Sisi-sisi Afgan

Sang penyanyi akhirnya berani membuka diri yang sesungguhnya setelah hampir 10 tahun berkarier

Oleh
Afgan mulai memberanikan diri menulis lagu pada album 'SIDES' Bayu Adhitya

Pertama kali saya melihat Afgan di atas panggung ialah di tahun 2010, saat saya sedang akan mewawancarai Titi DJ. Saat itu Titi sedang menjalani latihan untuk tampil di Balai Sarbini, Jakarta. Di satu lagu ia ditemani oleh Afgan, yang saat itu sudah sekitar dua tahun dikenal sebagai penyanyi. Begitu Afgan mulai bernyanyi, vokal-nya yang khas itu mengisi ruangan—tebal, soulful, gampang meniti kelokan melodi.

Saya ingat menyaksikan ia dan terpana, menerka dari mana datangnya suara utuh dan bulat dari anak muda yang tampak malu-malu itu. Saya juga pernah menontonnya di Festival JakJazz 2012, sepanggung dengan almarhum Ireng Maulana dan membawakan "Moody"s Mood for Love" yang terkenal sulit itu. Saya ingat Afgan berkata ia grogi karena "lagunya susah", tapi yang saya saksikan kemudian adalah ia mudah saja melibas nada-nada keriting di lagu jazz tersebut.

Giliran berikutnya saya bertemu Afgan adalah pada pertengahan November lalu. Bersama band di studio Erwin Gutawa, Jakarta Selatan, ia sedang menyiapkan diri untuk sebuah konser di Esplanade – Theatres on the Bay, Singapura, pada 20 November lalu. Bulan-bulan sebelumnya diisi dengan tur di Indonesia dan konser di Malaysia. Ini semua demi album keempatnya, SIDES, yang dirilis pada tahun lalu.

Gaya bicara Afgan lembut, cenderung halus. Kadang di matanya ada perasaan ragu atau malu saat berkata-kata. Tapi saat latihan, itu semua digeser oleh sikap yang tegas. Saya bertanya kepada Andi Wintha, dari PT. Trinity Optima Production (label rekaman Afgan), siapa music director untuk konser ini. Wintha menjawab, "Afgan, bareng mas Kitut [penulis lagu yang biasa bekerja dengan Afgan]." Saya melihatnya berdiri di tengah-tengah, dikelilingi para pemain band dan penyanyi latar. Matanya awas dan wajahnya serius di setiap lagu. Beberapa kali di depan cermin besar ia melatih gerakan tari bersama dua penari, yang nantinya akan tampil di Esplanade juga. Hal yang sama terjadi pada hari konser di Singapura. Saat geladi bersih di Esplanade, di wajahnya masih terlihat campuran antara rasa khawatir, tegang, dan bersemangat.

Tapi beberapa jam kemudian, saat konser berlangsung, semua itu diganti mimik yang sama sekali lain. Kalau ada satu tempat kita bisa melihat Afgan menjadi Afgan, itu adalah di atas panggung. Matanya bersinar terang dan senyumnya menyala-nyala. Segala tegang dan khawatir itu tak ada bekasnya. Afgan terlihat rileks dan murah senyum. Ia mengisi jeda antara lagu dengan cerita-ce-rita soal bagaimana lagu "Kunci Hati" lahir (ada di tengah kemacetan membuat Afgan ingin menulis lagu yang bisa menghibur sesama "korban" macet), atau bahwa SIDES diisi lagu-lagu tentang hidupnya, juga tentang, "patah hati, patah hati, dan patah hati".

Penonton Singapura terkenal cenderung pasif. Ruangan konser Esplanade yang megah dengan kursi mungkin menambah sikap itu. Sambutan penonton kepada Afgan tidak pernah terlalu ramai di lagu-lagu awal. Bunyi jeritan dan tepuk tangan meriah baru muncul saat lagu-lagunya yang sudah populer dimainkan, misalnya "Bukan Cinta Biasa". Ketika Afgan membawakan lagu cover yang terkenal pun (medley lagu Michael Jackson atau "24K Magic" dari Bruno Mars—lagu yang sesungguhnya sulit dinyanyikan ini tampak enteng di tangan Afgan) penonton tetap tampak biasa-biasa saja.

