Mari Kembali ke Penggemar!

Bagaimana sukses mengelola band sebagai brand

Oleh
Para penggemar band adalah pemegang saham terbesar bagi masa depan karier sebuah band Wikimedia Commons

Banyak band bernama besar di Indonesia kini pusing tujuh keliling. Reputasi sebagai artis mainstream yang menjual album jutaan keping, RBT diunduh hingga jutaan kali, memiliki segudang hits, penggemar tersebar dari Sabang sampai Merauke ternyata tak mampu menyelamatkan karir musik mereka secara berkepanjangan di masa depan.

Tak ayal setelah tiga atau empat album dihasilkan nama besar mereka di beberapa tahun lalu hanya tinggal kenangan. Gone with the wind.

Banyak sekali contoh kasusnya jika ingin menyebut nama. Sosok-sosok artis atau band yang sangat terkenal beberapa tahun lalu karena hampir setiap hari mendominasi layar kaca kita sekarang ini hanya tinggal seonggok nama besar saja.

Musik baru mereka tak lagi ditunggu, event organizer sudah jarang yang memanggil, sementara kehidupan harus terus berjalan dan membutuhkan ongkos tidak sedikit. Benar dapur harus tetap ngebul tapi darimana datangnya asap jika tiada api?

Sudah lama kita ketahui bahwa sistem dan mekanisme pembayaran royalti musik bagi artis/pencipta lagu di Indonesia tidak pernah beres, bahkan hingga era digital yang serba transparan dan dukungan legal dari UU Hak Cipta dan UU ITE telah menjaminnya. Belum lagi masalah pembajakan musik yang masih menjadi lingkaran setan, malah semakin menghebat dan naik kelas berhubung kini pembajakan online (illegal downloading) semakin menjadi tren di Tanah Air.

Lalu bagaimana artis/pencipta lagu bertahan mendapatkan penghasilan dari profesi mereka sementara CD mereka tidak lagi laku bahkan dibajak, sementara tawaran manggung tak kunjung datang?

Banyak artis atau personel band kemudian terpaksa hijrah dan berbisnis diluar musik agar tetap mendapat penghasilan. Banyak pula label rekaman yang kemudian gulung tikar. Mereka merasa berbisnis musik semakin sulit di Indonesia. Pendengar musik semakin banyak namun pembeli musik semakin sedikit, itulah kenyataan pahitnya.

Beberapa penyebab kegagalan band Indonesia dalam mempertahankan karir musik mereka hingga panjang umur di industri musik adalah karena kegagalan mereka dalam membangun basis massa penggemar (fanbase) dan tidak mengonsep band mereka sebagai brand sedari awal.

Rata-rata mereka sudah cukup puas dan terlena dengan kesuksesan hari ini sehingga sulit untuk berpikir bahkan terlalu malas untuk menyiapkan rencana pengembangan karir di masa depan.

Saya sering memerhatikan band-band mainstream di Indonesia kebanyakan memang dibesarkan oleh peran label rekaman mereka, bukan besar karena dukungan fans. Beberapa bahkan sengaja direkayasa eksistensinya oleh label rekaman dengan diguyur marketing budget yang sangat besar. Single mereka diputar oleh ratusan stasiun radio di seluruh Indonesia, tampil playback/lip sync di berbagai acara musik pagi di TV hingga manggung di berbagai konser gratisan dalam rangka promosi sebuah produk. Akhirnya mereka memang menjadi artis bernama besar namun sayangnya tidak mengakar.

Saking terlenanya dengan kesuksesan hari ini mereka seperti melupakan esensi utama membangun karir musik dan lebih sibuk wara-wiri di infotainment. Mereka malas mengembangkan fanbase dan lupa mengubah band mereka menjadi sebuah brand yang menguntungkan. Akhirnya semakin sering kita mendengarkan kisah band-band mainstream yang karirnya membusuk sebelum waktunya tadi.

Sedikit sekali artis/band di Indonesia yang serius untuk mengembangkan fanbase. Padahal mereka yang berniat untuk menggarapnya sejak awal akan menikmati hasilnya kemudian. Pernahkah Anda memerhatikan bahwa di Indonesia jarang sekali kita memiliki penggemar musik (fans) yang loyal dan berdedikasi?

