10 Fakta tentang Album Pertama Efek Rumah Kaca

Sepuluh tahun lalu, tanpa promosi yang berlebihan sebuah album dari band independen yang tak dikenal mengubah lanskap musik Indonesia dan mengajak pendengar lebih mencintai lagu-lagu berbahasa Indonesia

Oleh
Sampul album pertama Efek Rumah Kaca. (karya: Aditya Wijanarko)

Tak ada yang menyangka bahwa Efek Rumah Kaca akan sukses. Saat albumnya dirilis pada September 2007, publik belum mengenal mereka. Cholil Mahmud dan Adrian Yunan Faisal pegawai biasa, Akbar Bagus Sudibyo merupakan session drummer untuk band kafe. Musik pop rock yang ditawarkan oleh Efek Rumah Kaca memang unik, tapi berlawanan dengan apa yang terjadi di kancah musik independen maupun arus utama. Lirik bahasa Indonesia puitis yang mereka pakai juga waktu itu semakin asing karena begitu kencangnya musik pop Melayu berlirik sederhana mengisi radio.

Efek Rumah Kaca mematahkan rumus kesuksesan baku industri era tersebut dan membuka jalan untuk generasi baru musik Indonesia yang memilih untuk berbahasa Indonesia. Formula musik yang tidak terlalu berat, lagu-lagu yang singkat, dan melodi yang mudah dicerna tapi tetap berbobot dalam aransemen menjadikan trio ini idola baru. Tema lirik yang luas dari politik, sosial, lingkungan, sampai cinta yang ditulis dengan bernas dan tepat kadarnya menjadi andalan utama. Mereka bisa dinikmati siapa saja; pencinta musik, sastra, atau siapa saja yang punya sensibilitas akan keadaan sosial. Sangat jarang sebuah band dapat melampaui jangkauan pendengar seluas mereka.

Album bertajuk Efek Rumah Kaca tersebut berisi dua belas lagu. Sesuai urutan album, mereka adalah: "Jalang", "Jatuh Cinta Itu Biasa Saja", "Bukan Lawan Jenis", "Belanja Terus Sampai Mati", "Insomnia", "Debu-Debu Berterbangan", "Di Udara", "Efek Rumah Kaca", "Melankolia", "Cinta Melulu", "Sebelah Mata", dan "Desember". Semuanya dikemas di sebuah album berilustrasikan tiga bangku yang terisap ke dalam lorong, dibuat oleh Aditya Wijanarko.

Album Efek Rumah Kaca terjual sampai lima ribu kopi dalam rentang waktu tidak sampai setahun. Efek Rumah Kaca mendapatkan gelar Rookie of the Year oleh majalah Rolling Stone Indonesia, diberikan piala The Best Cutting Edge oleh MTV Indonesia, sampai lagu "Cinta Melulu" dinominasikan untuk Karya Produksi Alternative Terbaik di Anugerah Musik Indonesia 2008. Pada 2009, lagu "Di Udara" dan "Cinta Melulu" masuk ke dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa. Sisanya adalah sejarah.

10) Promosi Media Sosial

Bisa dibilang kesuksesan Efek Rumah Kaca terbantu oleh kehadiran media sosial yang kala itu masif dan baru. Ketika itu MySpace sudah eksis beberapa lama, YouTube masih baru dan menjadi rumah bagi video band-band independen, juga ada Multiply rumah bagi banyak blogger yang tak hanya berisikan tulisan, tapi juga video, audio dan foto. Di situs yang terakhir disebut, penggiat musik berkumpul membagikan cerita, ulasan album, audio lagu-lagu yang saat itu terbatas aksesnya, sampai foto dan video. Arian13, vokalis Seringai yang kala itu juga jurnalis menulis ulasan album pertama Efek Rumah Kaca di blognya aparatmati. Sampai sekarang, tulisan itu dianggap salah satu pemicu awal penyebaran album Efek Rumah Kaca. Pujiannya terhadap album tersebut lalu disambut oleh pencinta musik lainnya yang juga menulis dan membantu mengenalkan ke orang lain.

