Soundwaves: Konser Musik Tanah Air Liztomania

Membuat Jakarta lebih menyenangkan ala Ridho Hafiedz.

Oleh
Ridho Hafiedz Dok. Ridho Hafiedz

Acara musik Liztomania muncul dari ritual obrolan kasur saya dan pasangan saya , Ony Seroja-Hafiedz. Ia bilang tentang ide membuat acara di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Ide dasarnya adalah acara yang artistik dan intim. Banyak sekali pertimbangan yang membuat kami kemudian menentukan untuk punya konsep yang kuat.

Eugene Panji adalah nama yang pertama muncul sebagai art director. Dia dipilih karena kami sudah pernah bekerja sama di video musik “Ngangkang”. Pemikirannya pun seringkali out of the box. Persepsi kami yang sama membuat proyek ini berjalan: sama-sama kaum urban, cari makan di Jakarta, tapi sering mengeluh tentang Jakarta. Kami ingin membaliknya, bagaimana cara berterima kasih untuk Jakarta yang sudah menghidupi kami dan keluarga? Kami bikin Jakarta jadi tempat yang lebih menyenangkan. Akhirnya kami sepakat GKJ adalah tempat untuk Liztomania.

Ini masuk akal, karena GKJ memiliki nilai historis yang tinggi. Dibangun pada 1821 oleh Gubernur Jenderal Batavia Herman Willem Daendels, GKJ sempat menjadi gedung sekolah, gedung pertemuan, teater. Pada perjalanannya, GKJ tidak hanya berdiri sebagai saksi seni dan budaya tapi juga menjadi tonggak sejarah peradaban bernama Indonesia.

Di pertengahan 2015 kami dan Eugene mulai intensif bertemu untuk memperkuat konsep acaranya. Tugas saya adalah mengkurasi musisi yang akan tampil dan Eugene memikirkan konsep seninya. Kami berharap setiap orang yang hadir di Liztomania akan mendapatkan pengalaman seru dari sebuah pertunjukan dengan dukungan tempat yang keren.

Konsep besar lainnya adalah kami ingin memasukkan budaya pop ke dalam GKJ. Supaya bisa menarik banyak pengunjung ke GKJ, kami berpikir untuk mengajak musisi yang biasanya tampil di tempat besar dan dengan konsep yang keren. Ony menawarkan nama “Liztomania” ketika kami akan bertemu dengan pihak  sponsor, berarti orang yang kecanduan mendengarkan musik. Jadi tugas kami adalah menyuguhkan musik yang bagus untuk mereka.

Dalam perjalanannya ternyata tidak mudah untuk merealisasikan Liztomania. Birokrasi kompleks masih kental. Kendala soal tempat adalah hal pertama yang kami hadapi. Kami mengirimkan empat proposal dan selama berbulan-bulan tidak mendapat respons. Ini sempat membuat status kami dengan pihak sponsor tidak menentu. Setelah kami cek, ternyata GKJ dikelola oleh Pemerintah DKI Jakarta. Maka jalan satu-satunya adalah dengan bertemu DKI 1: Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Sebelum bertemu dengan Gubernur, saya membayangkan hanya bertemu santai untuk membicarakan acara ini yang memang niatnya menjadi kalender wisata Jakarta. Ternyata saat rapat yang hadir adalah Gubernur Ahok, petugas pajak, Smart City, Trans Jakarta, dan pengelola GKJ.

Ngobrol dengan Ahok bukan tanpa berdebat, dia sempat meragukan keamanan jika Slank berkonser di GKJ. Tapi adalah hak saya dan teman-teman sesama musisi untuk main di situ. Saya jawab, soal keamanan kami yakin pihak kepolisian bisa mengurus dan kekhawatiran tentang Slankers adalah tanggung jawab saya. Saya tahu kebiasaan Slankers, mereka bisa mengerti mana konser yang mereka bisa datangi dan mana yang tidak.

Akhirnya Liztomania siap digelar dan Slank menjadi pengisi acara edisi perdana tanggal 18 September 2016 dengan judul “Not For Sale”.  Judul ini dipilih karena kami capai juga dibilang band plat merah! Kami masih jiwa-jiwa yang tak terbeli, masih ada di parlemen jalanan. Semoga Tuhan selalu bersama kami. Alhamdulillah, dalam tiga hari tiket sudah terjual lebih dari 50 persen, dan dalam sepuluh hari tiket habis terjual. Sebagian penjualan tiket Liztomania kami sumbangkan untuk Institut Musik Jalanan (IMJ). Kami juga memberi kesempatan bagi talenta-talenta dari IMJ untuk berkolaborasi.

Untuk konsep panggung di volume 1 kami membuat konsep organik. Properti nyata dibawa ke atas panggung, mulai dari sofa, gerobak, warung kaki lima, hingga dua unit bajaj. Ada pula teman-teman yang membantu dalam acara pertama ini, yaitu Tio Pakusadewo, Radhar Panca Dahana, Marsha Timothy, Christabel Annora, dan Nikita Mirzani. Mereka patut mendapat penghargaan dari saya.

‘Belum sempat bernapas’ kemudian kami berlanjut ke Liztomania Vol. 2. Kali ini benang merahnya adalah perjalanan karier Glenn Fredly, dengan judul Renjana. Membawakan sekitar 16 lagu, Glenn berkolaborasi dengan Sinyo, vokalis dari IMJ.  Membuat rangkaian dongeng tentang Jakarta dan betapa berartinya Jakarta untuk Glenn adalah suatu kehormatan bagi saya dan tim. Kesuksesan acara kali ini saya ukur dari jeritan para perempuan yang tak putus-putus. Walau mereka juga menurut pada Glenn, saat disuruh tenang mereka langsung patuh.

Hasil kerja dengan ganjaran apresiasi dan resensi yang bagus dari penonton dan berbagai pihak membuat saya tidak punya nyali untuk berhenti. Saya dan teman-teman membuat apa yang kami bisa. Tapi pada kenyataannya butuh kesadaran kolektif dari kita semua untuk bisa melanjutkan acara ini dan ikut melestarikan aset para seniman.

Harapan gue dengan membuat acara ini adalah semoga ekosistem musik di Indonesia bisa bergerak lebih positif. Kalau kita hanya berpikir untuk diri sendiri, ekosistem ini lama-lama akan mati. Ini adalah bentuk penghargaan saya gue kepada musisi tanah air.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. 5 Cerita Tentang Lagu-Lagu Efek Rumah Kaca
  2. Sick Of It All: "Sepertinya Donald Trump Sengaja Ditempatkan untuk Melumpuhkan Negara"
  3. Movie Review: Posesif
  4. Bersenang-senang di Perhelatan Oktobeerfeast 2017
  5. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa

Add a Comment