Obituari: Poros Revolusi Itu Bernama Lou Reed (1942-2013)

Obituari garis miring memoar dalam rangka kepergian Lou Reed yang meninggal tadi malam pada usia 71 tahun.

Oleh

"Mustahil bukan berarti sangat sulit. Sangat sulit adalah memenangkan Hadiah Nobel, mustahil adalah melahap matahari."

Mungkin Anda heran, kenapa tulisan yang membawa-bawa kata sesuci "revolusi" sebagai judul ini dibuka dengan kutipan perkataan surealistis—bahkan lebih parah lagi, diambil dari sebuah permainan video Sega rilisan 1995 berjudul Penn & Teller"s Smoke and Mirrors. Ya, Penn & Teller duo tukang sulap sekaligus pelawak itu.

Yang harus digarisbawahi adalah bahwa perkataan tersebut muncul dari mulut seorang Lou Reed, salah satu figur terpenting nan berpengaruh bagi sejarah musik rock berkat perannya sebagai frontman The Velvet Underground dan karier solo yang jauh dari main aman.

Kemarin, Senin (28/10) dini hari waktu Indonesia bagian barat, sebuah berita buruk melesat seperti peluru. Respons haru publik, baik yang tenar maupun orang biasa, datang berhamburan secepat kilat. Lou Reed meninggal dunia.

Dilahirkan dengan nama lengkap Lewis Allan Reed pada 2 Maret 1942, Lou berusia 71 tahun saat menghembuskan nafas terakhirnya di Long Island, New York, AS akibat penyakit hati. Ia meninggalkan istrinya, seniman serba-bisa Laurie Anderson, dan pusaka rock & roll yang tak ternilai serta tidak akan lekang digerogoti waktu.

Lou memang belum pernah memenangkan Hadiah Nobel, namun melahap matahari sudah ia lakukan—tentu saja secara metafora. Karya dan dedikasinya untuk rock & roll mendobrak batasan-batasan yang ada, menentang segala istilah musik, jauh lebih maju dari masanya bahkan sampai saat ini, menciptakan dimensi baru untuk dijelajahi, serta kalimat-kalimat lain yang berhubungan dengan sifat revolusioner Lou; baik saat ia masih memperkuat The Velvet Underground pada 1964 hingga 1970 maupun ketika berkarier solo pada 1971 hingga 2013.

Mari gunakan ucapan klasik dari Brian Eno. "Album perdana The Velvet Underground memang hanya terjual 30 ribu kopi, namun setiap orang yang membelinya membentuk band sendiri," ujarnya soal pengaruh album The Velvet Underground & Nico yang dirilis pada 1967.

Dengan begitu, pengaruh dan prestasi Lou tidak bisa diukur dengan uang, baik secara harfiah maupun figuratif. Satu dari sedikit album Lou yang sukses secara komersial adalah Transformer rilisan 1972 dengan produser anak muridnya sendiri, David Bowie, bersama gitaris Mick Ronson. Single perdana "Walk on the Wild Side", seperti banyak lagu The Velvet Underground, memuat kumpulan tema tabu—obat-obatan terlarang, gigolo, trans-seksualitas, hingga seks oral—sebagai lirik, namun hal tersebut tak memberhentikan laju rotasi lagu di radio-radio. Lebih lanjut lagi, Lou berada dalam mode manusia rasis saat memberikan aba-aba kepada para penyanyi latar: "And the colored girls say…" Tapi itu pun tak jadi masalah, menjadi bukti bahwa daya pikat Lou tak mampu dibendung jika ia berniat mengedepankan komersialisme.

Namun album-album solo Lou setelahnya adalah apa pun selain komersial. Berlin (1973) masih berbicara soal obat-obatan terlarang dan prostitusi, namun dalam kemasan rock opera tragis tentang pasangan bernasib malang. Dunia belum siap dengan kisah sedepresif itu, walau dibalut keindahan orkestra. Saat pertama dirilis, Rolling Stone memberi Berlin ulasan buruk tetapi tiga dekade kemudian album tersebut masuk ke daftar 500 album terbaik sepanjang masa versi mereka.

Atau album kontroversial Metal Machine Music (1975) yang berisi satu jam kebisingan suara arus balik gitar tanpa melodi maupun irama. Kabarnya, ketika perilisan, banyak pembeli yang mengembalikan album tersebut karena mengira ada kerusakan pada piringan hitam.

