Tiga Menguak Usmar

Mengulas tiga film legendaris Usmar Ismail yang hingga kini masih jarang disaksikan publik

Oleh
Usmar Ismail saat berada di Mesir pada 9 Mei 1964. Sinematek Indonesia

Tak terbantahkan, Usmar Ismail adalah sineas yang paling dirayakan dan menjadi salah satu referensi utama dalam sejarah perfilman kita. Hari pertama syuting film ketiganya, yang acap dibanggakan sebagai film pertamanya, Darah dan Doa (1950), dinobatkan dan dirayakan tiap tahun menjadi Hari Film Nasional. Lewat Djam Malam(1954), yang disebut-sebut sebagai film terbaiknya, terpilih untuk direstorasi total dan masuk dalam program bergengsi Classic Cannes 2011. Yang terkini, Tiga Dara (1956) yang acap diputar nyaris tiap tahun setiap Maret, direstorasi dan sempat diputar lagi di bioskop komersial di kota-kota besar Indonesia. Tentu hal ini membanggakan. Usmar dan karya-karyanya menjadi jembatan dan jendela bagi anak muda untuk melihat sejarah budaya negerinya.

Yang saya takutkan adalah, semoga belum terjadi, menjadikan Usmar Ismail sebagai artefak beku yang statis yang bahkan dimitoskan. Hampir setiap orang mengulang lagi kisah-kisahnya, tanpa dikritisi dan ditafsir ulang, dengan mengutip sumber-sumber yang sama. Semoga ini bukan kemalasan intelektual dan jurnalistik, tetapi lebih kepada susahnya menembus akses dan keberadaan film-filmnya. Tapi saya kira, Pedjuang (1960)atau film-film transnasionalnya seperti Korban Fitnah (1961) dan Bajangan di Waktu Fadjar (1962), yang masih bisa diakses, tak kalah pentingnya dengan judul-judul di atas. Tetapi, selain film, tentu ada bertumpuk-tumpuk arsip yang teronggok di Sinematek Indonesia, Perpustakaan Nasional dan banyak lagi, siap untuk dikaji dan ditafsirkan.

Usmar Ismail berpose bersama Ibu Fatmawati dan bintang film AS, Marlon Brando ketika ia mengunjungi kediaman ibu negara di Kebayoran Baru. (Aneka Nomor 6/VII 20 April 1956 )

Misalnya, Usmar selalu dibahas dari sisi yang itu-itu lagi. Sebagai "Bapak Film Indonesia," ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin (Lesbumi) NU, dengan memutar film yang itu-itu juga, khususnya film-film awalnya. Padahal, saya yakin, di zaman yang sangat dinamis dan penuh pergolakan budaya dan intelektual itu, kiprah Usmar tidaklah sesederhana itu. Termasuk pemilihan tanggal 30 Maret sebagai Hari Film Nasional, tidaklah semudah "turun dari langit", karena penuh gejolak adu kepentingan ideologis dengan pihak-pihak lain, termasuk LEKRA.

Misal lainnya, ketika Tiga Dara yang adalah film terlaris di eranya disambut lagi pada 2016, sedikit yang ingin menjelajahi bahwa sebenarnya Usmar sudah membuat film laris pertamanya, Krisis(1953), yang sayangnya memang sudah lenyap dari muka bumi ini. Tapi, Lagi-Lagi Krisis (1955), sekuelnya, sebenarnya masih bisa diakses walau kualitas gambarnya jelek.

Atau, bagaimana dengan film-film dan masa-masa terakhirnya? Misalnya, dari tulisan karyawan Perfini, Syamsul Fuad (Post Film Minggu, 13/01/1971) dan MH Yusuf (Majalah Film, Januari 1991), dan jurnalis Tony Valentino (Pikiran Rakyat, 3/01/1988) didapati info-info menarik seputar tahun-tahun dan hari-hari terakhir Usmar, yang lebih kurang memengaruhi proses kreatifnya di pembuatan film.

