Kisah Legendaris di Balik 'Djanger Bali', Album Jazz Fenomenal Indonesia

Ini adalah kisah napak tilas perjalanan musik jazz di Indonesia yang dilakukan oleh sederet pemusik jazz terbaik Indonesia pada dekade '60-an.

Oleh

Ini adalah kisah napak tilas perjalanan musik jazz di Indonesia yang dilakukan oleh sederet pemusik jazz terbaik Indonesia pada dekade '60-an. Alkisah pada 1967 kelompok jazz Indonesia bernama Indonesian All Stars yang terdiri atas Jack Lesmana (gitar), Bubi Chen (piano, zither), Maryono (saxophone, flute, suling), Jopie Chen (double bass) dan Benny Mustafa van Diest (drums) melakukan tur konser menjelajahi berbagai kota di Jerman Barat (saat itu) selama kurun waktu hampir sebulan.

Mereka bermain jazz tanpa henti. "Kami betul betul melakukan tur jazz yang padat termasuk tampil di Berlin Jazz Festival yang juga ditonton Herbie Hancock sampai Miles Davis," ungkap Benny Mustafa van Diest, satu-satunya anggota Indonesian All Stars yang masih hidup, ketika ditemui dikediamannya di bilangan Gandul, Cinere November lalu. Sangat menarik menyimak tutur kata drummer jazz keturunan Belanda ini seputar sepak terjang pemusik jazz Indonesia. Sebersit kebanggaan saat menyimak kisah jazz Indonesia yang dituturkan drummer legendaris ini.

"Jadi disamping kami melakukan serangkaian tur panjang di Jerman, dua hari di antaranya dipergunakan untuk merekam album Djanger Bali itu bersama Tony Scott," urai Benny Mustafa yang pada 22 September lalu telah berusia 75 tahun.

Tawaran untuk membuat album Djanger Bali, menurut Benny Mustafa datang dari seorang tokoh dan produser jazz di Jerman. "Namanya Joachim Berendt, dia sangat mengagumi musikalitas pemusik jazz Indonesia. Dia tertarik untuk merekam permainan jazz kita," timpal Benny Mustafa yang sore itu ditemani pianis jazz Belanda Rene Helsdingen.

Joachim Berendt ini yang kemudian berperan sebagai produser album Djanger Bali tersebut.

Lalu bagaimana hingga bisa berkolaborasi dengan Tony Scott ?
"Tony Scott itu selalu mengajak kami untuk jam session. Kami beberapa kali melakukan pertunjukan. Dia beberapa bulan sempat tinggal di Jakarta," tutur Benny Mustafa.

Peniup klarinet Tony Scott asal New York, Amerika Serikat ini pernah wara-wiri di Asia sekitar 6 tahun seperti di Thailand, Taiwan serta Indonesia. Tony yang lalu sempat bermukim di Jakarta justru banyak menyerap musik tradisi yang lalu dibaurkan dengan elemen jazz.

Selama enam bulan Tony Scott melakukan pendekatan dengan Indonesian All Stars. Ternyata antara Tony Scott dan Indonesian All Stars terdapat chemistry yang tepat. Mereka menemukan bentuk kolaborasi yang tepat.

Lalu selama dua hari di kota Berlin grup jazz kebanggaan Indonesia ini melakukan sesi rekaman untuk MPS/Saba Record yang kemudian menghasilkan album Djanger Bali. Album yang sampulnya mengambil nukilan salah satu relief di Candi Borobudur ini mengajukan konsep East meet West.

Beberapa instrumen musik tradisional Indonesia seperti suling bambu, kecapi dan zither dihadirkan pula di album Djanger Bali ini. Adapun sesi rekaman album ini dilakukan oleh sound engineer Rolf Donner di Saba Tonstudio, Villingen, Black Forrest pada 27 dan 28 Oktober 1967.

Indonesian All Stars banyak melakukan eksperimen dan eksplorasi saat penggarapan album monumental tersebut. Jack Lesmana misalnya, melakukan eksplorasi dengan memainkan nada rendah pada gitarnya untuk menyiasiati penggantian bunyi gong. Dan hasilnya memang cemerlang, tanpa gong nuansa etnik Bali bisa tercipta.

