Crossover: Bin Harlan & Jimi Multhazam

Dua musisi yang merupakan lirikus-lirikus terbaik musik Indonesia saat ini bertemu.

Oleh
Harlan Boer, pria kelahiran jakarta, 9 Mei 1977, datang menyambangi kantor Rolling Stone mengenakan kaus Badai Pasti Berlalu, sebuah novel roman karya Marga T. yang difilmkan.

Menunjukkan bahwa sosoknya yang akrab dipanggil "Bin" oleh komunitasnya (julukan yang terinspirasi sosok Mr Bean dan diberikan ke dirinya ketika bersekolah di SMA 70, Jakarta Selatan) merupakan sosok yang apresiatif terhadap karya-karya album lokal. Sembari menunggu kawan yang akan diwawancaranya, Bin membahas musisi yang sempat masuk ke rubrik Crossover, dan melayangkan kekagumannya, seperti kepada Fariz RM yang sempat diwawancara Eka Annash dari The Brandals.

"Fariz RM tuh keren banget ya. Gue kaget pertama kali dengar "Barcelona". Musisi di era "80-an yang paling keren ya dia," kata Bin.

Terkadang kami pun di Rolling Stone sedikit bingung bila berusaha mendefinisikan pekerjaan seorang Bin Harlan. Begitu banyak prestasi dan karya yang dihasilkannya, dari berbagai bidang yang berbeda-beda pula. Semenjak SMA dan kuliah, ia telah mulai menggeluti dunia musik. Seperti di tahun "90-an akhir sempat bermain bas di band hardcore bernama Full of Shit yang membawakan ulang lagu-lagu Sick of It All. Bersamaan dengan itu ia sempat bermain di sebuah band langganan Poster Kafe (venue legendaris tempat berlangsungnya acara musik independen "90-an di Jakarta) bernama Room-V dan memainkan indie pop, khususnya lagu-lagu The Cure. Ia juga penulis lirik dan vokalis dari band C"mon Lennon yang sempat merilis sebuah album.

Kini Bin menjadi musisi solo yang membawakan formula folk rock dan sangat produktif merilis karya hingga kini. Bersamaan dengan itu semua, di luar menjadi pemain band, ia juga seorang yang sungguh mahir memainkan kata-kata bahasa Indonesia. Tata atur dan tata bahasa dalam lirik yang unik menjadi ciri khas dari Bin. Ia merupakan anggota sebuah perkumpulan penggemar dan penggiat puisi bernama Komunitas Pecinta Puisi Bunga Matahari (BuMa).

Ia juga secara independen menerbitkan majalahnya sendiri, Cobra. Belum cukup sibuk, Bin juga adalah pria yang membantu mengelola Efek Rumah Kaca, dari sebuah band yang baru muncul hingga menjadi salah satu band independen paling berprestasi di Indonesia. Kini, selain bermusik dan menjalankan label Sekuntum Records, ia juga menjadi seorang editor di sebuah agensi periklanan.

Lawan bicara Bin hari itu adalah Hermaz "Jimi" Multhazam, vokalis band new wave The Upstairs, yang tengah membara semangatnya menjadi frontman Morfem, band indie rock yang hingga kini telah menelurkan dua album. Yang menarik, Bin pada 2002 hingga 2003 sempat menjadi keyboardist The Upstairs, yang ketika itu belum merilis album. Namun kemudian Bin mengundurkan diri untuk mendirikan C"mon Lennon. Keduanya adalah orang yang terkenal akan kreativitasnya membuat lirik bahasa Indonesia dengan baik, yang juga kebetulan teman baik dan memiliki selera yang cukup bersinggungan.

"Kebisaan gue bikin lirik mungkin karena waktu gue kecil, pelajaran yang gue paling lumayan ya Bahasa Indonesia. Yang lain jeblok. Bahkan nyontek saja gue nggak jago," ujar Bin berkelakar mengenai masa lalunya.

Ketika Jimi tiba, Bin sudah menghabiskan secangkir kopi hitam tanpa gula dan sebatang rokok habis diisap sambil membuka buku catatan berisi pertanyaan yang telah disiapkan. Hal-hal yang sungguh tipikal bagi seorang wartawan. Sembari melepas lelah, Jimi mempersiapkan diri sambil sedikit membahas kaus yang dikenakan Bin, dan obrolan digelontorkan.

