Poppie Airil (Efek Rumah Kaca)

Setelah bertemu Efek Rumah Kaca satu dekade lalu, ia bercerita tentang bagaimana rasanya menjadi personel tetap band tersohor itu

Oleh
Poppie Airil Muhammad Asranur

"Pasar bisa diciptakan! Pasar bisa diciptakan! Pasar bisa diciptakan!"

Nyanyian hampir tiga ribu penonton menggulung dan menggema kencang di Ballroom Kuningan City, Jakarta pada akhir Juli lalu. Ketika itu mereka tengah berpesta dengan Efek Rumah Kaca lewat konser dadakan bertajuk Tiba-tiba Suddenly Konser Again.

"Pasar Bisa Diciptakan" selaku fragmen pertama dari lagu "Biru" kemudian selesai dengan sempurna yang lalu disambut oleh permainan bas Poppie Airil. Para penonton bergoyang menikmati lekuk bunyi bas-nya; diciptakan oleh bassist pertama Efek Rumah Kaca, Adrian Yunan Faisal. Sang vokalis sekaligus gitaris, Cholil Mahmud, juga terlihat sangat menikmati. Ia menari kecil menebarkan pijakan kakinya di panggung yang hanya setinggi lutut orang dewasa. Pemandangan yang jarang sekali terlihat di panggung Efek Rumah Kaca sebelumnya.

"Memainkan bagian itu rasanya seperti nostalgia sama Douet Mauet"s," kata Poppie mengacu kepada band garage punk lamanya. "Cita-cita Cholil memang ingin punya lagu yang bisa bikin goyang karena album satu dan dua seperti lebih menghayati gitu, harus dirasakan banget. Dan di Sinestesia ada beberapa lagu yang bisa bikin goyang."

Efek Rumah Kaca saat tampil di Ballroom Kuningan City, Jakarta. (Foto: Ekawan Raharja)

Pada Agustus lalu, Rolling Stone Indonesia bertemu dengan Poppie di salah satu rumah makan pizza kawasan Jakarta Selatan. Ia adalah seorang vegan, sehingga satu loyang pizza tak berdaging yang kami pesan setengahnya tidak ditaburi keju. "Tepat sepuluh tahun, bulan ini, daku bertemu dengan Efek Rumah Kaca," katanya di tengah-tengah obrolan; ia memang dikenal sebagai pribadi yang memakai kata 'daku' juga 'dikau' sebagai kata ganti orang pertama dan kedua.

Agustus 2017 mulai menjadi periode perayaan bagi Efek Rumah Kaca. Mereka sering tampil membawakan secara utuh album perdana terpuji Efek Rumah Kaca yang tepatnya dirilis September 2007. Namun banyak penggemar yang tidak menyadari bahwa perayaan ini juga meliputi usia sepuluh tahun Efek Rumah Kaca bertemu untuk pertama kalinya dengan sang personel keempat, Poppie Airil.

Berikut adalah penuturan panjang Poppie tentang pertemuan pertamanya dengan Efek Rumah Kaca. Ia juga membeberkan banyak hal tentang band lamanya Douet Mauet"s, perubahan sudut pandangnya terhadap sebuah lagu, hingga proyek solo yang ia beri nama Bing.

Sebelum bertemu dengan personel Efek Rumah Kaca, apakah Anda masih ingat momen pertama kali mendengarkan musik mereka?
Awal-awal bertemu dengan Efek Rumah Kaca waktu itu malah belum mendengarkan musiknya sama sekali. Jadi waktu itu kebetulan banget kami tur bareng di tahun 2007. Waktu itu band daku masih Douet Mauet's. Kami jalan tanggal 16 Agustus sampai 19 Agustus, nama turnya adalah Evonica. Itu lucu banget karena tur Evonica yang bikin adalah Yuri, terus ada Endy manajernya Planet Bumi, sama Qeny anak hardcore gitu. Yang lucu adalah akhirnya Yuri menjadi manajernya Efek Rumah Kaca. Waktu itu kami tur Jawa-Bali; dari Jakarta, Semarang, Solo, Jombang, dan terakhir di Bali. Jadi ketemu mereka di situ, dengar musik mereka juga baru saat itu. Gila merinding banget ketika mereka membawakan "Sebelah Mata" atau "Tubuhmu Membiru….Tragis". Padahal waktu itu mereka lagi promo untuk album pertama, Efek Rumah Kaca, tapi mereka sudah membawakan "Tubuhmu Membiru". Mungkin karena sebelum rilis mereka sudah latihan terus, jadi kayaknya memang materi untuk dua sampai tiga album itu sudah siap. Ketika manggung mereka pun sudah bisa membawakan banyak lagu. Kalau mengutip Bowo dari Southern Beach Terror, waktu itu dia datang dari Yogyakarta ke Solo untuk nonton ERK dan Douet Mauet's, dia bilang, "Efek Rumah Kaca, 'jahat' banget band ini, Pop," maksudnya konotasinya positif ya.

