Minggu, 31/07/2011 23:13 WIB
icon_star_full icon_star_full icon_star_full icon_star_off icon_star_off

Live Review: Blues 4 Freedom

Plaza Teater Kecil, TIM, Jakarta. 30 Juli 2011

Kata “blues” di dalam tajuk konser yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki itu sendiri memang
tidak mengacu kepada genre musik.
Oleh: Rama Wirawan
Share :   
image
Leonardo Ringo di Blues 4 Freedom. (Foto: Rama Wirawan)
Tidak usah berpikir terlalu keras saat Leonardo Ringo yang aransemen musik live-nya kental dengan irama swing atau Efek Rumah Kaca yang banyak memadukan unsur pop, post-rock, shoegaze, serta punk rock untuk lagu-lagunya ketika dua nama tersebut menjadi penampil dalam sebuah acara bertajuk Blues 4 Freedom.

Karena selain sudah diketahui oleh banyak orang bahwa blues merupakan akar dari semua musik modern, kata “blues” di dalam tajuk konser yang berlangsung Jumat [29/7] lalu di Plaza Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta itu sendiri memang
tidak mengacu kepada genre musik.

Sebagai salah satu program dari rangkaian perhelatan pameran seni rupa kontemporer yang dilangsungkan tiap dua tahun sekali oleh Dewan Kesenian Jakarta sejak 1968, Jakarta Biennale, Blues 4 Freedom juga dianggap sejalan dengan salah satu visi acara tersebut. Yakni sebuah penglihatan atas Jakarta sebagai kota multikultural yang belakangan malah terasa seperti semakin membatasi kebebasan manusia-manusia di
dalamnya.

"Tahu nggak apa itu freedom? Apa? Kemerdekaan?" Leonardo Ringo bertanya dari atas panggung di sela-sela lagu, seperti hendak memastikan bahwa penonton yang hadir mengerti arti dari tajuk acara malam itu.

"Freedom is you, man,"  lanjut Leonardo kemudian. "Freedom setiap orang itu berbeda. Freedom juga bagaimana caranya elo bisa keluar dari tempat ibadah dengan tenang tanpa ditungguin sama orang-orang bersorban."

Leonardo yang menjadi penampil pertama Blues 4 Freedom membawakan sekitar sembilan lagu dari album The Sun dengan aransemen berbeda dan menggunakan big band. Di antaranya adalah single pertama "Insecure," "Blatant," "Midnight Hooray" dan satu lagu dimana Wahyu Nugroho, vokalis/basis Bangkutaman, didaulat ke atas panggung untuk memainkan harmonica, "Wonderous Sky."

Ia sempat menyatakan dirinya merasa cocok dengan misi acara yang menggunakan foto Patung Pahlawan (biasa disebut 'Patung Pak Tani') berwarna latar merah solid sebagai artworknya itu.

"Sesuai dengan impian gue sejak kecil, jadi pak tani. Pertama gue lihat, 'Acara apa ini? Gambar pak tani, warna merah sama kuning.' Gue kira mau bikin partai baru," kata Leonardo lagi sebelum memberi jeda dan melanjutkan, "Ya. Semoga sosialisme jadi jawaban buat Indonesia."

Bangkutaman tampil berikutnya. Wahyu Nugroho selaku frontman band tidak terlalu banyak cakap di atas sana. Namun, pin bintang merah yang identik dengan sosialisme dan selama ini tersemat pada topinya itu seperti telah berbicara banyak karena menemukan rumahnya.

Bangkutaman memainkan lagu-lagu dari album terakhir mereka, Ode Buat Kota, seperti "Alusi," "Hilangkan," "Coffee People," "Menjadi Manusia," "Catch Me When I Fall" dan "Ode Buat Kota."

Pria setengah baya, berambut putih dengan tampilan sederhana yang memainkan harmonica dan didukung oleh band yang juga bersahaja muncul di panggung itu kemudian. Dialah Harry Pochang bersama band pendukungnya yang bernama Harry Pochang Blues Libre.

Musik mereka yang kaya akan khasanah mulai blues, etnik dan rock & roll bertolak belakang dengan kemasan luar tersebut.

Sempat membawakan satu lagu milik The Rolling Stones, "(I Can't Get No) Satisfaction," yang diaransemen ulang dan sebuah lagu sendiri bernuansa folk dengan judul "Negeriku Juara," Harry Pochang Blues Libre memeroleh sambutan yang luar biasa dari penonton.

Band rock yang kental dengan warna gothic dan industrial, Getah, menjadi band keempat yang tampil. Getah tampil membawakan sekitar tujuh lagu termasuk "Parasit Hati," "Tabula Rasa," "Menggapai Surga" dan "1000 Tahun." Panggung sempat dihiasi dua mahluk jelita, penyanyi Karissa dan pemain harpa Maya Hasan, pada beberapa lagu.

"Saya nggak tahu definisi freedom bagi kalian apa. Salah satu definisi freedom bagi kami adalah bebas dari rasa benci," kata Oddie, vokalis Getah, pada suatu waktu untuk menjelaskan bahwa mereka pun memiliki kesamaan visi dengan acara ini.

Tak lama setelah Getah turun, penonton tiba-tiba berteriak tatkala Boris mulai memainkan menyuarakan gitarnya. Penonton itu adalah para Rajawali dan Rajawati yang telah menanti band idola mereka sejak tadi, The Flowers.

