Rabu, 07/09/2011 18:11 WIB

Kill the DJ Segera Rilis Album Solo dan Ingin Ajak Glenn Fredly

Kemungkinan besar akan diberi judul Chicken Molotov.
Oleh: Reno Nismara
Share :   
image
Kill the DJ (Foto: MoRiza)
Jakarta -

Marzuki Mohamad, rapper yang memiliki nama panggung Kill the DJ dan juga merupakan gembong grup hiphop kolektif Jogja Hiphop Foundation (JHF), akan segera merilis sebuah album solo pada akhir tahun ini. Hal tersebut ia ungkapkan ketika dihubungi Rolling Stone Indonesia melalui surat elektronik.

“(Saya) sudah merekam empat lagu, dan akan bertambah lagi karena mempunyai beberapa draft. Tapi lihat saja nanti, karena targetnya mini album,” ujar Zuki, panggilan akrabnya.

Zuki juga mengemukakan bahwa ia harus merilis album tersebut tahun ini, dikarenakan padatnya jadwal untuk kepentingan keturutsertaan JHF dalam berbagai proyek dan tur di luar negeri, yang di antaranya adalah peran sebagai brand ambassador untuk sebuah brand kelas internasional yang sudah dijalaninya.

Ia juga mengaku harus lebih fokus dan kerja keras karena album ini, tidak seperti di JHF, dikerjakan sendirian saja. Zuki seoranglah yang bertanggung jawab dalam menyusun gagasan, lirik, dan spirit lagu.

Mengenai judul album, Zuki sedang menimbang-nimbang, namun ia menyatakan bahwa kemungkinan besar judul albumnya akan diambil dari karya seorang perupa yang juga merupakan teman Zuki, yaitu S. Teddy D. Karya tersebut bernama Chicken Molotov.

“Ketika melihat karya teman saya itu, saya selalu menangkap sebuah sindiran yang ditujukan untuk semua yang gemar berwacana besar tentang perubahan dan akhirnya hanya berhenti pada komodifikasi. Tapi judul tersebut masih tentatif, namanya juga proses kreatif,” jelas Zuki.

Mengenai tema, Zuki memang dikenal sebagai seseorang yang seringkali mengangkat isu sosial politik, seperti beberapa lagu yang telah dirilis sebelumnya “Cicak Nguntal Boyo”, “Busung Lapar di Lumbung Padi”, yang paling dikenal banyak orang “Jogja Istimewa”, serta “Negara dalam Keadaan Bahaya”, yang akan tersedia sebagai lagu bebas unduh pada situs ini. Namun, ia menekankan bahwa ia juga akan menyisipkan lagu dengan isu lain pada albumnya.

“Ada dua lagu berjudul ‘Pagi Imitasi’ dan ‘Orang Kesepian di Tengah Keramaian’, keduanya berbicara tentang attitude manusia mutakhir,” imbuh Zuki memberi contoh.

Berada di lingkungan hiphop kolektif, kolaborasi sepertinya menjadi hal yang wajib. Tetapi, Zuki masih belum berani memastikan adanya lagu kolaboratif, walaupun ia mengakui bahwa ia sempat ingin mengajak vokalis Melancholic Bitch, Ugoran Prasad, untuk menyanyikan bagian chorus lagu “Negara dalam Keadaan Bahaya”. Sayang, terjadi miskomunikasi tentang jadwal dan kini Ugo, sapaan akrab Ugoran Prasad, tengah berada di ibu kota Belanda untuk urusan pendidikan.

Zuki juga ingin mengajak penyanyi lokal kenamaan, Glenn Fredly, untuk berkolaborasi karena chemistry yang tercipta saat mereka berdua sedang berdiskusi, namun Zuki menunjuk sifatnya dan Glenn Fredly yang sama-sama moody sebagai biang keladi tertundanya kolaborasi tersebut.

Soal dampak yang diberikan dari perilisan albumnya, Zuki langsung menggunakan sudut pandang petani.

“Pikiran saya seperti petani tradisional dalam hal target. Sangat agraris. Tergantung cuaca. Seperti di JHF misalnya, kami sadar bahwa apa yang kami kerjakan adalah realitas kami, bukan sekedar produk yang kalau tidak laku kemudian berhenti dan bubar. Sampai mati itu akan jadi realitas,” jelas Zuki filosofis.

Ia melanjutkan, “Kami selalu berusaha mempresentasikan situasi sosial di lingkungan sekitar kami. Saya punya prinsip, proposal terbaik adalah karya nyata dan membiarkannya berbicara sendiri. Tentu saja dengan strategi minimal, misal mempublikasikannya. Setelah itu, seiring waktu berjalan, hal-hal akan datang secara natural.”

Ketika ditanya soal reaksinya jika album solo tersebut mencapai telinga para penyelenggara negara, Zuki dengan tegas menjawab, “Saya tahu bahwa kebebasan ekspresi dan berbicara saya dijamin Undang-undang. Saya mengambil hak saya sebagi warga negara. Selain menjalani kewajiban seperti membayar pajak, saya ikut menggaji mereka. Salah satu peran seniman adalah menggambarkan realitas yang direproduksi menjadi karya yang bisa berperan sebagai kontrol sosial.”



(RS/RS)

Hasil Rating Pembaca:  icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
Form Rating

Rating :

icon_star_full   icon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full  

Share:

Komentar terkini (0 Komentar)
1

Kirim komentar anda:

Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
logo_detikhot 
Senin, 28 Juli 2014 14:35 WIB

Trik Pongki Barata untuk Memperbaiki Musik Indonesia

Trik Pongki Barata untuk Memperbaiki Musik Indonesia
Idul Fitri bukan cuma soal kembali suci tapi juga memperbaiki 'kerusakan' di tahun sebelumnya. Termasuk di antaranya..
 
Jumat, 25/07/2014 22:08 WIB

Gitar Hingga Sedan Milik Elvis Presley Akan Dilelang

Sebuah gitar Martin D-28, sedan Cadillac Seville 1976 serta naskah pribadi film pertama Elvis Presley, Love .....
 
 

Incoming

Rabu, 16/07/2014 19:30 WIB

Incoming: RABU: Duo Folk Mistik Pengantar Nuansa Bergidik

Orang-orang menyebut musik mereka mistis dan misterius. Ditambah dengan menggunakan foto taburan kembang ziarah sebagai sampul..

Music Biz

Rabu, 18/06/2014 19:59 WIB

YouTube Akan Hapus Video-video Musik Label Independen?

Situs berbagi video, YouTube dikabarkan akan menghapus video-video musisi yang berasal dari label independen menyusul sengketa..

Q & A

Senin, 21/07/2014 18:10 WIB

Exclusive Q&A: Anton Newcombe (The Brian Jonestown Massacre)

“Keep music evil,” itulah semboyan yang lantang diserukan oleh Anton Newcombe selaku aktor intelektual grup..