Sakrielegious: Selamat Datang Presiden Rock & Roll

Hari ini agaknya merupakan hari penuh sukacita bagi segenap rakyat Indonesia. Pemeo I don’t like Monday tak pantas untuk digaungkan. Hari ini presiden kita yang ketujuh  dengan penampilan anti hero Ir. Joko Widodo menjadi perbincangan siapa saja, mulai dari atas hingga bawah.

Oleh
Hari ini agaknya merupakan hari penuh sukacita bagi segenap rakyat Indonesia. Pemeo I don"t like Monday tak pantas untuk digaungkan. Hari ini presiden kita yang ketujuh dengan penampilan anti hero Ir. Joko Widodo menjadi perbincangan siapa saja, mulai dari atas hingga bawah.

Tak hanya di negeri kita tercinta tapi menyeruak hingga ke seantero jagad, dalam berbagai media massa hingga sosial media. Trending topic terus menerus menyertakan kicauan perihal Joko Widodo yang akrab dengan panggilan Jokowi. "Orangnya asik, banyak senyum dan apa adanya. Sangat rock & roll," itu komentar yang meluncur dari banyak orang tentang lelaki Jawa yang menggemari musik keras sejak di bangku SMP dulu.

Jokowi kian memikat perhatian anak muda saat mengetahui bahwa Jokowi adalah penikmat musik rock. Kabar ini telah mencuat ketika Jokowi masih menjabat walikota Solo. Dengan cepat, kegemaran terhadap musik rock dari seorang pejabat yang lazimnya kaku dan kerap mengutamakan protokoler ini menjadi buah bibir. Semua takjub.

Apalagi, memang sosok Jokowi kerap terlihat dalam pelbagai perhelatan rock maupun metal. Jokowi dengan mengenakan kaos band berdasar warna hitam memang terlihat berbeda. Dia tak lagi seorang pejabat yang harus terlihat berwibawa, namun membaur dengan para metalhead di sekitar bibir panggung atau di area festival. Jokowi menampik fasilitas nonton di tempat VVIP. Jelas ini sebuah pemandangan langka bagi siapa saja.

Namun ternyata banyak pula yang bertutur nyinyir berbalut fitnah bahwa kegemaran dan kecintaan Jokowi terhadap musik rock adalah skenario pencitraan belaka. Fitnah itu berlanjut dengan menyebut bahwa pencitraan pesanan itu dilakukan atas gagasan Stanley Greenberg, sosok yang menjadi konsultan yang memoles sosok Bill Clinton, Presiden Amerika Serikat yang kerap ditampilkan piawai bermain saxophone dalam berbagai kesempatan.

Jokowi, kabarnya, pun dipoles sedemikian rupa oleh Stanley Greenberg, sebagai sosok penggemar musik rock sejati. Meskipun pada galibnya seperti yang diketahui masyarakat, sesungguhnya sejak menjabat Walikota, Jokowi memang kerap terlihat dalam berbagai perhelatan konser rock, baik yang berskala lokal maupun internasional. Jokowi terlihat diantara kerumunan penonton konser Lamb Of God, Judas Priest, Sting, Guns N' Roses dan Metallica.

Pada 2012 Jokowi bahkan telah membeli tiket konser Dream Theater, tapi karena harus menjalani rapat yang panjang akhirnya Jokowi batal menyaksikan kepiawaian kelompok prog metal Amerika Serikat, Dream Theater.

Sosok Jokowi sebagai seorang metalhead merupakan pemandangan baru di Indonesia maupun dunia, karena tak lazim seorang pejabat menyukai musik rock yang selalu dikaitkan dengan kredo kebebasan dan anti kemapanan. Dan manakala Jokowi keluar sebagai pemenang dalam Pilpres 2014, ucapan selamat pun mulai berdatangan dan berjejal dari para pemusik rock dunia di jejaring sosial mulai dari facebook hingga Twitter misanya seperti Sting, gitaris Guns N' Roses Ron Thal, band Inggris, Arkarna serta banyak lagi.

Apakah Jokowi satu-satunya sosok pemimpin dunia yang gandrung tak terkira terhadap ingar bingar musik rock? Ternyata tidak. Jokowi ternyata tak sendirian. Dibelahan dunia sana terbetik kabar bahwa Perdana Menteri Rusia Dmitri Medvedev yang juga menggemari musik rock.

Adapun band rock yang digemari Perdana Menteri Dimitri Medvedev nyaris sama dengan yang disukai Jokowi, yaitu band-band rock yang berasal dari Inggris Raya, Black Sabbath, Deep Purple hingga Led Zeppelin.