Lagu balada cinta dan Afgan memang lama seperti saling melekat. Sejak pertama muncul dengan "Terima Kasih Cinta" dan "Sadis" (2008), lagu-lagu hits berikutnya tak jauh-jauh dari situ. "Bawalah Cintaku" dan "Bukan Cinta Biasa" sama-sama meledak di 2010, lalu menyusul "Jodoh Pasti Bertemu" di 2013. Di antaranya ada pula hits "Panah Asmara" dan "Dia, Dia, Dia" yang tergolong cukup upbeat, tapi publik memang kadung mengaitkan Afgan dengan lagu-lagu sedih soal patah hati.

Setelah tiga album dan hampir sembilan tahun di musik Indonesia, di Agustus 2016 Afgan mengeluarkan a1lbum SIDES. Separuh pertama album ini adalah lagu-lagu yang lepas dari citra Afgan si pelantun balada itu. "Rollercoaster" dan "Knock Me Out" (dirilis sebagai single sejak 2015) adalah lagu-lagu R&B yang daya pikatnya kencang, "Count on Me" seolah bisa menyusup masuk album Boyz II Men, sementara "Berani Sadari" (bersama Yura Yunita dan Rayi Putra) kental dengan rasa acid jazz. Semua lagu ini seolah dilahirkan di era "90-an—era musik favorit Afgan—dan inilah pernyataan besar dari salah satu penyanyi Indonesia terbaik ini: untuk pertama kalinya ia muncul sebagai pengarang lagu (menulis 10 dari 13 lagu di album), dan ia membawa warna musik yang sudah berkobar dalam dirinya sejak lama.

Afgansyah Reza lahir pada tahun 1989 dari orang tua yang sama-sama berprofesi dokter. Sedari dulu ibunya menggemari musik R&B dan soul, serta rutin membeli kaset untuk Afgan. Dari situ Afgan berkenalan dengan lagu-lagu Stevie Wonder, Whitney Houston, dan Michael Jackson. Beranjak remaja, beragam boyband, The Corrs sampai Janet Jackson ia akui menjadi pengaruh besar baginya.

Afgan menyebut ibunya banyak berpe-ran dalam kariernya. "Dia juga yang mengelola keuangan dan bisnis saya," kata Afgan. "Selera musiknya pun bagus. Setiap saya menulis lagu, saya perdengarkan ke dia. Beliau punya masukan yang buat saya masuk akal dan satu visi dengan saya. Maka saya selalu mendengar pendapat Mama."

Dengan seorang kakak dan dua adiknya ia sering berbagi soal referensi musik. "Musik itu sangat menyatukan kami. Selera yang cewek-cewek [kakak dan adik Afgan] sama, indie dan alternatif. Kalau adik cowok saya lebih ke EDM. Saya sendiri sering nggak sampai kalau dengar [musik] alternatif, ha-ha. Lebih satu referensi dengan adik saya yang kecil," jelasnya.

"Saya waktu kecil cenderung pendiam, nggak terlalu banyak bermain," kata Afgan lagi. "Diam di kamar, mendengarkan musik lewat kaset, dan bisa masuk ke dunia sendiri setiap mendengar musik. Saya kadang kangen perasaan mendengarkan musik se-perti itu lagi. Karena kalau sudah masuk industri perspektifnya berbeda, sekarang ini sudah jadi pekerjaan."

Kenikmatan mendengarkan musik pernah membuatnya membawa boombox ke sekolah saat ia di bangku SMP. Diangkut di dalam kantung plastik, boombox disetel di jam istirahat dan teman-temannya bisa mendengar musik pilihannya. Kebiasaan memberikan rekomendasi musik ini te-rus berlanjut sampai sekarang, kata Afgan. "Itu kenapa saya ingin belajar main DJ," sambungnya sambil tertawa. "Saya ingin orang-orang suka mendengarkan lagu-lagu yang saya pilih."

