Kamis, 16/02/2012 23:00 WIB
Live Review: Opeth
9 Februari 2012. Fort Gate, Singapura.
Penampilan Akrab Opeth di Singapur Dibawah Pimpinan Mikael Åkerfeldt
Opeth
Opeth merupakan band yang bisa dikatakan sulit ditebak. Aliran musik yang mereka mainkan seringkali berubah dan mengalami modifikasi, baik dari segi instrumen, teknik vokal maupun lirik lagu. Terlebih pada album terakhir mereka, Heritage, band asal Swedia ini terdengar banyak bereksperimen dengan berbagai macam alat musik dan gaya bermain.
Pada pukul 5 sore, antrian masuk Fort Gate di Fort Canning Park sudah terlihat sangatlah panjang, penuh dengan wajah-wajah antusias para penggemar yang sudah lama menanti datangnya Opeth ke wilayah Asia Tenggara. Tidak hanya warga Singapura yang ada, namun terdengar juga bahasa Indonesia dan Melayu yang sangat familier di antara penonton.
Setting panggung terlihat cukup minimalis; tidak ada sound gantung namun pengeras suara di samping panggung hanyalah disusun tinggi, overhead lighting 1 row dan juga kain putih yang menutupi panggung dan 1 buah barikade depan yang memisahkan dengan penonton. Tidak lupa backdrop yang digunakan untuk menghiasi latar belakang panggung; gambar dua wajah karikatur devil yang saling membelakangi (seperti di sampul album Heritage).
Satu jam lebih berlalu dan akhirnya Opeth naik ke panggung. Band yang terdiri dari Mikael Åkerfeldt (vokal/gitar), Fredrik Åkesson (gitar), Martin Mendez (bass), Martin “Axe” Axenrot (drums) dan Joakim Svalberg (keyboard, synthesizer) tanpa basa-basi langsung memainkan intro dari single pertama mereka di album baru, “The Devil’s Orchard”.
Penonton langsung terbangkitkan semangatnya dan ikutan bernyanyi dengan Åkerfeldt. Sang vokalis ini dulunya sering menggunakan teknik vokal growling namun ternyata suara clean vocals-nya cukup keras dan on-pitch setiap saat. Nyanyian berlangsung hingga lagu kedua, “I Feel The Dark” dari album Heritage dan para penggemar lagu-lagu Opeth yang lebih dulu juga dihidangkan lagu “Face of Melinda” dari album Still Life (1999).
“I feel a bit chill tonight, but maybe later… who knows?” Åkerfeldt berkata, mengajak penonton untuk terus berantisipasi mengenai lagu-lagu apa yang akan mereka bawakan. Sebelum memasuki lagu “Slither”, Åkerfeldt mengajak penonton untuk melakukan gerakan fist bang (mengepalkan tangan dan meninjukan ke udara) untuk mengiringi lagu tersebut.
“Before there was headbanging, there was fistbanging. We don’t headbang anymore, we’re too old for that…”
Hal yang mengesankan adalah komunikasi Mikael Åkerfeldt dengan para penggemar malam itu terasa mengalir dengan santai. Berbagai lelucon juga dilontarkannya yang membuat penonton tertawa dan merasa semakin akrab dengannya, sementara anggota band yang lain berkonsentrasi pada alat musik masing-masing. Åkerfeldt pun akhirnya mengenalkan mereka satu per satu, diwarnai beberapa ejekan untuk memecahkan suasana kaku diantara mereka.
Penampilan mereka pun dilanjutkan dengan membawakan lagu-lagu lama, misalnya “Credence” dari album My Arms, Your Hearse (1997) dan “To Rid The Disease” dari album Damnation (2003). Penggemar lama Opeth cukup terpuaskan akan lagu-lagu yang sudah mereka nantikan untuk dilihat dibawakan secara live.
Penampilan Opeth dapat dilihat sangat rapih dan tanpa basa-basi, tidak perlu menampilkan emosi yang berlebihan namun perasaan yang ingin dilontarkan sudah dapat dirasakan melalui alunan musiknya. Saat bermain musik, band asal Swedia ini memang terlihat sangat konsentrasi total pada permainannya, tanpa memperdulikan reaksi penonton.
“We are Opeth from Sweden. Our country is well known for its many death metal bands. We also have a distinct sound which is inspired by our folklore.” Kalimat ini seakan-akan merupakan sebuah deklarasi bahwa negara Swedia tidak hanya mampu menghasilkan band-band death metal ternama, namun juga memiliki ciri khas tersendiri yang tersimpan dalam salah satu bentuk kebudayaan mereka; folklor atau cerita rakyat.
Mendengar kata “Folklore”, penonton segera menyiapkan diri untuk mendengar lagu dengan kata yang sama sebagai judul. Petikan awal dimainkan oleh Åkerfeldt diiringi tepuk tangan penonton mengikuti iramanya. Sejauh ini, kualitas permainan mereka tidak beda jauh dengan apa yang dihidangkan dalam bentuk CD ataupun kaset; mereka bermain sangatlah rapih.
Saat yang ditunggu oleh para pecinta death metal akhirnya tiba; “Heir Apparent”, lagu dengan penuh distorsi dan vokal growling akhirnya dibawakan. Sepertinya Åkerfeldt memenuhi janjinya untuk mendobrak suasana tenang seiring larutnya malam. Walau sebelumnya mereka mengatakan sudah merasa terlalu tua untuk membawakan lagu-lagu yang keras, Opeth tetap mempertahankan kualitas dan eksistensi mereka sebagai band death metal Swedia.
Selama ini penonton dinyanyikan oleh suara merdu Åkerfeldt, sekarang ia justru melontarkan vokal growling yang penuh tenaga namun terlihat effortless.
Moshing pun akhirnya terjadi di antara penonton sebagai bentuk apresiasi dan juga melepas ketegangan dari menunggu lagu tersebut dibawakan.
Hal ini berlangsung hingga lagu berikut; “The Grand Conjuration” dari album tahun 2005 berjudul Ghost Reveries. Malam ini dapat dikatakan cukup istimewa bagi para penggemar dan pengikut Opeth karena mereka dihidangkan segala keserbabisaan yang dapat ditawarkan oleh band tersebut.
“We want to play an encore, but we’d have to go off stage and hide first and we’ve got nowhere to go!”.
Setelah membawakan lagu “The Drapery Falls”, set malam itu langsung ditutup dengan lagu “Deliverance” dari album tahun 2002 yang berjudul sama.
“We had a splendid time tonight” menjadi kata-kata terkahir Åkerfeldt mewakili Opeth sebelum mereka bersama-sama membungkuk sebagai gestur terima kasih kepada penonton.
Baik penampil maupun penonton merasa puas akan suasana akrab dan musik yang berkualitas pada malam itu.
(RS/RS)
Kirim komentar anda:
Beri komentar sebagai Guest:



Sending your message