Mereka pun mencoba menafsirkan karya George Gershwin bertajuk "Summertime" dalam perspektif tradisi karawitan. Tak ada intimidasi dua kutub budaya yang berbeda. Sesuatu yang mungkin saat itu termasuk sebuah pencapaian luar biasa.

Sebagian besar komposisi di album ini, aransemennya dibuat oleh Bubi Chen, kecuali "Ilir Ilir" digarap oleh almarhum Maryono. Pada lagu ini pun Maryono bersenandung. "Kami yang meminta dia menyanyikan lagu tersebut, karena Maryono itu orang Jawa. Kami sendiri selalu memanggil dia Jawa," ujar Benny Mustafa terkekeh.

Sayangnya ketika album Djanger Bali dirilis pertamakali pada akhir 1967 oleh SABA, album ini bisa dikatakan kurang mendapat perhatian. Belum ada resensi yang positif atas materi album ini. Kemudian album Djanger Bali dirilis kembali di awal 1969 atau 1970 ketika label SABA mengalami masalah ketika diambil alih dengan MPS/BASF.

Untuk rilisan kedua Djanger Bali dirilis oleh label MPS. Sekitar dekade '90-an album Djanger Bali yang termasuk dalam kategori langka kembali dirilis ulang oleh label MPS dengan tajuk Jazz Meets the World No. 2: Jazz Meets Asia.

Di album ini terdapat dua album jazz dalam satu kemasan CD, pertama Djanger Bali dari Tony Scott and The Indonesian All Stars dan album jazz dari pemusik jazz Jepang Terumasa Hino. Dalam rilisan berformat CD ini ternyata ada satu komposisi yang tidak diikutsertakan yaitu "Mahlke" dari "Katz Und Maus" yang ditulis oleh Attilla Cornellus Zoller, gitaris jazz asal Hungaria.

Ada sedikit cerita menarik mengenai dibawakannya lagu "Mahlke" ini oleh Indonesian All Stars. Ketika produser Joachim Berendt melakukan muhibah ke Indonesia dia membawa album milik Attila Zoller yang akan dirilis oleh SABA dimana dalam salah satu track-nya termaktub komposisi "Mahlke" yang sebenarnya merupakan soundtrack sebuah film Jerman berjudul Katz und Maus berdasarkan karya Gunter Wilhelm Grass, sastrawan Jermain peraih Nobel Sastra .

Jack Lesmana kemudian menyimak album Attila Zoller tersebut. Ia ternyata menyukai komposisi lagu tersebut dan kemudian menguliknya bersama Indonesian All Stars. Pada saat Indonesian All Stars datang ke Jerman, mereka telah mampu memainkan lagu itu dengan penafsiran jazz yang menarik. Joachim Berendt malah tertarik untuk merekamnya sebagai bagian dari materi album Djanger Bali.

Album Djanger Bali pada akhirnya menjadi album jazz yang dipertimbangkan sebagai musik jazz Indonesia. Banyak resensi dan tinjauan musik yang memuji eksperimen Indonesian All Stars bersama Tony Scott.

Sayangnya album ini sudah termasuk langka dan hanya milik para kolektor belaka. Sebuah karya besar pemusik Jazz Indonesia yang patut dikenang sepanjang masa. Beberapa waktu lalu dalam situs e-Bay maupun Discogs, harga vinil asli Djanger Bali ini telah memasuki kisaran harga sekitar Rp 2,5 juta. Sangat fantastik.

Dengan melambungnya harga atau nilai jual album otentik Djanger Bali yang kian meresahkan serta desakan keinginan untuk mendokumentasikan salah satu artefak terpenting dalam perjalanan musik jazz Indonesia, pihak label Demajors terketuk untuk melakukan reissue atau rilis ulang album jazz yang menjadi target para kolektor dunia tersebut.

"Kami akan merilis ulang album Djanger Bali dalam format CD. Ini memang ingin meneruskan apa yang telah kami lakukan sekitar beberapa tahun lalu saat melakukan remaster dan rilis ulang album Kuartet Bubi Chen yang pernah dirilis Lokananta Solo. Sekarang kami merasa terpanggil untuk melakukan hal yang sama lewat album Djanger Bali," jelas David Karto dari Demajors Independent Music Industry.

Editor's Pick

Add a Comment