Misalnya, sejak 1967, Usmar yang pening karena dunia perfilman sedang lesu, banting setir membuat Miraca Sky Club, di Sarinah, yang menjadi salah satu kelab malam pertama di Indonesia. Kelab malam ini, pada masa itu, adalah sesuatu yang segar, karena dianggap berhasil membangun kehidupan malam di Jakarta dan turut membantu Pemprov DKI dalam menarik wisatawan mancanegara mengingat Jakarta adalah "pintu gerbang Indonesia dan kota turis internasional."

Pada hari-hari terakhirnya, akhir Desember 1970, di saat Usmar masih mensulihsuarakan film Ananda (1970), diceritakan Miraca mengalami kerugian, dan dilikuidasi oleh Sarinah, dan ia harus memecat 100-an dari 160 karyawannya. Dan ia, yang dikenal karena memperlakukan dan membela para karyawannya dengan baik, tetap dihormati dan dianggap panutan oleh para bawahannya. Dinamika akhir 1960-an itu berpengaruh pada film-film terakhirnya. Bahkan, Gubernur DKI Ali Sadikin (1966-1977) ikut menjadi cameo dalam Big Village (1969), tanda keduanya saling mendukung.

Usmar Ismail, kritikus/anggota juri Gayus Siagian, Turino Djunaedi dan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada Festival Film Asia Pasifik 1970 di Jakarta. (Sinematek Indonesia)

Tentu saja tulisan ini tidak sedang menjelekkan nama harum Usmar. Justru sebaliknya, tulisan ini hendak mengemukakan sisi lain dari Usmar, yang dengan tajam mengobservasi dan bahkan menguliti tema lain: fenomena urbanisasi dan globalisasi yang dialami oleh manusia Indonesia.

Berikut tiga film yang jarang diulas, yang menunjukkan kekayaan sudut berbeda khazanah pemikiran dan karya Usmar.

Lagi-Lagi Krisis (1955): Usmar, Tukang Sindir Nomor Wahid
Jika Salim Said pernah menjuluki Nyak Abbas Akub sebagai "Tukang Sindir Nomor Wahid", saya turut mengamininya. Tapi, gurunya, Usmar Ismail yang juga memproduseri Heboh (1954) dan Tiga Buronan (1967, dibintangi Bing Slamet), juga tak kalah lihainya. Banyak orang lantas memuji komedi cerdas Usmar di film Tamu Agung (1955), dan Krisis (1953) yang kabarnya kocak dan salah satu film terlaris pada zamannya. Untunglah saya menemukan Lagi-Lagi Krisis yang diedarkan hampir bersamaan dengan Tamu Agung.

Usmar Ismail saat memberikan arahan kepada Wahid Chan dan Risa Umami saat menyutradarai film `Krisis` pada 1953. (Sinematek Indonesia)

Awal dari film ini mengisahkan tentang Husin bin Said yang menjadi dukun palsu (barangkali mengilhami film Dukun Palsu pada 1973 yang dibintangi Bing Slamet?) sedang memasang papan reklame "Ahli Batu dan Dukun Urut," lengkap dengan informasi "sanggup mengusir setan". Ini dilakukan karena dia merasa bermimpi didatangi oleh Sunan Kalijati. Maka berbondong-bondong datanglah pasien yang ingin meminta nasihat dan bantuan spiritual, mulai dari calon bintang film dan calon produser film, hingga yang berambisi menjadi Atase Kebudayaan (yang kebetulan diperankan oleh Rosihan Anwar).

Dia bertetangga dengan pasutri Jaka Prawira-Mariam, lengkap dengan dinamika suami istri (mengingatkan akan Kejarlah Daku Kau Kutangkap?), dan didominasi oleh mertua mereka, RA Berlian yang anti "anak wayang", alias segala profesi yang berhubungan dengan dunia film. Dan kebetulan sang dukun palsu ini punya kawan lama seorang veteran aktor, Pedro. Maka, sang dukun pun mendesain sebuah siasat jaringan kerja, dan membuat semua pasiennya bekerja sama membuat sebuah film musikal yang mengadopsi film Si Bongkok alias Hunchback from Notre Dame.