Diluar Slankers dan Oi (fans Iwan Fals), sekarang ini kita hanya mengenal fans sebuah band adalah juga fans dari band lainnya. Jadi jika ia adalah penggemar Samsons maka bisa jadi ia juga penggemar Nidji, Kerispatih, bahkan ST12. Fans musik di Indonesia cenderung ngefan dengan lagu. Bahkan mereka hanya loyal kepada single yang hits. Jika sebuah lagu enak dan hits maka mereka akan nge-fan, jika ada lagu baru yang hits mereka akan segera pula berpindah.

Tidak ada lagi pengalaman mendengarkan dan mengapresiasi musik dengan cara membeli album. Pengalaman memandangi sampul album yang indah, membaca lirik yang menggerakkan, menyimak album sendirian dengan CD player di kamar sembari mengingat nama-nama orang dalam daftar terima kasih artis/band menjadi aktivitas yang langka sekarang.

Tidak perlu lagi menabung untuk membeli CD atau kaset karena semuanya sudah tersedia dengan mudahnya di dunia maya. Parahnya lagi, semakin sedikit yang membeli album CD dan lebih senang mengunduh single secara ilegal karena dianggap gratis dan halal. Ironisnya, banyak fans yang belakangan ini tanpa sungkan bahkan meminta link download album yang ilegal kepada artisnya sendiri via Twitter atau Facebook.

Jangan salahkan juga jika mereka tidak paham tentang HKI (Hak Karya Intelektual) atau Hak Cipta karena memang sosialisasi tentang hal tersebut sangat minim dari pemerintah atau kalangan industri rekaman sendiri. Alhasil para penggemar musik ini memang tidak pernah diedukasi untuk menghargai hasil karya cipta artis/band dengan cara membeli album atau mengunduh secara legal musik mereka.

Ini agaknya merupakan imbas dari industri musik kita yang suka serba instan dan lebih mementingkan meraup keuntungan sesegera mungkin dibanding berinvestasi untuk membangun fanbase artis yang loyal. Kondisi ini semakin diperparah dengan eksposur yang salah dari pemberitaan artis-artis di infotainment yang lebih senang mengungkap gosip dan skandal kehidupan pribadi bukan membahas karya dan prestasi dari artis tersebut.

Sementara di saat menikmati konser dari artis idola, ternyata rata-rata fans juga masih jarang sekali yang rela masuk dengan membayar tiket dan setia menunggu jebolan. Lucunya untuk patungan membeli minuman keras biasanya sangat cepat dan ketika sampai di dalam venue seringkali bukannya menikmati konser melainkan terlibat tawuran dengan sesama penonton atau fans juga.

Kebanyakan para penonton konser artis-artis lokal kita hingga kini masih disubsidi oleh sponsor-sponsor komersial seperti rokok, telekomunikasi selular dan sebagainya. Tak heran jika sejak puluhan tahun yang lalu hingga sekarang, harga tiket konser artis-artis Indonesia yang dilakukan di areal terbuka seperti tak pernah mengalami kenaikan berarti.

Bayangkan, untuk menyaksikan sebuah festival musik dengan line-up artis-artis terkemuka sebesar Soundrenaline saja mereka cukup merogoh kantong Rp 25 ribu. Bandingkan dengan tiket festival Big Day Out di Australia yang angka bisa mencapai Rp. 1,5 juta per harinya.

Idealnya seorang fan adalah aset berharga bagi artis/bandnya. Tak ada band yang besar dan kemudian legendaris di dunia hanya karena dukungan label rekaman, melainkan fans. Karena fans ini sejatinya akan selalu membeli CD, kaset, DVD, piringan hitam, merchandise, tiket konser sebagai bentuk dukungan nyata dan timbal balik mereka kepada artis idola yang telah ikut menghibur dan membahagiakan kehidupan sehari-hari dengan musik dan lagu yang mereka ciptakan.

Manajemen artis seharusnya bisa lebih mengeksplorasi ide agar tercipta fanbase yang loyal terhadap artis mereka. Tidak perlu mahal dan repot pula mengelolanya. Hal-hal sederhana dan di jaman sekarang sudah menjadi standar adalah membuka akun di berbagai media sosial dan jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, ReverbNation, BandCamp, MySpace hingga blog. Namun sebelum semua itu dirambah ada baiknya juga kita mengecek apakah situs resmi artis kita masih ter-update informasi-informasi terbaru artis secara rutin dan periodik?

Dengan tren anjloknya angka penjualan album rekaman fisik berupa CD, kaset maupun DVD seperti terjadi sejak tujuh tahun terakhir ini serta anjloknya angka pengunduh RBT, sudah semestinya band dan manajemen mulai menerapkan strategi pemasaran baru dengan mengubah band mereka menjadi sebuah brand yang memiliki nilai jual tak hanya di musik namun juga sebuah gaya hidup yang kemudian menginspirasi fanbase.

