Incoming: Indra Aryadi

Tak banyak yang bisa dilakukan di sebuah resepsi pernikahan selain mengucapkan selamat untuk si empunya hajatan, mencicipi hidangan, serta bertukar kabar dengan kawan. Tapi tidak dengan Indra Aryadi. Momen datang ke resepsi  pernikahan justru memercikkan ide bagi musisi, komposer, serta music director asal Bogor ini.

Oleh
Tak banyak yang bisa dilakukan di sebuah resepsi pernikahan selain mengucapkan selamat untuk si empunya hajatan, mencicipi hidangan, serta bertukar kabar dengan kawan. Tapi tidak dengan Indra Aryadi. Momen datang ke resepsi pernikahan justru memercikkan ide bagi musisi, komposer, serta music director asal Bogor ini.

"Awalnya saya selalu memperhatikan musik yang ada di acara kondangan," terang pria kelahiran Bogor, 33 tahun silam. Jika tamu-tamu lain sibuk memperhatikan hidangan mana saja yang siap untuk disantap, Indra justru tekun menyimak komposisi yang ada di set karawitan yang kerap dijadikan musik pengiring dalam resepsi pernikahan.

"Awalnya memang dari mengamati, lalu menikmati, sampai akhirnya ada buah pikiran untuk meng-compose unsur musik yang sehari-hari saya dengar," ujarnya.

Indra kemudian membaurkan elemen-elemen musik tradisional yang biasa didengarnya di tiap resepsi pernikahan seperti rampak kendang Sunda , suling, serta saluang (sejenis alat musik tiup) Batak dengan irisan-irisan jazz serta rock. Jelas bukan hal yang mudah.

Instrumen musik tradisonal memiliki tangga nada pentatonis yang punya banyak perbedaan dengan tangga nada diatonis Barat. Tapi justru disinilah Indra merasa ditantang. "Bukan kesulitan tapi resolve. Bagaimana menyatukan pola-pola pentatonik dengan kord diatonik. Saya coba cari irisannya," jelas Indra yang mengaku keluarganya bukan keluarga seniman.

Selain itu, Indra juga merasa bosan dengan kemasan musik tradisional yang menurutnya tidak mampu menjawab dinamika zaman. Musik tradisional jelas pemegang gelar sarjana ekonomi ini perlu polesan baru. "Kemasan yang bikin mereka malas karena mereka menjaga tradisi dari tahun ke tahun seperti itu. Saya berfikir coba bikin kemasan baru dengan interpretasi saya sendiri."

Interpretasi Indra akhirnya berujung pada satu titik temu. "Saya menemukan kord modern ada not-not di musik tradisional. Saya mencoba berinteraksi di daerah situ," jelasnya.

Interaksi Indra dengan dua kutub musik tadi kemudian dirangkum dalam album Duniaku yang dirilis oleh Bravo Records. Beberapa nama seperti Krisna Balagita (eks-kibordis ADA Band), Demas Narawangsa, Tohpati dan Indro Harjodikoro ikut berperan dalam album yang diluncurkan saat Java Jazz bulan Maret lalu tersebut.

Sepuluh lagu dalam album yang diproduseri sendiri oleh Indra ini bisa dibilang merupakan puncak pencapaian musikal dari sosok yang sebelumnya lebih banyak berada di balik pentas.

"Album solo merupakan pembuktian saya sebagai intelektual musik," ujarnya.

Sebagai musisi, Indra mengaku dirinya termasuk terlambat. "Sebagai pendengar aktif sih sejak SMP, dalam arti saya rajin beli kaset. Tapi sebagai pelaku baru kelas 3 SMA. Standar lah, bikin band," akunya.

Selera musik Indra cukup mewakili zamannya. Kala duduk di bangku SMP, playlist harian Indra didominasi oleh Metallica, Sepultura, Sodom sampai Napalm Death, "Saat SMA mulai pindah ke model guitar heroes. Seperti Extreme atau Van Halen," beber Indra.

Saat mengecap bangku kuliah di akhir dekade 90-an, selera musiknya berpindah menuju kota Seattle, kutub dari apa yang disebut sebagai "musik rock alternatif".

"Yah macem Nirvana, Pearl Jam lah. Smashing Pumpkins juga," ujarnya.