Mungkin inilah film pertama tentang dunia film. Mengkritisi fenomonema "anak wayang", segala profesi yang berkaitan dengan perfilman. Stereotip "anak wayang" memang kala itu mengandung hal negatif, seperti yang diungkapkan Tanete Pong Masak dalam buku terbarunya, yang dianggap berkaitan dengan dekadensi moral. Ada trivia-trivia menarik, seperti "rekaman di Studio Perfini, sewa studio Rp 200 sehari."

Film ini penuh dengan makian seperti "keparat", "bedebah", "celaka". Kritikan sosial bahkan politik yang halus acap terjadi. Misalnya, ada polisi datang, dan sang tetangga pun berbisik "sudah bayar iklan reklame, belum?" Dalam satu adegan, Pedro mabuk, dan terjadilah dialog satir ini: "Alkohol itu juga racun!" "Asal jangan mabok sendirian!" Tukang sindir nomor wahid.

Big Village (1969): Usmar dan Kehidupan Malam
Kenakalan remaja, balap liar, pacaran, kehidupan malam di kelab malam, termasuk adegan berkelahi di Bar (saat band mirip Dara Puspita manggung di sana) adalah bagian dari film ini. Bahkan dengan eksplisit disebut: "Mari kita ke Miraca Sky Club!," kelab milik Usmar.

Fokus film ini adalah sebuah keluarga kaya dan sukses namun hampa. Partoyo adalah direktur perusahaan besar yang sibuk dengan ambisinya sendiri, bahkan tidak tahu anak gadisnya kabur dengan seorang penyanyi terkenal (diperankan oleh Koes Hendratmo muda) dan tidak menghadiri perayaan 20 tahun perkawinan karena rapat dengan calon mitra bisnis dari luar negeri. Dia juga kesengsem dengan karyawatinya yang berasal dari kampung kumuh dan harus menghidupi ibu dan ke-9 adiknya. Sementara putranya terjebak dalam pelacuran dan perjudian, yang memaksanya untuk merampok bank. Yang menarik, ada sosok wartawan idealis yang ingin sekali membongkar "kebejatan" Paryoto, namun korannya berisi gambar setengah porno agar tetap terbit.

Seluruh karakter menjadi ensambel yang menarik yang mengetengahkan Jakarta yang sedang menuju modern dan cenderung liberal, penuh dengan kehidupan malam dan perjudian. Nampaknya ini untuk menggambarkan era Gubernur Ali Sadikin yang kala itu hendak melokalisasi perjudian dan juga mendadani Jakarta dengan gaya hidup Barat. Karena "Daripada mereka ke Singapura, lebih baik kita buatkan saja di sini, agar uangnya tetap berputar di sini." Dan benar, ada cameo Bang Ali yang dengan busana serba putih blusukan ke kampung-kampung kumuh. Pertentangan nilai modern-tradisional sengit terjadi. "kalau tidak ciuman, tidak modern," kata Koes kepada pacarnya, yang diperankan Alice Iskak. Rachmat Hidayat, sang pemeran utama kemudian terpilih menjadi Aktor Terbaik versi PWI 1971.

Ananda (1970): Usmar Sang Feminis
Film pertama Lenny Marlina yang masih 16 tahun, dan film terakhir Usmar Ismail. "Setelah menggeluti dunia film selama 20 tahun baru kali ini saya menemukan yang saya cari: Lenny Marlina," begitu ujar Usmar, mengilustrasikan betapa dahsyatnya akting perdana (dan daya sensual) Lenny muda.