Bin Harlan: Apa yang paling sering elo pikirkan akhir-akhir ini, Jim?
Jimi Multhazam: Akhir-akhir ini yang paling sering gue pikirkan sih band dan anak. Kalau di musik, mau ngapain lagi ya? Mau bikin apa lagi band ini. Bikin album sudah, bikin video sudah. Bikin apa lagi yang seru ya? Dan di antara itu juga mikirin anak. Rasa rindu itu kencang banget sama anak gue, jadi kebapakkan gue sudah besar. Setiap hari kerja pasti ingin pulang, walaupun dia sudah tidur. Ingin buru-buru pagi supaya gue bisa main. Memikirkan "besok mau main apa lagi dengan anak gue ya?"

Variasi-variasi pagi elo biasanya apa saja?
Jadi gue sering mangkir [tertawa]. Ada peraturan baru di kantor untuk masuk jam sembilan pagi. Gue iyakan, tapi pagi-pagi jam lima anak gue biasanya sudah membangunkan gue. Dan gue mulai keluar ketika sudah mulai terang. Dari main sepeda, main basket. Ada rute tersendiri untuk dia. Naik sepeda ke lapangan, di sepeda sudah bawa bola. Elo bayangkan saja tuh gue main bola [tertawa]. Gue nggak suka bola kan sebenarnya. Gue sampai bisa gocek-gocek akhirnya sekarang. Karena anak kecil, sekarang gue bisa memberhentikan bola, gue bisa oper, amazing banget gue bisa melakukan ini semua sekarang. Dulu gue nggak main bola sama sekali.

Jadi gue setiap pagi itu memberikan variasi untuk dia main. Sampai ke musik juga gue perdengarkan ke dia. Yang pasti dia pernah meminta untuk menukar CD Black Flag yang gue pasang, "Enak ini, Nak, keren!" Mukanya langsung mengkerut, "Ganti dong, Pa." [tertawa] Akhirnya gue ganti dengan Peter Bjorn and John. Yang nge-beat. Punk rock, gue kasih dengar The Undertones, yang seperti ini baru dia suka [tertawa]. Joget-joget sendiri.

Kalau di band sendiri, yang lagi elo pikirkan apa sekarang?
Lebih banyak memikirkan Morfem sih sekarang. Gue lagi ingin mengeksplorasi anak-anak di Morfem karena ternyata potensi mereka gokil. Seperti Pandu dan gitarnya. Dulu memang di awal gue gemar sama anak ini. Dia main di band yang underrated, akhirnya gue ajak main, kemudian rekaman. Dan sekarang gue pikir, bagaimana ya caranya supaya lebih banyak orang-orang yang tahu dia? Akhirnya gue ajak dia untuk menulis. Ternyata dia juga suka dan tulisannya bagus. Cuma agak kacau di tanda baca saja. Tapi isi tulisannya bagus. Makanya ketika gue bikin band, gue juga bikin blog karena semuanya menulis. Cuma mungkin nggak serajin gue.

Dalam bayangan elo, Morfem ke depannya seperti apa?
Gue pernah baca wawancara dengan Sonic Youth. Yang bicara itu Pete Shelley (drum). Kalau baca wawancara Sonic Youth kan selalu inginnya Thurston Moore (vokal/gitar) atau Kim Gordon (bas/vokal). Tapi ini Pete Shelley yang cerita, dan seru. Gue ingin Morfem seperti itu. Ketika orang ingin tahu tentang Morfem, elo tinggal mencegat Freddy (drum), dan dia akan cerita. Dan anak-anak itu bisa. Gue bahkan lihat sosok Freddy misalnya seperti datang dari generasi Jackass, dan juga narsis. Dia banyak bikin video tentang dirinya, tapi cenderung jorok dan jijik. Seperti iseng bikin video mencari Pandu yang sedang buang air di toilet sebuah mal. Hal-hal seperti ini. Foto buang air besar anak-anak banyak bangetlah waktu lagi tur. Anak-anak lagi main bola, dia jadi pembawa acaranya. Gue jadi ingin banget mengeksplorasi anak ini. Sedangkan Yanu (bas) pengetahuan musiknya gila banget, seperti Wikipedia. Ini hal-hal di luar musik yang ingin gue gali. Kalau di musik, bahasa kami sudah sama. Masuk studio, nge-jam, rekam. Dan kami sudah punya materi banyak. Gue ingin mengelola ini semua dengan baik saja.

Kalau materi album ketiga, sudah mulai disiapkan?
Album ketiga sudah rekaman, tinggal masuk vokal gue saja.