9) Video Musik

Meskipun band independen, Efek Rumah Kaca termasuk rajin membuat video musik. Di awal peluncuran album sebenarnya tak ada video yang dibuat. Lalu setelah albumnya merebak, orang-orang merespon dan menawarkan bantuan. Lagu "Cinta Melulu" dibuat videonya oleh Indra Ameng, "Desember" oleh Motulz, dan "Di Udara" oleh Adi Cumi.

8) Lagu "Cinta Melulu" yang Melambungkan Nama

Lagu "Cinta Melulu" sebenarnya bukan single pertama, tapi justru lagu ini yang membawa nama Efek Rumah Kaca kemana-mana. Lagu yang berisikan kritik terhadap topik lagu yang membosankan dengan cara pandang yang begitu-begitu saja cocok dengan keadaan di mana musik Indonesia dipenuhi oleh lagu-lagu cengeng tentang cinta.

Lagu ini makin populer karena diputar terus oleh Gen FM, sebuah radio baru yang menetapkan kebijakan memutar lagu hits dengan rotasi tinggi. Saking seringnya diputar, Akbar menceritakan kalau lagu ini sampai diputar di warteg tempat dia makan.

7) Nama Efek Rumah Kaca Diambil Dari Lagu “Efek Rumah Kaca”

Sebelum menjadi Efek Rumah Kaca, trio ini sempat punya beberapa nama. Antara lain Hush dan Superego. Ketika mempersiapkan album penuh, nama Superego terpaksa ditinggalkan karena ada band lain yang juga bernama sama. Harlan Boer, manajer Efek Rumah Kaca saat itu yang berinisiatif mengusulkan nama baru yang diambil dari judul lagu.

Fakta lain: di 'Tiba-Tiba Suddenly Konser' Efek Rumah Kaca yang kedua diputar sebuah video di mana Cak Lontong mengatakan kalau "Efek Rumah Kaca" adalah lagu favoritnya.

6) Zine "Di Udara"

Efek Rumah Kaca menginspirasi banyak orang. Bukan hanya mengundang lagunya dinyanyikan, tapi juga membuat orang berpikir dan tercerahkan. Salah satu bentuk kecintaan fans tertuang dalam zine bernama Di Udara. Zine yang umurnya sedikit ini keluar berbarengan dengan mulai populernya Efek Rumah Kaca. Tiga orang teman yaitu Nando, Deva dan Zelva yang membuatnya.

Konten Di Udara: gigs report, wawancara, galeri foto, dan beberapa materi yang diangkat dari isu-isu sosial di lagu Efek Rumah Kaca. "Intinya, sih, jadi semacam media informasi bagi sesama penggemar ERK aja dengan memberitikan kabar terbaru mereka. Mengingat informasi tentang mereka juga terbatas di MySpace dan Multipy pada saat itu," cerita Zelva yang aktif dalam editorialnya. "Selain kami bertiga, fans ERK lainnya ada juga yang ikut mengisi sebagai kontributor. Bahkan orang dalam ERK, kayak Bin (Panggilan untuk Harlan Boer) dan Yuri (road manager kala itu), juga ikut menulis."

5) “Melankolia” adalah lagu pertama yang mengesahkan Sound Efek Rumah Kaca

Di masa-masa awal latihan bertiga, mereka latihan di Sinjitos Studio yang berlokasi di Jalan Ciputat Raya, Kebayoran Lama. Suatu waktu, Cholil menemukan not awal "Melankolia". Akbar menceritakan kalau mereka langsung tuning ketika jamming. Ternyata proses yang dibuat tanpa sadar itu direkam oleh operator studio, Uwie (bass/vokal Poptart, sebuah band Shoegaze awal 2000an). Sesi latihan tersebut kemudian diperdengarkan lagi dan memecah kebuntuan mereka selama itu. "Dari lagu itulah kita menemukan warna yang kemudian jadi Efek Rumah Kaca. Kalau bertiga tuh mainnya begini ya enaknya," jelas Akbar.

