Dee Lestari

Penulis novel yang berhasil keluar dari bayang-bayang masa lalu sebagai penyanyi dan kini menikmati bukunya diadaptasi ke film

Oleh
Dee Lestari. Bentang Pustaka

Pada 2001, Dee Lestari meluncurkan buku pertama yang diberi judul Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, keping awal heksalogi Supernova. Kehadirannya seakan menjadi angin segar bagi dunia sastra Indonesia. Gaya menulisnya canggih, penggabungan teori ilmiah dengan fiksi modern. Dewi menghapus pandangan publik tentangnya sebagai penyanyi yang tergabung dalam grup Rida Sita Dewi menjadi seorang penulis dengan masa depan cemerlang.

Lima belas tahun kemudian, wanita yang kini berusia 40 tahun itu menjawab ekspektasi yang dibebankan kepadanya. Buku-bukunya penjualannya laris dan tetap mempertahankan kualitas yang membuatnya melesat. Karya-karyanya juga telah diadaptasi ke layar lebar dengan kesuksesan yang sama.

Selama menciptakan banyak sekali karya dalam lima belas tahun karier menulisnya, Dewi menciptakan epik yang berpusat pada pertanyaan hidup dan spiritualitas. Enam buku yang kesemuanya disatukan dengan judul besar Supernova, buku tersebut adalah Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh disusul Akar, Petir, Partikel, Gelombang dan terakhir Inteligensi Embun Pagi.

Diluncurkan pada 28 Februari silam, Inteligensi Embun Pagi menjadi jawaban dari berbagai pertanyaan dalam kisah Supernova. Disusun dengan cermat selama setahun lebih, buku dengan seratus ribu kata ini menjadi novel terpanjang yang pernah ditulis Dee Lestari. Ambisius dan melelahkan bagi penulisnya.

Rolling Stone Indonesia mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara dalam sebuah sesi khusus sebelum buku diluncurkan. Dee Lestari berbagi cerita tentang pengalamannya menulis Supernova dan nasib bukunya setelah difilmkan.

Setelah 15 tahun apa yang membuat Dee Lestari mengakhiri Supernova?

Begitu Madre selesai 2011, aku memutuskan untuk konsentrasi menulis Supernova. Kenapa harus diakhiri? Ya karena memang konsep awalnya, sudah kucanangkan dari 2001 bahkan, bahwa ini akan jadi trilogi. Kemudian dia berkembang menjadi heksalogi semata-mata karena Akar, Petir, Partikel, Gelombang, yang awalnya dikonsepkan sebagai satu buku episode kedua, ketika ditulis malah menjadi masing-masing satu buku.

Akhirnya konsepnya bergeser dari trilogi jadi heksalogi, tapi secara konsep cerita tidak berubah. Judul Inteligensi Embun Pagi sendiri sudah aku publikasi dari 2002. Bahwa itu akan jadi episode akhir Supernova. Jadi, memang harus berakhir di sini.

Kalau pun suatu saat nanti aku merasa cerita bisa berkembang lagi, aku akan memberi judul lain bukan jadi bagian dari serial Supernova.

Heksalogi Supernova punya banyak sekali cerita di dalamnya, banyak sekali ide. Bagaimana Dee Lestari merangkumnya lalu memutuskan untuk menuliskannya di buku?

Waktu pertama kali bikin konsep Supernova di umur 23 tahun, saat itu banyak sekali letupan pertanyaan tentang hal-hal yang eksistensial.

Siapa saya? Kenapa hidup ini begini? Kenapa kita ada di sini? Tujuan kita apa sebenarnya dan sebagainya. Dan minatku terbesar sebetulnya saat itu adalah spiritualitas. Cuma aku berpikir begini, siapa yang mau percaya sama anak umur 23 tahun ngomongin spiritualitas? Karena saat itu ada dorongan besar untuk share, pengen sharing ke orang, akhirnya aku melihat apa yang aku bisa, aku suka musik dan suka nulis, aku merasa nulis sebagai wadah untuk mengungkapkan ide-ide besar itu jauh lebih fleksibel daripada bermusik. Kalau bermusik itu kita biasa dibatasi oleh lima menit lagu, konsep album, industri dan sebagainya. Sementara kalau nulis itu, karena pada saat itu aku self-published dan betul-betul buta sama industri buku jadi semangatku murni, ingin berbagi aja apa yang ada, kegelisahan apa, maupun pertanyaan apa yang ada dalam benakku saat itu. Dan tentu spiritualitas itu adalah masalah yang sangat mendasar, pertanyaan seperti itu kalau pun terjawab, terjawabnya mungkin hanya seperti terminal sementara, satu pertanyaan beranak pinak menjadi banyak pertanyaan, ya udah itu aja yang kemudian aku olah.

