Glenn Fredly dan Jasmerah LOKANANTA

Upaya merevitalisasi perusahaan rekaman milik negara paling legendaris sepanjang masa

Oleh
Lokananta di Surakarta, Jawa Tengah. Wendi Putranto

Belum lama ini penyanyi Glenn Fredly bersama label rekaman RPM telah merilis sepaket DVD dan CD berjudul Glenn Fredly and The Bakuucakar Live At Lokananta yang digelar dengan nonton bareng bersama ratusan fans dan wartawan film tersebut di sebuah bioskop mewah di Jakarta. Turut hadir di sana musisi legendaris Erros Djarot dan Setiawan Djody.

Suasana pemutaran film tersebut sendiri berjalan hangat dan akrab, dengan setiap adegan atau komentar yang menarik di dalamnya selalu direspon dengan teriakan, tepuk tangan atau bahkan tertawa terbahak-bahak. Sesekali terdengar pula Glenn dan para personel The Bakuucakar saling "mencela" satu sama lain dengan gaya khas anak-anak tongkrongan. Intim.

Yang mengharukan juga terjadi setelah penayangan film tersebut, ketika digelarnya sesi konferensi pers. Ketika mendengar nasib Lokananta yang sangat memprihatinkan sekarang ini, semua orang yang menjadi pembicara, termasuk saya sendiri, tampak sangat bersemangat untuk ikut menyelamatkan Lokananta dari kebangkrutan.

Seorang ibu yang kebetulan ketua perhimpunan pengusaha pribumi dan menjadi salah satu yang berkontribusi bagi acara nonton bareng tadi bahkan dengan lantang menegaskan bahwa jika Presiden RI tidak mampu menyelamatkan Lokananta maka ia beserta segenap pengurus organisasinya akan bersatu bahu membahu untuk menyelamatkannya. Sungguh patriotik.

Seusai digelarnya konferensi pers tersebut mendadak Setiawan Djody menghampiri saya dan berkata, "Sebagai sesama orang Solo, saya dan kamu punya kewajiban menyelamatkan Lokananta, ayo kita ramai-ramai bantu Lokananta, tolong saya dikabari nanti ya."

Namun tentunya sebelum kita beramai-ramai menyelamatkan Lokananta dari kehancuran, ada baiknya kita atau mungkin mayoritas dari para pembaca blog ini masih ada yang belum tahu sejarah dari salah satu label rekaman pertama di negeri ini yang sekaligus menjadi perintis industri musik nasional tentunya.

Seperti dikutip dari LokanantaSolo.blogspot.com, Perum Percetakan Negara RI Cabang Surakarta (Lokananta) adalah BUMN yang bernaung di bawah Perum Percetakan Negara Republik Indonesia yang bergerak di bidang usaha rekaman, penggandaan kaset Audio dan CD.

Lokananta berdiri pada tanggal 29 Oktober 1956 dengan status Dinas Transkripsi sebagai bagian dari Jawatan Radio Republik Indonesia yang bertugas memproduksi piringan hitam untuk bahan siaran RRI seluruh Indonesia.

Mulai tanggal 1 April 1959, piringan hitam produksi Lokananta juga dijual kepada masyarakat. Status Lokananta kemudian diubah dari bentuk Jawatan menjadi Perusahaan Negara berdasar pada Peraturan pemerintah No. 215 tahun 1961. Dan mulai tahun 2004 bergabung dengan Perum PNRI Cabang Surakarta.

Kegiatan Usaha Lokananta:

Recording: Memproduksi dan memasarkan kaset dan CD Audio serta penjajakan untuk VCD.
Broadcasting: melayani permintaan rekaman studio, penggandaan kaset dan Audio CD baik untuk sarana media program pemerintah, perusahaan/instansi, organisasi, maupun perorangan.
Printing and Publishing: melayani permintaan percetakan dan penerbitan buku-buku Perum Percetakan Negara RI.

Sementara itu, kisah tentang di rilisnya DVD live ini bermula ketika Glenn Fredly iseng bertandang ke gedung Lokananta yang berada di Jl. Achmad Yani 387, Solo pada akhir tahun 2011 lalu.

Sebelumnya ia dan kawan-kawan Bakuucakar baru saja usai melakukan sound check di sebuah hotel di sana untuk menghibur para penggemarnya di malam pergantian tahun. Kebetulan hotel tempatnya bermalam terletak tak jauh dari gedung Lokananta, salah satu situs bersejarah musik tradisional dan populer Indonesia yang digagas oleh R. Maladi sejak pertengahan dekade 50an tersebut.