Soal menyanyi, Afgan ingat saat SMP ia sudah bisa mengikuti nyanyian Stevie Wonder atau Brian McKnight. "Tapi tidak ada yang tahu itu, karena saya malu," kenangnya. Saat SMA ia memberanikan diri untuk ikut ajang Indonesian Idol. Afgan diterima, tapi proses untuk level berikutnya saat itu bentrok dengan konser Muse yang tiketnya sudah ia beli. Ia memilih kabur nonton Muse. Afgan ingat kemudian ada staf dari production house yang memproduksi Indonesian Idol meneleponnya dengan nada marah. "Pada saat itu sih lebih penting [saya] nonton konser Muse, ha-ha. Jadi batal ikut Indonesian Idol," katanya.

Hidup Afgan mulai berubah saat ia tiba-tiba ditawari rekaman album oleh seorang produser, yang mendengarnya menyanyi di sebuah studio. "Terima Kasih Cinta" langsung melejit ke nomor satu tangga-tangga lagu Indonesia, dan sejarah ka-riernya dimulai. Saat itu Afgan belum pernah menyanyi secara profesional. Belum pernah sekali pun merasakan ada di atas panggung dan ditonton orang.

"Waktu itu saya merasa bingung, merasa amatir yang nggak tahu apa-apa," kata Afgan. Ia kurang tahu soal bergaya dan bicara di atas panggung. Ia ingat saat itu adalah masa-masa orang tidak percaya pada kemampuannya. Karena kaku setiap me-nyanyi, beberapa pihak ogah mengundang-nya tampil. "Waktu itu saya lebih banyak diam di atas panggung. Ujung-ujungnya memang yang berbicara adalah pengalam-an. Semakin lama dan semakin banyak peng-alaman, saya semakin tahu apa yang harus saya lakukan di atas panggung. Panggung itu jadi milik saya. Jadi memang harus melewati itu dulu," katanya.

Yang publik kemudian tahu, saat itu Afgan adalah salah satu pendatang baru menjanjikan. Dalam dua tahun ada dua album yang dirilisnya, masing-masing membuahkan hits yang tak sedikit. Seperti gaya panggung, kemampuannya menyanyi juga terdengar semakin baik (bandingkan "Terima Kasih Cinta" dengan "Bukan Cinta Biasa"). Di album ketiga ia berganti label rekaman, dari WannaB Music Production ke Trinity Optima Production. Yang publik tidak tahu adalah saat itu Afgan mulai merasakan dorongan untuk bergeser dari citranya yang sudah terbentuk.

Saat itu ia merasakan "ada banyak takutnya," katanya. "Waktu saya masuk industri, masih anak 18 tahun, masih kekanak-kanakan. Saat itu saya didoktrin harus membuat senang penggemar saya, harus membuat orang senang." Begitu ia ingin mengeluarkan sesuatu yang berbeda, Afgan selalu mendapat pertanyaan "Yakin?" yang lalu membuatnya ragu. Lama-lama ini menumbuhkan rasa tidak percaya diri. "Secara psikologis saya merasa saya bisa menentukan atau membuat keputusan berdasarkan insecurity. Dulu saya ditekan, apa yang saya mau jangan sampai… Selalu ada bumbu-bumbu "Yakin? Nanti begini-begini lho"," lanjutnya.

"Bukannya tidak bersyukur, tapi selama itu saya menahan ego saya sebagai artist, menahan untuk kepentingan komersial," katanya. Semakin lama di dunia music ia merasa bakatnya belum digunakan sepenuhnya. "Bakat saya menulis lagu, mengaransemen, dan menjadi produser musik saya tahan dan saya anggap tidak ada. Di tiga album kemarin, saat orang-orang bilang itu Afgan banget sebenarnya justru sisi saya yang sesungguhnya belum terlihat."

Untuk kisah selengkapnya silakan baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 142 Februari 2017.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. 17 Lagu Indonesia Bertema Kebangsaan Terbaik
  2. Kahitna, Slank, hingga Superman Is Dead Siap Ramaikan Synchronize Fest 2017
  3. Rich Chigga Siap Tur Konser Keliling Amerika Serikat Kedua Kalinya
  4. Pesta Death Metal Maksimal di Everloud III
  5. Bag Raiders, Pendulum dan Colour Castle Akan Tampil di Bestival Bali 2017

Add a Comment