Rabu, 14/03/2012 20:30 WIB

Edwin: 'Pujian dan Kritik adalah Pembelajaran untuk Lebih Mengenal Sinema'

Ide penggarapan Kebun Binatang berasal dari kegemarannya menghabiskan waktu di Ragunan.
Oleh: Reno Nismara
Share :   
image
Edwin (Foto: Damien Rayuela/Nisimazine)
Jakarta - Setelah absen selama lima dekade, film Indonesia kembali mengikuti kompetisi utama di festival film Berlin, biasa disebut Berlinale.

Sebagai salah satu festival film paling bergengsi dunia, Kebun Binatang (judul internasional Postcards from the Zoo) karya sineas muda Edwin menyusul torehan prestasi sutradara wanita Sofia W.D. pada 1962 silam dengan film berjudul Badai Selatan.

Kebun Binatang ditayangkan pada 15 Februari 2012, pemutaran perdana film tersebut di seluruh dunia. Perasaan gugup sudah pasti menyelimuti kontingen Indonesia yang menjabat sebagai pemeran dan kru film panjang kedua Edwin setelah Babi Buta yang Ingin Terbang itu.

Tak butuh waktu lama bagi para kritikus film kelas dunia untuk mengungkapkan pendapat mereka soal Kebun Binatang. Ulasan demi ulasan berhamburan, baik yang bernada positif maupun negatif.

The Hollywood Reporter menulis, “Kisah eksperimental yang menawarkan safari menyenangkan namun melelahkan.” ScreenDaily berkata: “Postcards from the Zoo merupakan salah satu contoh pengalaman menonton aneh yang membosankan sekaligus mempesona di saat yang bersamaan.”

Sementara itu Variety beranggapan: “Film tindak lanjut dari Blind Pig Who Wants to Fly ini melempar mantra melankolis di momen-momen tertentu, tetapi ada sesuatu yang ganjil serta kaku dari dongeng ini sehingga menghambat Postcards from the Zoo dalam memikat penontonnya.”

Dan ketika diwawancara via surat elektronik, Edwin yang ketika itu sedang berada di Amsterdam, Belanda mengatakan soal keberadaan kritikus: “(Kritikus) penting sekali, mungkin karena saya suka dipuji dan dikritik. Pujian dan kritik yang bersamaan adalah pembelajaran saya untuk lebih mengenal sinema. Selama film saya tidak hanya selalu dipuji, atau selalu dikritik saja, maka itu berarti film saya adalah organisme yang utuh.”

“Sama seperti hidup, sama seperti manusia, ada hitam dan putih, ada baik dan buruk. Perpaduan baik dan buruk, pujian dan kritik selalu membuahkan perasaan yang tidak membosankan,” lanjutnya.

Ide soal penggarapan Kebun Binatang sendiri diakui Edwin berasal dari kegemarannya menghabiskan waktu di Kebun Binatang Ragunan. Ia menjelaskan, “Di sana saya jatuh cinta dengan lokasi, pengunjung, binatang, dan orang-orang yang bekerja di tempat itu. Namanya juga jatuh cinta, selebihnya saya tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba sudah syuting di sana saja.”

Berlinale sendiri diikuti oleh film-film panjang yang belum pernah ditayangkan di luar negeri asal film tersebut. Film-film ini akan memperebutkan beberapa kategori, di antaranya adalah trofi utama Golden Bear untuk film terbaik.

Selain itu, ada pula trofi Silver Bear yang ditujukan untuk sutradara terbaik, aktor terbaik, aktris terbaik, naskah terbaik, dan lainnya.

Juri pada gelaran Berlinale ke-62 ini mencakup nama-nama yang sudah tak asing lagi untuk para penikmat sinema, yaitu Anton Corbijn, Asghar Farhadi, Charlotte Gainsbourg, Jake Gyllenhaal, Francois Ozon, Boualem Sansal, dan Barbara Sukowa. Mereka semua dikepalai oleh auteur asal Inggris, Mike Leigh, yang akan berlaku sebagai presiden juri.

Dibintangi oleh Ladya Cheryl dan Nicholas Saputra, Kebun Binatang adalah film panjang kedua Edwin setelah Babi Buta Yang Ingin Terbang yang meraih FIPRESCI Award di festival film internasional Rotterdam dan telah melanglang buana ke empat puluh lima film festival bertaraf internasional lainnya.

Selain itu, Edwin juga telah menggarap sejumlah film pendek yang di antaranya berjudul A Very Slow Breakfast, reinterpretasi kisah Sangkuriang dengan Dajang Soembi, Perempoean Jang Dikawini Andjing, Kara: Anak Sebatang Pohon selaku film pendek pertama di Indonesia yang berhasil menembus festival film Cannes dalam sesi Director’s Fortnight, A Very Boring Conversation, Trip to the Wound, dan Hulahoop Soundings.

Edwin, yang merupakan kelahiran Surabaya, juga mengambil bagian dalam beberapa omnibus, seperti 9808 dan Belkibolang.

(RS/RS)

Hasil Rating Pembaca:  icon_star_officon_star_officon_star_officon_star_officon_star_off
Form Rating

Rating :

icon_star_full   icon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full  

Share:

Komentar terkini (0 Komentar)
1

Kirim komentar anda:

Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
logo_detikhot 
Rabu, 04 Maret 2015 09:40 WIB

7Kurcaci Masih Ada dan 'Stick Together'

7Kurcaci Masih Ada dan 'Stick Together'
Di awal era 2000an, saat dunia dilanda demam Fred Dust dan Limp Bizkit-nya, Indonesia juga demikian. Wabah rap rock..
 
Selasa, 03/03/2015 19:53 WIB

Sonic Youth Akan Merilis Ulang Album 'Bad Moon Rising'

Grup musik Sonic Youth berencana akan merilis ulang album Bad Moon Rising yang sebelumnya dirilis pada 1985 ...
 
 

Incoming

Rabu, 14/01/2015 16:09 WIB

Incoming: Danilla, Penyanyi Pendatang Baru Terbaik

Sulit untuk membayangkan bahwa biduanita yang telah merilis Telisik, salah satu album Indonesia terbaik rilisan 2014,..

Music Biz

Rabu, 04/02/2015 17:03 WIB

Mayoritas Anak Muda Indonesia Mendengarkan Musik Lewat Ponsel

Anak-anak muda Indonesia yang berusia di bawah 25 tahun ternyata cenderung mendengarkan musik melalui telepon seluler...

Q & A

Jumat, 06/02/2015 16:18 WIB

Q&A: Mac DeMarco

Pemusik muda asal Kanada diwawancarai menjelang konser perdananya di Jakarta, 22 Januari 2015