The Flowers berhasil membuat venue menjadi makin panas pada malam hari itu. Lagu-lagu seperti "Negeri Berteriak," "Lonely Boy," "Kau Bukan Tuhan" dan, tentu saja, "Tolong Bu Dokter" direspon oleh para Rajawali dan Rajawati di depan panggung dengan ikut bernyanyi bersama.

Lantas The Flowers memungkas penampilannya dengan lagu "Rajawali" yang anthemic di mana vokalis Njet dan Boris membuka kaosnya atas permintaan penggemar.

Wajah-wajah penonton di depan panggung berubah sesaat setelah The Flowers turun. Karena band yang selanjutnya tampil, Efek Rumah Kaca, mempunyai basis penggemar sendiri yang juga sama besarnya.

Efek Rumah Kaca yang malam itu tampil tanpa basis Adrian dan digantikan oleh Hans, gitaris C'mon Lennon, langsung membuka penampilan dengan "Desember" yang--seperti biasa--memancing penonton ikut bernyanyi bersama vokalis/gitaris Cholil. Meski sempat terjadi kesalahan teknis pada sound system gitar di pertengahan lagu tersebut yang menimbulkan suara sangat memekakan telinga, penonton tetap memberikan applause untuk Efek Rumah Kaca.

"Kami band paling pelan yang tampil di sini. Kami nyari lagu yang blues kayaknya nggak ada," kata Cholil pada suatu jeda. "Tapi kalau blues itu tentang resah, semua lagu kami tentang keresahan."

Kemudian berturut-turut Efek Rumah Kaca memainkan "Mosi Tidak Percaya," "Debu-Debu Berterbangan," "Sebelah Mata," "Hilang," "Di Udara" dan "Jalang."

Malam semakin larut, namun itu tidak membuat tensi acara menurun. Navicula, band grunge asal Bali, tampil menggebrak panggung dan membuat penonton seperti kesetanan.

Semenjak lagu pertama, "Menghitung Mundur," dibawakan penonton di sayap kanan terlihat tak henti-hentinya melakukan body surfing yang ugal-ugalan. Kemudian berturut-turut "Kali Mati," "Everyone Goes to Heaven," lagu baru "I Refuse to Forget," "Budi Si Berani Mati" dan "Aku Bukan Mesin."

Pada bagian coda lagu disebut terakhir itulah terjadi sebuah kejadian mengenaskan. Pemain bass Navicula, Made, melakukan stage dive (melompat dari panggung ke kerumunan penonton) dan tidak ada satu pun penonton yang siap meresponnya.

Walhasil, Made yang belakangan diketahui mengalami cedera di bagian belakang kepalanya (dibawa ke rumah sakit dan harus mendapatkan lima jahitan) tidak dapat melanjutkan penampilan bersama Navicula dan secara otomatis pertunjukan mereka terhenti.

Pemungkas Blues 4 Freedom adalah band power trio blues rock Gugun Blues Shelter. Penampilan vokalis/gitaris Gugun, basis Jono dan pemain drum Bowie patut diacungi jempol. Pasalnya, tidak terlihat sedikit pun kelelahan meski faktanya mereka tampil pada tengah malam.

Mengaku tampil tanpa mempersiapkan setlist, Gugun Blues Shelter membawakan lagu-lagu seperti "Soul on Fire," "Woman," "When I See You Again," "Satu untuk Berbagi" dan "Turn It On." Gugun Blues Shelter juga membawakan dua lagu Jimi.Hendrix dengan sempurna, "Little Wing" dan "Freedom."

Pada "Freedom," tiba-tiba seorang penonton naik ke atas panggung dan memampangkan kaosnya yang bertuliskan: "Tolak SBY. Ganti rezim - Ganti sistim." Maka purna lah konser Blues 4 Freedom malam itu sebagai sebuah suara perlawanan.
(RS/RS)

Share:

Kirim komentar anda:

Beri komentar sebagai Guest:

logo_detikhot 
Kamis, 17 Mei 2012 19:03 WIB

Mikirin Konser Lady Gaga yang Terancam Batal, Marissa Nasution Bisa Marah

Mikirin Konser Lady Gaga yang Terancam Batal, Marissa Nasution Bisa Marah
Konser penyanyi Lady Gaga yang terancam batal tak hanya mengecewakan para penggemarnya yang memiliki sebutan Little Monster. Artis Marissa Nasution bahkan bisa marah jika memikirkannya.
 
Rabu, 16 Mei 2012 17:46 WIB

/rif Jadi Raja Sehari di Cikapundung

http://images.detik.com/content/2012/05/16/1093/rif-21.jpg
Salah satu momen khusus di konser ulang tahun /rif ke-18 adalah ketika drummer Magi mencium bibir sang..
 
 

Incoming

Senin, 14 Mei 2012 11:54 WIB

Incoming: VNS (Voiceless N Soulastic)

Dengan menjamurnya grup musik pembawa bendera jazz pop di Indonesia yang seakan tidak ada habisnya, bukan hal aneh jika sejumlah..

Music Biz

Selasa, 28 Februari 2012 14:10 WIB

Music Biz: Akhirnya, Ledakan Konser di Indonesia

Kerusuhan di luar stadion saat konser Metallica digelar oleh promotor AIRO pada 10 April 1993 silam yang membumihanguskan kawasan..

Q & A

Rabu, 02 Mei 2012 09:22 WIB

Q n A: Judika

Tentang single terbaru dan rencana album perdana Mahadewa