Revenge, Menyulut Api Death Metal Tanah Air di Sekeliling Asia

Catatan perjalanan penuh kesan dari ‘Omega Asia Tour 2017’

Oleh
Kelima penggawa Revenge berfoto bersama para metalhead yang memadati Attic Hall di Kwun Tong, Hong Kong. Alvin Eka Putra

Mendengar kabar Revenge akan tampil di luar negeri bukanlah suatu peristiwa baru, namun ketika mengetahui bahwa hal tersebut dikerjakan oleh unit death metal asal Jakarta Timur ini secara berkelanjutan—atau bisa dikatakan cukup intens—adalah momen yang patut diapresiasi secara lebih lagi.

Revenge kembali membuka tahun lewat sebuah tur konser internasional bertajuk Omega Asia Tour 2017 dengan menyambangi beberapa titik seperti Johor Bahru (Malaysia), Bugis (Singapura), Ho Chi Minh(Vietnam), Hanoi (Vietnam), serta Kwun Tong (Hong Kong)—pada Januari 2016 lalu, mereka juga menggempur The Colonial Bar di Kuala Lumpur, Malaysia.

Selain bertujuan untuk mempromosikan album ketiga bertajuk Omega yang dirilis di penghujung 2015 silam, aksi Revenge dalam rangkaian Omega Asia Tour 2017 juga terasa spesial karena dilakukan bersama dengan Hiss from the Moat, sebuah band black / death metal yang dikomandoi oleh drummer James Payne (mantan penggawa Hour of Penance dan Vital Remains).

Saat tur konser ini berlangsung, gitaris Rabindra Femzar Oewen atau akrab disapa Bindra serta bassist Rizky Adityawarman yang biasa dipanggil Awe terpaksa absen karena terhalang beberapa faktor internal. Posisi Bindra lantas digantikan oleh David Salim dari DJIN, dan saya pun mendapat kesempatan untuk mengisi kekosongan pada departemen bass yang ditinggal sementara oleh Awe.

Pada Jumat (6/1) pukul 15.00 WIB, rombongan Revenge yang terdiri dari gitaris Raja Humuntar Panggabean, drummer Auliya Akbar, David, saya, penata rekam Jatmiko Setiawan (Deadsquad, Seringai), serta Alvin Eka Putra—lebih dikenal sebagai drummer Noxa—yang kali ini bertindak menjadi road manager dan tim dokumentasi bertolak ke Singapura.

Vokalis Rifki Bachtiar yang baru saja menyelesaikan waktu berliburnya di Eropa sudah lebih dulu tiba di Kota Singa sehari sebelum kedatangan kami. Sesampainya di Bandara Changi, kami langsung disambut oleh Mikael Loh selaku booking agent yang mengorganisir seluruh panggung Omega Asia Tour 2017 dan keempat personel Hiss from the Moat—Payne, vokalis sekaligus gitaris Gabriel Dubko, gitaris Giacomo "Jack" Poli, serta bassist Carlo Cremascoli—yang telah mendarat beberapa jam sebelumnya.

Revenge dan Hiss from the Moat menghabiskan waktu malam bersama dengan berkeliling kota, menyantap hidangan Chinese food, serta berbincang mengenai berbagai macam hal sampai tiba waktunya kami mendapatkan satu fakta menarik: Payne merupakan seorang hooligan yang siap marah dan melakukan kekerasan kapan saja jika tim sepak bola kesayangannya Liverpool diganjar cacian atau ejekan. Namun di luar alter ego dirinya sebagai penggemar sepak bola garis keras, ia tetaplah pribadi yang ramah dan menyenangkan dalam keseharian.

"Payne merupakan seorang hooligan yang siap marah dan melakukan kekerasan kapan saja jika tim sepak bola kesayangannya Liverpool diganjar cacian atau ejekan."