Persinggungannya dengan jazz tertular oleh saudara sepupunya yang sudah lebih dulu terjun ke musik yang awalnya berasal dari hiburan kala senggang budak-budak kulit hitam di New Orleans ini. "Sebetulnya sih saya pengen keliatan beda," ujar Indra mencoba mengingat momen yang terjadi di tahun 1999 itu. Menurut Indra, sudah terlalu banyak orang yang mengejar skill ala guitar heroes. "Ternyata di jazz banyak chord-chord yang gak biasa. Asik juga nih."

Album jazz pertama yang dikonsumsinya adalah milik Earl Klugh, gitaris crossover/fusion jazz asal Detroit, Amerika Serikat. Tahun 2001, Indra bersama bandnya, Khayangan, menjadi juara favorit Jazz Goes To Campus di kampus Universitas Indonesia, Depok. Selang setahun, dirinya mendapat Juara II di festival jazz yang digagas oleh Chandra Darusman pada tahun 1978 tersebut.

Kini Indra sudah menjadi "langganan" di berbagai festival jazz prestisius di Tanah Air, seperti Java Jazz Festival, Jak Jazz, juga Jazz Goes To Campus.

Sebelum akhirnya merilis album solo, Indra dikenal sebagai session player untuk beberapa penyanyi seperti Harvey Malaiholo dan Shelomita. Dalam kurun waktu 2004-2005, dirinya tercatat di band pengiring Andien. Setahun setelahnya, Indra menjajal kemampuannya mengisi soundtrack film Pesan Dari Surga garapan Sekar Ayu Asmara.

Hal serupa dilakukannya saat mengisi gitar akustik untuk Music For Sale di soundtrack Hari Untuk Amanda besutan Angga Dwimas Sasongko tahun 2009. Indra juga pernah berperan sebagai vocal director untuk album kedua band pop elektronik asal Bogor Overload Romance yang namanya sempat masuk di album kompilasi Nu Buzz 1.1 dari Radio Prambors di tahun 2008.

Dan saat ini di label Swara Musik bentukannya bersama Roullandi Siregar, Indra tengah memproduseri album solo Brinets Sudjana. "Waktu 2008 saya jadi juri festival jazz di Bandung. Brinets jadi bintang tamunya," jelas Indra. Dirinya tertarik dengan karakter vokal finalis Indonesian Idol tahun 2007 tersebut. "Mewakili apa yang saya pengen," ujarnya.

Swara Musik sendiri merupakan wadah yang diharapkan menjadi tempat bagi musisi-musisi di Kota Hujan untuk mendokumentasikan dan mempresentasikan karya-karya mereka ke hadapan publik.

Selain itu, ia juga tengah menjadi arranger untuk sebuah band elektrik. "Yang sebentar lagi akan rilis dengan label Bravo Musik adalah Benyamin On Jazz, disitu bahksan saya duduk sebagai produser. Saya yang menentukan materi dan artis-artisnya," ujarnya sambil tersenyum.

Album Duniaku lantas menjadi "dunia" yang sebenarnya bagi Indra. Sebelas lagu, yang sepuluhnya adalah nomor instrumental, ibarat taman bermain pribadinya. Track berjudul "Rumahku" misalnya, adalah kegamangan Indra saat harus pindah dari rumah yang sudah ditempatinya selama 29 tahun. Juga nomor berjudul "Hard Drive," yang intro-nya cukup menyalak dibanding sepuluh lagu lainnya, adalah pengalaman saat berada disamping supir yang tengah menginjak pedal gas dalam-dalam.

Sementara "Air" hadir saat Indra menikmati teh hangat di sore hari saat hujan mengguyur Bogor. "Suasanya enak sekali saat itu. Sebelumnya saya sempat melihat berita di televisi tentang Tsunami di Aceh tahun 2004. Saya jadi berpikir, elemen yang sama tapi punya efek yang berbeda," terangnya.

"Di Duniaku saya bisa seegois itu dalam menulis sebuah kompisisi," lanjut Indra.

Keegoisan Indra tadi juga muncul saat dirinya mencampurkan adonan jazz dan bebunyian etnik dengan bubuhan bumbu pop dan rock yang samar-samar tercium. Meskipun album ini dalam beberapa ulasan dimasukkan dalam genre jazz, Indra membebaskan pendengarnya untuk menentukan sendiri warna musiknya.

