Rock in Borneo 2017

Oleh
Skid Row bersama vokalis baru ZPTheart (eks-Dragon Force) menutup gelaran keenam Rock in Borneo 2017 Bani Hakiki

Pesta rakyat tercadas Kalimantan padukan seni teater tradisional di gelaran keenamnya

Suatu hari, di kerajaan bernama Etam Lestari, hiduplah seorang raja yang sedang bersedih karena permaisurinya baru saja meninggal dunia. Orang-orang kepercayaan raja, seperti panglima perang dan perdana menteri, mencoba menghiburnya dengan membawakan hiburan dari negeri seberang. Nampaknya, negeri seberang itu sungguh jauh melampaui ruang dan mungkin waktu karena yang datang ke hadapan raja adalah parade distorsi keliling yang sudah melanglang buana menjajakan musik keras mereka ke penjuru negeri bahkan dunia. Nama-nama seperti Revenge the Fate, Jamrud, hingga Skid Row berderet mengisi parade tersebut.

Perpaduan yang terdengar tidak selaras antara kisah kerajaan dengan nama-nama penjaja musik keras tadi menjadi napas segar dalam Rock in Borneo tahun ini, bertajuk Mamanda Etam Lestari. Distorsi Event sebagai penanggung jawab acara ingin mengangkat seni tradisional dalam acara tahunan mereka dengan cara menyatukannya dengan pementasan seni teater tradisional Kalimantan, Mamanda. Hasilnya tidak mengecewakan. Tema kerajaan tadi menjadi jembatan antar band, menggantikan MC sebelum dua headliner terakhir bermain Sabtu (23/9) malam itu.

“(Mamanda) itu seperti ketoprak, ludruk, ... lenong,  cuma kalau di sana kan lestari, kalau di sini hampir punah. Makanya kami angkat lagi,” kata sutradara Mamanda, Zairin Zain. Sebelumnya, ia kesulitan menyesuaikan tema acara dan menyatukan berbagai komunitas dengan beragam usia dalam pementasan ini. Namun, ia mengakui usahanya terbayar karena sadar cara ini efektif untuk membuat kesenian tradisional tidak punah dan dikenal kalangan muda.

Selain dipandu Mamanda, penonton dengan ikat kepala khas Kutai (pesapu) diberi antrean khusus agar tidak perlu berdesakkan masuk ke Lapangan Panahan Stadion Aji Imbut, Tenggarong. Usaha lain melestarikan tradisi.

Sebelum Mamanda dimulai dan matahari masih muncul walaupun malu-malu karena mendung, Revenge the Fate hadirkan musik mereka. Ternyata, para metalhead  setempat dapat mengikuti lirik yang dinyanyikan Anggi, mungkin karena ini kali kedua mereka tampil di sana atau memang  penikmat musik di sana sudah sadar akan perkembangan musik di luar. “Simfoni Menuju Akhir,” “Ambisi,” dan cover  “Jengah” dari Pas Band mereka nyanyikan sambil menari dan menggila. Metalhead wanita, seperti panggung-panggung biasa Revenge the Fate, mewarnai garis depan mosh pit.

Walaupun sempat ada beberapa yang tumbang karena tersikut sesama penonton, crowd Borneo boleh diakui rapi. Selain petugas keamanan yang sigap meloncat pagar media pit jika ada bibit kericuhan, para pendatang juga sama sigapnya dengan lebih dulu mendamaikan sesama dan mengangkat teman-teman mereka yang tumbang sebelum akhirnya kembali menggila di hadapan panggung.

Sesaat setelah matahari terbenam, acara diistirahatkan. Yang ini bisa jadi momen yang jarang ditemukan dalam acara berdistorsi tinggi. MC mengumumkan tempat mengambil air wudu dan mengarahkan pengunjung ke tempat yang sudah disediakan. “Musik boleh metal tapi salat jangan ditinggal,” ujarnya dari atas panggung. Mereka pun salat magrib berjamaah di venue, tempat yang tadinya dan setelahnya nanti, mereka gunakan untuk menikmati apa yang disebut haram oleh beberapa pemuka agama.

Rock in Borneo lebih terlihat seperti pasar malam jika dilihat dari segi pendatang. Jika biasanya acara metal didatangi pemuda dengan busana serba hitam, di sini pendatang lebih beragam walaupun tetap semakin menghitam semakin dekat dengan panggung. Mulai dari yang terlihat sadis hingga syar’i, ibu-ibu hingga anak-anak, semua menikmati acara yang turut didukung GoAhead ini entah mengerti atau tidak musik yang dimainkan. Ditambah dengan akses yang gratis, pesta rakyat sangat cocok menggambarkan acara ini. 

