Movie Review: Mau Jadi Apa?

Oleh
Soleh Solihun berperan sebagai dirinya sewaktu muda pada 'Mau Jadi Apa?' StarVisionPlus

Film yang maunya membuat penonton tertawa, tersentuh, dan terinspirasi

Tidak semua orang seberuntung Soleh Solihun. Pada film pertamanya ia menjadi aktor utama, penulis, sekaligus sutradara dalam kisah tentang dirinya sendiri. Padahal kalau dari paras, ia bukan materi bintang utama. Untuk taraf terkenal, Soleh tidak lebih populer dari komika lainnya. Ia sendiri tampaknya sadar dan dengan kocak memberi tahu penonton kalau Reza Rahadian sudah sering jadi bintang utama sehingga Rezalah yang lebih pantas memerankan Soleh muda.

Adegan di mana ia berbicara kepada penonton terjadi berulang kali dalam film Mau Jadi Apa?. Kadang di beberapa bagian, diperlukan grafis untuk menjelaskan hal-hal remeh seperti siapa artis yang ia maksud dalam lawakannya. Teknik ini terlihat inovatif, tapi juga mengisyaratkan ketidakpercayaan diri pembuatnya bahwa penonton mengerti apa yang dimaksud. Apalagi film ini penuh candaan referensial yang memang bisa membuat tersesat jika tidak punya pengetahuan tertentu sebelumnya.

Soleh terlihat sadar kalau kekuatan utama film ini adalah cerita tentang pengalaman pribadinya, nostalgia '90-an, dan musik. Di banyak bagian, semua berpadu dengan menarik. Tak banyak orang yang bisa fasih menerjemahkan kecintaan musik ke layar lebar. Lagu-lagu band alternatif dari akhir '90-an seperti Pure Saturday atau La Luna mewarnai film. Soleh sudah fasih untuk aspek ini.

Problema utama adalah skenario film. Sebagai komedian, Soleh tak usah diragukan lagi. Ia mampu mengocok perut lewat lawakan yang mengandalkan sudut pandang unik. Sebagai jurnalis, ia juga punya pengamatan yang asyik. Namun wilayah menulis naskah layar lebar adalah sesuatu yang baru. Film Mau Jadi Apa? terlalu banyak maunya. Ingin membuat penonton tertawa dengan set up lawakan lepas, ingin membuat orang tersentuh, ingin membuat penonton berpikir kalau film ini penting ditonton. Fokus yang membingungkan ini kemudian dipersulit karena terlalu banyak karakter yang ingin diceritakan.

Di bagian awal, Soleh menghabiskan banyak waktu menjelaskan tentang dirinya sendiri, tentang dunia yang ia miliki, tentang perempuan yang ia sukai, dan perkenalan beberapa temannya sambil juga melontarkan candaan yang sebenarnya tak berhubungan dengan cerita. Namun di bagian akhir, konflik teman-temannya yang tidak dibangun tiba-tiba mendominasi. Cerita yang ia investasikan penuh tentang naksir dengan teman sekampus berakhir begitu saja. Siapa itu Soleh dan kenapa Soleh itu penting malah tidak dijelaskan.

Film ini menghibur dan memberikan gambaran menarik untuk mereka yang akrab dengan karya-karya Soleh dan mengetahui tentang iklim pada akhir '90-an, namun tak lebih dari itu. Dibandingkan rekannya Ernest Prakasa yang sudah sukses lewat film seperti Cek Toko Sebelah, Soleh mesti belajar banyak.

Editor's Pick

Add a Comment