Movie Review: Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

Oleh
Salah satu adegan dalam film 'Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak'. Dok. Cinesurya

Simbol perlawanan terhadap patriarki

Lanskap indah Sumba menggantikan tampilan urban yang biasa kelam sebagai latar belakang dalam film-film Mouly Surya. Sang sutradara menghadirkan daerah tersebut menjadi karakter tersendiri; daerah terpencil yang asing dari kehidupan modern dengan para penjahat berkeliaran seenaknya saja. Hukum absen, begitu pula moral.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak adalah penyempurnaan dari banyak hal yang selama ini khas dalam karya-karya Mouly. Seorang feminis yang menempatkan perempuan sebagai ujung tombak. Di dalam tubuh Marlina, penonton diajak melihat karakterisasi yang dapat ditemui di film-film lainnya, namun kali ini lebih kuat: tak banyak bicara, penuh pendirian, pembawaannya kalem, dan menyimpan luka.

Marlina dihadapkan pada kenyataan pedih: keluarganya habis dan kawanan perampok menyatakan hendak merampas rumahnya lalu memperkosanya. Terjebak dalam situasi sulit ia berubah menjadi pahlawan bagi hidupnya sendiri dalam suatu vonis modis a la Quentin Tarantino. Seketika pemandangan di luar tak lagi penting, ini adalah kisah yang dingin tentang mereka yang termajinalkan dan memutuskan melawan.

Ketika Marlina berjalan membawa kepala sang pemerkosa, ia bukan hendak menuntut keadilan yang sebenarnya sudah ia menangkan. Ia justru hendak memberikan sebuah pernyataan menantang bagi patriarki. Lihatlah bagaimana sang supir truk tunduk di bawah todongan senjata tajam yang dipegang Marlina. Lihatlah anak buah sang pemerkosa yang pontang panting mencari Marlina.

Humor gelap membayangi perjalanan Marlina di sepanjang film. Entah itu di kantor polisi, di diri Novi, sampai para perampok. Di tengah pucatnya keadaan, sedikit hiburan memang diperlukan. Namun gelak tawa yang dihasilkan dibarengi dengan keprihatinan.

Pilihan Mouly untuk memaparkan apa yang terjadi setelah satu kejadian besar membawanya dalam petualangan cerita yang kontemplatif. Ia memperlihatkan resiko yang dihadapi seorang perempuan ketika memilih tak lagi diam. Marlina layak menjadi teladan.

Marlina adalah simbol perlawanan. Ia membuktikan kalau tak cukup waktu untuk hidup dalam ketakutan. Ia tak perlu menyerah dalam ketidakberdayaan. Persahabatannya dengan Novi yang berkebalikan darinya memberikan cahayanya untuk keluar di tengah kegelapan yang merundung hatinya. Ikatan kuat antar perempuan yang terjalin memberikan energi bagi masing-masing.

Secara penyutradaraan, Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak adalah karya Mouly yang paling mengasyikkan. Ia semakin matang dalam pemilihan gaya visual dan penceritaan. Ini bisa saja jadi film pop karena mudah dicerna.

Secara teknis, pengarahan sinematografi oleh Yunus Pasolang memanjakan penggemar film. Kamera yang diam di dalam rumah, lalu long take yang ditakar dalam pas, semuanya tak dilebih-lebihkan. Musik yang dibuat oleh Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani memadukan Barat dan Timur secara menyenangkan.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak mungkin tak terlihat seperti blockbuster, tapi film ini adalah santapan visual paling mengenyangkan tahun ini dari sinema Indonesia yang terus berkembang. Sebuah karya yang bisa dinikmati siapa saja sambil juga mengayakan pemikiran.

Editor's Pick

Add a Comment