Jumat, 03/02/2012 20:06 WIB
icon_star_full icon_star_full icon_star_full icon_star_full icon_star_off

Live Review: Bonita and the Hus Band

1 Februari 2012. Grha Bakti Budaya, Jakarta.

Konser tunggal Bonita yang sangat menghibur bersama sang suami dan kawan-kawannya.
Oleh: Reno Nismara
Share :   
image
Bonita (Foto: Tebby Wibowo / StageID)
Bukanlah perkara sulit untuk menikmati penampilan Bonita and the Hus Band. Suara emas vokalis Bonita yang kian jernih nan dahsyat bertenaga, keeratan yang terjalin antara gitaris sekaligus suami Bonita, Petrus Briyanto Adi, saksofonis Jimmy Tobing, dan perkusionis Bharata Eli Gulo, lirik dengan tema positif, serta gelagat dan celotehan di atas panggung dari setiap personel yang mengocok perut membuat setiap penampilan mereka terasa menyenangkan.

Namun penampilan mereka di Grha Bhakti Budaya pada Rabu (1/2) lalu dalam konser tunggal bertajuk small miracles membuat kata “menyenangkan” begitu remeh.

Konser dimulai pukul delapan malam lewat sedikit, setiap personel naik ke atas panggung dengan serentak dan langsung menempati pos mereka masing-masing yang ditandai dengan gelaran karpet. Selain empat nama yang telah disebutkan di atas, bassist Dudi Prastowo dan kibordis Andie Jonathan Palempung juga turut membantu dengan status additional. Dengan begitu, ada enam karpet yang diinjak di atas panggung pada malam itu.

Sebuah keputusan tepat diambil oleh Bonita and the Hus Band dengan memilih “Sing A Song” sebagai lagu pembuka. Lagu bernuansa syahdu dengan lirik yang memiliki tema ajakan menyanyi guna membuang jauh hal-hal beraura negatif ini seakan menjadi aba-aba bagi penonton untuk bernyanyi bersama sekaligus melupakan segala problema yang mungkin sedang menjadi beban pikiran.

“Bangun” yang memiliki kadar funk cukup kental dipilih menjadi lagu kedua. Di tengah lagu inilah Bonita, yang malam itu mengenakan pakaian serba hitam, pertama kali menanyakan kabar penonton yang lalu dijawab serentak dan semangat dengan: “(Kabar) baik!”

Usai lagu tersebut, Bonita menyempatkan diri menyapa keluarganya yang memang berada di antara penonton, termasuk kedua orangtuanya dan juga anak laki-lakinya bernama Pram yang masih balita namun begitu aktif menggerakkan tubuhnya sesuai irama lagu yang disemburkan seperangkat amplifier.

“Ari” yang sempat diganggu oleh masalah teknis, “Komidi Putar” dengan nuansa Arabnya, dan “Aku” menjadi lagu selanjutnya. Lagu yang terakhir disebut menampilkan sebuah pembangunan lagu secara luar biasa. Vokal Bonita awalnya hanya ditemani petikan gitar dan dentuman bass yang bersembunyi di balik dentingan piano, namun setelah beberapa bagian instrumen yang tersisa ikut membaur jadi suatu kesatuan yang mengikat kuat.

Lagu kesembilan dan kesepuluh pada malam itu, “God Came to Me” dan “Pesan untuk Pram”, juga patut dijadikan highlight. Hal terbaik dari “God Came to Me” terdapat pada intronya yang nyaris berstatus instrumental. Intro tersebut memiliki aroma psikedelia Arabia lengkap dengan suara akrobatis dari Bonita yang membuatnya terdengar seperti Robert Plant atau Jeff Buckley dari planet Venus. Intro panjang tersebut lantas disambung dengan isi lagu “God Came to Me” yang spiritual itu sendiri.

Sementara itu, “Pesan untuk Pram” yang memang ditulis untuk anaknya menjadi istimewa dikarenakan keberadaan Pram yang dibawa naik ke atas panggung tanpa direncanakan. Tanpa direncanakan karena Ibunda dari Bonita yang menjadi teman kencan Pram malam itu langsung terlihat panik setelah cucunya dibawa ke panggung oleh salah satu anggota keluarganya.