Poppie Airil (kiri) di kemeriahan tur Evonica 2007. (Foto: Bystanders.wordpress.com)

Anda pernah mengatakan bahwa Akbar adalah orang pertama yang mengajak Anda untuk membantu Efek Rumah Kaca sebagai personel tambahan.
Tepatnya November 2011, waktu itu hampir tengah malam daku baru pulang ke rumah, ditelepon sama Akbar. Kedekatan sama Efek Rumah Kaca memang awalnya dari tur itu, setelahnya kalau ketemu-ketemu atau ada manggung bareng jadi sering mengobrol. Pernah juga waktu masih kerja di Provoke! daku menemani salah satu penulisnya untuk wawancara ERK. Waktu itu kami jalan dari Pondoh Indah Mall ke studio Sinjitos, sampai sempat jamming juga bawain "Melankolia". Daku main gitar.

Itu tahun berapa?
2007, nggak lama setelah mereka rilis album satu. Provoke! ada wawancara untuk rubrik Your Trash is My Treasure, Efek Rumah Kaca masuk banget ke situ. Jadi waktu itu Akbar menelepon malam-malam, meneleponnya kayak ringan gitu santai, "Poppie, lagi di mana?" "Di rumah nih baru pulang." Kayak mengajak minum kopi bareng gitu [tertawa]. Terus dia bilang, "Poppie, sibuk nggak?" Daku jawab kerja di Provoke! saja. Terus Akbar bilang, "Kalau bantu ERK bisa nggak? Dengar-dengar Poppie sekarang main bass kan? Bantuin Luky Annash ya? Kemarin Mas Pur sempat lihat." Jadi ada Arief Purwanto eks-penata suaranya ERK. "Yuri juga melihat Poppie main di Joyland," kata Akbar. Di situ daku memang main bas, dan waktu itu Bing sempat juga formasinya bas dan drum. Jadi kayak Death from Above tapi versi lebih ringan. Arahnya Indonesia lama, jadi kayak hard rock '70-an. Mereka tahu, makanya diajak main bas sama Akbar.

Jadi ternyata ketika itu Adrian dari 2010 sudah memutuskan untuk istirahat manggung bersama Efek Rumah Kaca. Kalau secara kreatif atau dapurnya sih masih berjalan. Waktu itu dia sempat diganti sama Hans Andi Sabarudin, tapi kayaknya Hans sudah mulai sibuk kerja makanya mereka mencari pengganti lagi. Ya sudah instan banget sih kejadiannya. Akbar bilang, "Ada lagu-lagu ERK kan? Besok latihan di Sinjitos ya?" Langsung begitu, "Hah? Besok latihan?" Jadi mereka dulu masih suka latihan di Sinjitos karena cukup dekat sama Iyub (Joseph Saryuf) dan kawan-kawan. Daku bilang, "Ya sudah kasih saja daftar lagu-lagu apa yang harus dibawakan." Waktu itu masih zaman SMS, terus dia mengirim 13 sampai 15 lagu. Daku pikir, "Ini latihannya bagaimana ya?" [tertawa]. Jadi besoknya latihan tiga hari berturut-turut untuk manggung di akhir pekannya di Bandung, acara STT Telkom. Terus besoknya main lagi di Urbanfest Ancol, daku ingat banget itu November 2011.

Pas ditelepon diajak main bas daku sempat mikir karena Adrian main bas-nya bernyanyi kan. Maksudnya notasinya jalan terus. Kadang malah permainan gitar Cholil yang ritmik. Itu lumayan jadi beban dan tantangan juga. Tapi akhirnya daku coba saja. Ternyata mereka memang mencarinya yang sudah kenal-kenal saja, mungkin biar enak memberi tahunya jadi nggak terlalu sulit.

Poster Urbanfest Ancol, Jakarta, panggung kedua Poppie bersama Efek Rumah kaca. (Foto: xyz-lastabjad.blogspot.co.id)

Apakah Adrian hadir di latihan pertama Anda bersama Efek Rumah Kaca?
Adrian nggak ada. Jadi waktu itu formasinya masih bertiga, belum ada tambahan lagi.

Ketika itu apa saja kesibukan Anda saat diajak membantu Efek Rumah Kaca?
Saat diajak kebetulan banget lagi di masa tiga bulan terakhir untuk Provoke!. Jadi sudah hampir lima tahun di Provoke! dan ingin istirahat dari media. Akhirnya dapat ajakan dari ERK itu seperti bonus juga karena ternyata mereka manggungnya banyak juga di luar kota, jadi bisa sekalian liburan gitu-gitu [tertawa]. Kalau bandnya, Douet Mauet's sudah tidak jalan dari 2010. Waktu itu lagi bantuin Zeke Khaseli yang Fell in Love with the Wrong Planet, sama Luky Annash tapi jarang-jarang banget. Yang lebih sering latihan sama Zeke walaupun mainnya juga jarang. Dan Efek Rumah Kaca yang bikin jadwal jadi padat. Karena nggak cuma akhir pekan, sempat hampir keteteran bagi waktunya. Karena masih di Provoke! jadi harus manggung dulu siang, terus sorenya balik kerja lagi di kantor. Sempat kayak gitu.

Dulu sempat culture shock juga, maksudnya mereka sosial politik gitu kan. Acara-acaranya kalau setelah main itu selalu ada diskusi atau wawancaranya, itu yang mengharuskan daku ikut wawancara juga. Itu sedikit aneh juga karena ketika itu daku hitungannya personel tambahan. Tapi mereka terbuka banget untuk mengajak wawancara seperti itu, seolah personel tetap. Dan itu lumayan bikin kaget karena secara konten masih adaptasi banget sama ERK. Sedangkan mereka sudah tercebur di sosial politik yang membalut ERK-nya sendiri.