"Tergantung interpretasi masing-masing orang. Spirit musik bagi saya plural, bebas," jelasnya lagi.

Perlu waktu hampir lima tahun untuk mewujudkan album yang awalnya adalah coretan-coretan Indra di kala senggang. Adalah Roullandi Siregar, wartawan Warta Jazz, yang mendesak Indra untuk mengemas coretan-coretannya menjadi "sesuatu yang lebih serius".

"Bakat Indra yang luar biasa sayang kalau cuma disimpan. Harus dilihat banyak orang. Otomatis bentuknya album," papar Roullandi yang kini menjadi personal manager bagi Indra. Keduanya bertemu saat Indra bersama bandnya, menjadi pengisi acara di gelaran Jazz Goes To Campus tahun 2006 silam. "Awalnya sih kebayang distribusi independen. Hand to hand," jelas Roullandi. "Tapi Alhamdulillah ada jalan untuk distribusi ke toko-toko," jelas Roullandi.

Bakal lamanya pengerjaan album rupanya sudah disadari betul oleh Indra. "Poin nomor satu sih jelas. Budget." Dirinya sadar, susah untuk meyakinkan label-label besar untuk merilis karya seperti miliknya. Dan selama lima tahun itu Indra harus banting tulang membiayai sendiri rekamannya.

Mulai dari mengajar privat, bermain di kafe-kafe, ikut menjadi musisi pengiring rekaman, sampai dipercaya jadi produser album untuk proyek UNICEF. "Alhamdulillah, gak sempet ngerasain harus kerja kantoran," katanya sambil tertawa.

Indro Harjodikoro adalah nama yang memegang posisi penting dalam album debut berisi 11 track ini. "Mas Indro punya kontribusi besar mengenalkan jazz secara spesifik ke saya," ujar Indra tentang bassis yang pernah memperkuat Halmahera serta SimakDialog tersebut.

Saat menjadi session player untuk Andien, Indra dikenalkan kawannya dengan Indro. "Aneh juga sih kenalannya pas di tukang nasi goreng. Entah kenapa nggak lama proses deketnya. Beberapa hari kemudian mas Indro nelpon ngajak main bareng. Dari situ saya banyak belajar tentang musik. Dari segi teori sampai psikologisnya," jelas Indra.

Selain Indro, nama Tohpati serta Dewa Budjana juga menjadi referensi. "Lebih ke spirit bermusiknya ya. Kalo musik sih otomatis dari otak saya sendiri yang berproses," ujar Indra.

Hidup di Bogor yang terhimpit antara Jakarta dan Bandung tak membuat Indra tergerak untuk pindah ke kota yang menjadi barometer industri musik nasional tersebut. "Buat saya Bogor masih ideal untuk beristirahat dan melakukan kegiatan lain di luar musik," akunya.

Dan keputusannya inilah yang membuat dirinya selama enam tahun menjadi penglaju rute Bogor-Jakarta-Bandung. "Mas Indro pernah bilang supaya saya pindah saja, tapi buat saya Bogor masih kondusif," ujarnya.

Meski membuatnya betah, Bogor dinilai oleh Indra masih belum menyediakan sarana memadai untuk menyalurkan bakat musik generasi mudanya. "Kalau talent sih pasti ada, tapi terhambat di sarana. Informasi pun nggak selalu sampai meski dekat dengan Jakarta atau Bandung," ujarnya. "Album saya malah lebih dikenal di luar Bogor," tambahnya.

Menginjak tahun 2012, Indra punya satu resolusi. "Saya ingin membawa musik saya ke luar. Minimal level Asia Tenggara lah," ujarnya penuh keyakinan. Jalan tersebut kini tengah diretas pelan-pelan dengan dukungan penuh dari rekan-rekannya.

"Insya Allah mudah-mudahani ada lah jalan ke sana." Tapi ada satu hal yang sebetulnya ingin dicapai Indra lebih dulu. "Saya pengen main di Bogor. Seumur-umur belum pernah manggung di kota saya sendiri."


Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Mundur dari Payung Teduh, Is: “Saya Enggak Egois”
  2. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  3. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak
  4. 10 Destinasi Wisata Musik Legendaris di Inggris
  5. Perpaduan Gairah Musik dan Skateboard di Volcom: Road to Cakrawala

Add a Comment