Yang jelas Supernova itu penelusuran pribadi yang kemudian dibungkus menjadi fiksi.

Apakah hanya soal itu yang mendorong Anda? Dari umur 23 sampai 40 tahun banyak banget pasti yang berubah...

Menurut aku, setiap penulis pasti punya gairah masing-masing ya. Kayak misalnya, ada yang gairahnya politik, ada yang gairahnya seksualitas, ada yang gairahnya misalnya isu gender. Bagi aku, isu yang paling menggelisahkan adalah spiritualitas. Bagi aku itulah bensin utamaku.

Pembuatan Supernova membuat Anda bisa menjawab pertanyaan itu kah?

Sebagian besar mungkin iya, tapi the thing about spirituality adalah semakin aku dalami semakin rasanya nggak tahu apa-apa. Jadi kayak, "Oh pertanyaan ini mungkin terjawab sementara, tapi besok bisa berubah lagi atau ada tambahan baru lagi." Tapi bagiku itu bukan kendala, itu justru hal yang sangat menyenangkan, karena buku ini bertumbuh bersamaku dan aku bertumbuh dengan pertanyaan-pertanyaan.

Pada Inteligensi Embun Pagi, semua karakter di heksalogi Supernova muncul bersama, apa yang Anda rasakan sebagai penulis?

Selama lima buku terakhir aku bermain dari sudut pandang orang pertama. Aku menjadi Zara, aku menjadi Alfa, aku menjadi Bodhi, tiba-tiba sekarang aku harus menarik diri dan menjadi bird"s eye view melihat semua itu. Oke, Bodhi begini nih. Ketika Bodhi dipindahkan ke dalam realitas lain, dimana dia menjadi satu dari sekian banyak tokoh, itu beda banget rasanya. Dan itu penyesuain yang besar-besaran. . Itu menantang sekaligus mengasyikkan, bagaimana caranya kita yang tadinya tenggelam dalam satu karakter, tiba-tiba harus membagi porsi itu ke sekian banyak karakter. Jadi rasanya kayak orkestrasi.

Inteligensi Embun Pagi hadir dengan 710 halaman, sangat tebal, bagaimana proses Anda menulisnya?

Menurut aku novel serial itu kayak cerita bersambung on steroid ya. Karena di dalamnya sendiri sudah banyak cerita, diserialin pula. Bagi aku terus terang bisa menyelesaikan Supernova satu pencapaian pribadi yang damn ternyata bisa juga ya. Karena banyak sekali masa-masa mempertanyakan lagi kenapa mau repot menyelesaikan ini. Akhirnya dalam menulis yang aku rasakan, technique is one thing tapi yang paling penting adalah bagaimana mengalahkan diri sendiri. Karena pada akhirnya banyak orang mengira menulis itu adalah pekerjaan yang abstrak, menulis kalau lagi pengen, menulis kalau kesamber ide, tapi pada kenyataannya apalagi ketika dihadapkan dengan tugas besar seperti menulis novel serial, kita harus memperlakukan itu seperti ya kayak kita ngantor. Ada ide atau nggak, kesamber atau nggak, nulis. Kadang kadang satu hari lancar, besok nggak. Jadi kalau ada yang nanya, gimana sih mbak kalo stuck? Ya, just do it. Kebayang dalam satu tahun kerja, nggak mungkin kita ide mengalir terus menerus. Ada saatnya nggak dapat apa apa, dapat satu baris doang, atau malah ngilangin beberapa baris. Yang memang bikin kita on going hanyalah disiplin dan komitmen.

Setelah selesai apa yang Anda rasakan?

Campur aduk yah. Lega, bahagia, puas. Tapi di sisi lain ada kesedihan, karena berat rasanya berpisah dengan tokoh-tokoh yang hidup bersama kita belasan tahun. Dan ini kan juga dibilang pertemuan mereka yang pertama, tapi sekaligus berakhir disitu, sekaligus perpisahan. Sekaligus kalau hubungannya dengan pembaca ada excitement, deg-degan mengantisipasi reaksi mereka.

Merasa ada kesalahan yang disesali dalam 15 tahun menulis heksalogi Supernova?

