Senin, 04/07/2011 10:44 WIB
Movie Review: The Tarix Jabrix 3
The Changcuters, Olivia Jensen, Sutradara: Iqbal Rais
Cukup menggelitik
Oleh: Soleh Solihun
The Tarix Jabrix (Foto: Starvision)
Film dibuka dengan adegan yang kurang jelas: The Tarix Jabrix datang di lokasi kebakaran dan menyelamatkan korban di sana (bagian mereka menerobos rumah yang terbakar nan panas tapi masih memakai jaket kulit adalah bagian yang bisa jadi menggelikan jika saja ini bukan film komedi). Lantas, dikisahkan bagaimana mereka dihadapkan pada masalah di tempat kerjanya, termasuk di tempat kerja Cacing (Tria Changcut), perusahaan asuransi yang terancam bangkrut karena banyak klaim dari Bandung dan merupakan korban geng motor paling ditakuti di sana: Road Devils. Maka film ini bercerita soal bagaimana The Tarix Jabrix ke Bandung untuk bernegosiasi dengan Road Devils supaya tak melakukan tindak kekerasan dan kejahatan. Sebuah ide yang terdengar mustahil di kehidupan nyata. Yang lebih mustahil lagi, Jendral Road Devils adalah seorang perempuan cantik bernama Melly (Olivia Jensen). Ceritanya menyerupai film pertama: The Tarix Jabrix vs geng motor yang meresahkan masyarakat. Dengan kerangka cerita yang mirip begitu, sebenarnya film ini nyaris melakukan pengulangan (jika di film pertama Mulder (Dipa Changcut) yang beradu balap, kini giliran Cacing). Tapi cerita yang sebenarnya standar dan
mediocre ini diselamatkan oleh para pemerannya yang memang berkarakter. Selain tentu saja The Changcuters, masih ada para komedian senior dari Bandung: Denny Chandra dan Juhana alias Joe, dua pentolan P Project yang punya kemampuan mengubah dialog biasa jadi menghibur begitu keluar dari mulut mereka. Lantas ada Budi Dalton, pentolan bikers dari Bandung yang cocok sekali memerankan Kobo’i yang melatih para personel The Tarix Jabrix dalam menghadapi Road Devils. Para pemeran itulah yang kemudian menyelamatkan cerita di film ini sehingga tetap pada jalurnya sebagai film komedi dan mengundang tawa dari awal hingga akhir. Spontanitas mereka dalam menerjemahkan cerita hingga mengeluarkan banyak dialog yang kocak dan kental dengan nuansa Bandung (sebuah keputusan yang tepat, memilih kisah dengan latar belakang Bandung dan memakai orang-orang asli Bandung). Ibarat makanan, film ini adalah mi instan. Tak bergizi, tapi dengan kadar harapan yang cukup tahu diri, bisa terasa nikmat.
(RS/RS)