Sabtu keesokan harinya, tak lama setelah menghabiskan sarapan, kami berangkat dari Singapura menuju Embrace Hall yang terletak di kawasan Taman Tampoi Utama, Johor Bahru untuk melangsungkan konser perdana dalam rangkaian Omega Asia Tour 2017. Venue berlantai dua ini adalah salah satu lokasi di Johor Bahru yang paling ideal dan dikenal untuk menggelar pertunjukan musik arus pinggir. Sang pemilik, Khairul Fahmi, juga memiliki sistem tata kelola tempat yang baik: ia menyediakan kaleng bekas di setiap anak tangga yang berfungsi sebagai asbak, sehingga para pengunjung mempunyai wadah untuk membuang puntung rokok mereka tepat pada tempatnya—sesuatu yang tampak masih terlalu sulit untuk diterapkan di Jakarta.

Matahari tenggelam dan tiket masuk mulai diperjualbelikan. Dua band tuan rumah, Heredes serta Dexolated Asylum, secara berurutan membuka pesta musik metal malam itu. Sementara para personel Revenge dan Hiss from the Moat saling berbagi meja untuk menjajakan merchandise yang dibawa. Lebih kurang pukul delapan malam waktu setempat, giliran kami membombardir panggung Embrace Hall. Intro bernuansa dark ambient yang baru digarap Akbar menggunakan laptopnya saat dalam penerbangan dari Jakarta menuju Singapura mulai berkumandang, tepat sebelum Rifki memberi salam dan memperkenalkan nomor pembuka yang intens dan mengentak, "Hello Johor, we are Revenge from Jakarta, Indonesia! This is, "Everything Dies"!!"

Gitaris Raja Humuntar Panggabean dalam penampilan di Embrace Hall, Johor Bahru, Malaysia. (Alvin Eka Putra)

Agresi lalu diteruskan lewat "Servants of the Myth" selaku single pertama di album kedua bertajuk Prelude to Omega (2010), hingga kemudian tegangan dan kecepatan sedikit dikendurkan oleh anak-anak Revenge. Beberapa lagu dari Omega yang ramuan musiknya lebih berlandaskan pada harmoni, teknik, serta dinamika dibawakan secara medley, yaitu "The New Hysteria", "Flesh and Iron", serta "Dominators Plague". Tiga lagu tersebut juga sekaligus merepresentasikan fondasi baru musik Revenge yang membuat mereka semakin cakap dan berkualitas dalam memerankan tokoh sebagai salah satu garda death metal terbaik di negeri ini.

Tanpa disadari keseruan nyaris tiba di penghujung. Revenge masih menyisakan kejutan bagi metalheads Johor Bahru yang berkumpul rapat di bibir panggung. Udara menipis, suhu memanas, dan tensi kembali meninggi seiring nomor super ketat dan cepat"Global Suffering Disease" dilibas habis oleh kami berlima, sampai akhirnya penampilan Revenge ditutup secara megah bersama gagahnya aransemen "Thanos". Setlist di Embrace Hall ini kemudian menjadi urutan lagu tetap yang kami bawakan di panggung-panggung Omega Asia Tour 2017 berikutnya.

Hiss from the Moat pun menjadi aksi pemungkas dalam pergelaran malam itu. Payne dan kawan-kawan berhasil menyebarkan keriuhan sekaligus menyebabkan suasana menjadi lebih kelam melalui musik dan gimmick—pencahayaan berkilau dari seperangkat lampu yang dibawa oleh mereka sendiri lengkap dengan penggunaan jubah serba hitam oleh seluruh personel—yang diusung.

Seluruh rombongan Revenge dalam rangkaian 'Omega Asia Tour 2017' mengabadikan momen bersama keempat personel Hiss from the Moat.

Minggu (8/1) siang kami kembali ke Singapura untuk menjalani konser Omega Asia Tour 2017 titik kedua di Hood Bar, Bugis+. Bermain di venue besar dan disokong oleh sistem tata suara yang lebih mumpuni jika dibandingkan dengan panggung sebelumnya membuat kami semakin percaya diri. Aksi Revenge dan Hiss from the Moat kala itu juga didukung oleh beberapa unit metal lokal yang tampil beturut-turut; Dyeth, Stalwarts, serta Balberith. Usai menyaksikan aksi berbahaya dari tiga band tersebut, kami lekas bersiap untuk menggebrak panggung.