Sampai saat ini masih belum diketahui apakah album tersebut merupakan bentuk protesnya terhadap RCA Records, label rekamannya saat itu, yang terus mengejar untuk penggarapan album berpotensi populer baru atau memang dicanangkan sebagai landasan dasar musik noise. Bahkan musisi jazz sekelas Pat Metheny mengikuti jejak Lou dengan merilis album avant-garde, Zero Tolerance for Silence, pada 1994.

Walau begitu, di antara karya-karyanya yang relatif membingungkan pendengar, Lou terus menyuplai album dengan kecanggihan-kecanggihan yang tak terimitasi: Sally Can"t Dance (1974), Coney Island Baby (1975), Street Hassle (1978), The Blue Mask (1982), dan New York (1989). Belum lagi album konsep Songs for Drella (1990) yang dikerjakan Lou bersama rekan bandnya di The Velvet Underground, John Cale, dan mempersembahkannya bagi Andy Warhol.

Tak heran begitu banyak musisi yang terinspirasi olehnya, dari David Bowie (menulis lagu bergaya The Velvet Underground, "Queen Bitch") hingga Patti Smith (melantik The Velvet Underground pada Rock and Roll Hall of Fame angkatan 1996) hingga Spacemen 3 (menciptakan lagu persembahan untuk Lou, "Ode to Street Hassle") hingga Frank Black ("I wanna be a singer like Lou Reed," lantunnya di lagu Pixies berjudul "Come On Pilgrim") hingga The Strokes ("Lou Reed adalah alasan kenapa saya melakukan apa yang saya lakukan," kata vokalis Julian Casablancas) hingga Arctic Monkeys (simak lagu "Mad Sounds" pada album terbaru mereka).

Namun pelahapan matahari Lou tidak hanya berhenti di musik. Bila biasanya politik dijadikan tema lirik sebuah lagu dari suatu artis, maka Lou kembali menjelma sebagai kontradiksi berjalan. Musiknya justru menjadi pengaruh hadirnya pergerakan politik di Ceko yang sukses menggulingkan komunisme di Eropa Timur.

"Apakah Anda tahu saya menjadi presiden karena Anda?," tanya Vaclav Havel kepada Lou pada 1990. Vaclav Havel yang meninggal dunia Desember 2011 silam, menjadi presiden Ceko selama lebih dari empat belas tahun—dari 1989 hingga 2003.

Vaclav Havel membawa nilai-nilai kontrabudaya dari dekade 60-an dan 70-an ke dalam sikap berpolitiknya. Ia menulis manifesto hak asasi manusia pada 1977 dengan judul Charter 77. Vaclav Havel mengajak publik Ceko untuk mengacuhkan semboyan Soviet yang sarat akan kepalsuan dan mulai hidup dalam kejujuran. Ia lalu dipenjara yang malah mengukuhkan statusnya sebagai pahlawan bawah tanah Ceko.

Pada 1989, beratus-ratus ribu warga Ceko dan Slovakia turun ke jalan untuk berdemonstrasi demi menurunkan pemerintahan komunis yang ketika itu masih berkuasa. Vaclav Havel memegang peranan penting dalam negosiasi yang sukses membuat lengsernya rezim tersebut. Tidak ada satu pun peluru yang ditembakkan pada saat itu, dan transisi mulus tersebut dijuluki The Velvet Revolution—bisa ditebak dari mana istilah itu datang.

Vaclav mengetahui kekuatan nyata pemberontakan dari The Plastic People of the Universe, sebuah band Ceko yang mengagung-agungkan Frank Zappa dan The Velvet Underground dengan Lou sebagai porosnya. Vaclav beberapa kali dinominasikan untuk Hadiah Nobel, sementara Lou terus melahap matahari.

"Anda terlalu keren untuk kami, Lou. Kami tak akan pernah bisa seperti Anda. Tidak akan pernah."

Begitu kata Penn Jillette, setengah dari Penn & Teller, merespons ucapan Lou Reed yang menjadi pembuka tulisan ini. Dan sepertinya begitu pulalah perkataan, atau setidaknya perasaan, dari mayoritas pemuja rock & roll di dunia.

