Hugh Hefner, Pendiri Majalah ‘Playboy’ Wafat di Usia 91 Tahun

Editor majalah legendaris ini membantu percikan revolusi seksual

Oleh
Hugh Hefner. Glenn Francis

Hugh Hefner, pendiri dan editor pertama Playboy, yang mencelupkan revolusi seksual pascaperang ke banyak meja kopi di seluruh dunia, tutup usia karena penyebab alami pada Rabu (27/9) lalu. Playboy telah mengonfirmasi wafatnya pendiri majalah tersebut.

"Ayah saya tinggal dalam kehidupan yang tidak biasa dan berpengaruh sebagai pelopor media dan budaya, dan terkemuka dibalik beberapa gerakan sosial dan budaya yang signifikan berupa advokasi kebebasan berpendapat, hak sipil, dan kebebasan seksual," ungkap Cooper Hefner, kepala kreatif perusahaan Playboy sekaligus putra Hugh.

"Ia mendefinisikan gaya hidup dan etos yang tersemat di jantung merk Playboy, salah satu yang terkenal dan bisa bertahan dalam sejarah."

Majalah pria terkemuka di masanya, Playboy membantu membawa fotografi eksplisit, diwujudkan dengan foto telanjang di dua halaman tengahnya, ke arah arus utama. Logo ikonisnya –kelinci dengan dasi kupu-kupu –terpampang rapi di tempat hiburan malam, perusahaan rekaman, hingga serial televisi. Dan dengan smoking jacket dan pipa khasnya –dan piama sutra yang ia sering gunakan saat bekerja –Hefner menjadi perwujudan dari kesan dan gaya hidup penuh petualangan seksual namun tetap sopan, teladan bagi generas-generasi pria selanjutnya.

Hefner bukan pilihan pertama yang disangka orang dapat membuat kerajaan semacam itu. Lahir di Chicago pada 9 April 1926, ia adalah putra dari pasangan Methodist, tidak ikut berperang dalam Perang Dunia II, mendapat gelar sarjana psikologi dari University of Illinois, dan masih perawan hingga usia 22 tahun.

Kariernya, bagaimanapun, diramalkan dari dua hal: ia menerbitkan komiknya sendiri di SMA, "School Daze," dan setelah kuliah, ia mempelajari penelitian seks dari Alfred Kinsey, ilmuwan yang menerbitkan buku kontroversial, Sexual Behavior in the Human Male. "Saya dibesarkan di rumah tipikal Midwestern dengan banyak represi," kata Hefner. "Hidup saya, dan pembuatan Playboy, adalah tanggapan dari represi tersebut. Saya mencoba membuat perbedaan, dan saya rasa saya berhasil."

Di awal '50-an, Hefner secara resmi memasuki dunia penerbitan sebagai copywriter di Esquire, yang saat itu berbasis di Chicago. Saat majalah tersebut menolak memberinya kenaikan gaji, ia memilih untuk tinggal di kota tersebut sedangkan Esquire pindah ke New York. Hefner menyadari takdir lain untuk dirinya, berkaitan dengan represi pasca perang tahun '50-an. "Saya melihat kembali gemuruh '20-an, dengan jazznya, Great Gatsby dan film-film masa pra-Code sebagai pesta yang entah bagaimana saya lewatkan," jelasnya. "Setelah Perang Dunia II, saya mengharapkan sesuatu yang serupa, kembali ke periode setelah perang pertama. Tapi saat panjang rok semakin turun alih-alih naik, saya tahu kita dalam masalah besar. Saya masuk dalam periode yang sangat konservatif dan serius –secara sosial, seksual, dan politik."

Dengan 8000 dollar AS (sekitar Rp 108 juta di masa sekarang) –termasuk 1000 dollar AS dari ibunya –Hefner menerbitkan edisi pertama Playboy, dengan nama Stag Party, di akhir 1953. Seperti ditulis Hefner di catatan editor pertamanya, visinya untuk Playboy adalah "menggabungkan cocktail dengan satu atau dua hors d'oeuvre, memainkan sedikit musik di fonograf dan mengundang wanita untuk perbincangan sunyi di Picasso, Nietzsche, jazz, seks." Sampulnya memperlihatkan Marilyn Monroe, yang lebih jelas lagi terlihat di dalam –dalam foto telanjang di halaman tengah yang diambil beberapa tahun sebelumnya.

Terbitan tersebut terjual secara impresif sebanyak 50 ribu kopi, dan ide Hefner untuk melepas kerinduan sebagai alternatif dari masa-masa Eisenhower yang hambar sangat berhasil. "Saya hanya merasa ada cara lain untuk hidup," ujarnya. "Di bawah semua konservatisme dan represi, ada kerinduan untuk hal berbeda. Itu lah alasan kesuksesan majalah ini, mengapa orang menerimanya dari awal."

Pada 1963, nama Hefner menjadi buruk saat ia dituntut karena menerbitkan foto eksplisit dari aktris Jayne Mansfield. (Juri tidak dapat membuat keputusan dan Hefner dibebaskan.) Di tahun yang sama, Gloria Steinem muda menyamar menjadi Playboy Bunny di salah satu Playboy Club dan menulis kritik pedas tentang etos dan chauvinisme majalah dalam artikel berjudul "A Bunny"s Tale" yang diterbitkan majalah Show.