Malam itu Hood Bar didominasi oleh metalheads paruh baya berwajah tegas dan bengis yang kebanyakan menggunakan cut-offvest dan jaket kulit. Rasa segan sempat menerpa kami di awal, namun nyatanya kehadiran sekaligus sikap apresiatif yang ditunjukkan oleh mereka justru menjadikan aksi Revenge penuh totalitas, tanpa beban, serta berkesan. Di atas panggung, integrasi dan komunikasi di antara para personel berjalan lancar, sehingga energi yang kami salurkan ke penonton dapat tersampaikan dengan baik.

Kami terus bergerak, dan Vietnam, negara dengan penduduk sebanyak lebih dari 95 juta jiwa adalah destinasi kami berikutnya. Senin (9/1) pagi, rombongan Revenge berangkat menuju Ho Chi Minh yang merupakan kota terbesar sekaligus terpadat di Vietnam. Untuk pertama kalinya, kami terkejut melihat kondisi lalu lintas yang, jujur saja, jauh lebih buruk jika dibandingkan Jakarta. Hal itu bisa dinilai dari berbagai faktor, seperti kemacetan, kedisiplinan dalam mematuhi rambu-rambu, hingga standar keselamatan berkendara. Bayangkan saja, mayoritas pengguna motor hanya memakai helm proyek atau yang lebih kita kenal dengan safety helmet. Hampir tak ada yang menggunakan helm open face bahkan full face yang di sini ditetapkan oleh pemerintah kita sebagai Standar Nasional Indonesia (SNI). Meski begitu, kehadiran kami tetap disambut dengan penuh kehangatan oleh beberapa orang Vietnam yang kami temui.

Di Ho Chi Minh, kami bermain di Saigon Acoustic, sebuah bar yang berada di perempatan Jalan Hai Ba Trung. Selain bersama Hiss from the Moat, penampilan Revenge juga dibuka oleh dua band setempat, yaitu Borock dan Mephonic. Sementara satu yang patut dikenang dari malam itu adalah ketidakhadiran Raja yang harus absen dan kembali ke Jakarta akibat pekerjaan yang tak dapat dikesampingkan, sehingga konser dengan formasi kuartet—Rifki, David, saya, dan Akbar—merupakan pilihan terakhir yang mau tak mau mesti ditempuh. Perubahan ini membuat "om Miko", panggilan akrab anak-anak Revenge terhadap Jatmiko, terus mengingatkan kami untuk bermain lebih rapat dan disiplin agar output sound yang dihasilkan tetap memuaskan. Benar saja, dengan mematuhi pesan om Miko tadi, tata suara di dalam Saigon Acoustic tetap dahsyat dan sukses menghibur sekitar 80 metalheads yang hadir hingga mereka tak segan megacungkan devil horn setinggi-tingginya di akhir penampilan Revenge.

Aksi Revenge di Saigon Acoustic, Ho Chi Minh City, Vietnam, tanpa diperkuat gitaris Raja Humuntar Panggabean. (Alvin Eka Putra)

Bahkan, ketika kami sedang bersantai melepas lelah, seorang turis sekaligus scenester metal asal Republik Ceko, Martin Semecky, menghampiri Rifki dan melontarkan pujian, "Awesome performance, man!" Pria berambut panjang yang mengenakan kaus Brutal Assault tersebut tiba-tiba bertanya, "How"s the possibility for you guys to play some shows in Czech?" Tawaran itu kemudian direspons Rifki dengan sejujur-jujurnya, "We would like to, but we"re not full time musicians. So, I think it"s kinda hard for us to organize the European tour."

Perjalanan Revenge setelah melangsungkan tiga konser di tiga kota berbeda dapat dikatakan lancar-lancar saja, hingga akhirnya kami menginjakkan kaki di Hanoi pada Selasa (10/1) sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Akibat panitia yang kurang kompeten dan bertanggung jawab, konser Revenge di ibu kota Vietnam ini terpaksa dibatalkan. Kami tak habis pikir, bagaimana mungkin band yang sudah datang jauh-jauh dari Jakarta dengan membawa bagasi seberat nyaris 70 kilogram, harus mengalah dan merelakan waktu bermainnya pada tiga band pembuka lokal yang justru lebih diutamakan—sebagai informasi, masing-masing band lokal ini mendapatkan durasi tampil selama 45 – 60 menit, sedangkan acara baru dimulai sekitar jam delapan malam. Kami pun diperintahkan naik panggung paling akhir, yaitu pukul 22.45. Dan saat kami tengah melakukan pemanasan, tiba-tiba panitia tersebut dengan gampangnya berkata pada Rifki dan Alvin, "Sorry, Revenge can"t do the show. The authorities will dismiss the gig at 23."