Seberapa mahalnya jaket kulit Anda, tetap tak akan bisa se-slick Lou. Seberapa gelapnya kacamata hitam Anda, tetap tak akan bisa semisterius Lou. Seberapa bagusnya "barang" Anda, tetap tak akan bisa seinspiratif Lou. Seberapa kayanya perpustakaan kata-kata Anda, tetap tak akan bisa seliar lirik Lou. Seberapa sederhananya lagu ciptaan Anda, tetap tak akan bisa menandingi urgensi lagu-lagu Lou. Hanya Lou Reed yang bisa menjadi Lou Reed.

Saya mengenal Lou dari cakram padat bekas The Very Best of the Velvet Underground yang dibeli Ayah di salah satu tenda dagang pada gelaran Kemang Festival, entah tahun berapa namun kalau tidak salah saya berada di penghujung era Sekolah Menengah Pertama. Sampul albumnya merupakan foto The Velvet Underground bersama Nico yang diwarnai dengan metode stensil. "Nama band dan sampul album yang menarik," pikir saya ketika itu.

Namun saya tidak menyentuh album tersebut hingga duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, sekitar 2003 atau 2004. Saya tidak tahu pasti penyebabnya, namun sepertinya karena saya membaca di sebuah artikel kalau Julian Casablancas banyak mendengar lagu-lagu The Velvet Underground saat penggarapan album Is This It milik The Strokes. Ya, ketika itu saya tengah menggandrungi Julian, Albert, Nick, Nikolai, dan Fab.

Lagu "I"m Sticking with You" yang menjadi pembuka album kumpulan lagu terbaik tersebut sukses mencuri perhatian. Sebuah lagu sederhana dengan sensibilitas pop yang justru memanfaatkan vokal drummer Maureen Tucker sebagai penyanyi utama.

"I"m Waiting for the Man" datang sesudahnya dan menjadi lagu bersuara Lou pertama yang saya dengar. Ada keganjilan dari vokal tersebut; sengau dan seenaknya namun ditaruh sangat di depan pada ramuan rekaman. Saya tidak lantas mendeklarasikan, "Lou Reed adalah nabi rock & roll!"

Memang, ada sesuatu yang menarik dari lagu tersebut namun bukan tipe yang bisa membuat saya lompat dari kursi. Kemudian ada "White Light/White Heat", "All Tomorrow"s Parties" sampai "Heroin" yang menurut saya ketika itu hebat tapi tidak luar biasa.

Sampai saya tiba di "Venus in Furs" selaku lagu kesebelas. Mulut saya menganga seketika. Permainan gitar yang malas-malasan, kicauan biola menghipnotis, drum primitif bertempo lambat, serta vokal dan lirik Lou yang seolah menjadi tanda seru lagu; berserikat memberikan pengalaman mendengar musik yang tak pernah saya rasakan sebelumnya.

Lirik pada refrain "I am tired, I am weary/I could sleep for a thousand years/A thousand dreams that would awake me/Different colors made of tears" membuat saya menoleh sekaligus mengernyit. Sebagai anak SMA, saya tidak paham makna di balik lirik tersebut. Tetapi susunan kata-kata itu memberikan imaji yang menggelisahkan namun adiktif.

"Venus in Furs" adalah lagu yang menggabungkan berbagai macam hal kontradiktif, setidaknya bagi saya. Pelukan dan pecutan, keindahan dan keburukan, melodi dan kebisingan, baik dan jahat, putih dan hitam. Formula ini sukses menghisap saya lebih dalam ke lubang The Velvet Underground dan Lou.

The Very Best of the Velvet Underground pun rajin saya putar. Lagu-lagu yang tadinya saya anggap hebat tapi tidak luar biasa bermetamorfosis di telinga menjadi sempurna tiada tara. Tanpa disadari, tiba-tiba saya sudah memiliki seluruh album studio The Velvet Underground dalam format cakram padat. Lalu beberapa album studio Lou dalam format cakram padat. Lalu naik tingkat ke piringan hitam. Lalu The Velvet Underground pun menjadi band kegemaran saya sepanjang masa dan saya sangat bangga dalam mengakuinya. Lalu standar penilaian saya terhadap suatu band jadi menjulang tinggi. Lalu Lou saya tunjuk sebagai salah satu pencipta lagu favorit pribadi.

