sebenarnya itu bukan senjata sungguhan karena yang ditodongkan olehnya hanya sebuah laras senjata tanpa pelatuk. Sang pemilik mobil lantas menelepon polisi yang dengan mudah kemudian membekuk Berry dan kawan-kawannya yang tengah melarikan diri dengan mobil curian tersebut.

Rapor buruk Berry tidak berhenti sampai disitu. Tahun 1979 ia sempat dipenjara selama empat bulan dan 1.000 jam kerja sosial setelah dituduh melakukan penggelapan pajak atas harta kekayaannya. Dua puluh tahun sebelumnya, Desember 1959, Berry yang tengah berjaya dan menggelar tur di Meksiko mengajak Janice Escalante, seorang perempuan keturunan Apache berusia 14 tahun untuk bekerja sebagai pelayan di kelab malam miliknya, Club Bandstand di St. Louis. Setelah dipecat dari kelab ternyata perempuan tersebut ditahan dengan tuduhan melakukan praktik pelacuran. Akibatnya Berry ikut ditahan selama lima tahun dan didenda 5.000 dollar AS karena dianggap melanggar Mann Act [perdagangan perempuan antar negara bagian].

Usia 18 tahun Chuck Berry sempat dijebloskan ke penjara remaja selama tiga tahun akibat percobaan perampokan mobil yang dilakukan bersama dua orang kawannya.

Kebetulan skandal ini akhirnya seperti melengkapi citra buruk rock "n" roll di mata masyarakat untuk pertama kalinya, jauh sebelum lahirnya kekacauan punk rock di dekade '70-an seperti yang dibawa The Sex Pistols. Sebelumnya ada pula skandal Jerry Lee Lewis menikah dengan sepupu perempuannya yang berumur tiga belas tahun dan berikutnya DJ Alan Freed terbukti melakukan praktik payola [membayar DJ demi airplay, Red]. Dengan catatan kriminal sedahsyat ini, siapa berani membantah kalau Chuck Berry adalah sejatinya seorang punk rocker?

* * *

Charles Edward Anderson Berry lahir di St. Louis, Missouri, Amerika Serikat pada 18 Oktober 1926 dan dibesarkan di Ville, satu dari sedikit daerah di jaman itu dimana orang kulit hitam boleh memiliki rumah dan lahan. Ia anak ketiga dari enam bersaudara. Ayahnya, Henry, seorang kontraktor yang juga menjadi aktivis gereja sementara ibunya, Martha, seorang guru. Chuck mulai belajar bernyanyi di sebuah gereja dekat rumahnya ketika berusia enam tahun. Perkenalan pertamanya dengan gitar dimulai ketika bersekolah di Sumner High School yang merupakan SMA kulit hitam pertama di bagian barat Mississippi. Berry belajar gitar tenor bersenar empat dari seorang musisi jazz lokal bernama Ira Harris. Baru di tahun 1950, Berry beralih ke gitar listrik.

Ketika masa SMA, dunia musik hanya sekadar hobi bagi Chuck Berry, walau ia sempat menyanyikan lagu Jay McShann yang berjudul "Confessin" the Blues" di tahun 1941. Belakangan di tahun 1960 ia sempat merekam lagu tersebut bagi albumnya yang bertitel Rockin" at the Hops. Bila sedang tidak membantu ayahnya biasanya Berry menekuni hobinya yang lain yaitu fotografi.

Tahun 1948 di usia dua puluh dua tahun, Chuck Berry menikah dengan Themetta Suggs dan mulai bekerja serabutan untuk menunjang kehidupan rumah tangga barunya. Ia sempat bekerja sebagai buruh pabrik mobil, mengikuti kursus menata rambut di St. Louis Poro School of Cosmetology hingga akhirnya mulai berpikir untuk terjun serius sebagai musisi. Di malam tahun baru tahun 1952, ia diajak bergabung dengan band Sir John"s Trio yang terdiri dari pianis boogie andal Johnnie Johnson dan drummer kawakan Ebby Hardy. Perlu diperhatikan bahwa nama band ini awalnya diambil dari nama Johnnie namun berkat permainan gitar sekaligus showmanship Chuck Berry yang sangat menghibur akhirnya band ini berganti nama menjadi The Chuck Berry Trio.

Mereka manggung rutin di Cosmopolitan Club, St. Louis, membawakan nomor-nomor blues dan balada. Perlahan band kulit hitam ini berhasil menyita perhatian orang-orang kulit putih berkat performa Billy yang selalu menyelipkan musik country dan hillbilly setiap show. Ketika Chuck Berry berkunjung ke sebuah kelab malam di Chicago pada Mei 1955, ia beruntung dapat bertemu idolanya, Muddy Waters. Ia sempat "curhat" dengan legenda blues tersebut tentang masa depan karier musiknya. Sebaliknya Waters malah merekomendasikan Berry untuk bertemu dengan Leonard Chess, pemilik label blues terkenal saat itu, Chess Records.

Akhirnya, dengan berbekal materi lagu-lagu blues karangannya sendiri, Berry menemui Leonard Chess untuk sebuah audisi. Ia berharap bisa mendapat kontrak rekaman darinya. Ternyata Leonard tidak tertarik dengan lagu-lagu blues, ia justru tertarik dengan lagu hillbilly yang berjudul "Ida Red" yang dibawakan Berry saat itu. Chess sendiri saat itu tengah mengalami masa sulit karena pasar musik blues semakin menciut. Mereka mencoba untuk beralih ke segmen pasar baru, rhythm & blues, dengan Chuck Berry diproyeksikan bakal menjadi artis yang bakal booming nantinya.