Apakah Anda juga memiliki latar belakang sosial politik yang kuat?
Ketika itu tidak terlalu kuat. Semenjak masuk ERK jadi banyak cari tahu dan belajar. Sebenarnya di ERK itu seperti baca koran walaupun hanya dari baca judulnya saja. Tetapi lumayan dari baca judul kita bisa menelusuri lagi apa isinya. Keseharian atau lingkungan ERK seperti itu, seperti baca-baca judul koran jadi otomatis memang ikut berenang di situ. Sampai sekarang akhirnya jadi lebih banyak tahu, maksudnya tidak terlalu apatis ataupun pasif. Walaupun tidak terlalu vokal seperti Cholil, Adrian, maupun Akbar.

Pada Juni 2016 akhirnya Anda diresmikan menjadi personel tetap Efek Rumah Kaca. Apakah Anda masih ingat bagaimana momennya ketika itu?
Jadi waktu itu yang bicara duluan adalah Adrian ketika membantu solonya yang sudah mulai manggung-manggung. Dia bilang, "Poppie, kami ada rencana mengajak Poppie untuk menjadi personel ERK. Ya, akhirnya nanti bisa bikin lagu bareng, nggak cuma bantu-bantu di panggung saja." Setelah itu mereka mengajak pertemuan lewat Skype bersama Cholil yang lagi di AS, diajak lah di situ. Istilahnya meminang ya. Waktu itu di rumah Dimas (Ario, manajer Efek Rumah Kaca) dan Abigail (Nastasha, penyanyi latar Efek Rumah Kaca yang juga istri Dimas), terus kayak pura-pura kaget gitu padahal Adrian sudah bicara duluan [tertawa]. Tapi di situ daku bilang, "Kok bisa?" Terus kata Cholil, "Ya, ideologinya masih sama dengan ERK, sudah seperti keluarga juga, sudah berteman lama. Secara kreatif juga masih sama. Jadi akhirnya kenapa nggak?"

Efek Rumah Kaca 2017. (Foto: Dimas Ario)

Apa perubahan yang paling terasa semenjak menjadi personel tetap?
Kalau di atas panggung nggak banyak berubah. Dari awal juga sudah sering diajak wawancara bahkan sampai foto. Malah sempat ada poster cuma bertiga nggak ada Adriannya. Padahal waktu itu belum personel juga. Terus kalau di koran-koran ada wawancara juga beberapa kali ikut. Jadi kalau secara 'panggungan' nggak banyak yang berubah. Tapi untuk dapurnya jadi lebih tahu, bagaimana cara bikin dan pendekatan lagu-lagunya. Jadi banyak tahu juga, banyak belajar banget dari mereka. Dulu waktu membantu di panggung, mereka belum membicarakan banget hal-hal seperti ini. Setelah jadi personel pasti beda karena mereka jadi lebih terbuka. Maunya seperti apa, mau bikin apa, jadi lebih terlibat.

Kebetulan sekarang lagi workshop di studio karena Cholil sedang di Jakarta. Daku bikin beberapa lagu juga. Jadi sebelum masuk studio, kami kirim-kirim materi dulu lewat Skype atau lewat email. Nanti dipilih lagu mana yang bisa untuk ERK. Pada saat bikin lagu menurut daku Cholil dan Akbar memang ERK banget, gelap dan sepi-sepinya sudah ERK banget. Sedangkan daku groove gitu, jadi pas bikin, "Aduh bagaimana mengakalinya ya?" Tapi ketika workshop karena memang mereka sudah tahu mau ke mana arah lagunya, akhirnya rasanya ada ERK-nya juga. Formula-formula seperti itu yang sedang daku pelajari. Akhirnya jadi tahu. Padahal waktu itu sempat terlibat dalam Pandai Besi. Di situ, waktu mau bikin rekaman yang di Lokananta untuk aransemen ulang lagu-lagu Efek Rumah Kaca, sebenarnya juga bisa jadi petunjuk ke dapurnya mereka. Tapi memang nggak sejelas seperti sekarang. Sekarang itu bisa sampai berdebat banget. Kalau dulu karena banyak kepala juga di luar personel Efek Rumah Kaca, jadinya lebih cair. Kalau sekarang memang harus sudah tahu arahnya ke mana, bentuknya bakal seperti apa, akhirnya harus adaptasi lagi. Tapi mereka bilangnya tidak masalah, nggak harus yang seperti sudah-sudah. Malah mereka mencari apa yang belum pernah mereka bikin secara kreatif dan musikalnya. Senang sih karena mereka sangat terbuka gitu.