Di dekade-dekade selanjutnya, majalah tersebut menerbitkan foto eksplisit dari para Playboy Bunny bersama gambar dari bintang seperti Pamela Anderson, Kate Moss, Madonna, dan Cindy Crawford. Akan tetapi, Hefner membayangkan Playboy sebagai lebih dari majalah eksplisit. Ini juga menjadi panteon dari penulis-penulis bergengsi, termasuk John Steinbeck, Tennesse Williams, John Updike, Gore Vidal, Arthur C. Clarke, Philip Roth, dan David Mamet, di antaranya. "Playboy Interview" yang ikonis diluncurkan pada 1962 dengan penulis yang nantinya menulis Roots, Alex Haley mewawancarai Miles Davis (Hefner adalah penggemar jazz dan nantinya mengadakan Playboy Jazz Festival) dan kelak berisi banyak tokoh, dengan lelucon, "Kami benar-benar membaca Playboy untuk artikelnya." Saat "Playboy Interview"-nya pada 1976, Jimmy Carter mengaku bahwa ia "sering melakukan zina di hatinya." Acara bincang-bincang Hefner di akhir '60-an, Playboy After Dark, telah mengundang banyak musisi seperti Grateful Dead, James Brown, Linda Ronstadt, dan versi lama, sebelum formasi Buckingham-Nicks dari Fleetwood Mac.

"Playboy bukanlah majalah seks, sejauh saya tahu," ucap Hefner dalam suatu kesempatan. "Seks hanyalah bagian dari itu. Saya mencoba membawa seks dalam lapisan gaya hidup sehat."

Tentunya, foto perempuan telanjang Playboy–dan kebebasan yang ia berikan kepada pembaca –lah yang membuat Hefner dan majalahnya sukses. Di awal '70-an, Playboy menjual tujuh juta kopi dalam satu bulan dan gaya hidup mengelilingi dunia Hefner didukung oleh jet pribadinya, Big Bunny, yang berisi tempat tidur sirkuler, disko, dan bar basah. Pada '70-an, ia pindah ke Playboy Mansion West di Holmby Hills, California, Amerika Serikat, rumah untuk pesta yang berkepanjangan. (Ia juga memiliki Playboy Mansion di Chicago.)

Hefner menikah pertama kali dengan sesama pelajar Mildred Williams pada 1949 dan pasangan tersebut bercerai 10 tahun selanjutnya. Pada 1989, ia menikahi Playmate, Kimberley Conrad, pernikahan yang berakhir pada 2010. Pada 2013, ia menikahi pasangan mudanya, Crystal Harris, yang masih ia nikahi hingga akhir hayatnya. Walaupun begitu, ia tidak menyesali gaya hidup bebasnya. Ditanya pada 2013 tentang berapa wanita yang telah tidur bersamanya, ia menjawab,"Bagaimana saya bisa tahu? Lebih dari seribu mungkin, saya yakin. Ada potongan hidup saya di mana saya menikah, dan saat menikah saya tidak pernah selingkuh. Tapi saya melakukannya saat tidak menikah. Kau harus menjaga tanganmu." Kebanyakan pacar Hefner menganut cetakan yang sama: berusia 20 tahunan, berdada besar, dan pirang. "Ya, saya pikir saya tahu apa yang saya suka," jawabnya saat ditanya tentang seleranya.

Hugh Hefner diapit oleh kedua pacarnya Kendra Wilkinson dan Bridget Marquardt saat pesta ulang tahunnya di Munich, Jerman pada 2006. (Foto: Alexander Hauk)

Hefner dan Playboy Enterprises, induk perusahaan majalah tersebut, mendapat banyak keberhasilan saat masa kejayaan mereka pada dekade '70-an. "Saat Penthouse dan Hustler muncul, mereka bingung dengan apa yang ingin saya lakukan," kata Hefner berkomentar tentang rival majalahnya. Para kompetitor itu mengganggu pemasukan Playboy, dan sirkulasi majalah turun hingga satu juta. Hefner menderita stroke pada 1985, kemungkinan terkait dengan stres yang ia alami setelah pembunuhan Playmate Dorothy Stratten dan buku tentang hidupnya ditulis oleh Peter Bogdanovich yang sangat menyudutkan Hefner.

Di masa-masa '80-annya, Hefner tetap bisa menyesuaikan diri dengan budaya walaupun anak-anaknya yang sudah dewasa telah mengurus bagian lain dari kerajaannya. Untuk beberapa musim berawal pada 2005, ia terlihat dalam serial televisi The Girl Next Door, di mana para wanita berkompetisi untuk bisa tinggal di Playboy Mansion. Selama beberapa tahun hidupnya, Hefner dan bisnisnya telah melalui beberapa pergeseran: Pada Agustus 2016, Playboy Mansion dijual seharga 100 juta dollar AS (sekitr Rp 1,3 triliun) kepada pemilik Hostess (walaupun Hefner tetap diundang untuk tinggal di sana), dan di tahun yang sama, Playboy menerbitkan sampul tidak telanjang pertamanya (model Sarah McDaniel dengan bikini).

Pada musim gugur 2016, kesehatan Hefner menjadi perbincangan. Berdasarkan permintaannya, ia ingin dikubur disebelah Marilyn Monroe, yang telah membantu perjalanan Playboy menjadi bisnis multi-juta-dollar.

Untuk segala kecabulan produknya, Hefner tetap menjadi sosok yang rumit. Playboy Clubs-nya dibuka untuk segala ras –jauh dari ramai pada masa itu, '60-an –dan pada 1964, ia membuat Playboy Foundation untuk melawan penyensoran. "Tidak, saya tidak pernah mendapat penghargaan yang cukup," katanya tentang peninggalannya tersebut. "Tapi, seperti sering saya katakan, hidup saya seperti tes Rorschach. Orang-orang memproyeksikan mimpi, fantasi, dan prasangka mereka terhadap saya. Jika bukan penggemar, mereka cemburua atau tidak setuju. Setiap orang berbaris untuk drummer yang berbeda. Jika saya tidak membuat kontroversi, saya tidak akan di sini sekarang." (aby/wnz)

Editor's Pick

Add a Comment