Sebagai penyanyi yang dilahirkan pada dekade 70an, kisah-kisah kegemilangan Lokananta pada masa jayanya sebagai corong budaya bangsa pasca revolusi kemerdekaan RI tentu menjadi sesuatu yang menarik untuk ia pahami.

Apalagi dalam kapasitas terkini Glenn sebagai salah satu penyanyi pria terpopuler negara ini, berkenalan dengan masa lalu melalui rekam jejak karya-karya musikal agung para legenda seperti Gesang, Waldjinah, Bubi Chen, Jack Lesmana, Sam Saimun, Bing Slamet, Idris Sardi tentu bagai menjadi sebuah – katakanlah - kewajiban sejarah baginya.

Bayangkan, para musisi-musisi legendaris tersebut di suatu masa pernah bercengkerama di bawah satu atap Lokananta. Entah sibuk merekam "Bengawan Solo" di studio, menggubah komposisi "Di Bawah Sinar Bulan Purnama", atau terlibat obrolan ringan dan hangat tentang musik keroncong di ruang tamu sambil menunggu datangnya giliran rekaman. Semua yang mewakili gairah zamannya terekam tak pernah mati di Lokananta.

Belum lagi harta karun tak ternilai lainnya yang dikoleksi label rekaman pertama di Indonesia ini. Lebih dari 40.000 piringan hitam musik tradisional dari Sabang sampai Merauke, 5.000 master rekaman musik tradisional, pop, keroncong, jazz dari dekade 50an - 80an, master rekaman pidato Proklamasi Bung Karno bahkan hingga piringan hitam pidato-pidato dari para pemimpin dunia saat itu seperti Soekarno, Nehru, Nikita Khrushcev juga tersimpan di sini.

Namun yang ditemui Glenn ketika menginjakkan kaki untuk pertama kalinya disana justru sebaliknya. Semua serba menyedihkan. Kegemilangan dan kejayaan ternyata hanya milik masa lalu bagi Lokananta yang kini terabaikan dan nyaris terlupakan, bahkan oleh pemerintah sebagai pemiliknya sendiri.

Gamelan para dewa di kahyangan yang dapat berbunyi walau tidak ditabuh – arti nama Lokananta – ini sekarang justru lebih dikenal anak-anak muda dan anggota masyarakat di sekitarnya hanya sebagai lapangan futsal dibanding studio rekaman legendaris.

Satu contoh sederhana saja. AC yang menjaga suhu ruangan penyimpanan ribuan master rekaman tak ternilai harga dan nilai historisnya itu bahkan tak bisa dinyalakan selama 24 jam setiap harinya. Alasannya klasik, sebagai penghematan karena ongkos listrik yang mahal.

Miris melihat kondisi yang ia jumpai di sana, sepulangnya dari Solo, Glenn kemudian seperti terpanggil dan membulatkan tekadnya untuk memboyong para musisi hebat yang tergabung dalam band pendukungnya, The Bakuucakar, serta membawa satu truk kargo penuh beragam piranti rekaman dan instrumen musik yang komplet, langsung dari Jakarta.

Misinya cuma satu dan tidak muluk-muluk. Menggelar konser tertutup di Studio Lokananta agar generasi muda, khususnya para penggemarnya, paham atau setidaknya mengenal Lokananta, syukur-syukur beserta sejarahnya lewat rilisan DVD dan CD tersebut nantinya.

Publik luas harus tahu bahwa tak sedikit potongan riwayat kebesaran budaya negara ini tersimpan di sana dan pelan-pelan mulai banyak yang (terpaksa) dijual ke kolektor, entah untuk menggaji 20 karyawan atau menutupi biaya operasional gedung yang kian mahal dari tahun ke tahunnya.

Jika berharap pemerintah kongkret menolong Lokananta adalah sesuatu yang utopis sekarang, maka Glenn Fredly dengan daya upayanya yang mandiri di jalurnya sendiri semoga bisa mengembalikan perhatian masyarakat luas kepada Lokananta. Dan kita semua sudah pasti harus berada dalam antrian berikutnya!

Ingat kata Bung Karno, jasmerah! Jangan sekali-kali melupakan sejarah.....

Bangsa besar adalah bangsa yang tidak akan melupakan jasa-jasa para pahlawan musiknya!

Editor's Pick

Add a Comment