Setelah merekam ulang "Ida Red" dengan judul baru,"Maybellene" atas usul Leonard Chess, September 1955 Chess Records merilis single tersebut ke pasaran dan ternyata tak diduga "Maybellene" sukses menembus posisi No.5 di Billboard Hot 100 serta terjual lebih dari sejuta keping single-nya. Musim panas berikutnya setelah merilis single "Roll Over Beethoven" yang tak terlalu sukses di charts, Chuck Berry bersama Buddy Holly, Everly Brothers dan sederet pendatang baru rock "n" roll lainnya menggelar tur konser keliling Amerika Serikat untuk pertama kalinya.

Berry memang tipikal penghibur yang ulung jika tengah berada di atas panggung. Selain menggeber lagu-lagu karangannya sendiri disertai pekik gitar elektrik dan vokalnya yang khas, Chuck Berry juga terkenal karena aksi "duck walking" yang ia perkenalkan pertama kali pada tahun 1956 ketika konser di Brooklyn Paramount, New York. "Saya pertama kali melakukannya pada umur sembilan tahun, untuk mencari perhatian saja awalnya," kenang Berry. "Ternyata aksi itu mendapat sambutan meriah, ya sudah, saya lakukan saja terus menerus," ujar Berry di lain kesempatan.

Pada dekade '70-an, Chuck Berry juga terkenal sebagai rocker yang selalu pergi sendirian ketika tur konser kemana saja. Benar-benar sendiri. Hanya membawa koper, gitar dan secarik surat kontrak dari promotor. Tanpa kehadiran band pengiring, manajer apalagi kru. Di dalam riders ia hanya minta dijemput dengan sedan Lincoln Town Car di bandara serta sebuah ampli Fender Bassman.

Jika pihak promotor mengganti dengan sedan limosin, ia akan langsung menolaknya. Begitu juga jika promotor tidak menyediakan ampli gitar yang ia minta, maka akan ada denda 2.000 dollar AS yang harus dibayar di muka oleh sang promotor.

Selain itu, permintaan terakhir Berry biasanya adalah diberikan band pengiring andal yang mampu mengiringi dirinya saat manggung, tanpa harus berlatih sama sekali. Alasannya, selain untuk menghemat uang, Berry juga memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi bahwa semua musisi yang mengiringi dirinya pasti sudah sangat mengenal lagu-lagu karangannya.

Tak hanya itu. Menurut Bruce Springsteen, yang sempat menjadi musisi pengiring Berry di awal kariernya, Chuck Berry setiap manggung tak pernah menyediakan set list [daftar lagu yang dimainkan, Red] dan hanya memberi aba-aba melalui intro gitarnya di setiap lagu. Selain itu, Berry juga tak pernah berbicara dengan para personel band pengiringnya, bahkan sekadar mengucapkan terima kasih setelah manggung pun tidak.

Chuck Berry setiap manggung tak pernah menyediakan set list [daftar lagu yang dimainkan] dan hanya memberi aba-aba melalui intro gitarnya di setiap lagu.

Belakangan gaya tur paradigma lama; minim persiapan dan hanya mengandalkan spontanitas semata ini menuai kritikan pedas dari para penggemarnya. Berry dianggap lebih mementingkan uang daripada mengahdirkan tontonan yang menarik dan berkualitas. Ini karena kerapkali show-nya buruk dan tidak menghibur penonton. Popularitasnya pun mulai menurun drastis.

Pada dekade '80-an, walau Chuck Berry telah bepergian tur dengan band pengiring [anak perempuannya Ingrid Berry memainkan harmonika dan bernyanyi mendampingi ayahnya], namun nama besarnya mulai meredup setelah terjadi regenerasi di kancah rock "n" roll dunia. Sejak rilisnya album studio terakhir, Rock It, di tahun 1979, hingga kini Chuck Berry belum pernah merilis album baru lagi. "Selama bertahun-tahun, saya tidak tertarik untuk mengarang lagu-lagu baru. Saya merasa sangat malas untuk melakukannya," tukas Chuck Berry suatu ketika.

Tahun 1986, penggemar fanatik sekaligus gitaris The Rolling Stones, Keith Richards, berinisiatif untuk menggelar konser akbar dalam rangka ulang tahun ke-60 Chuck Berry di kampung halamannya di St. Louis. Ikut tampil memeriahkan acara di antaranya Eric Clapton, Etta James, Robert Cray hingga Linda Rostandt. Yang mengharukan di konser ini adalah momen reuninya Johnnie Johnson dengan Chuck Berry yang sebelumnya sempat bertikai lama. Setahun kemudian dirilislah film dokumenter esensial tentang Chuck Berry garapan Taylor Hackford yang berjudul Hail! Hail! Rock "N" Roll.

Memasuki awal Milenium ketiga, seperti dikutip dari Jacobson, Chuck Berry sangat yakin bahwa ia bakal panjang umur bersama rock "n" roll. Sejarah membuktikan para anggota keluarganya kebanyakan berusia panjang. Bahkan kakeknya wafat di usia 104 tahun, "dan ia juga perokok," ujar Berry. Chuck sendiri meramal bahwa ia mungkin bakal tetap hidup hingga berumur lebih dari 105 tahun.

"Hey, Elvis! Still here, man!" ujar Chuck Berry seraya menunjuk ke atas langit.

Artikel ini pertama kali dipublikasikan di majalah Rolling Stone Indonesia edisi no.18, Oktober 2006

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  2. Narasi Musik Metal Indonesia di Kancah Dunia
  3. Killing Me Inside Kolaborasi dengan Aiu eks-Garasi, Rilis Single Baru “Fractured”
  4. 10 Film Indonesia Terbaik 2016
  5. Saksikan Foo Fighters Memainkan Lagu Baru, "Lah Di Da"

Add a Comment