Jumat, 27/01/2012 09:45 WIB

Cover Story: Black Keys Rising

Oleh: Brian Hiatt
Share :   
image
Jakarta - Tidak ada orang di kedai kopi organik ramai di Hollywood ini yang tampak seperti baru menjual habis semua tiket untuk konsernya di Madison Square Garden -- apalagi pria bertubuh padat dengan jenggot tebal dan jaket jeans yang sedang menuju meja di pojok. Rupa Dan Auerbach cukup menarik: hidung tajam, mata biru cerah, rambut kemerah-merahan. Tapi pakaiannya yang serba denim cocok dipakai penjaga tempat parkir maupun rock star. (“Saya tidak takut akan tuksedo Kanada ini,” katanya, walau setidaknya jaket biru muda yang dipakainya beda warna dengan celana jeans-nya yang hitam) -- dan gerak-geriknya tampak sengaja menghindari gaya flamboyan.

Sambil duduk bersama kopinya, dia mulai mencerna berita yang didapatnya melalui e-mail beberapa menit yang lalu. “Anda bisa lihat otak saya sedang keluar dari telinga?” kata Auerbach, 32 tahun, sang vokalis dan gitaris The Black Keys -- serta pemain bas juga, setidaknya di studio rekaman. “Oh, my God! What the fuck is going on?” Dia bukan orang yang biasa berekspresi lepas, tapi kini Auerbach punya alasan yang bagus. Setelah tujuh album dan rajin tur selama satu dekade, band duo asal Akron, Ohio, miliknya telah menyelesaikan perjalanan yang tak pernah disangka-sangka dari proyek rekaman ruang bawah tanah ke band arena rock: Pagi ini, tiket untuk konser The Black Keys dalam gedung pertunjukan terbesar di New York habis terjual dalam waktu kurang dari 15 menit.

Walau demikian, di sini sama sekali tak ada yang memperhatikan sang frontman band itu. “Saya memang begitu,” kata Auerbach, sambil menyingkirkan rambut dari dahinya dan menoleh ke sesama pelanggan yang tidak menyadari apa-apa. “Mungkin jika saya memakai jas beludru, top hat dan tongkat -- penampilan yang menarik. Semua orang yang mencapai tingkat itu punya penampilan menarik. Apakah kacamata dan jenggot cukup? Saya rasa tidak...Seharusnya ini tidak terjadi pada band seperti kami. Sama sekali tidak. Ini gila.”

Memang gila. The Black Keys -- Auerbach dan drummer berkacamata Patrick Carney, 31 tahun -- merilis album pertama mereka, The Big Come Up, di tahun 2002: Album ini sarat akan riff yang funky, berdistorsi dan low-fi yang banyak terpengaruh oleh Mississippi blues eksentrik yang dibuat idola Auerbach, Junior Kimbrough -- serta menambahkan sentuhan-sentuhan ganjil seperti irama hip-hop dan membawakan ulang “She Said, She Said”-nya The Beatles dengan asal-asalan. Kedua anggota The Black Keys bersikeras bahwa pada saat itu mereka belum pernah dengar musik oleh duo bluesy lainnya dari kawasan industri berat Amerika Serikat yang banyak disorot pada tahun itu. Tapi itu tidak mencegah orang-orang mengecap The Black Keys sebagai versi inferior The White Stripes, dan bahkan Jack White kurang menyukai mereka: “Saya merasa lebih sejalan dengan Jay-Z daripada The Black Keys,” katanya kepada saya di tahun 2010, dan walau Auerbach enggan berbicara tentang insiden itu, konon katanya belum lama ini White melarangnya masuk ke studio miliknya di Nashville. (White menjawab: “Apa saja yang Anda pernah dengar dari siapa saja tentang saya adalah akurat 100 persen.”)

Seiring perjalanan dekade itu, berbagai tren datang dan pergi -- garage rock, dance rock, emo -- sementara The Black Keys tetap berada dalam dunianya sendiri, dengan sound yang mengalami evolusi secara bertahap. “Di album-album awal, saya bahkan tidak berpikir tentang komposisi lagu, hanya musik dan groove-nya,” kata Auerbach. “Benar-benar main-main saja -- mengambil riff musik blues tua, membuat lirik spontan, dan mengubahnya menjadi lagu. Lalu kami mulai mendalami lagu-lagu yang kami suka, dan berusaha mencari tahu kenapa kami begitu menyukainya.” Auerbach mengimbangi raungannya yang serak dan penuh testosteron dengan falsetto sensual dan lantunan luwes; pengaruh dari Memphis soul, T.Rex dan rockabilly menjadi semakin menonjol; hook lagu-lagunya semakin memikat -- terutama setelah mengajak Brian “Danger Mouse” Burton sebagai rekan kerja sewaktu-waktu di tahun 2008, dan mulai rekaman di studio, bukan ruang bawah tanah.