Kapital, unit metal kebanggaan Tenggarong, menjadi band pertama yang tampil setelah matahari terbenam. Mereka tidak pernah absen mengisi Rock in Borneo dan di kali keenam ini ada hal istimewa yang mereka bawa. Album baru mereka, Semesta Rawa, dirilis bersamaan dengan Rock in Borneo 2017. “Mutu Manikam” dan “Sajak Matahari” adalah potongan album tersebut yang mereka bawakan malam itu, menemani hit-hit mereka sebelumnya seperti, “Gaza,” “Bermain Peran,” dan “Resonansi Dua Sisi.” Selain itu, Akbar Haka, dengan rambut satu senti baru yang membuatnya terlihat seperti Chester Bennington, meresmikan bassist baru Kapital, Ninoy, menggantikan Beng yang sebelumnya hengkang.

Akbar yang beberapa kali menyampaikan terima kasihnya kepada sosok yang disebut sebagai Bunda Rita di sela-sela lagu atas keberhasilan acara ini, ternyata juga menjabat sebagai event manager. Kakaknya, David Haka juga menjadi orang penting dalam acara tersebut. Saat ditemui, David, yang juga pernah menjadi gitaris Kapital, sedang membantu memanajeri panggung.

“Dulu pionirnya Tenggarong Berisik,” kata David. “Kita bikin tahun 2000-an 'ngundang Seringai dan Burgerkill. Yang nonton 30 sampai 50 orangan lah, tiketnya masih 10 atau 15 ribu kalau enggak salah.” 

Acara tersebut lah yang akhirnya mendorong Distorsi bisa membuat Kukar Rockin’ Fest yang beralih nama kini menjadi Rock in Borneo, hiburan gratis untuk rakyat Kalimantan khususnya penduduk sekitar Kutai Kartanegara dengan taraf internasional.

Akhirnya, pertunjukkan Mamanda dimulai. Para pemeran mempraktikan Ladon, seni bertutur yang merupakan bagian dari Mamanda, dan mencampurkan jalan cerita dengan penampil yang akan naik selanjutnya. 

Tarian Dayak dari Kombeng, Miau Baru, salah satu daerah di Kutai Timur dan Tari Jepen muncul berturut-turut. Musik Tari Dayak Miau Baru sangat kental dengan suara alat musik petik, mungkin sampek, dengan tangga nada mayor namun tetap memberi kesan mistis, menemani koreografi para penari wanita dengan hiasan bulu di kedua tangan dan seorang penari pria dengan tameng dan pedang. Di lain sisi, Tari Jepen sepertinya berpatok pada alat musik pukul, mengatur tempo dari beberapa pasang penari wanita dan pria yang juga memanfaatkan rebana dalam tarian mereka dengan gerakan yang lebih tegas dan banyak memanfaatkan luas panggung.

Sang raja yang bersedih muncul setelah kedua tarian tadi. Untuk menghiburnya, para pengikutnya bersiap memanggil hiburan selanjutnya, Jamrud. Namun, sebelum itu, raja bertanya dari mana dana acara mereka dapatkan.

“Ini murni bukan APBD kerajaan kita,” kata perdana menteri, mungkin mencoba meluruskan keadaan di luar cerita Mamanda kali ini. “Semua bantuan sponsor.”

Jamrud muncul dengan “Berakit Rakit” sebagai pembuka. Jumlah pengunjung yang mencapai 60 ribu orang nampaknya mencapai puncak saat mereka tampil. Krisyanto dan kawan-kawan membawakan lagu mereka yang tentunya sudah dikenal seperti “Naksir Abis,” “Ningrat,” “Kabari Aku,” dan “Surti Tejo.” Lalu Krisyanto mempersembahkan lagu selanjutnya untuk ulang tahun Tenggarong, Ibu Kota Kabupaten Kutai Kartanegara, yang sebenarnya masih lima hari lagi tiba, sembari menyebut nama Bunda Rita seperti Akbar sebelumnya. “Selamat Ulang Tahun” pun dibawakan disusul dengan “Putri” dan ditutup dengan “Waktuku Mandi.”

