Selasa, 22/11/2011 07:09 WIB
icon_star_full icon_star_full icon_star_full icon_star_full icon_star_off

Movie Review: The Raid

Iko Uwais, Joe Taslim, Donny Alamsyah, Yayan Ruhian, Ray Sahetapy, Pierre Gruno. Sutradara: Gareth Evans

Memompa jantung dengan kecepatan tinggi selama nyaris 101 menit penuh.
Oleh: Reno Nismara
Share :   
image
Salah satu cuplikan adegan dalam film The Raid
Jika sebuah film memiliki hype luar biasa, bukan tidak mungkin mayoritas penonton akan masuk ke bioskop dengan ekspektasi yang tak kalah luar biasa. Dan bukan berita baru bahwa ekspektasi tinggi dapat dengan mudah menuntun penonton ke area kekecewaan. Tapi tidak dengan film Indonesia kedua sutradara laga berdarah Wales Gareth Evans, The Raid. Film tersebut berhasil memuaskan segala ekspektasi yang ada dan bahkan melampauinya berkali lipat.

Film dibuka dengan adegan di mana tokoh protagonis Rama (Iko Uwais) bersiap secara fisik maupun spiritual sebelum menjalankan sebuah misi. Secara selang-seling, ia diperlihatkan memukul sansak sekuat tenaga dan melaksanakan salat dengan kekhusyukan tingkat tinggi. Setelah itu, ketika terlihat sudah mengenakan seragam pasukan elit, Rama menghampiri istrinya yang sedang mengandung anak pertama mereka. Rama lantas mengusap perut hamil istrinya sambil berbicara, “Tunggu Ayah pulang ya, nak.”

Sebuah pembukaan yang memang syahdu, tapi setelah itu semuanya berubah seratus delapan puluh derajat.

Premis The Raid sendiri sederhana: sebuah pasukan elit yang dipimpin Sersan Jaka (Joe Taslim) dan Letnan Wahyu (Pierre Gruno) mendapatkan tugas untuk menyerbu gedung markas persembunyian gangster paling berbahaya guna meringkus Tama, kepala penjahat maha bengis (Ray Sahetapy). Mengetahui bahwa tempat mereka sedang diserang, para kriminal pun mematikan seluruh aliran listrik dan memblokir semua jalan keluar. Terperangkap di lantai enam gedung tersebut, pasukan elit itu diharuskan berjuang mencari jalan keluar demi menyelesaikan misi mereka.

Alhasil, The Raid dipenuhi kejar-kejaran antara pasukan elit kontra para bandit layaknya kucing dan tikus dengan sebuah maze rumit sebagai venue-nya. Bayangkan Tom and Jerry dengan rating R (Restricted, untuk orang-orang berusia tujuh belas tahun ke atas).

Jantung Anda akan terus dipompa dengan kecepatan tinggi di sepanjang film. Koreografi pertarungan indah bak gerakan dansa jika penarinya adalah seorang yang haus darah, sejumlah adegan hujan peluru yang bisa disandingkan dengan film-film laga Hollywood berbujet tinggi, hingga darah yang tercecer di sepanjang film; The Raid adalah sebuah film yang menghadirkan ultra-kekerasan dan ketegangan dengan inovatif dan penuh gaya.

Gaya kamera yang tak beraturan dengan menggunakan handheld camera turut membantu The Raid dalam meraih kesan gritty dan realistis, layaknya film-film Paul Greengrass, seperti United 93, The Bourne Supremacy, The Bourne Ultimatum, dan Green Zone. Penyutradaraan Gareth Evans yang dinamis dan lebih mementingkan gaya dibanding substansi juga membantu film ini dalam memacu adrenalin penonton semudah membalikkan telapak tangan.

Untuk akting, Joe Taslim adalah orang yang patut diawasi ke depannya, jika ia lebih ingin menekuni dunia akting secara intens dibanding melanjutkan kariernya sebagai pejudo. Dapat dikatakan bahwa dialah most valuable actor pada film ini. Sementara Yayan Ruhian, yang berperan sebagai Mad Dog, seorang penjahat ahli bela diri, dapat ditunjuk sebagai scene-stealer. Selain itu, Yayan juga merancang koreografi-koreografi pertarungan pada The Raid dengan bantuan Iko Uwais. Duet tersebut jugalah yang bertanggung jawab atas aksi laga pada Merantau, film Indonesia perdana Gareth Evans.

Sementara untuk aktor senior Ray Sahetapy, begini, siapa saja yang bisa membuat aktivitas menyantap mie instan terlihat bengis, orang itu pantas mendapat acungan jempol. Dan Ray Sahetapy berhasil melakukan hal tersebut.

Ketika The Raid diputar untuk pertama kalinya di Indonesia sebagai film penutup Indonesia International Fantastic Film Festival (INAFFF) 2011 pada hari Minggu (20/11) lalu, Gareth Evans, sebelum karyanya diputar, sempat berpesan: “Jangan berpikir terlalu banyak, nikmati saja film ini.” Perkataan tersebut seperti memperingatkan penonton bahwa filmnya bertipe style over substance, lebih mementingkan gaya dibanding substansi, dan betapa brilyannya style over substance versi Gareth Evans ini. Wajib tonton.
(RS/RS)

Share:

Kirim komentar anda:

Beri komentar sebagai Guest:

logo_detikhot 
Kamis, 17 Mei 2012 19:03 WIB

Mikirin Konser Lady Gaga yang Terancam Batal, Marissa Nasution Bisa Marah

Mikirin Konser Lady Gaga yang Terancam Batal, Marissa Nasution Bisa Marah
Konser penyanyi Lady Gaga yang terancam batal tak hanya mengecewakan para penggemarnya yang memiliki sebutan Little Monster. Artis Marissa Nasution bahkan bisa marah jika memikirkannya.
 
Rabu, 16 Mei 2012 17:46 WIB

/rif Jadi Raja Sehari di Cikapundung

http://images.detik.com/content/2012/05/16/1093/rif-21.jpg
Salah satu momen khusus di konser ulang tahun /rif ke-18 adalah ketika drummer Magi mencium bibir sang..
 
 

Incoming

Senin, 14 Mei 2012 11:54 WIB

Incoming: VNS (Voiceless N Soulastic)

Dengan menjamurnya grup musik pembawa bendera jazz pop di Indonesia yang seakan tidak ada habisnya, bukan hal aneh jika sejumlah..

Music Biz

Selasa, 28 Februari 2012 14:10 WIB

Music Biz: Akhirnya, Ledakan Konser di Indonesia

Kerusuhan di luar stadion saat konser Metallica digelar oleh promotor AIRO pada 10 April 1993 silam yang membumihanguskan kawasan..

Q & A

Rabu, 02 Mei 2012 09:22 WIB

Q n A: Judika

Tentang single terbaru dan rencana album perdana Mahadewa