Dapat dikatakan Anda adalah penggemar pertama Efek Rumah Kaca – atau mungkin satu-satunya – yang diresmikan menjadi personel tetap. Setelah sudah berada di dalamnya, Anda melihat Efek Rumah Kaca seperti apa?
Pertama, referensi mereka memang sedikit berbeda dengan apa yang mereka eksekusi di ERK. Cholil sebenarnya lebih ke progresif, Akbar yang lebih jazzy, Adrian malah pop-pop Indonesia lama. Perpaduan itu unik banget. Sebenarnya Akbar dan Adrian sudah cocok banget. Di setiap lagunya mereka berdua bernyanyi banget, berdampingan. Itu yang membuat daku awal-awal cukup kesulitan bagaimana untuk bisa berdampingan sama Akbar, bisa bernyanyi bareng seperti itu. Tapi ada juga beberapa lagu yang basnya nahan, sedangkan gitar dan ketukan drumnya jalan. "Menjadi Indonesia" adalah lagu yang paling susah untuk dipelajari basnya. Karena sebenarnya basnya sesuai tempo tapi gitar dan drumnya agak distraktif gitu, jadi nggak enak rasanya menahan sendiri [tertawa]. Musik-musik mereka memang seperti itu, notasi-notasinya tabrakan. Padahal seingat daku mereka bukan orang-orang yang sekolah musik gitu. Akbar mungkin belajar karena pengalaman menjadi session player, dia suka main bareng sama senior-senior. Perpaduan itu yang membuat mereka menjadi orang yang kayak sekolah musik banget [tertawa]. Tapi menurut daku kesederhanaan musik dari mereka yang membuat itu luar biasa.

Apakah perpaduan musik itu juga terbentuk karena mereka sudah berteman cukup lama?
Mungkin itu bisa juga ya. Cholil dan Adrian memang sudah kenal dari sekolah, sempat punya band bareng juga. Mereka bertiga memang sudah cocok banget. Sempat kepikiran waktu menjadi personel ERK, ini jadi beban dan tantangan yang kedua setelah diajak sebagai pemain tambahan. Karena mereka itu ibaratnya sudah bertiga, ERK itu adalah Adrian, Akbar, dan Cholil. Ada beberapa pro-kontra juga daku sebagai orang keempat. Ada yang bilang, "Oh, maaf banget dengan segala hormat ERK itu cuma bertiga." Terus ada lagi yang bilang, "Oh, akhirnya Poppie!" Jadi ada yang senang, ada yang nggak senang juga. Tapi dengan adanya kehadiran daku sebagai orang keempat mudah-mudahan esensi Efek Rumah Kaca nggak terlalu berubah ya. Sebenarnya ini sedikit aneh juga karena dengan masuknya daku ke band mereka maunya jadi ada yang fresh di ERK, nggak seperti sebelum-sebelumnya. Tapi masih harus dicari-cari lagi sih formula musiknya.

Berbicara tentang penggemar Efek Rumah Kaca, menurut Anda apa yang membuat mereka begitu militan mengikuti band ini?
Yang pertama pasti lagu-lagunya, karena mereka bisa sampai terinspirasi dengan lirik-liriknya. Banyak banget yang bikin apa pun menggunakan lirik-lirik ERK gitu, entah ada di poster atau ilustrasi mereka. Terus ada juga yang menjadi pergerakan mereka, ada juga yang menjadi tahu tentang hal-hal yang mungkin sebelumnya belum mereka tahu. Kayak "Di Udara", kalau lagi manggung mereka selalu memintanya, "Lagu Munir, lagu Munir!" Pada saat itu mungkin memang musiknya menawarkan nilai lain di dalamnya. Mereka para penonton jadinya menyimak terus. Apalagi dengan kemampuan penulisan liriknya Cholil membuat orang makin menyimak ya.

Dalam dua tahun terakhir vokalis-gitaris Cholil Mahmud sementara berdomisili di New York. Meski begitu Efek Rumah Kaca tetap berjalan. Apakah bisa dibilang band ini memiliki rasa kekeluargaan yang sangat tinggi?
Makanya mereka dari awal memilih yang membantu itu dari teman-teman dekat, yang mereka tahu kira-kira enak diajak bekerja sama. Akhirnya itu yang bikin Efek Rumah Kaca bisa dibilang keluarga. Sebenarnya bisa dibilang juga seperti institusi ya? Tapi malah lebih pribadi untuk orang-orang di dalamnya. Sebenarnya lebih cocok dibilang keluarga karena nggak cuma manggung, kami suka makan atau nongkrong bareng juga. Walaupun kami masing-masing ada acara lain, tapi kalau ketemu itu rasanya sudah seperti keluarga. Yang bantuin di Pandai Besi juga merasakan hal itu, atau pun semuanya yang terlibat di lagu-lagu dan album ERK akhirnya jadi keluarga besar Efek Rumah Kaca.

Adakah pemain bas tertentu yang Anda jadikan panutan atau inspirasi?
Sebenarnya dulu nggak ada yang spesifik karena perhatiannya lebih ke gitar. Dulu waktu kelas dua Sekolah Menengah Pertama pernah zaman-zaman bereksperimen mulai main band, di situ baru belajar main gitar. Waktu mulai main band lucunya kami bergantian gitu. Misalkan kami berempat, si gitarisnya bisa jadi pemain bas, pemain drumnya bisa jadi gitaris, berputar-putar saja. Dari situ jadi ada pengalaman pernah main bas. Setelah itu saat mulai lebih berkarya bersama Douet Mauet's, nggak ada basnya di dalam band kan. Dulu sempat waktu namanya masih Resah Gelisah, nggak benar semua gitu namanya [tertawa], itu dance punk juga. Ada post punk kayak the Rapture, kayak !!! (Chk Chk Chk). Terus tiba-tiba ingin lebih kasar gitu dan kebetulan si pemain basnya sibuk kuliah, jadi latihannya berdua terus. Dari situ yang lumayan mengejutkan adalah ternyata si Douet Mauet's bisa main gitar sambil main bas. Waktu itu sempat memikirkan juga, "Kayaknya lagu ini butuh ada basnya atau setidaknya ada low-nya dalam suara gitar." Akhirnya waktu itu menemukan cara bagaimana main gitar tapi ada rasa-rasa basnya. Dapatlah tekniknya kalau mau main string tinggi yang di bawah, si jempolnya ikut main bas di atas.