4) Urutan Pembuatan Lagu

Efek Rumah Kaca telah mengerjakan album hampir sepuluh tahun sebelum album dirilis. Lagu "Insomnia" dikerjakan pada tahun 1998 dan kemudian dilanjutkan pada 2004. Tapi dua lagu yang benar-benar dibuat dengan format band yang dikenal orang adalah "Efek Rumah Kaca" dan "Melankolia". Keduanya diciptakan pada 2003.

Efek Rumah Kaca membuat demo pada 2005 yang diselesaikan setahun kemudian, pada 2006. Penambahan 2 lagu terjadi pada Februari 2007. Proses mixing hingga mastering sendiri terjadi pada Maret hingga Juli 2007. Sebanyak 9 lagu mereka rekam di Sinjitos Studio dan 3 lagu di D"Sound Studio. Sedangkan proses mixing dan mastering dilakukan di Vortex Perjuangan.

3) Kisah Video Musik Pertama

Kalau menonton video musik "Cinta Melulu" ada sebuah kejanggalan yang terlihat jelas. Satu, video diunggah di akun YouTube milik Yudhi Arfani, personil Everybody Loves Irine. Dua, silang merah yang biasanya ada di mode pratinjau aplikasi penyuntingan video. Mengenai keanehan ini, Yudhi berbagi kisahnya. "Dulu saya kerja bareng Harlan Boer, di waktu itu video musik ERK udah selesai dikerjakan oleh Indra Ameng. Pada saat itu, belum banyak yang main YouTube dan kita juga belum tahu juga kalau YouTube itu bakal sebesar sekarang. Karena saya punya akun YouTube, Harlan meminta mengunggahnya di kanal saya."

Video pertama Efek Rumah Kaca tersebut kini sudah ditonton 1,8 juta kali penayangan.

2) "Cinta Melulu" dan "Jalang" Adalah Lagu yang Diproyeksikan Untuk Album Kedua

Lagu "Jalang" dan "Cinta Melulu" tadinya direncanakan untuk dimasukkan ke album kedua. Proses pengerjaan album yang terlalu panjang membuat Efek Rumah Kaca mulai mengerjakan album kedua sebelum album pertama keluar. Harlan Boer, sang manajer sekaligus produser merasa materi yang ada terlalu monoton. "Setelah mendengar seluruh materi, gue merasa butuh dua lagu baru yang upbeat supaya flow albumnya makin enak," jelas Harlan.

1) Demo Efek Rumah Kaca

Wendi Putranto

Sekitar tahun 2006, album Efek Rumah Kaca selesai dan sudah mendapatkan mixing. Mereka pun menjajakannya ke banyak label besar, baik itu arus utama maupun independen. Kebanyakan menolak, mulai dari petinggi label yang merasa albumnya kurang bisa diterima di pasar sampai satpam yang tidak meloloskannya

Di versi pertama itu, lagu "Debu-Debu Berterbangan" masih berjudul "Demi Masa" kemudian lagu "Jalang" dan "Cinta Melulu" juga tidak ada. Beberapa bagian juga tidak terdengar sama, seperti intro "Insomnia" yang berbeda atau layer gitar menumpuk di beberapa lagu menghadirkan kesan shoegaze.



Related

Most Viewed

  1. Live Review: Mocca x Payung Teduh
  2. Payung Teduh Memperkenalkan Single Terbaru, "Di Atas Meja"
  3. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  4. JRX, Frau, Iksan Skuter Bakal Tampil di Acara Solidaritas Korban Penggusuran Kulon Progo
  5. Live Review: Elephant Kind X Rock N Roll Mafia

Editor's Pick

Add a Comment