Banyak banget. Sebenarnya bukan kesalahan ya, tapi um… kayak gaya menulis kan udah beda banget tuh. 15 tahun yang lalu gitu. Ibarat kayak melihat foto-foto kita tahun '80-an, '90-an. Ih, kok kita pake baju yang kayak gitu sih? Aneh banget. Sama aku juga, ih, kok gue nulisnya kayak gitu sih. I wish I could rewrite some of the parts. Tapi yah, di sisi lain aku juga harus menghargai, itu kan rekaman zaman. Dewi 2001 ya seperti itu. Dan justru yang terjadi sekarang evolving. Dan tetep aja sampai sekarang ada yang, "Mbak aku suka Supernova 1". Tapi ya, terus terang, semua buku pasti punya fans masing masing. Dan itu fakta yang aku terima.

Apakah yang Anda inginkan pembaca tangkap dari buku terakhir heksalogi Supernova?

Kayaknya ajakan aku dalam Supernova itu adalah selalu ajakan untuk bertanya. Selalu tidak menerima apa yang kelihatan on the faith value. Tapi kayak ajakan lebih kepada kamu punya dong pencarian personal nih, telusuri deh perasaan kamu, pertanyaan yang kamu punya, coba gali deh siapa tahu ketemu sesuatu. Di sini sebetulnya aku tidak menawarkan jawaban, tapi aku memberikan undangan untuk bertanya. Karena menurut aku semua orang akan menemukan versi kebenaran masing-masing.

Aku juga tidak akan mengklaim bahwa apa yang aku tulis di Supernova adalah yang paling benar. Sama sekali tidak mungkin. Justru aku ingin kalau ada orang yang merasa terusik atau terganggu, ya udah cari lah versi kebenaranmu seperti apa. Kalau aku memang dari dulu pengennya membikin semua orang bertanya.

Ke depannya buat Dee Lestari apa? Setelah menulis sesuatu yang melelahkan seperti buku terakhir...

Aku pengennya istirahat dulu sih. Minimal enam bulan ke depan, tidak terlibat dalam proyek kreatif apapun. Sampai akhirnya, sudah ada beberapa judul ataupun ide cerita yang ngantri untuk dikerjain. Cuma saat ini kayaknya rasanya, kayak baru nyampe garis finish ya, masih keringetan, masih berpeluh, pengen duduk dulu deh, santai dulu, bengong.

Supernova sebagai bentuk film justru baru dimulai...

Justru baru mulai, cuma kayaknya aku pengen ngerem dulu sih.

Apakah Anda akan mengerjakan Akar bersama Angga Dwimas Sasongko?

Sama Angga, belum ada kontrak, sifatnya masih penjajakan, sekaligus ingin meralat berita yang beredar. Belum sampai iya yang final, karena aku juga bilang sama Angga pelajari dulu deh Inteligensi Embun Pagi, karena ini kan konklusinya disitu. Supaya kalau nanti tarik mundur tuh, benang merahnya tidak tercabut. Kalau dilihat Akar doang sebagai satu buku, tapi tidak dilihat sebagai satu buku sebagai garis besarnya, takutnya nanti ada yang tidak sinkron.

Film pertama Supernova bagaimana?

Kalau dari aku sendiri banyak hal yang bisa diperbaiki dari film tersebut. It"s not bad. Tapi apakah itu sesuai dengan Supernova yang ada dalam bayanganku, menurut aku juga tidak seratus persen sama. Setelah pengalaman di film berkali-kali ya, memang tidak mungkin seratus persen sama. Kecuali kalau aku yang bikin. Tapi setelah dibikin orang lain, namanya juga adaptasi ya, dia akan mengadaptasi. Cuma satu hal yang menjadi catatanku adalah, ada ketidaksinambungan cerita dengan Inteligensi Embun Pagi. Jadi aku tidak bisa lagi melihat bahwa itu sinambung satu sampai enam sesuai ceritanya. Karena kan ending-nya beda, sementara ada titik-titik ending itu yang krusial untuk menyambung ceritanya.

Punya karakter favorit sepanjang penulisan heksalogi Supernova?

Dua yang paling aku suka sih Alfa dan Toni. Toni, muncul di Petir sebagai peran pembantu, tapi di Inteligensi Embun Pagi dia mencuat jadi peran utama. Proses mengedepankan dia dari latar ke depan itu sangat mengasyikkan dan kedua dia sebagai karakter itu enak banget buat diolah, karena kepribadiannya, karena karakteristiknya. Toni punya sesuatu yang menurut aku buat penulis enak banget ditulisnya. Karena Alfa itu mengasyikkan buat diperolok-olok. Dia nerd, cerdas tapi awkward, pekerja keras, tapi banyak hal dalam hidup yang dia canngung.

Kalau mereka ada di real life harus temenan sama mereka semua, dua itu yang akan aku jadikan temen dekat. Aku jujur saja tidak merasa dekat dengan Diva, dia itu tidak menarik buat diolah secara karakter.

Editor's Pick

Add a Comment