Terus Luky Annash pernah minta bantuan untuk main bas. Jadi waktu itu dia minta bantuan ke dua orang yaitu Susan Agiwitanto, yang suka membantu Tika and The Dissidents serta Leonardo and His Impeccable Six, dan daku menggantikan Susan kalau nggak bisa. Luky pernah bilang, "Ya kalau Susan sudah dari bawaan orok main bas, tapi kalau Poppie ini gayanya lebih bermain," dia bilangnya gitu. Jadi sempat mengisi salah satu lagu di album pertama dia, 180 Derajat, tapi akhirnya yang dipilih yang diisi Susan semua supaya tidak belang.

Kalau referensi pemain bas awal-awal muncul justru setelah diajak Efek Rumah Kaca. Dulu sempat mendengarkannya malah Death from Above atau Talking Heads. Pemain bas Talking Heads (Tina Weymouth) mainnya unik kayak main gitar gitu, main di nada-nada tinggi. Sedangkan pemain bas Death from Above (Jesse F. Keeler) lebih fuzzy dan ada distorsinya, tapi rasanya sama seperti main gitar juga. Jadi dulu orang-orang memang bertanya, "Referensinya apa sih? Jaco (Pastorius) ya?" Justru nggak ke sana. Setelah itu akhirnya mendengarkan James Jamerson. Dari dulu sudah suka Motown tapi nggak tahu yang mengisi siapa karena nggak ada di kreditnya kan. Tapi akhir-akhir ini dia mulai keangkat namanya berkat riset seseorang tentang Motown. Ternyata dia jadi langganan untuk mengisi lagu-lagu Motown yang bagus. Akhirnya mengulik suara basnya walaupun tidak bisa diterapkan di ERK juga. Tetapi cara main dia lumayan mempengaruhi untuk pembuatan lagu ERK. Sedangkan ketika di Pandai Besi belum mendengarkan si James Jamerson, malah dulu referensinya Indonesia lama. Basnya juga cuma mendengarkan sedikit saja, paling arahnya ke Eka Sapta.

Apa yang paling Anda suka saat bermain bass?
Dulu waktu main bas kayak rebel gitu [tertawa]. Apa ya bilangnya? Dulu bebas banget mainnya. Dan dulu masih kebawa di Douet Mauet's yang lebih brutal gitu. Tapi pas di ERK itu sebenarnya lumayan banyak perubahan. Jadi waktu itu sempat ketemu drummer Douet Mauet's lagi, ketemu untuk latihan dan main di acara reunian, dia bilang, "Cara mainnya sudah dewasa ya?" Mungkin karena permainan Akbar mempengaruhi juga. Dulu awal-awal latihan Akbar pernah bilang, "Pop, rasakan saja lagunya. Notasinya nggak harus sama, nggak harus langsung mengambil yang jalur nyanyi-nyanyi dulu." Waktu itu Cholil kayak sudah malas latihan membawakan lagu-lagu lama, sudah hampir nggak peduli. Ketika itu yang banyak mendukung, yang sabar, adalah Akbar. Cholil kayak yang mengulang-ulang saja sambil bernyanyi, mungkin dia merasa, "Aduh, fase-fase ini harusnya sudah nggak ada di band," [tertawa]. Dari situ kenapa sampai sekarang kalau manggung orang-orang bilang, "Mas Poppie kalau manggung enak banget rasanya." Sebenarnya itu adalah kesulitan daku di Efek Rumah Kaca, memang harus merasakan banget lagunya kalau nggak dirasakan malah jadi susah. Dari situ daku menerapkan cara itu ke semuanya, jadi lebih menghargai lagu yang ingin kami bawakan. Ada tanggung jawabnya. Dari rasa itulah yang bikin nikmat dalam bermain bas.

Anda sendiri memandang Adrian sebagai pemain bas seperti apa?
Cara Adrian bermain bas sangat unik, apalagi sudut pandangnya terhadap lagu yang bakal dia isi. Di satu lagu yang sama bisa terdapat low banget sampai high, itu jaraknya jauh banget kalau di bas. Apalagi dulu awal-awal pakai Jazz Bass-nya Adrian yang long scale. Kalau sekarang lumayan percaya diri karena short scale jadi secara kecepatan bisa mengejar. Dulu mikirnya, "Ini Adrian mainnya bagaimana ya? Dari low ke high." Itu yang membuat permainan dia bernyanyi banget. Unik banget. Sebenarnya pemain bas Talking Heads, Tina Weymouth, memperlakukan lagunya sedikit mirip Adrian. Ada lagu yang mereka biarkan saja nggak perlu ada low-nya, main saja di senar-senar tinggi. Jadi permainan bas Adrian kalau dijadikan vokal itu bisa jadi nada nyanyian juga. Kalau ditanya pertanyaan yang tadi lagi perihal pemain bas yang menginspirasi, ya Adrian salah satunya.