Apabila kita telaah, kesamaan selera dalam menggemari musik rock ini mungkin karena keduanya, baik Jokowi maupun Medvedev adalah Generation X yang dilahirkan di era 60-an yang kemudian mengisi masa remaja di era 70-an dengan musik-musik rock mulai paruh era 60-an hingga 70-an.

Jokowi dilahirkan pada 1961, sementara Dmitri Medvedev dilahirkan pada 1965. Keduanya pun punya tekad yang nyaris sama : memberantas korupsi dan ingin melakukan perubahan.

Sejak duduk di bangku SMP, Jokowi kerap terlihat menyambangi markas Ternchem, band rock era 70-an di Solo diseberang Stadion Manahan, Solo. Selama berjam-jam Jokowi terperangah dan terangguk-angguk melihat band Ternchem yang dibentuk oleh drummer Bambang Espe Manahan membawakan lagu-lagu dari band hard rock Inggris, Deep Purple.

Dalam buku "Pemimpin Rakyat Berjiwa Rocker" yang ditulis Yon Thayrun, Jokowi bertutur: "Musik rock adalah kebebasan. Musik rock itu liriknya liar, tegas semangat, dan mampu mendobrak perubahan."

Banyak hal baru yang mencuat saat nama Jokowi pada akhirnya menjadi pilihan mutlak rakyat Indonesia yang memang telah begitu lama menantikan kehadiran seorang pemimpin yang tak memiliki jarak dengan rakyatnya. Disamping itu saya selama ini memang menaruh harapan terhadap para pemimpin yang memiliki ketertarikan dan kegemaran terhadap dunia musik. Apapun genre dan subgenrenya.

Sebagai cabang seni yang merepresentasikan ekspresi, musik boleh jadi akan menginspirasi para pemimpin dalam menjalankan konsep dan pola kepimpinannya. Musik bisa menjadi jembatan sugestif apa saja termasuk dalam pengambilan keputusan.
Beberapa presiden Indonesia yang memerintah sebelum Jokowi resmi dilantik sebagai presiden terpilih RI pada 20 Oktober ini juga memiliki keterkaitan dengan musik.

Presiden Soekarno yang dengan semangat berkobar hendak membangkitkan supremasi budaya kita adalah seorang pianis dan menggubah lagu "Bersuka Ria" dalam album Mari Bersuka Ria Dengan Irama Lenso (1965) serta membentuk grup musik The Lensoist dan melakukan muhibah ke beberapa negara.

Ketika berlangsung konfrontasi dengan Malaysia, Bung Karno melalui siaran RRI pernah memainkan lagu "Terang Bulan" untuk menyindir lawan politiknya Perdana Menteri Tengku Abdul Rachman. "Terang Bulan" adalah lagu yang pernah dinyanyikan artis Indonesia, Roekiah dalam film Terang Boelan yang kemudian diubah menjadi lagu kebangsaan bertajuk "Negaraku."

Presiden Soeharto juga suka musik dan mampu memetik gitar. Presiden Abdurrahman Wahid menyukai musik klasik dan menggemari ratu blues rock Janis Joplin.
Dan yang paling menyita perhatian adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dimasa pemerintahannya masih sempat meluangkan waktu menulis lagu serta menghasilkan 5 album rekaman.

Susilo Bambang Yudhoyono yang dimasa mudanya pernah menjadi bassist ini kerap menuai kritik karena merilis album begitu banyak dalam kondisi yang tidak tepat. Musik memang milik siapa saja. Entah itu rakyat kecil, alim ulama, politikus, negarawan dan entah siapa lagi. Namuni jika sang pemimpin hanya bernyanyi dan bermain musik, sementara sebagian rakyatnya masih berkubang dalam kesusahan dan kemelaratan. Apakah masalah bangsa dan Negara bisa pupus terhapus begitu saja hanya dengan bernyanyi? Disaat negara tengah didera berbagai konflik, SBY malah meluncurkan album-album karyanya secara berkesinambungan.

Lalu bagaimana dengan Jokowi yang oleh para penikmat musik metal dikukuhkan sebagai seorang penggemar metal alias metalhead? Harapan memang banyak digantungkan pada pundak Jokowi sesuai dengan perangai musik rock yang sangat digandrunginya itu: tegas, lugas, tanpa kompromi dan anti kemapanan. Kredo musik rock yang disesaki elemen kebebasan pada akhirnya merupakan elemen dasar untuk mencapai garis perubahan disegala bidang.Perubahan adalah hal yang begitu lama didamba rakyat Indonesia.

Selamat bekerja pak Jokowi. Salam Tiga Jari.


Editor's Pick

Add a Comment