Seperti apa materi musiknya?
Album ketiga ini sebenarnya kompilasi dari jamming. Musik kami cukup ringan, Pandu sering kasih riff gitar. Anak ini memang tergila-gila pada riff-riff yang catchy. Sambil ketawa-ketawa dia bikinnya, gue rekam semua saja. Gue suka bilang, "Tahun ini kita rekaman ya!" Yang lain bilang, "Ayo, berarti bikin lagu dulu ya." Gue bilang nggak usah, yang ini saja dicari dan diulik. Gue e-mail satu-satu. [tertawa]. Banyak juga ternyata, ada 17 materi dari hasil jamming yang masih liar. Kami tinggal kembali ke studio untuk bikin bagiannya. Dan rekamannya juga dapat dari deal-deal "nge-he" [tertawa]

Maksudnya deal "ngehe" bagaimana?
Jadi Dado (drummer The Flowers) datang mau minta izin untuk Orkes Pengantar Minum Racun yang mau pakai lagu gue di The Upstairs untuk dibawakan dan direkam. Gue jawab, "Boleh. Deal, jadi ya. Kompensasinya, gue bisa pakai berapa shift di studio elo?" [tertawa]. Kami juga ingin banget di album ketiga bisa punya sound drum yang antik. Gue cukup tergila-gila dengan sound drum, khususnya seperti di album Netral yang ketiga, Album Minggu Ini. Sound-nya kuno. Akhirnya gue penasaran, langsung telepon Bimo eks-drummer Netral. Gue tanya dia pakai apa di album itu. Dia bilang dulu dia pakai drum merk Premier kecil. Drum itu dia jual ke Pepeng (drummer Naif), dan katanya nggak pernah dipakai. Ternyata drum itu ada di tempat Tika (Kartika Jahja) selama dua tahun terakhir. Akhirnya gue berhasil dapat drum itu. Senangnya minta ampun.

Sadis..sadis..sadis... [tertawa]
Rekaman pakai itu, dengan kulit yang masih sama [tertawa]. Sound-nya jadi antik. Mungkin karena kami suka bunyi-bunyi yang jelek begitu, akhirnya dijadikan saja.

Selain band, elo juga bikin serial gigs yang namanya Thursday Noise di Borneo Beerhouse, Kemang. Ini berangkat dari mana idenya?
Idenya kami hanya ingin main bersama band yang kami senang. Awalnya begitu saja.

Memangnya jarang dapat kesempatan untuk main bareng mereka ya?
Ya, biasanya kan kami sering main di sebuah acara dengan, katakanlah, sepuluh band lain. Empat band oke, sisanya nggak jelas. Bahkan kadang-kadang nggak jelas semua, dan ada kami di sana. Kami akhirnya jadi merusak suasana. Aneh-aneh begitu. Terpikir akan seru kalau ada acara di mana dari band pertama sampai band terakhir, kita selalu ingin berada di dalam venue karena semua bandnya keren. Enak banget tuh.

Sekarang sudah seri keberapa?
Sudah ketiga. Dan pasti akan berlanjut.

Kalau melihat karya-karya elo, gue membayangkan kalau elo bikin sesuatu itu berangkat dari ketidakpuasan terhadap apa yang ada. Ketidakpuasan seperti apa yang elo alami yang membuat elo ingin main band dan berkarya?
Kalau main band, dulu gue ingin main bas. Seperti The Misfits, Dehumanizers, cuma entahlah, mau setem bas saja tidak beres-beres [tertawa]. Gue dulu lihat ada lagu The Dehumanizers, "God Men of the Future". Itu cuma dua kunci tapi kok enak banget. Gue euforia banget memainkannya. Kok enak juga ya. Karena sebelumnya gue penggemar berat Van Halen.

Wuih, sadis... [tertawa]
Gue penggemar berat David Lee Roth. Gue juga suka Kiss. Gue paling senang kalau Paul Stanley mengoceh di panggung, dan itu yang memengaruhi gue sampai sekarang. Album live Kiss yang berjudul Animalized, kalau sekarang dipasang gue masih inget Paul Stanley ngomong apa saja dari awal sampai selesai. Sampai di situ Paul Stanley cerita dia lagi di ada lift dan dia lihat cewek naik ke lift yang sama pakai celana jeans Levis 502 dan jalannya seperti "duk..tak...duk duk.." [meniru suara drum]. Suaranya dimainkan pakai drum..anjiiing. Dari SD gue dengar ini. Ngomongnya jorok melulu. Mungkin akhirnya kena gue, jorok melulu juga ngomongnya.