Album Sinestesia masih Adrian yang bermain bass kan?
Semua Adrian. Jadi waktu Sinestesia, Adrian banyak di rumah. Waktu itu kalau nggak salah sempat terdengar omongan Cholil dan Akbar, "Iya nih Si Boy," julukan mereka kepada Adrian, "Memang banyak di rumah. Karena punya banyak waktu akhirnya mencari notasi yang susah-susah, yang lebih rumit." Bahkan mereka sempat bercanda, "Wah, album ini basnya terbaik. Dia mau mengejar predikat itu kali ya?" [Tertawa]. Sampai bercandanya seperti itu. Lagu yang "Merdeka" itu masih Adrian. Mungkin nanti selanjutnya baru daku yang mengisi. Justru daku malah sempat mengisi gitar di "Hijau".

Sebagai pemain bas tentu Anda harus memiliki kekompakan dengan pemain drumnya. Bagaimana Anda melihat Akbar sebagai pemain drum?
Sebenarnya jawaban ini bakal sama kalau bertanya tentang Cholil juga, mereka unik banget. Mereka itu punya ciri khas masing-masing; notasi Cholil ada yang Cholil banget, begitu juga dengan Adrian. Sedangkan Akbar itu menjaga banget. Maksudnya, sejauh ini daku menonton musisi-musisi lokal, yang bisa menjaga sekaligus mengubah suasana di dalam satu lagu itu adalah Akbar. Dan itu aneh banget cara mainnya, cengkoknya aneh, hitungan-hitungannya di luar kebiasaan pemain drum lain. Ini bukan karena daku masuk sebagai personel ERK, tapi yang daku lihat memang seperti itu. Mereka sama-sama unik, punya cara masing-masing. Dan bagus sekali ketika dipadukan di dalam ERK. Kalau pemain drumnya bukan Akbar, mungkin tidak jadi ERK.

Apa perbedaan yang Anda rasakan antara Akbar dengan Ery Trianto di Douet Mauet's?
Kalau Ery itu lebih referensi. Waktu itu dia sempat menolak juga di Douet Mauet's, "Ah musiknya jangan seperti ini deh, kita coba yang lain." Akhirnya dikasih masukan, dia memang harus seperti itu baru hasilnya jadi berbeda. Sebenarnya yang membedakan mungkin cara merasakan lagunya. Di setiap lagu ada nyawanya dan bagaimana caranya mereka bisa menyatu dengan itu. Dan Akbar itu cara mainnya penuh perasaan banget.

Akbar sempat bermain drum untuk Douet Mauet's kan?
Iya, sempat membantu. Dan itu rasanya beda banget. Jadi waktu itu main di Bulungan, acara SMA 70, tahun 2009. Jadi ada satu lagu Douet Mauet's judulnya "Charismatic Enthusiasm". Kalau Ery yang main itu lebih garage rock, sedangkan ketika Akbar yang main itu rasanya berbeda banget. Ada rasa fusion atau jazz-nya sedikit, dan itu enak banget. Mungkin suasana-suasana seperti itu yang ditawarkan Akbar ke orang-orang. Kalau mendengarkan band new wave Belanda tahun '80-an, The Mo, itu bagian drumnya rasa-rasanya mirip dengan Akbar. Nggak tahu deh Akbar suka atau nggak, tapi kalau daku mendengarkan The Mo itu seperti mendengarkan Akbar.

Efek Rumah Kaca memiliki kekuatan di departemen lirik. Sebagai sesama penulis lirik, Anda memandang Cholil seperti apa?
Penulisan lirik di Douet Mauet's, kalau memperhatikannya lagi sekarang, berantakan banget sih [tertawa]. Menggunakan kata-kata yang nyentrik padahal secara grammar salah. Justru sekarang lagi belajar-belajar nulis lirik untuk Bing, solo daku yang dulunya instrumental tapi sekarang jadi lebih folky. Daku banyak belajar dari Cholil, tapi nggak mengejar ke cara dia juga. Sebenarnya Cholil dalam menulis lirik itu seperti bercerita. Judul-judul lagu ERK itu seperti judul koran, nyentrik. "Kenakalan Remaja di Era Informatika" misalnya. Menurut daku Cholil memang mencoba menyampaikan perspektif dia saja. Dia merasa terpanggil akan sesuatu, dia nggak mengenal Munir secara pribadi juga namun dia sudah menonton dan membaca banyak tentang Munir jadi merasa orang-orang perlu tahu tentang itu. Bahasa Indonesia itu susah banget, daku juga lagi belajar banget. Dan menurut daku Cholil sudah tahu cara menulisnya, padahal dia nggak sekolah bahasa juga. Tapi kemampuan dia bercerita ditambah pengetahuannya yang membuat dia bisa menulis lirik seperti sekarang.

Apa lagu Efek Rumah Kaca yang paling Anda suka mainkan di atas panggung?
Sekarang lagi "Putih". Bahkan sebelum jadi personel ERK, bisa membawakan lagu "Putih" itu benar-benar bersyukur banget. Karena di lagu itu secara nggak langsung daku bisa sambil, istilahnya, mengingat Tuhan. Di lagu itu ada kalimat la ilaha ilallah yang dinyanyikan. Dan daku menyanyikan bagian itu. Ternyata daku bermusik bisa sambil beribadah juga, bisa sambil mengingat Tuhan. Rasanya kecil banget tapi kok bisa ya? Daku nggak kepikiran juga bisa sampai merasa, "Bisa mengaji di musik ya." Daku memang nggak terlalu pintar juga dalam urusan ibadah. Tapi maksudnya itu jadi seperti media daku bersyukur. Lagu "Putih" itu kalau dibawakan jadi lebih ingat Tuhan.