Semua yang mereka pelajari dituangkan ke Brothers di tahun 2010, yang berisi lagu-lagu pop sempurna yang terasa klasik dengan groove dalam yang mampu menangkap esensi musik soul kuno, yang kerap ada dalam produksi RZA kesukaan mereka. Sementara dunia rock berada pada salah satu titik rendah komersial, mereka menjadi salah satu dari sedikit band bergitar yang bisa diterima massa. Dan lain halnya dengan, misalnya, Kings of Leon, tampaknya mereka berhasil mencetak dua album laris berturut-turut: Brothers meraih tiga piala Grammy dan terjual hampir sejuta kopi; El Camino, album baru mereka yang lebih rapi dan memikat, baru menduduki peringkat kedua di tangga album -- hanya kalah bersaing dengan album Natal oleh Michael Buble yang menurut Carney akan menjadi pilihan baik untuk musik pengiring bunuh diri.

Popularitas mereka yang baru ini telah membawa konsekuensi yang dapat ditebak. Di dunia indie terdapat suara-suara yang menuduh mereka menjual diri, dan beberapa penggemar lama merasa dikesampingkan: “Kaus-kaus Black Keys saya sekarang menjadi kaus dalam,” tulis seseorang dalam forum yang sebaiknya dibaca sambil membayangkan Comic Book Guy dari The Simpsons.

Patrick carney cukup yakin bahwa dia tahu apa yang membuat genre pilihannya sedang tersungkur. “Rock & roll sedang sekarat karena orang-orang tak keberatan Nickelback jadi band terbesar di dunia,” katanya, sambil meniup asap rokok ke luar jendela apartemen sewaannya di East Village beberapa hari sebelum band itu berangkat ke L.A. “Jadi mereka tak keberatan dengan konsep bahwa band rock terbesar di dunia akan selalu busuk -- sehingga kita jangan coba-coba menjadi band rock terbesar di dunia. Fuck that! Rock & roll adalah musik yang paling membuat saya berhasrat, dan saya tidak suka melihatnya dirusak dan dicekoki dalam bentuk sampah post-grunge yang menyedihkan ini. Saat orang-orang menyamakan kami dengan itu, sejujurnya kami merasa terhina.”

Carney tampak seperti kartun, seolah-olah segala sesuatu pada dirinya kurang pas: Tinggi badannya minimal 190 cm; dia sengaja memilih bingkai kacamata Buddy Holly yang sedikit lebih besar dari wajahnya; dia adalah orang yang luwes dan mudah mendapat teman baru, sekaligus pengumpul dendam kesumat yang sering marah-marah dengan cara yang semi-kocak. Di atas panggung, dia harus melepas kacamatanya agar tidak terpental -- dalam keadaan nyaris buta, dia memukul beat yang dahsyat dan ganjil, seolah-olah dia tak pernah melihat orang lain bermain drum, dalam postur yang membungkuk dan tampak menyakitkan: “Tangan saya sering kram parah,” katanya, “dan kadang tulang dada saya sakit.”

Saat bermain drum, wajahnya sering memperlihatkan ekspresi seperti amarah. Pada kenyataannya, itu adalah rasa takut dan membenci diri sendiri. “Saya pemain drum yang buruk, jadi itu menakutkan,” katanya. “Saya berusaha tetap tegar. Di Twitter dan sebagainya saya melihat banyak komentar tentang betapa buruknya wajah saya, buruknya permainan drum saya, canggungnya penampilan saya, dan saya setuju dengan sebagian besar hal itu. Masalahnya, saya tidak bisa menghampiri orang-orang ini satu per satu dan menilai mereka, menghakimi foto mereka. Dan saya adalah jenis orang yang benar-benar rela melakukan itu kepada orang lain.”

Selanjutnya baca edisi 82

(RS/RS)

Hasil Rating Pembaca:  icon_star_officon_star_officon_star_officon_star_officon_star_off
Form Rating

Rating :

icon_star_full   icon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full  

Share:

Komentar terkini (0 Komentar)
1

Kirim komentar anda:

Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
logo_detikhot 
Rabu, 22 Oktober 2014 20:00 WIB

Ini Alasan Taylor Swift Sering Ciptakan Lagu untuk Mantan Kekasih

Ini Alasan Taylor Swift Sering Ciptakan Lagu untuk Mantan Kekasih
Taylor Swift dikenal sebagai penyanyi yang kerap curhat lewat lagunya. Tak jarang lagu-lagu Swift bercerita soal mantan..
 
Rabu, 22/10/2014 21:27 WIB

12 dari 17 Lagu di Album Terbaru Gaeko Gagal Lolos Sensor

Salah satu anggota duo rapper populer Korea Selatan, Dynamic Duo, Gaeko pekan lalu baru saja merilis album .....
 

Incoming

Rabu, 03/09/2014 11:55 WIB

Incoming: Gilbert Pohan: Penyanyi, Pencipta Lagu, Pendatang Baru, Pekerja Keras

Gilbert Pohan, penyanyi dan pencipta lagu pendatang baru yang berada di bawah naungan Musik Bagus Indonesia selaku platform..

Music Biz

Kamis, 14/08/2014 19:30 WIB

Jumat Akan Jadi Hari Rilis Musik Global

Setidaknya mulai setahun dari sekarang – sekitar Juli tahun depan – sebuah peraturan yang mengatur hari perilisan..

Q & A

Rabu, 01/10/2014 18:32 WIB

Q&A: Jack Antonoff (fun.,Bleachers)

"Saya sedang mencerna kenyataan bahwa saya yang membuat album ini,” kata Jack Antonoff. “Pada awalnya, ini terasa..