"Sorry, Revenge can"t do the show. The authorities will dismiss the gig at 23."

Usut punya usut, pihak berwenang dan kepolisian pun pada akhirnya tak ada yang datang untuk membubarkan acara. Kami hanya menyimpulkan bahwa panitia murni bekerja secara tidak profesional. Peristiwa menyebalkan semacam inilah yang terjadi. Kami merasa dirugikan, walaupun di satu sisi, keteledoran panitia itu bisa memberikan pengalaman baru—secara khusus bagi Revenge—yang dapat dijadikan pelajaran berharga untuk selalu berhati-hati dalam menjelajahi karier bermusiknya, apalagi pada saat melangsungkan tur konser internasional di masa-masa mendatang.

Tak terasa, rangkaian Omega Asia Tour 2017 telah memasuki babak final. Gerombolan Revenge tiba di Hong Kong—sebagai destinasi terakhir dan satu-satunya daerah di luar Asia Tenggara yang kami sambangi—pada Rabu, 11 Januari siang. Selain melangsungkan konser, kami juga menghabiskan waktu di sana untuk sekadar berlibur sekaligus bersenang-senang, karena Revenge sendiri baru mendapatkan jadwal tampil pada Minggu (15/1) di Attic, Kwun Tong, yang berjarak lebih kurang 11 kilometer dari Mong Kok, tempat kami menginap. Sementara itu, Raja yang sudah selesai dengan segala urusan pekerjaannya segera menyusul kami ke Hong Kong untuk kembali memadatkan formasi Revenge di konser terakhir Omega Asia Tour 2017.

Waktu senggang membuat kami terus berkeliling kota dan mencicipi berbagai kuliner sedap yang tersaji di beberapa kedai makanan, hingga tiba harinya Revenge untuk melangsungkan konser. Kami menyaksikan dua band lokal yang sama-sama tampil mengesankan, baik pasukan hardcore Fight Club maupun unit metalcore Aether. Semangat serta daya gertak yang mereka sampaikan kepada para penonton bisa membuat suhu dingin 15 derajat celsius di dalam Attic malah terasa panas. Tentu saja momentum ini kami sambut dengan baik. Selepas Aether turun panggung, satu per satu dari kami dengan sigap menyiapkan peralatan. Langkah ini kami lakukan guna menjaga para penonton tetap pada posisi masing-masing sekaligus mempersingkat waktu agar tak banyak yang terbuang.

Pentolan Revenge, Rifki Bachtiar, tampil menggebu-gebu dalam konser di Hood Bar, Bugis+, Singapura. (Alvin Eka Putra)

Malam itu perasaan kami juga cukup bercampur aduk; memikirkan kalau ini adalah panggung terakhir dan besok kami sudah harus kembali ke Jakarta untuk menjalankan rutinitas-rutinitas melelahkan. Sebelum beraksi, Alvin memberikan saran kepada kami, "Elo semua harus tampil habis-habisan ya, karena ini panggung terakhir."

Dan yang saya bisa katakan setelah konser berakhir adalah: Revenge menutup rangkaian Omega Asia Tour 2017 di Attic dengan penuh kesuksesan. Tentunya, perjalanan tur di awal tahun ini bisa sekaligus menjadi modal yang tepat bagi mereka untuk terus berusaha menapaki dan menyulut api death metal berkualitas tanah air di kawasan yang belum pernah terjamah sebelumnya, yaitu Amerika Serikat dan Eropa.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  2. Killing Me Inside Kolaborasi dengan Aiu eks-Garasi, Rilis Single Baru “Fractured”
  3. Harry Styles: Superstar Pop Dunia
  4. Jazz Gunung Bromo 2017 Siap Diselenggarakan
  5. Grup Folk Rock asal Bandung, Rusa Militan, Merilis Album Perdana

Add a Comment