Formulanya sederhana saja. Apapun yang digemari, dikenakan dan dikonsumsi oleh artis idola di kehidupan sehari-hari biasanya akan diikuti pula oleh para penggemarnya. Apalagi jika kemudian gaya hidup artis/band tersebut mampu meningkatkan status dan memberikan nilai lebih kepada para penggemarnya, dampak komersial yang terjadi diprediksi bakal berlipat ganda dan menjadi sumber pendapatan yang menggiurkan.

Selain menjadi sumber penghasilan baru di kala penjualan fisik musik menurun drastis, band mereka pun berpotensi menjadi sebuah brand yang cult (memiliki pengikut setia) jika mereka berniat total dan serius dalam mengemasnya.

Strategi pemasaran seperti ini telah lazim berlaku di industri musik Amerika Serikat dan Eropa sejak lama. Tak heran jika sebuah band metal kecil asal Finlandia seperti Lordi telah merilis minuman ringan dan kartu kredit mereka sendiri disana. Atau band rock legendaris KISS yang memiliki aneka ragam merchandise mulai dari kondom, minuman ringan, action figure hingga restoran.

Sayangnya, banyak band-band mainstream di Indonesia yang menerapkan strategi menjual brand band mereka ke pasaran ternyata gagal total. Mengapa? Karena band-band ini tidak mengakar alias tidak didukung oleh fanbase yang besar dan solid. Jangan harap ada sebuah brand produk tertentu akan tertarik bekerjasama dengan sebuah band jika mereka tidak memiliki penggemar yang besar.

Kegagalan ini terjadi biasanya karena band tidak memiliki brand image yang bagus di mata para penikmat musik. Bayangkan band-band yang bernama Asbak, Hancur, Rusak apakah mereka memberikan nilai lebih yang cool bagi para penggemarnya? Para penggemar tentu akan merasa sangat dihargai jika band yang mereka idolakan mampu meningkatkan harkat dan derajat mereka, minimal di lingkaran pergaulan mereka sendiri.

Selain itu band tersebut akan gagal menerapkan strategi ini jika tidak pernah berinteraksi dengan fans, entah itu di dunia maya atau di dunia nyata. Kalaupun ada itu masih sebatas basa-basi semata, bukan sebuah interaksi yang tulus.

Sementara band-band sendiri tampaknya lebih senang dan antusias mendengar keinginan produser atau bos label rekaman mereka ketimbang mendengar opini dari fans. Alhasil, fans kemudian merasa diasingkan oleh lagu-lagu yang diciptakan oleh band dan tidak menjadi relate dengan karya-karya mereka karena merasa tidak pernah dilibatkan untuk mendukung artis idola mereka dalam aktivitas-aktivitas kreatif tersebut.

Uniknya kegagalan menerapkan strategi band sebagai brand ini sebagian terjadi justru pada artis-artis mainstream di Indonesia. Jarang kita mendengar kabar merchandise asli band-band mainstream nasional ludes atau diburu oleh fans-nya. Banyak pula band mainstream yang belum percaya diri untuk menggelar konser tunggal bandnya karena selama ini terbiasa manggung di festival yang menampilkan banyak band dalam satu panggung. Mereka khawatir jika menggelar konser tunggal para penggemar mereka tak mampu atau tak tertarik untuk membeli tiket karena selama ini selalu dimanja oleh konser-konser gratisan.

Lucunya lagi, bahkan rilisan resmi seperti CD atau DVD pun nyaris tidak dibeli oleh para penggemarnya. Lalu apakah band yang popularitasnya nasional seperti itu layak untuk menerapkan strategi band sebagai brand? Menurut saya tidak. Masih banyak PR yang harus diselesaikan oleh band tersebut jika ingin sukses menjadikan band mereka sebagai brand.

Beberapa band/artis mainstream yang menurut saya sukses menerapkan konsep ini antara lain adalah Iwan Fals, Slank, GIGI, Sherina hingga Agnes Monica. Diluar musikalitas mereka, masing-masing artis ini memiliki daya pesona sendiri sehingga kerap dipilih untuk menjadi brand ambassador berbagai macam produk, selain tentunya juga didukung oleh jutaan penggemar setia.