Cara bertuturnya mengagumkan. Mengandalkan realisme terperinci dan narasi yang mendorong pendengar untuk berkonsentrasi. Coba dengar "The Gift" dari album White Light/White Heat yang lebih terasa seperti cerita fiksi pendek dibanding lirik lagu, lengkap dengan ending mengejutkan yang bisa membuat pendengar cemas atau malah tertawa.

New York selaku kota asal Lou seringkali menjadi subyek penulisan liriknya. Ada glorifikasi di sana, tetapi bukan Lou Reed namanya jika tidak menawarkan sesuatu yang berbeda. Apa yang diglorifikasikannya bukanlah hal-hal positif, melainkan tentang obat-obatan terlarang, prostitusi dan segala macam bau got lainnya.

Epik sebelas menit, dibagi menjadi tiga bab, berjudul "Street Hassle" yang dipadati dengan seksi alat gesek adalah contoh tepat. Ada adegan hubungan intim yang vulgar ("And then sha-la-la-la-la, he entered her slowly/And showed her where he was coming from/And then sha-la-la-la-la, he made love to her gently/It was like she'd never ever come"), ada pula kematian karena overdosis yang digambarkan secara ofensif ("Hey, that cunt's not breathing/I think she's had too much/Of something or other, hey, man, you know what I mean" dan "But why don't you grab your old lady by the feet/And just lay her out in the darkest street/And by morning, she's just another hit and run").

Namun pada kesempatan tertentu, Lou memutuskan untuk menjadi pria paling optimis di seantero New York. Seperti pada "Coney Island Baby" dari album berjudul sama: "Ah, but remember that the city is a funny place/Something like a circus or a sewer/And just remember, different people have peculiar tastes/And the glory of love might see you through".

Tetapi optimis memang ada di dalam jiwa Lou. Setelah ia pulih dari operasi hati pada Mei lalu, Laurie sang istri mengatakan, "Saya rasa ia tidak akan sembuh total dari penyakit ini, namun ia pasti akan kembali beraktivitas beberapa bulan lagi." Bandingkan dengan pernyataan dari Lou sendiri: "Saya adalah kemenangan pengobatan modern, fisika dan kimia. Saya merasa lebih besar dan lebih kuat dari sebelumnya."

Lihat saja pilihannya dalam memilih jalur karier. Lou menikung kanan dan menikung kiri, enggan hanya lurus, sambil giat mengacungkan jari tengah kepada mereka yang meremehkan. Ia optimis bisa melaluinya, yakin bahwa ia akan selalu memiliki pendengar setia tanpa perlu melacur kepada industri. Lulu, album kolaborasinya bersama Metallica, adalah bukti nyata. Kritikus mencelanya habis-habisan, tetapi ada saja yang khusyuk mendengarkan.

Apakah mungkin Lulu adalah album klasik Lou Reed? Klasik dalam artian tidak disambut baik saat perilisan namun terus bertambah dihargai seiring berjalannya waktu. Klasik dalam artian lebih maju dari masanya. Tentu saja hanya waktu yang bisa menjawab. Saya pribadi menikmati beberapa lagu terakhirnya, terutama "Junior Dad" selaku penutup.

Optimisme Lou—di antara konsumsi obat-obatan terlarang serta alkoholnya yang eksesif, liriknya yang menggambarkan dekadensi dan sikapnya yang seringkali menyulitkan, terutama bagi jurnalis—menjadi hal yang bisa dipelajari bagi musisi muda maupun tua. Seakan memenuhi tanggung jawab terhadap klaim klasik Brian Eno soal pengaruh krusial The Velvet Underground.

Lou, dengan atau tanpa The Velvet Underground, menampilkan bahwa nilai penjualan bukanlah hal terpenting di rock & roll, melainkan kebebasan berkesenian. Lou adalah soundtrack hidup—baik sekadar rekreasi telinga, rekan merenung, pengantar tidur, jatuh cinta atau patah hati, hingga pengiring "tinggi".

Lou adalah pembelajaran.

Namun tentu saja, seberapa banyak ilmu darinya yang bisa diimplementasikan dalam berbagai aspek kesenian dan bahkan kehidupan, kita semua tidak akan bisa sekeren Lou Reed.

Editor's Pick

Add a Comment