Pada awal 2016 Efek Rumah Kaca menggelar konser tunggal Sinestesia yang dianggap sebagai salah satu konser terbaik Indonesia. Apa yang Anda rasakan ketika itu?
Terus terang yang di panggung nggak tahu dengan adanya visual yang seperti itu. Kami cuma tahu dari ekspresi para peonton. Jadi saat ditembak dengan mapping yang bikin penonton kagum, ekspresi mereka bikin daku merinding juga. Daku waktu itu merasanya setiap lihat respons dari para penonton, daku jadi penasaran banget. Waktu itu pas lihat contoh awalnya belum begitu jelas juga. Namun secara visual ketika melihat hasil foto-fotonya memang gila sih. Tapi sebenarnya kalau daku pribadi capek banget waktu itu karena Sinestesia dibawakan semua, di mana itu durasinya panjang semua. Dan daku baru bisa semua karena lagu-lagunya baru dimainkan di latihan. Tapi setelah selesai benar-benar lega banget, maksudnya bisa melewati fase itu. Setelah itu sudah ringan saja bisa membawakan lagu-lagu Sinestesia. Dan karena ini konser sendiri, membawakan album itu jadi rasanya berat sih. Tapi secara bersamaan kami juga senang banget akhirnya bisa membawakan semua lagu di Sinestesia. Karena sebelum-sebelumnya yang sering dibawakan itu hanya "Jingga", "Putih", dan "Biru".

Panggung konser Sinestesia pada 2016. (Foto: Ario Bimo)

Cholil masih di AS ketika Anda diresmikan menjadi personel tetap. Bagaimana etos kerja Efek Rumah Kaca dengan salah satu personelnya berada di beda negara?
Sebelum-sebelumnya daku belum terlalu aktif, baru mulai aktif di workshop-workshop sekarang. Istilahnya masih beradaptasi sama kreatifnya mereka. Tapi sejauh ini kayak masih bisa karena mereka terbuka dalam semua hal. Jadi bisa ditampung dan ditindaklanjuti. Ya itu contohnya, kalau pas daku yang bikin lagunya, nggak tau deh rasanya akhir-akhir ini kalau bikin lagu sudah untuk Bing saja. Kalau di ERK atau di Pandai Besi, memang harus berbeda. Jadi kalau bikin lagu sudah lumayan tahu sebenarnya untuk jatahnya Bing bagaimana atau untuk yang ERK harus bagaimana. Ada beberapa lagu yang tadinya untuk Bing, tapi bisa juga berpotensi dibawakan oleh ERK atau Pandai Besi. Jadi dilempar dulu ke mereka, kalau memang ternyata belum cocok baru dikembalikan lagi ke aransemen atau caranya Bing. Kayak si "Rintik", sebenarnya dibikin untuk Bing karena Bing seperti arsip, daku mengarsipkan diri sendiri tentang semua hal yang daku tahu sampai yang daku ingin tahu. Jadi waktu itu pernah bertamu ke rumah Adrian, melihat anaknya baru lahiran. Dengan keterbatasan matanya untuk melihat, Adrian bercerita seperti dia benar-benar melihat dan dia benar-benar tahu rintik rindu anaknya sendiri. Di situ daku terpanggil banget. Setelah itu pulang ke rumah langsung bikin lagu, direkam menggunakan handphone. Tetapi pas didengar lagi memang terasa lagu ini bukan untuk Bing. Akhirnya dilempar ke Pandai Besi, jadilah si "Rintik" itu.

Apakah Anda kesulitan membagi diri untuk Efek Rumah Kaca, Pandai Besi, dan Bing?
Untungnya nggak terlalu sulit karena dasarnya ERK, Pandai Besi, dan Bing sudah kuat. Misal pas bikin lagu dan sudah hampir selesai, di situ daku tahu lagu ini untuk siapa. Sekarang akhirnya sudah seperti itu. Tapi memang Bing yang awal dengan Bing yang sekarang sudah berbeda. Sebenarnya sudah mulai bikin dari tahun 2010 kan, dan yang di atas 2013 itu sudah berbeda. Tapi itu tadi, karena dasar Efek Rumah Kaca-nya sudah kuat jadi nggak kesulitan. Itu sebenarnya membantu si Bing juga. Keterbukaan mereka membuat daku tahu batasannya ada di mana.

Anda memulai karier bermusik dari kancah musik independen Bogor. Sekarang Anda melihat kancah musik kota tersebut seperti apa?
Sepertinya sekarang sudah mulai seperti tahun 2005 atau 2006, seperti zamannya awal-awal Douet Mauet's. Sekarang ramai kembali, indie rock sekarang lagi ramai juga ya? Pop punk juga masih ramai. Dulu awal-awal main sama Douet Mauet's, pergerakannya lumayan eklektik hampir sama dengan sekarang. Dulu beragam banget, sekarang memang belum terlalu beragam tapi sudah mulai banyak keunikannya. Sempat dengar beberapa yang baru seperti si band surf rock itu, The Mentawais. Bukan bermaksud menyamakan tetapi dulu ada band rockabilly juga di Bogor, macam si Tikus Bangsat. Tapi kayaknya pergerakannya mulai bangkit lagi karena The Kuda. Sepertinya mereka lumayan dipandang sama yang di luar kota jadi akhirnya memicu band-band yang lain. Mungkin ya. Pandangan daku sih seperti itu.