Di sini, Usmar mengkritisi pandangan partriarkal yang mendominasi pandangan-dunia Indonesia. Berkisah tentang Ananda, wanita cantik istri simpanan seorang pejabat, yang dengan tragis ia matikan di menit-menit awal, dibunuh oleh salah satu pria yang menyukainya, yang tak kita kenali wajahnya, sesaat setelah dirinya mendeklarasikan pekerjaannya yang "melelang tubuhnya untuk yang memberikan harga tertinggi".

Irma alias Ananda, awalnya menjadi penjual pisang goreng keliling, adalah gadis lugu pinggiran kota Jakarta yang menjadi incaran para pria yang tergiur dengan tubuhnya. Para penonton pria, sepertinya, juga akan terpana dengan screen persona-nya. Orang tuanya, khususnya ibu tirinya, selalu menyalahkan dia dan menuduh dirinya yang bukan-bukan, kalau sekadar ingin merias diri atau membeli barang baru dari tabungannya sendiri.

"Jangan mau terima apapun dari laki-laki karena ada maunya," ujarnya suatu ketika. Pernah ia ingin diperkosa oleh tetangganya, namun dia yang disalahkan, sebuah tipikal pikiran orang Indonesia. Dia berharap ada pria yang menyelamatkannya dari nasib sebagai upik abu alias Cinderella, namun, mereka semua selalu menginginkan seks.

Setidaknya ada dua pria yang tulus mencintainya. Yang pertama adalah seorang petugas keamanan di kelab malam yang sebenarnya tak mau bekerja di sana karena bertentangan dengan hati nuraninya. Namun ia yang miskin itu lebih memilih menikah dengan anak orang kaya, demi kelangsungan kuliahnya. Yang kedua, adalah seorang wartawan yang umurnya dua kali lipat darinya, dan tak berani menikahinya karena sudah punya keluarga, padahal Ananda tidak keberatan menjadi istri keduanya.

Maka, ia yang semua idealis mencari cinta, menjadi sangat pragmatis dan materialistis, dan memilih untuk bekerja di kelab malam. Adegan puncak adalah ketika Ananda, dalam keramaian dugem, mempreteli bajunya satu persatu sambil berteriak histeris: "Mau ini? Mau lihat ini? Mana dulu duitnya dooooong!"

Sekali lagi, suasana kehidupan malam yang penuh dengan alkohol, narkoba, dan seks bebas, termasuk ciuman bibir, tersebar di mana-mana. Tentu saja, adegan, cerita, dan cara bertuturnya tidak terjebak menjadi murahan. Sentuhan Usmar yang kritis dengan kehidupan (sok) modern Orde Baru yang masih berusia dini dan kental dengan nilai-nilai materialistik itu sangat kentara.

Juru kamera R. Husin dan Max Tera serta Usmar Ismail saat di lokasi film. (Sinematek Indonesia)

Usmar sendiri, bersama Asrul Sani, termasuk yang gigih melawan lembaga sensor yang terkadang kelewatan hingga bisa menghalangi ekspresi dan ide-ide yang ingin disampaikan sineas dalam filmnya. Film ini sebenarnya masuk dalam genre prostitusi-seperti yang diformulasikan oleh Krishna Sen, satu kotak dengan Bernafas dalam Lumpur (1970) dan Bumi Makin Panas (1973) yang acap dikutuk itu.

Usmar sendiri, walau pun ia aktivis Islam dan pendiri Lesbumi, adalah sosok yang tak mau dibatasi sensor sejak dulu. Dia menulis di Star News 1955 berjudul "Film Sensur Janganlah Merupakan Polisi Susila" dan menekankan bahwa "Masyarakat takut dengan bayangannya sendiri", dan dengan tegas menanyakan: "Siapa yang najis? Film atau pembuatnya?" Film ini sukses meraih dua piala di Festival Film Asia 1971, kategori Tema dan Pendatang Baru Terbaik.


*Penulis adalah Kandidat Doktor Kajian Film, University of East Anglia dan Dosen jurusan Film, Universitas Binus.

Editor's Pick

Add a Comment