Geliat rock nan liar dari massa penonton membuat Aziz (Jamrud) gatal untuk mendokumentasikan suasana lantai dansa yang dipenuhi sekitar 60 ribu orang. (Foto: Bani Hakiki)

 

Raja dan kawan-kawan kembali muncul untuk melancarkan jalan cerita. Kali ini, akhirnya, sosok Bunda Rita muncul. Dengan busana serba hitam, menyesuaikan dengan tema acara, ia menyampaikan pesan untuk para pendatang untuk terus memajukan industri kreatif Kutai Kartanegara tapi tetap jauh narkotika. 

Rita Widyasari merupakan Bupati Kutai Kartanegara. Ia telah mendukung gelaran ini sejak masa jabatan pertamanya pada 2010-2015 hingga naik kembali pada 2016-2021. 

Sempat ada kabar bahwa ini menjadi tahun terakhir Rock in Borneo diselenggarakan gratis. Namun, Rita menampik itu. “Kenapa gratis, karena ini memang hiburan rakyat dan saya ingin sekali rakyat bisa melihat hiburan musik yang bertaraf nasional maupun internasional,” katanya. “Selama ada saya, konser Rock in Borneo akan selalu digelar gratis.”

Di kesempatan yang sama, para anggota Skid Row mengungkapkan kebahagiaan mereka bermain di tanah Kalimantan. “Kami sudah tahu Borneo sejak kecil tapi bagi kami di belahan dunia lain, tempat ini terdengar mistis,” ungkap bassist, Rachel Bolan. “Dan kami datang kesini, ternyata rock & roll terjadi di sini.”

Kebahagiaan itu benar-benar mereka tunjukkan di atas panggung. Mereka terlihat puas melihat crowd yang masih bersemangat walaupun seharusnya lelah karena serangan distorsi bertubi-tubi dari penampil-penampil sebelumnya. Antrean keluar sudah mulai padat sejak Jamrud turun panggung. Namun, Lapangan Panahan Stadion Aji Imbun masih lebih padat lagi. Bayangkan seberapa padatnya venue ini saat Jamrud bermain.

Band pengisi lineup internasional yang di tahun-tahun sebelumnya sempat diisi Sepultura, Helloween, Testament, FireHouse, dan lain-lain ini  membawakan belasan lagu selama sekitar 90 menit waktu tampilnya. “Piece of Me,” “Livin’ on A Chain Gang,” “18 and Life,” dan “Rattlenake Shake” dibawakan berturut-turut dibawah pimpinan vokal ZP Theart yang baru saja bergabung secara resmi dengan Skid Row pada awal tahun. Lalu, mantan vokalis DragonForce ini memberi kehormatan untuk Bolan untuk mengambil alih vokal dalam lagu “Psycho Teraphy.”

Setelah ZP kembali untuk menyanyikan “In A Darkened Room,” dan “Get the Fuck Out,”  Snake ingin mencoba bermain dengan crowd yang hadir.

“Bisakah kalian menyoraki boo pada saya,” katanya pada penonton. Penonton sempat terdiam karena tidak mengerti ucapnnya yang disampaikan dalam bahasa Inggris namun akhirnya menyorakinya setelah Snake mencontohkan. Ia pun tertawa dan mencobanya beberapa kali didampingi ZP yang meminjam kamera pihak dokumentasi dan merekam kelakuan gitarisnya.

Mereka pun membawakan “Monkey Business”. Ditengah-tengah lagu, anggota Skid Row bergantian menunjukkan keahlian mereka. Dimulai dari Bolan yang maju lebih dekat dengan penonton membetot bassnya hanya ditemani ketukan drum Rob Hammersmith dilanjutkan dengan Snake dan Scotti Hill yang bergantian berimprovisasi. Snake dan Scotti sedikit menyomot potongan “Cowboys From Hell” dari Pantera dalam jamming session ini.

Dari penampilan kali ini, ZP terdengar lebih bisa mengejar suara Sebastian Bach dibanding vokalis mereka sebelumnya, Johnny Solinger. Snake juga mengatakan bahwa mereka merasa nyaman dengan vokalis asal Afrika Selatan ini. “Vokalis utama tanpa drama? Coba bayangkan itu,” katanya dalam temu pers sebelumnya.

Setelah itu, mereka memainkan balada andalan mereka “I Remember You,” dilanjutkan dengan “We Are the Damned” dan “Youth Gone Wild.”

Secara keseluruhan, Rock in Borneo sangat bisa dinikmati. Acara sebesar ini tentu saja sepadan dengan akses masuk yang gratis. Menikmati budaya luar tapi tetap mengingat tradisi sendiri menjadi hal yang harus dikutip dari acara ini. Semoga konsep pesta rakyat ini bisa ditiru di belantara lain Indonesia.

Editor's Pick

Add a Comment