Sebelumnya Anda sempat membahas tentang latihan bersama Ery untuk reuni Douet Mauet's. Sayang sekali akhirnya tidak terjadi. Sebenarnya apa penyebab utamanya?
Ternyata memang harus selesai saja. Daku merasakan sudah nggak bareng saja sama Ery. Walaupun sebenarnya yang kami latih adalah lagu-lagu sendiri jadi mau hasilnya seperti apa, bebas-bebas saja. Tapi kayak, "Ah, ini udah nggak sih." Ada titik di mana daku merasa seperti itu. Nggak tahu sih, permainan Ery bisa jadi sudah lebih berkembang atau lebih bagus dari sebelumnya, dan sebenarnya Douet Mauet's memang mainnya harus kacau saja nggak boleh rapi. Daku saja merasa permainan gitar daku sudah berbeda pada saat latihan itu. Jadi sudah beda saja rasanya.

Apakah ini berarti sudah tidak ada lagi kemungkinan Douet Mauet's untuk reuni?
Kayaknya sih nggak. Tapi waktu itu Ery sempat bilang mau meneruskan, minta izin. Daku bilang silakan saja. Karena waktu itu daku nggak memutuskan bubar, daku mengundurkan diri. Cuma Ery bilang, "Ya Douet Mauet's berdua, lebih baik bubar saja." Tapi terakhir-terakhir dia sempat bilang mau bikin lagi, ada yang meneruskan. Daku bilang teruskan saja.

Douet Mauet's. (Foto: Putera Rizkyawan)

Bagaimana dengan materi baru Bing?
Dari tahun lalu sebenarnya sudah mau merilis. Jadi Cliff Notes, inisiasinya Whiteboard Journal, mau meriliskan kaset. Bing itu sebenarnya sudah ada beberapa yang bisa dirilis tapi baru instrumen semua. Jadi bisa dibilang ada beberapa album konsep, satu album isinya cuma dua lagu, satu lagu itu ada tiga sampai empat fragmen di dalamnya. Ini dikelompokkan karena memang temanya hampir sama. Akhirnya digabung dalam satu judul saja. Jadi yang rencananya nanti bakal dirilis sama Cliff Notes itu judulnya "Indo Pasifik". Rencananya mau membahas darat, laut, dan udaranya Indonesia. Di dalam lagu itu ada "Indo Pasifik", "Wamena", dan "Palangkaraya". "Indo Pasifik" itu berkaitan dengan perairan di Indonesia, kalau "Palangkaraya" mewakili datarannya. Ada juga "Tanam Mundur", tentang kultur agraria Indonesia. Beberapa lagu anehnya seperti "Wamena" dan "Delta Mahakam" sebenarnya adalah lagunya Douet Mauet's. Jadi ada empat lagu di Bing yang sebelumnya untuk Douet Mauet's, "Ekstrakurikula dalam Seni", "Wamena", "Posisi Menentukan Prestasi", sama satu lagi "Delta Mahakam". Karena rencana awalnya Douet Mauet's mau berubah nggak seperti dulu lagi. Waktu itu sempat sudah ada "Agraria Kultura" yang liriknya bahasa Indonesia. Rencananya mau meneruskan materi seperti itu. Musiknya juga sudah berbeda, tapi ternyata Doeut Mauet's-nya sudah selesai.

Kapan rencananya akan dirilis?
Inginnya tahun depan sudah ada ya. Setelah konser-konser dan workshop sama ERK harus segera dikeluarkan karena sudah kelamaan juga. Dan ternyata orang-orang banyak yang menunggu. Setelah "Indo Pasifik" bakal ada lagu "Herbarium Bogoriense", sebuah penghormatan untuk kota kelahiran atau kenangan masa kecil selama daku di Bogor. Ada juga setelah itu, "Sutradara Lama", sebuah lagu yang bercerita tentang sutradara-sutradara film lama yang membuat daku terbuka banget sama film-film Indonesia lama.

Pandai Besi akhirnya merilis lagu sendiri. Apakah Ini upaya kalian untuk melepas bayang-bayang Efek Rumah Kaca?
Akhirnya pertanyaan itu kami tidak bisa jawab. Akhirnya memang kita membiarkan beberapa pertanyaan yang tidak harus ada jawabannya. Seperti, "Apa bedanya ERK dan Pandai Besi?" Sekarang akhirnya kami bebaskan saja. Dulu sempat kami bilang, "Ya, kalau kami punya lagu sendiri, kami bisa nih lepas dari Efek Rumah Kaca." Tapi ternyata karena kami keluarga besar, si Pandai Besi bantuin ERK untuk panggung format Sinestesia, terus Pandai Besi membawakan lagu-lagu ERK di atas panggung, akhirnya menurut kami pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak harus ada jawabannya. (rn)

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Free Download: Future Collective - "Molposnovis (feat. Anindita Saryuf)"
  2. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  3. 'Pengabdi Setan' Versi Baru Menjadi Film Horor Indonesia Terlaris
  4. Sonic Fair 2017 Resmi Pindah ke Lokasi yang Lebih Luas
  5. Menyemai Inspirasi di Archipelago Festival 2017

Add a Comment