Mengenang Si Biang Bengal Bandung, Harry Roesli

Hari ini pemusik serba bisa Harry Roesli berulang tahun yang ke-62. Dilahirkan dengan nama Djauhar Zaharsjah Fachruddin Roesli. Dia adalah cucu dari pujangga Marah Roesli yang menghasilkan karya sastra Siti Nurbaja dan Kasih Tak Sampai.

Oleh
Hari ini pemusik serba bisa Harry Roesli berulang tahun yang ke-62. Dilahirkan dengan nama Djauhar Zaharsjah Fachruddin Roesli. Dia adalah cucu dari pujangga Marah Roesli yang menghasilkan karya sastra Siti Nurbaja dan Kasih Tak Sampai.

Bagi saya Harry Roesli bukan hanya sekadar pemusik jenius tayang yang paham lekak lekuk musik dalam berbagai ragam angle tapi Harry Roesli adalah pemikir yang banyak menjejalkan karya-karya seni mulai dari seni musik, teater hingga hasil pembenturan-pembenturan dari berbagai cabang seni lainnya.

Harry Roesli yang sejak era 70an kerap disebut "Biang Bengal Bandung" memang laksana petualang seni yang kerap gelisah dan selalu melakukan pencarian-pencarian dalam berbagai kemungkinan-kemungkinan yang terkadang mendahului zamannnya. Garis turunan keluarganya memperlihatkan bahwa keluarga Roesli adalah turunan cerdik cendekia.

Saudara-saudara kandungnya adalah sarjana dari berbagai disiplin ilmu, termasuk Harry Roesli yang pernah mengenyam pendidikan Teknik Mesin Penerbangan di Institut Teknologi Bandung. Namun karena kegelisahan akan eksplorasi seni yang kian berbuncah-buncah menyebabkan dia nekat meningglkan kampus ITB yang menjadi impian orang banyak pada 1975.

Antara 1975 – 1977 Harry Roesli malah pindah ke Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang kini dikenal sebagai Institut Kesenian Jakarta (IKJ) mengambil jurusan Komposisi Musik. Setahun berselang Harry malah memilih mengambil beasiswa musik yang ditawarkan Ministerie Cultuur, Recreatie en Maatschapelijk Werk di Rotterdam Conservatorium, Belanda pada 1978.

Sejak itulah Harry Roesli menghambakan dirinya pada seni. Kesenimanannya pun menjadi totalitas yang tak terbantahkan lagi. Harry Roesli selalu berada dalam peristiwa seni apa pun di negeri ini. Sebuah kelenturan dalam berkesenian yang rasanya jarang ditemukan dalam sosok seorang seniman di negeri ini. Harry Roesli kadang menjembatani antara seni arus besar dan oposisinya tanpa rikuh sedikit pun.

Tak ada yang mencerca Harry Roesli ketika dia tampil sebagai juri dalam kompetisi vokal berbasis SMS di layar kaca AFI Indosiar pada awal era 2000an. Tak sedikit penonton yang terpingkal-pingkal menyimak komentar Harry Roesli yang nyeleneh dan kerap diluar pakem atau kaedah-kaedah yang mainstream. Belum lagi ketika Harry Roesli selalu menampilkan alter-ego bernama Drs. Arief. Sebetulnya tanpa kita sadari Harry Roiesli telah melakukan permainan ganda dalam tugasnya sebagai juri kompetisi vokal, yaitu kritik sosial. Kritik sosial berbalut humor adalah hal yang telah dilakukannya sejak era 70an

Dimata saya sosok Harry Roesli adalah seniman yang mengaduk-aduk banyak dimensi seni, entah itu musik, teater hingga film menjadi medium untuk bercermin, medium untuk menera perilaku kita, termasuk medium untuk kritik. Walaupun banyak yang kerap tidak nyaman dengan idiom-idiom Harry Roesli dalam mengkritik tapi dia tak pernah lelah melakoni sosok kesenimanannya untuk mengabarkan ketimpangan-ketimpangan serta berbagai telikung-telikung yang berpendar diman-mana.

Karya-karyanya masih tertoreh kuat dalam ingatan kita. Harry Roesli adalah sosok jenius yang banyak berkutat dalam berbagai peristiwa budaya maupun sosial. Ketajaman intuisinya banyak melahirkan karya-karya fenomenal yang tak jarang cenderung ke pola kritik sosial. Ia acapkali melakukan gugat. Gugat terhadap ketimpangan sosial. Gugat terhadap kesewenangan. Gugat terhadap keculasan, dan seterusnya.