Kalau The Upstairs, secara artistik bagaimana awalnya?
Di Upstairs, pengaruhnya adalah film The Outsiders. Gue merasa ini adalah gabungan cowok-cowok ganteng yang bergaya greaser. Atau dulu gue sangat suka dengan The Stray Cats, tapi gue suka Slim Jim Phantom, bukan Brian Setzer. Sangat fashion. Kemeja pun gue buat buntung. Nah, ketika di The Upstairs, semua yang gue suka itu gue gabungkan. Plus salah satu yang gue tambahkan adalah celana garis-garis a la Steve Harris (bassist Iron Maiden). Ingin juga sedikit-sedikit seperti Steve Harris. Masukkan saja semua [tertawa]. Gue dianggap pemimpi, karena ingin main band tapi banyak yang menganggap tidak berbakat. Tapi gue yakin gue bisa bikin sesuatu yang orang nggak bisa. Waktu itu gue juga tidak puas dengan lirik-lirik Indonesia yang ada.

Sampai akhirnya gue bertemu Netral di album pertama setelah dengar di radio. Gue kaget. Nyanyinya berantakan, fals lagi, liriknya juga keren. Ini dia nih! Gue juga sudah bikin seperti itu tapi apa daya, bikin demo mahal banget ketika itu. Demo live di studio kan pasti waktu itu vokalnya di depan. Mampus nggak [tertawa]. Ngomong ke mas-mas operator juga masih kaku, malah dibilang, "Sudah, kamu terima beres saja." Tapi kan kita bayar, nge**ot nggak tuh? [tertawa]. Dapat yang begini melulu. Netral seperti itu, punk rock dan rekaman yang enak. Dia saja bisa. Akhirnya gue bikin terus semenjak itu. Walaupun waktu kuliah gue mau bikin band jadi vokalis susah banget, tune suara gue parah. Di IKJ sudah nggak ada yang mau [tertawa].

[Tertawa] Memang sebegitunya elo dianggap nggak bisa main band?
Gue dibilang, "Ah, elo main band buat gila-gilaan doang." Dianggap bercanda. Gue sampai cari pemain saksofon di jurusan musik IKJ, nggak dapat. Gue tahun 1999 dulu sudah ingin punya band rockabilly, fren! Akhirnya cari di luar IKJ saja, cari pemain bas sampai ke Depok, ke Tanjung Priuk. Tapi tetap nggak ada yang suka dengan konsep gue. Memang berpikirnya nggak ada yang di luar jalur. "Ini musik apa? Siapa yang mau dengar?" Sedangkan gue selalu bilang, "Nanti banyak yang suka musik gue, fren!"

Mengapa elo lebih memilih jadi anak band dibanding seni rupa, Jim?
Seni rupa itu prosesnya berlapis-lapis, fren. Bikin karya, produksi, kemudian pameran, terus ada dialog, hingga akhirnya sampai ke masyarakat. Orangnya juga segmented banget. Lama banget. Gue ingin bikin, terus langsung bisa sampai ke orang, bisa langsung dengar. Tema lagu dan tema lukisan gue juga hampir sama pasti.

Waktu pertama kali masuk IKJ, ada orang-orang di sana yang elo kagumi atau elo anggap keren nggak, Jim?
Reza "Asung" Afisina. Dia seangkatan, dan kalau ngomong dengan dia itu penuh dengan karakter. Cerdas. Ngomongin politik, film, atau apapun. Cara dia mengemas pembicaraannya, gue suka banget. Fashion-nya juga aneh. Dia sering banget pakai kaus lifeguard. Rambutnya sering dikasih lem besi, jadi ke belakang semua seperti alien. Dia hidup nomaden, pakai tas besar dan selalu ke mana-mana membawa kotak peluru asli yang isinya pernak-pernik miliknya. Ini orang keren banget.

Kalau senior, ada?
Ada, tapi ajaib sih orangnya. Tampangnya seperti Kevin Bacon tapi Batak. [Tertawa]
Semua orang memusuhi dia, tapi menurut gue dia itu jenius. Namanya Simon Simorangkir, dulu sempat jadi dosen gue. Ajaib banget. Dia bisa ngobrol sambil main gitar klasik. Multi-tasking. Dia senang banget dengan lukisan gue, dia bilang lukisan gue ada kemiripan dengan beberapa artis. Itu dilakukan sambil nyetem gitar akustik terus langsung main klasik. Treng trereng teng [meniru bunyi musik klasik di gitar akustik].