Sesuai dengan judulnya, “Pesan untuk Pram” memiliki tema lirik sekumpulan nasehat yang ditujukan untuk anak pasangan Bonita dan Adoy, panggilan akrab suami Bonita, dan kehadiran Pram yang berkelana di atas panggung menambah kesan dramatis bagi pembawaan lagu itu. Belum lagi ketika Bonita melantunkan lirik, “Semoga kau bahagia… Kau pasti bahagia…”, seraya memeluk dan mengusap kepala anaknya itu.

Bonita and the Hus Band lantas membawakan “Keepin’ On”, “4 PM”, “Lagu Sederhana”, dan “Small Miracles” secara berturut-turut sebelum mereka  membawakan lagu “Merah” yang diambil dari album perdana Bonita bertajuk sama dengan namanya. Sebelum membawakan lagu tersebut, Bonita sempat bercerita bahwa tadinya lagu ini memiliki bahasa Inggris. Namun karena pihak label rekaman yang dulu menaungi Bonita tak menyarankan, lagu tersebut pun dipugar menjadi berbahasa Indonesia. Di lagu inilah ajang pamer kemampuan bermusik diadakan melalui sesi solo di tengah lagu, dimulai dari Jimmy Tobing dan lalu ditutup oleh Bonita sebelum kembali ke bentuk lagu semula.

“It’s Over Now” menjadi lagu keenam belas sekaligus yang memisahkan Bonita and the Hus Band dengan penonton sebelum encore dilaksanakan. Sebanyak dua lagu dibawakan sebagai sesi penutup tersebut, yaitu “You Cheer Me Up” dan lagu cover Titiek Puspa “Marilah Kemari”.

Standing ovation langsung diberikan oleh penonton yang tersebar di Grha Bhakti Budaya. Senyum pun mengambang di wajah mereka. Konser Bonita and the Hus Band malam itu lebih dari menyenangkan, itu adalah sebuah terapi.

Seorang penyair legendaris asal Jerman, Bethold Auerbach, sempat berkata: “Musik mencuci jiwa dari debu-debu yang disebabkan oleh kehidupan sehari-hari.” Dan penampilan Bonita and the Hus Band pada konser small miracles membuktikan perkataan tersebut.
(RS/RS)

Share:

Kirim komentar anda:

Beri komentar sebagai Guest:

logo_detikhot 
Kamis, 17 Mei 2012 19:03 WIB

Mikirin Konser Lady Gaga yang Terancam Batal, Marissa Nasution Bisa Marah

Mikirin Konser Lady Gaga yang Terancam Batal, Marissa Nasution Bisa Marah
Konser penyanyi Lady Gaga yang terancam batal tak hanya mengecewakan para penggemarnya yang memiliki sebutan Little Monster. Artis Marissa Nasution bahkan bisa marah jika memikirkannya.
 
Rabu, 16 Mei 2012 17:46 WIB

/rif Jadi Raja Sehari di Cikapundung

http://images.detik.com/content/2012/05/16/1093/rif-21.jpg
Salah satu momen khusus di konser ulang tahun /rif ke-18 adalah ketika drummer Magi mencium bibir sang..
 
 

Incoming

Senin, 14 Mei 2012 11:54 WIB

Incoming: VNS (Voiceless N Soulastic)

Dengan menjamurnya grup musik pembawa bendera jazz pop di Indonesia yang seakan tidak ada habisnya, bukan hal aneh jika sejumlah..

Music Biz

Selasa, 28 Februari 2012 14:10 WIB

Music Biz: Akhirnya, Ledakan Konser di Indonesia

Kerusuhan di luar stadion saat konser Metallica digelar oleh promotor AIRO pada 10 April 1993 silam yang membumihanguskan kawasan..

Q & A

Rabu, 02 Mei 2012 09:22 WIB

Q n A: Judika

Tentang single terbaru dan rencana album perdana Mahadewa