Lagu "Jangan Menangis Indonesia" itu sendiri tercetus setelah mencuatnya Peristiwa Malari pada 1974 yang banyak melibatkan protes dari para mahasiswa, termasuk Harry Roesli yang tengah mengenyam kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Harry Roesli yang kerap dijuluki "Biang Bengal Bandung" ini juga sempat merasakan penjara yang pengap.

Jika menilik karya-karyanya yang terangkum pada sekitar 20an lebih album, sederet karya musik panggung hingga teater, maka kita bisa menangkap benang merah kerangka berpikir Harry Roesli yang lugas, tegas, tanpa tedeng aling-aling, terhadap hipokritas, tapi disajikan dalam semangat bercanda.

Harry Roesli memang akrab dengan bingkai yang satirikal. Kadang, ia mengungkap tematik dengan menjungkirbalikkan logika.

Rasanya tak jauh berbeda dengan tokoh musik Amerika Serikat yang dikaguminya, Frank Zappa. Semangat humor terus terpompa dalam karya-karyanya yang sarat simbol-simbol beratmosfer parodi. Lihat bagaimana Harry Roesli memotret jalan kehidupan Ken Arok, tokoh dari Singosari yang dikenal dengan kredo menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuan dalam rock opera bertajuk Ken Arok.

Ken Arok berselingkuh dengan Ken Dedes, isteri Tunggul Ametung. Ken Arok bahkan menghabisi nyawa Tunggul Ametung dengan menggunakan keris bikinan Empu Gandring. Simak penggalan liriknya ini :

"Kubunuh suamimu
kurebut tahtanya
dan engkau kujadikan isteriku!"


Kritik demi kritik menyemburat dalam sejumlah album-albumnya, seperti Phylosophy Gang (1973), Titik Api (1975), Ken Arok (1977), Gadis Plastik (1977), Tiga Bendera (1977), LTO (1978), Daun (1978), Jika Hari tak Berangin, (1978) dan masih banyak lagi.

Pada 1978, Harry Roesli bertolak ke Belanda untuk menjalani studi musik di Rotterdam Conservaorium, Den Haag, Belanda. Setelah meraih gelar doktor dalam bidang musik 1981, semangat berkarya Harry Roesli seolah tak terbendung lagi.

Semangat berkarya Harry Roesli menyemburat bagai keran yang telah dibuka katupnya. Beberapa karyanya memang mulai banyak memihak pada ragam kontemporer seperti Musik Rumah Sakit hingga Musik Sikat Gigi. Harry bahkan mulai berkolaborasi dengan beberapa kelompok teater, seperti Teater Koma milik N. Riantiarno maupun Teater Mandiri yang dikelola Putu Wijaya. Harry secara serius terlibat dalam pementasan teater Opera Kecoa maupun Opera Ikan Asin yang menyedot banyak penonton.

Di samping itu, ekspresi musik dan teaternya diwujudkan dalam Depot Kreasi Seni Bandung yang bermarkas di rumahnya, di Jalan WR Supratman Bandung. Rumah besar milik keluarga Ruslan Roesli ini seolah menjadi mata air kegiatan seni di wilayah Bandung.
Di saat-saat terakhir, Harry Roesli yang pergi meninggalkan seorang isteri dan dua putra kembar sempat menitipkan pesan yang bisa bermakna luas: "Jangan matikan lampu di kamar kerja saya." Dan, karya-karya Harry Roesli sesungguhnya memang tak pernah mati.Tetap hidup hingga akhir zaman.

Saya yakin Harry Roesli adalah seniman yang cinta negerinya. Harry Roesli, tak berlebihan jika saya sebut sebagai seorang nasionalis sejati.

"Jangan menangis Indonesia kami berdiri membelamu Pertiwi."

Itulah penggalan lirik "Jangan Menangis Indonesia," karya Harry Roesli yang berkumandang membelah langit nan mendung saat pemakaman tokoh musik Indonesia, Ahad, 12 Desember 2004 di Ciomas, Bogor, Jawa Barat.

Pemusik yang doyan bercanda, jahil dan jagoan makan ini menghembuskan napas terakhirnya pada Sabtu, 11 Desember 2004 di Rumah Sakit Jantung Yayasan Harapan Kita Jakarta.

Seperti halnya banyak sosok sosok jenius dan berbakat lainnya, Harry Roesli terlalu cepat pergi meninggalkan kita semua.


Editor's Pick

Add a Comment