Rabu, 16/03/2011 14:51 WIB

Ebiet G. Ade

Legenda Musik Balada Indonesia
Oleh: Abhaya Mudra
Share :   
image
Ebiet G. Ade (Foto: Yarrania/Rolling Stone)
Jakarta - Mungkin, 21 album dan puluhan lagu hits yang telah dinyanyikannya belum bisa menunjukan kehebatan seorang Abid Ghoffar bin Aboe Dja'far atau yang lebih akrab dikenal dengan nama Ebiet G. Ade yang lahir di Banjarnegara, Jawa Tengah, 21 April 1954.

Lebih dari tiga dekade Ebiet G. Ade memukau kita dengan vokal balada yang halus lembut namun memepunyai karakter yang sangat kuat. Lantunan suara yang mendayu membuat kita sangat nyaman dengan nyanyiannya. Tak heran semenjak album pertamanya Camelia I diedarkan tahun 1979, hingga kini Ebiet G Ade tetap mampu hadir di industri musik Indonesia.

Pada awalnya Ebiet G. Ade, merupakan penggemar puisi dan ingin menjadi penyair. Di pertengahan era 70an, ia memasuki dunia seniman di Yogyakarta, dan berteman dengan nama-nama seniman yang cukup terdengar namanya, sebut saja, Emha Ainun Nadjib (penyair), Eko Tunas (cerpenis), dan E.H. Kartanegara (penulis). Beberapa puisi Emha bahkan sering dilantunkan Ebiet dengan petikan gitarnya. Di suatu acara pentas seni, Ebiet membawakan musik yang syairnya merupakan karya Emily Dickinson, Nobody. Beberapa teman, sahabat dan penonton yang menyaksikan Ebiet menyanyi pada sat itu malah mendukung dan meminta Ebiet untuk masuk dalam indutri musik di Indonesia.

Namun perjalanannya tidak semulus itu, namun akhirnya Jackson Records pada tahun 1979 menerimanya. Ebiet pun harus dengan berat hati meninggalkan Jogjakarta. Ternyata kepergiannya ke Jakarta membuahkan hasil yang sangat luar biasa, ia terus menulis lagu dan merekam lagunya untuk album-albumnya yang selalu berjalan dan tak pernah berhenti semenjak itu. Ia juga sempat manggung di beberapa negara Internasional dan merekam albumnya di Amerika Serikat.

Ebiet kerap membuat lagu berdasarakan pangalaman dan kenyataan yang terjadi di dunia nyata terutama ketika terjadi bencana di Indonesia, “Untuk Kita Renungkan” diciptakan pada saat gunung Galunggung meletus, “Berita Kepada Kawan”, dan lagu yang menceritakan Kapal Tampomas II “ Sebuah Tragedi 1981”. Walau sering membuat mengenai musibah alam, tidak ada maksud dari Ebiet untuk menjadi penanyi yang memang ingin menyanyikan bencana alam.

Namun tahun 1990, Ebiet memutuskan untuk tidak menyanyi dan tidak merekam selama kurang lebih 5 tahun. Kupu-Kupu kertas pada tahun 1995 merupakan album pertama sejak Seraut Wajah yang dirilis pada tahun 1990. Album Kupu-Kupu Kertas, Ebiet dibantu oleh teman-teman musisinya Billy J. Budiardjo, Erwin Gutawa, Ian Antono, dan Purwacaraka. Aroma rock di album ini lebih terdengar, hal yang jarang untuk seorang Ebiet G. Ade

Setelah kembali di dalam industri musik, Ebiet G. Ade masih kerap memunculkan lagu dan album yang pantas diberi pujian. Di tahun 2007 , dibantu oleh Antoe Hoed, Ebiet membuat album In Love: 25th Anniversary. Album ini didedikasikan kepada sang istri Yayu Sugiyanto yang telah menikah dengannya selama 25 tahun. Putra dan Putrinya pun ikut membantu dalam produksi dan ikut memilih lagu yang cocok untuk diberikan kepada istri tercinta. Beberapa lagu klasinya di aransemen ulang.

Hingga kini kurang lebih 21 album studio sudah pernah dirlis, dan puluhan lagunya juga berhasil masuk dalam beberapa kompilasi besar untuk rekaman di Indonesia. Segilintir penghargaan semenjak tahun 1979 terus diterima oleh Ebiet G. Ade baik sebagai seorang penyanyi maupun penyair. Rolling Stone Indonesia juga memasukan Ebiet G. Ade dalam 50 Greatest Indonesian Singer.

Denny MR memberikan suatu testimony untuk Ebiet G. Ade ,” Lelaki kelahiran Wonodadi tanggal 21 April 1955 tidak pernah bosan mengajak kita merenung setiap muncul teguran Tuhan. Lalu kita sama0sama menyadari betapa rakus sebenarnya umat manusia. Dan, setelah itu, seperti biasa, kita pun dengan mudah meelupaknnya,” ujarnya di Rolling Stone Indonesia.

Discography

  • 2005 - A
  • 2005 - B
  • 2007 - C

(RS/RS)

Hasil Rating Pembaca:  icon_star_officon_star_officon_star_officon_star_officon_star_off
Form Rating

Rating :

icon_star_full   icon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full  

Share:

Komentar terkini (0 Komentar)
1

Kirim komentar anda:

Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
logo_detikhot 
Minggu, 20 April 2014 13:01 WIB

Puluhan Cover Dancer Siap Bertarung di Semifinal Korea National Festival 2014

Puluhan <i> Cover Dancer </i> Siap Bertarung di Semifinal Korea National Festival 2014
Festival Korea tahunan terbesar, Korea National Festival kembali digelar 2014 ini. Rangkaian acara yang semakin seru..
 
Kamis, 17/04/2014 23:16 WIB

Kotak Kemasan Vinil 'Spacerider' Milik Suri Mengandung Serpihan Meteorit

Untuk Indonesia, Record Store Day 2014 berpusat di Jakarta lewat gelaran dua hari—Sabtu (19/4) di .....
 

Incoming

Senin, 07/04/2014 12:41 WIB

Incoming: Matajiwa: Duo Folk Aneh Beramunisi Eksplorasi

“Itu semacam perumpamaan untuk definisi brengsek, tapi kalau brengsek kan masih bisa dipakai dalam hal yang positif. Nah,..

Music Biz

Rabu, 13/11/2013 11:48 WIB

Memangnya Ada Musik Indonesia?

“Memangnya ada musik Indonesia? Memangnya ada kebudayaan Indonesia?” ujar etnomusikolog Rizaldi Siagian ketika saya..

Q & A

Selasa, 01/04/2014 16:37 WIB

Q&A: Rick Ross

Obrolan tentang ganja, wanita, album barunya yang 'klasik' dan rencana evakuasi jika Miami tenggelam.