[Tertawa]

[Berbicara meniru logat Batak] "Jadi itu adaaa, seniman ini persis kali dengan kau. Warna-warnanya berani sekali macam ini. Kau suka Fauvism, kan?" Atau Henri Matisse, gue bilang. Dia seperti bilang, "Ah, mainstream kau, tahunya Henri Matisse. Tahu Kees van Dongen, nggak kau?" Wah siapa itu, belum tahu itu, Bang. "Kau harus tahu!" Besoknya dia bawa itu buku. Anjing, keren banget. Dan ternyata yang dia bilang itu memang ada kesamaan dengan gue di warna, yang satu lagi kesamaan di garis. Akhirnya dapatlah gaya gue. Gue banyak berhutang sama dia. Dan dia tahu mendalam mengenai musik klasik. Orangnya sangat jujur dan sangat lugu, makanya nggak punya teman.

Satu lagi karakter menarik di kampus: Benny dan Mice. Tapi ini Benny-nya. Dia itu freak, fren! Gue sering mengamati orang, Benny juga. Misalnya di kampus lagi main bola, dia cuma duduk diam, merokok selama pertandingan. Anak-anak teriak menyindir dia, "Ayo main yang keren, nanti jadi komik." Eh, bener lho. Di komik berikutnya ada adegan main bola. Dia memang sudah jadi legenda. Sebelum bikin komik dia sudah sering bikin kording (koran dinding), menggambar semua gosip di sekitar kampus, siapa pacaran dengan siapa. Ada orang yang lagi sok seniman di kampus, digambar juga oleh dia. Keren.

Di The Upstairs, elo sempat merilis lagu daerah "Kampuang Nan Jauh Di Mato". Bahkan sebelum Seringai merilis "Lissoi" atau White Shoes and the Couples Company merilis albumnya yang menyanyikan lagu daerah. Apa latar belakangnya?
Waktu zaman Soekarno, nggak boleh bawain lagu ngak ngik ngok. Lalu banyak musisi yang mengeksplorasi lagu daerah keren-keren. Sebenarnya kita juga bisa dengan gaya kita. Tapi teman-teman akan jengah kalau kita bawakan. Biasa dengan musik-musik cutting edge. Tapi kemudian ada televisi yang menawarkan kami untuk mengaransemen ulang lagu daerah. "Kampuang Nan Jauh di Mato" akhirnya kami bikin lebih gloomy.

Kenapa pilih lagu itu?
Karena gampang dinyanyikan. Karena gue orang Padang. Tadinya ingin pilih lagu yang "Paris Barantai", cuma karena dulu A. Rafiq pernah nyanyi lagu itu dan sukses banget. Jadinya setiap gue nyanyikan, cengkok nyanyi A. Rafiq terbawa terus di gue.

Morfem nggak menamakan fanbase-nya. Tidak seperti The Upstairs yang dulu fanbase-nya demikian besar dan dinamakan Modern Darlings. Apakah ini dipicu kekecewaan bahwa penggemar fanatik sebenar-nya tidak sefanatik itu dan sewaktu-waktu bisa berubah identitas sesuai dengan tren musik yang ada?
Sebenarnya gue tahu penggemar yang benar-benar die hard itu paling cuma ada setengah. Sisanya mengikuti tren. Siapa yang lagi banyak di TV, siapa yang marketing-nya lagi bagus. Dia akan memilih. Contohnya di Javarockin"land. Waktu Slank main, di baris depan sampai di blok khusus untuk penggemar Slank. Gue juga ingin nonton di depan, tapi jadi terhalang. Kok sampai sebegitunya ya? Justru seharusnya penggemar kan membantu kita. Ini malah membuat gap, akhirnya jadi sulit untuk nonton Slank di Jakarta. Ingin banget nonton Iwan Fals, tapi penggemarnya militan. Itu yang besar-besar. Yang kecil-kecil juga begitu. Penggemar itu semakin seperti gangster gue lihatnya. Begitu juga di era Modern Darlings. Padahal kan kita datang ke konser bebas mau nonton siapa saja. Itulah yang mendasari gue di Morfem nggak usah menamakan penggemarlah. Jadi siapapun bisa nonton kita.

The Upstairs sudah menjadi band besar dan mapan. Kenapa elo bikin Morfem yang mungkin lebih kecil dan seperti mulai lagi dari bawah?
Jadi sebenarnya terjadi sesuatu juga di The Upstairs. Ya ada konflik....


Untuk kisah selengkapnya baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 107, Maret 2014.


Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Mundur dari Payung Teduh, Is: “Saya Enggak Egois”
  2. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  3. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak
  4. Inilah Para Pemenang AMI Awards 2017
  5. 17 Lagu Indonesia Bertema Kebangsaan Terbaik

Add a Comment