Saya justru melihat potensi untuk menjadikan band sebagai brand itu terbuka lebar di kalangan band-band independent dan unsigned Tanah Air. Salah satu contoh sukses dari konsep ini adalah band-band yang bernaung di bawah clothing line Crooz, seperti Pee Wee Gaskins, Killing Me Inside, Thirteen hingga Sweet As Revenge. Mereka sukses menjual konsep band as brand ini karena berhasil mewujudkan musik sebagai sebuah gaya hidup yang keren dan trendi di kalangan para penggemarnya.

Para penggemar band-band tersebut rentang usianya mulai dari 14 – 20 tahun, kabarnya itu merupakan usia yang paling konsumtif, khususnya di musik. Terbukti, diluar dari jualan CD, seluruh merchandise dari band-band yang disebut tadi beromset sangat besar, bahkan beberapa mencapai ratusan juta Rupiah.

Band-band di atas, selain Pee Wee Gaskins memang tidak terdeteksi oleh radar media massa nasional namun siapa sangka jika di jejaring sosial seperti Facebook mereka rata-rata mampu menghimpun fanbase paling minim 500.000 hingga 2,5 juta penggemar! Jelas angka ini sangat besar sekaligus menjadi pasar tersendiri bagi aneka merchandise yang mereka jual.

Crooz merupakan distro yang terletak di bilangan Duren Tiga, Jakarta Selatan dan telah berbisnis pakaian dan merchandise sejak 2004. Baru berjalan selama enam bulan distro ini sempat terancam bangkrut pada awalnya karena tidak memiliki konsep yang jelas dalam bisnisnya.

Max Pradhitya, pemiliknya lantas mengubah strategi dengan memperkenalkan konsep "Fashion Distortion" yang menjadikan Crooz sebagai produsen merchandise yang melisensi resmi citra dari band-band rock idola remaja masa kini seperti Pee Wee Gaskins, The Upstairs, Killing Me Inside, Sweet As Revenge dan Thirteen.

Para desainer grafis Crooz direkrut anak-anak muda keren yang berselera cutting-edge dan senang melakukan eksperimentasi yang berani pada desain-desainnya, dan mengikuti pula tren yang sedang berkembang di luar negeri.

Medium promosi online mereka maksimalkan, misalnya MySpace, Facebook hingga Twitter. Desainnya juga mencerminkan karakter band-band yang ada dalam roaster Crooz tadi. Interaksi terjalin dengan intensif berkat jejaring sosial ini, hype terbentuk secara viral dan hebatnya tak hanya menjangkau daerah-daerah terpencil di Indonesia namun juga regional Asia Tenggara.

Outlet distro ini pun diubah menjadi tongkrongan fans band-band tersebut dengan secara regular menyelenggarakan acara jumpa fans (meet & greet), CD/merchandise in store signing hingga mendirikan panggung di halaman parkir untuk memanggungkan band-band tersebut.

Aktivitas Crooz ini ternyata sukses meraih animo dari ribuan penggemar band tersebut. Terbukti dengan ribuan CD yang laris terjual dan bahkan yang lebih fantastis lagi merchandise yang ternyata selalu lebih laku dibanding CD itu sendiri. Kini Crooz bahkan telah memiliki cabang di Bandung, Malang, Kuala Lumpur dan Manila dengan pasar yang terus berkembang pesat disana.

Strategi pemasaran kemudian dikembangkan lagi oleh Max dengan menggelar tur konser keliling band-band tadi ke beberapa kota di Sumatera, Jawa hingga Bali. Sebelumnya tradisi menggelar tur konser memang hanya mampu dilakukan oleh band-band mainstream disini karena memang biayanya relatif mahal.

Max tak kehilangan akal di setiap kota yang menampilkan pertunjukan band-band yang dihadiri sekitar 3000 – 5000 orang penonton tersebut ia membuka booth untuk berjualan merchandise dan terkadang mengajak salah seorang personel band untuk ikut nongkrong disana agar fans menjadi lebih tertarik untuk berbelanja. Strategi ini terbukti berhasil mendongkrak penjualan merchandise Crooz dan mereka bahkan menerima pemasukan tambahan dari tiket konser yang digelar.

Para penggemar band-band indie ini secara sadar telah mendukung sebuah gaya hidup subkultur musik yang cool dan mereka adalah pemegang saham terbesar dari kesuksesan band-band indie tadi dalam menciptakan brand yang komersial dan mampu menggantikan penghasilan dari penjualan CD. Menjadi kreatif dan menomorsatukan keinginan fans dalam menerapkan strategi band sebagai brand adalah kunci utama keberhasilan Crooz tersebut.

Editor's Pick

Add a Comment