Movie Review: My Generation

Oleh
Para remaja dalam 'My Generation'. IFI Sinema

Kompleksitas warna kehidupan remaja

Dalam observasi terbarunya tentang remaja, Upi memilih untuk memberikan pernyataan ketimbang tenggelam ke plot besar. Hasilnya adalah eksplorasi terhadap kompleksitas anak muda yang tepat sasaran. Empat karakter utama mendapatkan porsi yang pas dengan masalah mereka masing-masing.

Apa yang dialami oleh Konji (Arya Vasco), Zeke (Bryan Langelo), Orly (Alexandra Kosasie), dan Suki (Lutesha) sebenarnya adalah kisah klasik yang belum juga usang: persekutuan antara yang tua dengan yang muda. Keempatnya datang dari latar belakang keluarga dengan problema tersendiri. Tapi semua harus menghadapi tekanan atau absennya orang tua dalam kehidupan.

Untuk menggambarkan kekacauan dan ketidakpastian, Upi tak membebani karakternya untuk terjebak ke dalam intrik yang mengada-ada. Semua harus berjuang mengalami kerumitan yang membelenggu diri. Konji yang tidak percaya diri tumbuh dengan orang tua yang gila kontrol, Zeke yang agresif tinggal bersama orang tua yang hidup bersembunyi dalam kekecewaan, Orly yang eksploratif kehilangan tuntunan dari sang ibu yang membesarkannya sendirian, sedangkan Suki yang depresif kebingungan dengan jati dirinya.

Dengan penulisan karakter yang kuat dan pilihan untuk melepaskan mereka ke dalam belantara, Upi dengan mudah memaparkan masalah dan mengupasnya satu-satu. Karakter-karakter ini punya dimensi yang berlapis. Gelap dan terang bercampur dan kadang ke luar bergantian dalam keputusan yang diambil. Sesekali penonton dibuat mempertanyakan tapi presentasinya terasa wajar. Inilah dunia remaja, warna-warninya riuh.

Secara visual, estetika yang dimiliki Upi selama ini tak tersia-sia. Warna terang, entah itu di lokasi, pakaian, sampai pencahayaan membawa penonton menyelami dunia remaja dengan asyik. Lagu-lagu hip hop yang kemudian bertransisi ke musik rock di akhir mewakili perasaan yang dimiliki setiap karakter sekaligus juga relevan kepada anak muda kini. Penyuntingan yang cepat dan melompat-lompat juga menguatkan penyampaian pesan.

Namun harus dimengerti, ini adalah film Upi. Maka senyata apapun keruwetan karakternya, bahasa visual yang dipilih adalah idealisasinya atas anak muda. Dramatisasinya dibuat sadar sebagai film pop. Padahal film ini punya potensi untuk digarap dengan gaya penyutradaraan yang lebih mendekati realita. Tapi ini bukan masalah besar.

Dengan deretan film yang secara konsisten dibuat secara baik dalam belasan tahun belakangan, Upi berada di posisi yang aman. Walau sejauh ini tidak mempunyai performa yang bagus di layar lebar, film ini layak ditonton lagi dan lagi. Bukan hanya buat remaja namun catatan penting untuk orang tua.

Editor's Pick

Add a Comment