CD Review: Morfem - 'Dramaturgi Underground'

Oleh

Penemuan formula jitu

Tiga tahun setelah Hey, Makan Tuh Gitar! ditelan dengan baik oleh konsumennya, kuartet rock ibu kota Morfem kembali dengan bunyi yang lebih berisik lewat Dramaturgi Underground. Ini merupakan album ketiga dari vokalis Jimi Multhazam, gitaris Pandu Fuzztoni, drummer Freddy Warnerin, dan yang pertama bagi pemain bas Yusak Anugrah. Keempat personel tersebut seakan telah menemukan formula yang jitu dalam melarutkan elemen rock, noise, juga post-punk ke dalam karya-karya mereka. Dua lagu yang masing-masing berjudul "Audisi Sebuah Opera" dan "Roman Underground" dengan cermat membalut kebisingan Morfem dengan irama yang romantis. Ada pun Pandu boleh berbangga hati lantaran dirinya berhasil mempersembahkan eksperimen-eksperimen gitar yang begitu nyentrik seperti pada lagu "Anabastestudineus" dan "Memento". Materi-materi dalam Dramaturgi Underground kian memperjelas bahwa keahlian Jimi dalam menulis lirik tidak lagi menjadi keistimewaan yang berdiri sendiri di tubuh Morfem. Album ini memuat total delapan lagu di mana tiga di antaranya--"Kuning (Rumahsakit cover)", "Jungkir Balik", dan "Tersesat di Antariksa"--sudah dirilis secara eceran sejak 2015 silam. Ada sedikit rasa kecewa ketika lagu-lagu yang sudah berusia lebih dari satu tahun itu tetap dimasukkan ke dalam album. Meski pada kenyataannya memang tidak bisa dipungkiri bahwa "Jungkir Balik" dan "Tersesat di Antariksa" adalah salah dua karya terbaik Morfem sejauh karier mereka yang telah menginjak tujuh tahun.

Editor's Pick

Add a Comment